
Leyna membalik badan. Kini mereka sepenuhnya saling berhadapan. "Kak, Leyna haus" kata Leyna lagi.
"Aku mengerti sayang" kata Sean tersenyum hangat sambil mengelus rambut Leyna. Ia harus menenangkan gadis kecilnya itu.
Sean menggores telapak tangan kanannya dalam agar lukanya tidak cepat menutup menggunakan kukunya yang tajam. Darah segar milik Sean mengalir deras.
Tanpa disuruh, Leyna langsung menyecap habis darah milik Sean yang keluar sampai telapak tangan bersih, lukanya sudah menutup.
"Apa masih haus?" tanya Sean.
Leyna menggeleng. Entah mengapa rasa haus yang membakar ternggorokannya sudah menghilang! Dan darah tunangannya itu terasa begitu lezat! "Aku lapar kak" adu Leyna sambil memegangi perut ratanya. Mata dan gigi leyna kembali seperti semula.
Sean terkekeh "Baiklah. Aku sudah memasak untukmu. Maaf sudah membuatmu menunggu lama" bagi Sean, Leyna termasuk gadis yang bisa menahan rasa haus yang membakar tenggorokan nya.
'Sepertinya darahku mulai terbangkitkan. Hari ini perubahan fisiknya yang sangat terlihat jelas. Aku tidak tahu kapan kekuatanku akan bangkit didarahnya' gumam Sean dalam hati.
"woaahh... Banyak sekali makanannya!" seru Leyna yang melihat barisan makanan diatas meja makan.
Sean terkekeh "Aku hanya memasak lima hidangan saja. Yang lainnya mereka bertiga yang masak"
Leyna mengut saja "Om Richard masak apa?" tanya Leyna penasaran.
"Dia sedang malas masak. Mungkin tamu bulanannya sedang datang" ejek Sean yang mendapat pelototan Richard.
"Bocah beraninya kau!" sungut Richard berusaha mengendalikan mulutnya yang ingin menyumpah serapahi Sean tapi ia tahan. Ia masih ingat kekuatan yang Sean lepaskan padanya saat ia mengatakan kalimat kotor dihadapan Leyna. Ia tidak ingin merasakam untuk yang kedua kalinya! Memalukan sekali jika dilihat ketiga ponakannya. Sangat tidak elegan.
Sean hanya memutar bola mata malas.
Kening Richard mengernyit. "Sean kau kelihatan pucat"
"Benarkah?" tanya sean sambil mengambil beberapa hidangan ketempat makan Leyna.
Arion, Gavin dan Damian menatap Sean yang seperti melayani gadis disampingnya. Dan Sean benar terlihat sangat pucat.
"Benar Sean. Apa kau sakit?"
"Tidak paman. Aku baik-baik saja. Setelah makan mungkin tidak akan pucat lagi." jawab sean.
Leyna hanya diam saja. Ia tahu kenapa Sean terlihat sangat pucat seperti kekurangan darah. Karena ia tahu siapa pelakunya yang menyedot darah Sean.
"Makanlah yang banyak sayang. Kalau kurang bilang saja" ucap Sean setelah menaruh makanan Leyna. Ia mulai menyiapkan makanannya sendiri.
Mereka ber empat saling pandang. Mata mereka tertuju pada bibir Leyna yang berbau darah. Sepertinya milik Sean.
Sean yang akan memulai makannya terusik dengan tatapan empat orang itu. 'Makan dan jaga mata kalian jika tidak ingin bola mata kalian dijadikan makanan harimau!' mindlink Sean mengancam.
Mereka bergidik ngeri dengan ancaman yang dikirim Sean melalui mindlink, terkecuali Richard tentunya.
»---♡---«
Selama Seminggu Leyna dan Sean berada di mansion milik Kenzie. Sean memutuskan untuk tinggal dimansion milik Kenzie karena ia merasa tempat itu aman bagi Leyna. Selama hampir seminggu Leyna terus meminum darah Sean.
Pernah sekali Sean meninggalkan Leyna sebentar saat Leyna masih terlelap. Leyna mengamuk lantaran rasa haus yang membakar tenggorokan nya tidak bisa ditahan lagi. Untung saja Sean yang kembali dengan cepat dan mengobati rasa terbakar yang dialami kekasih kecilnya.
"Kak Sean, aku sudah tidak apa. Selama dua hari aku tidak merasa haus lagi. Aku ingin bersekolah lagi" bujuk Leyna sambil menggoyangkan lengan Sean.
"Tidak bisa sayang. Keadaanmu masih belum stabil" tolak Sean yang tidak ingin kebersamaan dengan gadisnya berakhir. Ia tidak rela.
"Jika aku terus membolos, bagaimana kalau aku tidak naik kelas?" kata Leyna cemberut.
Sean terkekeh mendengar alasan gadisnya. "Apa kamu lupa, jika aku wali kelas kamu, sayang?!" godanya sambil senyum misterius.
Leyna menatap Sean memohon "Aku bosan disini terus"
Leyna gelagapan "Bu-bukan begitu!"
"Aku hanya ingin bisa jalan-jalan keluar rumah. Bukan hanya melihat pepohonan saja" lanjut Leyna lirih.
Sean sebenarnya tidak tega melihat kesedihan kekasih kecilnya itu. Tapi ia tak ingin ambi resiko seperti waktu ia meninggalkan Leyna. Dalam sekejap, kamar yang mereka tempati hancur berantakan. Jika Leyna berbaur dengan manusia, takutnya Leyna tiba-tiba merasa haus yang tak tertahankan dan akhirnya membuat masalah.
