Immortal Reingcarnation

Immortal Reingcarnation
Kembalinya Kean



Sebuah mobil sport hitam berhenti di pekarangan keluarga Efron yang terlihat sepi karena sekarang memang waktunya kebanyakan orang terlelap menjelajahi mimpi.


Seorang pemuda tampan berwajah dingin dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya menambah ketampanan bak pangeran dari negeri dongeng itu, keluar dari mobil sport yang ia kendarai.


Melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dengan menggunakan kekuatannya.


Seorang wanita paruh baya yang hendak masuk kekamarnya, langkahnya terhenti saat melihat orang yang tidak pulang selama setahun lebih.


"Kean, kamu sudah pulang?" tanyanya pada putra sulungnya.


'Ternyata belum tidur' batin Kean.


Kean melepas kacamata hitamnya setelah membaca pikiran Sheila yang sudah mengetahui semuanya karena suaminya Louis menjelaskan semuanya tanpa terlewat sedikit pun.


Terlihatlah wajah tampan Kean sepenuhnya dengan manik mata semerah darah. Sheila yang melihat itu diam mematung karena ia baru saja melihat manik Kean yang sebenarnya. Tapi dengan cepat Sheila menetralkan rasa kagetnya.


"Kamu sudah makan?" tanya Sheila lagi saat melihat Kean tetap tak bergeming.


Kean. Meskipun Sheila bukan ibu kandungnya tapi Sheila merupakan ibu kedua bagi mate kakaknya itu. Yang telah melahirkan, merawat, membesarkan dan memberikan kasih sayang pada Naira patut Kean hormati. Karena Sheila ibu dari Queen dunia immortal.


Kean tersenyum hangat "Aku sudah makan, bunda. Dan aku pulang hanya sebentar karena ada yang ingin aku katakan ke Naira" ujarnya.


Sheila mengernyit "Kamu jangan berbohong, Kean! Dan kamu ingin mengatakan apa ke Naira?" sentak Sheila tidak peduli kalau Kean bukanlah manusia.


"Hah... Baiklah. Aku memang belum makan" pasra Kean. Toh dirinya memang lapar 'kan?!


Sheila tersenyum "Ayo, bunda siapkan makanannya dulu" ajak Sheila lalu berjalan ke dapur di ikuti Kean.


"Apa ayah ada di rumah?"


"Ayah lagi di kamar"


Kean hanya mengangguk saja.


Kean duduk di meja makan sedangkan Sheila mulai memasak.


'Apa nanti dia mau ikut denganku? Kalau dia tidak mau bagaimana? Kakak bisa lepas kendali nanti' pikir Kean cemas.


Saat Kean sedang melamun, Sheila menaruh hasil masakannya di meja makan tepat di depan Kean.


"Apa ada masalah?" tanya Sheila memecah keheningan.


Kean mendongakkan wajahnya. Terdapat raut cemas di wajahnya.


"Apa ayah sudah bilang ke bunda kalau Naira...-" Kean menggantungkan kalimatnya, takutnya Sheila belum tahu.


"Aku akan membawanya ke istana" lanjut Kean setelah melihat Sheila menggeleng. Yang Sheila tahu Naira adalah putrinya dan memiliki kehidupan sebelum di kehidupan yang sekarang ini dan Naira bukanlah manusia.


Sheila hanya diam saat Kean mengatakan kalau Naira akan dibawa ke dunia immortal.


Naira, dia bukan hanya putrinya satu satunya melainkan seorang ratu dunia immortal dulunya. Jadi ia harus merelakan kepergian putrinya suatu hari nanti. Dan dia yakin kalau putrinya itu akan mengunjunginya nanti.


"Saat super blood moon telah datang. Semua ingatan Naira yang terpendam akan muncul kepermukaan, dalam artian semua ingatan dia di kehidupan sebelumnya akan ia ingat kembali. Dan setelah ingatan tersebut sudah kembali maka kakak ku... Kenzie akan mengikat Naira kembali dan menjadikannya ratunya dan ratu seluruh kaum immortal" jelas Kean panjang lebar.


"Dan penyatuannya akan di lakukan di istana" lanjutnya.