Untuk sebulan setelah Leyna terbangkitkan, ia masih harus meminum darah milik Sean. Jika tidak, maka akan terjadi bencana. Leyna akan menjadi sosok yang berdarah dingin. Rasa hausnya akan darah tak akan pernah bisa berhenti. Itu sebabnya, Sean melarang keras Leyna untuk keluar dari mansion. Sean takut, Leyna akan meminum darah manusia diluar sana.
"Meskipun kamu menangis darah sekalipun, aku tidak akan mengizinkan kamu keluar dari hutan ini! Bahkan melangkah keluar pun tidak aku izinkan, Leyna Jeslyn! Aku sendiri yang akan membawamu keluar dari hutan nanti!" kata Sean menggunakan suara Alpha nya.
Leyna tertegun mendengar perkataan Sean yang menggunakan nada suara seorang penguasa. Apakah dirinya akan menjadi tahanan selamanya? Batin Leyna mulai berkecamuk. Pikiran buruk mulai menyerangnya.
Sean menatap tajam Leyna lalu berkata dengan tegas "Jangan pernah berpikiran buruk tentang aku yang mengurungmu disini!. Aku melarangmu demi kebaikanmu sendiri, Leyna! Jika kamu melanggar, akan ada bencana diluar sana!" setelah mengucapkan itu, Sean menghilang dari hadapan Leyna, bahkan aura Sean tidak ada di sekitar mansion.
Leyna menatap kosong. Apakah dia menerima keadaannya yang sekarang? Bukankah lebih baik ia dibiarkan mati saja dulu, agar bisa bertemu dengan kedua orangtua nya. Leyna masih belum bisa menerima keadaannya! Atau Leyna tidak akan pernah menerima keadaan dirinya sampai ia mati?!. Mengapa dunia begitu kejam padanya! Apa salah gadis kecil itu!
Leyna menangis tergugu dengan menyembunyikan wajahnya diatas lututnya. Ia kembali sendirian ditempat yang luas ini. Leyna ingin kembali seperti dulu. Seandainya ia tidak menerima tawaran temannya untuk bekerja di kediaman keluarga Alcander yang sangat misterius, semua ini tak akan pernah ia alami.
"Leyna..." suara lembut terdengar ditelinga Leyna yang masih menangis seketika menghentikan tangisannya. Ia mendongak untuk melihat siapa yang memanggilnya.
Mata sembab Leyna melihat seorang perempuan cantik menggunakan gaun yang sangat indah. Perempuan itu tersenyum tulus kearahnya.
"Si-siapa?" tanya Leyna terbata karena habis menangis.
"Aku Naira Victoria Maximus!" ucap perempuan itu memperkenalkan diri dengan nada suara yang sangat lembut.
Leyna terdiam. Ia memikirkan nama belakang perempuan itu sama dengan nama Sean yang satunya. "Maximus? Apa anda keluarga kak Sean?" tanya nya pelan.
Naira mengangguk masih tetap tersenyum "Benar sayang. Aku ibunya Sean" akunya
Mata sembab Leyna membulat. Ibunya?! Tapi terlihat bukan seperti ibunya! Pikir Leyna.
Naira tertawa dengan anggun "Kamu juga akan mengalami hal yang sama! Bahkan kamu akan menjadi perempuan paling cantik disana"
"Maksud anda?" tanya Leyna tidak mengerti.
"Kamu akan tahu jika sudah waktunya, sayang" ujar Naira tersenyum misterius. Ia mengusap pipi Leyna yang masih basah karena air mata.
"Bahkan sekarang warna matamu sangat cantik! Sebelum perpaduan warna merah dimatamu menghilang, kamu masih harus tetap ditempat ini demi keamanan kamu"
Leyna menepis tangan Naira yang masih membingkai wajahnya. "Tapi aku ingin pulang! Aku tidak ingin disini! Aku ingin pulang!" teriak Leyna histeris. Air matanya kembali mengalir dengan derasnya.
Naira membawa Leyna pada dekapannya. Ia tahu jika gadis dipelukannya itu sedang terguncang.
"Aku hanya ingin pulang. Aku tidak ingin disini. Aku ingin kembali seperti dulu lagi" ucap Leyna lemah. Pelukan Naira membuatnya tenang, ia merasa seperti sedang dipeluk ibunya sendiri.
"Kehidupan terus berjalan menuju takdir masing-masing dari setiap makhluk. Meskipun kita tidak menginginkan takdir yang menyakitkan, namun dibalik hal yang menyakitkan itu terdapat hal yang paling baik untuk kita. Cobalah mengerti dari perjalanan hidup yang sudah kita jalani. Hanya diri sendiri yang mengerti jalan hidup yang sudah dilalui. Jangan biarkan penyesalan datang dikemudian hari" kata Naira membuat Leyna menghentikan tangisnya.
Leyna melepas pelukan ibu dari tunangannya yang baru pertama kali bertemu dengannya. Ia menatap Naira sendu. "Lalu apa yang harus saya lakukan sekarang?" tanya Leyna putus asa.
"Sean yang paling mengerti kamu, sayang. Percayalah padanya. Dia tidak akan pernah sanggup untuk menyakitimu. Bahkan ia tak ingin melihat kamu menangis karenanya." jawab Naira dengan hangat.
Lagi. Leyna harus dipaksa menerima keadaan yang tak pernah ia inginkan.
Melihat calon menantunya kembali bersedih, Naira berujar "Pasti kamu pernah mendengar seseorang bercerita bahwa dia selama ratusan bahkan ribuan tahun harus membawa penyesalan yang mendalam"
...»---♡---«...
...T.B.C...