"Apa tidak bisa di lakukan di sini saja?" tanya Sheila lirih agak keberatan.


Kean tersenyum tipis kemudian menggeleng pelan "Kalau di dunia manusia, kami akan kesulitan membawa kakak ke mari" ucap Kean sendu.


"Apa terjadi sesuatu pada Kenzie?"


"Dalam hukum dunia immortal. Siapa saja yang telah atau yang sudah menemukan belahan jiwanya bila tidak segera melakukan ikatan antar mate maka sang pria akan merasakan sakit yang luar biasa dan akan mati secara perlahan bila ia tidak kuat menahan rasa sakit itu" kean mulai menjelaskan dan dalam sekejap tubuh Sheila menjadi kaku.


"Dan sekarang kakak ku merasakan itu semua. Ia menahan rasa sakitnya selama belasan tahun dan setahun terakhir ini sisi gelapnya yang mengambil alih tubuh kak Kenzie saat matahari telah tenggelam." Sheila memandang kean yang terus berbicara dengan raut wajah sedih di wajah Sheila.


"Kapan kau pulang?" tanya seseorang di belakang Kean secara tiba tiba.


Kean tidak menoleh karena ia tahu siapa yang tiba tiba bertanya. Kean hanya melahap makanan di depannya dengan lahap. Kean sangat merindukan masakan dari Sheila.


Bukkk


"Hei... Aku bertanya kenapa kau hanya makan saja huh" geram Rafael setelah memukul punggung Kean yang menyebabkan hampir tersedak makanan yang berada di mulutnya itu.


Dengan tatapan tajam Kean berkata "Apa kau tidak lihat kalau aku sedang makan. Kau buta huh" sinis Kean.


"Hahaha..... Sudah setahun tidak melihatmu dan saat kau kembali kau menghiraukan aku dengan lahap kau makan seolah kau tidak di beri makan sama kak Kenzie" balas Rafael sinis.


"Kenapa aku harus memperhatikanmu? Memangnya kau kekasihku huh" balas Kean tak kalah sinis.


Kenapa mereka jadi bertengkar? Batin Sheila yang sadar dari rasa kagetnya. Bagaimana tidak kaget coba kalau Kenzie sudah mengetahui Naira setelah lahir dan menunggu putrinya yang sudah menginjak umur dua puluh tahun itu.


"Sudah sudah kalian jangan bertengkar" lerai Sheila.


Setelah makanan yang ada di hadapannya telah tandas tak tersisa Kean meneguk segelas air putih. "Aku sudah kenyang. Terimakasih makanannya" ujar Kean sambil melihat Sheila dengan senyum menawannya.


Shiela yang melihat senyuman Kean merasa biasa saja karena senyuman suaminya yang lebih menawan dari pada milik Kean.


"Kean?!"


"Ayah" balas Kean langsung menoleh ke sumber suara membuat Rafael mendengus jengkel. Bagaimana tidak, kalau yang menyapa dirinya di acuhkan oleh Kean. Sedangkan Louis yang notabenenya bukan ayah kandung.


"Kamu kapan pulangnya, Kean?" tanya Louis setelah pelukannya dengan Kean terlepas.


"Baru saja.... Emm sekitar setengah jam-an lah"


"Kamu pulang untuk menjemput Naira?" tanya Louis langsung ke inti.


"Jadi ayah tahu kalau Naira..." sahut Sheila tak percaya kalau suaminya sudah mengetahuinya. Tapi kenapa ia tidak di beritahu soal itu.


"Naira sudah tidur! Sebaiknya besok saja menjelaskan semuanya" ujar Rafael mengalihkan pembicaraan agar tak terjadi pertengkaran di depannya.


Sudah cukup ia bertengkar dengan Raihan yang terus berusaha mendapatkan Naira. Karena kegeramannya pada Raihan sampai batasnya. Sisi gelap Rafael mengambil alih tubuhnya dan akhirnya mengakhiri hidup Raihan. Raihan sudah meninggal tujuh bulan yang lalu karena ulah sisi gelap Rafael. Salah siapa memangnya? Rafael sudah mengatakan kalau Naira sudah menjadi milik orang lain. Manusia tetaplah manusia yang masih saja keras kepala. Dan karena kekeras kepalanya Raihan akhirnya ia meninggal dengan sebab kebakaran di rumahnya karena konsleting listrik.


"Kenapa kau tertawa?" tanya Kean merinding saat mendengar Rafael tertawa.


"Haha..bukan apa apa" jawab Rafael dengan senyum misteriusnya.


"Dasar gila" gumam Kean tidak terdengar oleh Louis dan Sheila. Bukan tanpa alasan kean mengatai Rafael gila. Rafael membiarkan Kean membaca pikirannya saat pertama kali ia bertemu dengan Raihan pertengkarannya yang layaknya seperti seorang kekasih dan berubah menjadi musuh. Dan sampai kejadian dimana sisi gelapnya yang mengambil alih tubuhnya sampai sampai membakar rumah yang penghuninya hanya Raihan di dalamnya yang sudah terlelap. Bisa saja Rafael membunuh Raihan dengan tangannya sendiri. Tapi itu tidak Rafael lakukan karena ia tidak ingin tangannya terkontaminasi oleh darahnya Raihan dan nantiya akan lebih merepotkan bagaimana sebab Raihan mati. Kalau kebakaran kan gampang tidak banyak bukti yang tertinggal dan satupun tidak ada yang tertinggal seolah itu hanya kecelakaan saja. Dasar licik.


Mereka ber-empat berbincang sebentar dan setelah selesai mereka masuk ke kamar mereka masing masing kecuali Rafael yang tidur dengan Naira. Agar ia bisa menjaga Naira dari dekat.


Rafael masuk ke kamar Naira dan terlihat Naira yang masih berada di alam mimpinya.


'Aku yakin kalau kamu pasti akan mau ikut dengan kami 'kesana' nanti bila kamu tahu apa yang di alami Kak Kenzie' batin Rafael sambil memandang Naira dari sofa. Kamar Naira memang tidak terlalu besar tapi cukup untuk ukuran satu buah tempat tidur berukuran untuk dua orang, lemari sedang, meja belajar, satu sofa berukuran sedang yang sekarang di duduki Rafael, satu meja kecil di sebelah sofa, dan nakas di sebelah tempat tidurnya, jangan lupakan kamar mandi sederhana yang berada di kamarnya.


Keluarga Efron hayalah orang biasa meskipun rumahnya dua lantai dengan empat buah kamar tidur serta kamar mandi di masing masing kamarnya, dapur yang tidak terlalu luas tapi muat untuk meja makan berisikan enam orang, ruang tamu biasanya di jadikan ruang keluarga kalau sedang berkumpul, taman kecil di belakang rumahnya terdapat pohon yang ada sebuah ayunan milik Naira saat waktu kecil tapi masih di gunakan sampai sekarang, dan jangan lupakan garasi untuk menyimpan satu mobil dan dua motor. Semua itu adalah warisan dari keluarga Efron sebelumnya karena pekerjaan Louis hanya seorang guru di sekolah dasar swasta yang tidak terlalu besar gajinya. Itu sebabnya Naira memilih jadi guru saja agar ia tahu pendapatan menjadi guru berapa tapi ia sadar kalau gaji nya dengan Louis berbeda jauh karena bisa di lihat dari sekolahnya. Sekolah dasar swasta yang sederhana sama sma orang elit kan beda jauh. Tapi itu semua tak membuat hubungan Louis dan Naira merenggang melainkan Louis bangga karena didikannya bisa membawa Naira kemasa depan yang cemerlang karena kecerdasannya.


Dan masa depan yang cemerlang itu akan segera berakhir saat bulan purnama datang. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelahnya. Pikir Rafael.


Dengan pikiran yang penuh dengan bagaimana cara agar Naira mau ikut dengan mereka tanpa paksaan, kebohongan dan tidak membawa bawa Kenzie. Hah..sudahlah pikirkan itu nanti saja. Batinnya lalu terlelap.


...»---♡---«...


...TBC...


...Jangan lupa vote and comment :)...


...Terimakasih :)...