
"Jadi begitu" kata Alvian saat Sean sudah selesai bercerita.
"Mereka keturunan dari tiga orang immortal dan satu orang manusia" gumam Richard seperti ada yang aneh.
"Apa kamu punya foto orang tua mereka Sean?" Tanya Richard.
Sean menggeleng. "Aku tidak punya. Tapi aku bisa menggambar wajah mereka sesuai dengan ingatan Arion"
"kalau begitu gambarkan potret mereka!" ujar Rafael memberikan kertas dan pena.
"Baik paman" Sean mulai menggambar potret wajah ketiga orang itu.
Tak lama kemudian gambar Sean selesai. Ia menempelkan gambarnya di papan mading yang ada diruangan itu.
Mata Richard terbelalak. Tidak mungkin mereka bertiga?! Apa yang terjadi setelah ia tertidur? Gerald tak mengatakan apapun, apa tangan kanannya itu tidak tahu masalah yang terjadi pada ketiga orang itu?!
Yang pasti Richard akan memanggil Gerald saat ini juga! Dia harus menjelaskan masalah yang tidak ia ketahui!.
Richard mengambil ketiga gambar itu kemudian menghilang.
"Kenapa paman Richard mengambil gambarnya?" tanya Sean bingung.
"Semua akan terungkap nanti. Sudahlah kita kembali ke kelas. Aku akan menggantikan kelas Kak Richard" kata Rafael penuh misteri.
Sedangkan di dunia immortal. Tempat yang paling tersembunyi dihutan terlarang tempat kaum lucifer berada.
Disebuah mansion megah Richard berdiri di tempat ia pertama kali terbangun dari tidur panjangnya.
"Gerald!" teriak Richard membahana.
"Gerald memberi salam pada yang mulia" ujar Gerald yang sudah datang.
"Lihat potret wajah itu!" ujar Richard sambil melempar potret wajah yang sudah Sean gambar kearah Gerald.
Gerald hanya menunduk tak ingin melihat ketiga gambar wajah dibawahnya yang dilemar tuannya. Ia tahu cepat atau lambat tuannya akan bertanya hal ini padanya.
"Kenapa kau hanya menunduk!" Geram Richard. Warna matanya sudah berubah merah gelap.
"Hamba tidak tahu apapun yang mulia" Gerald tetap menunduk, ia menyebut dirinya 'hamba' karena tuannya sedang dalamkeadaan marah.
Richard mencekik Gerald lalu mengangkat paksa tubuh Gerald sampai melayang diudara. Gerald hanya pasrah dengan apa yang dilakukan tuannya padanya. "Katakan atau aku akan membunuhmu!" ancamnya.
Gerald tidak berani menatap mata tuannya. "Berani sekali kau tidak menatapku hah!" raung Richard murka karena Gerald hanya diam sambil menutup mata.
"Am-pun tu-an" ucap Gerald terbata.
"Mes-ki-pun ham-ba ta-hu ke-be-na-ran-nya, ham-ba te-tap ti-dak bi-sa me-nga-ta-kan pa-da sia-pa-pun. Ter-ma-suk an-da" lanjut Gerald yang masih tidak ingin membuka mata.
"Buka matamu dan biarkan aku melihat masa lalumu!" desis Richard pelan.
Gerald berusaha untuk menggeleng "Ti-dak tu-an. Ham-ba le-bih ba-ik ma-ti di ta-ngan an-da!" tolaknya.
Wajah Gerald sudah pucat pasi karena terlalu lama dicekik oleh Richard. Bahkan otot wajahnya terlihat jelas. Merasa kasihan pada bawahannya, Richard lantas melepaskan cekikannya.
Gerald terbatuk setelah cengkraman Richard terlepas.
Richard menatap dingin hamparan hutan yang diselimuti kabut tebal berwarna hitam pekat diluar jendela. "Berikan aku alasan kenapa kau menolak untuk menjelaskan padaku!" ucap Richard dingin.
Gerald bersujud dibelakan Richard "Hamba lebih memilih mati ditangan anda dari pada hamba mati karena hamba melanggar sumpah darah yang sudah hamba ucapkan!" jelasnya.
Richard melirik kebelakang dimana tangan kanannya sedang bersujud padanya. "Sumpah darah?!"
"Benar tuan"
"Kenapa kau mengambil sumpah mematikan itu Gerald?!"
"Hamba terpaksa mengambil sumpah darah karena tuan putri mengancam hamba. Mereka mengancam, jika hamba tidak melakukan sumpah itu, tuan putri mengancam akan mengakhiri hidup mereka" jelas Gerald.
"Apakah ada orang lain yang tahu masalah itu?!"
Gerald menggeleng "Tidak tuan. Hanya hamba seorang"
"Pergilah!" usir Richard dengan pikiran yang berkecamuk.
Gerald hanya diam ditempat. Ia tetap tak beranjak dari tempatnya.
"Kenapa kau masih disini?!"
"Hamba khawatir anda... —"
"Tidak perlu khawatirkan aku! Aku baik-baik saja. Kau pergilah sebelum aku berubah pikiran!" potong Richard karena tangan kanannya yang tidak menuruti perintahnya.
Gerald berdiri tapi masih tetap dalam keadaan kepala menunduk "Hamba pamit yang mulia"
Setelah kepergian Gerald, Richard meluapkan amarahnya. Untung saja mansionnya sangat kokoh! Jika tidak, makan mansionnya akan rata dengan tanah.
Sedangkan Gerald hanya menatap mansion tuannya dari kejauhan. Ia tetap memantau sang tuan dari jauh.
...»---♡---«...
Didunia manusia kehidupan berjalan sebagaimana mestinya.
Sean berusaha mencari keberadaan Richard. Setelah menemukan dimana Richard berada, Sean ingin menemuinya. Namun sayang ia tidak bisa masuk ke klan lucifer karena ada barrir yang menghalangi siapapun yang berada diluar. Meskipun Sean bisa masuk, tapi ia putuskan untuk kembali kedunia manusia setelah ia bertemu kedua orangtua nya. Sean tidak akan memaksa masuk demi menghormati seseorang yang sudah merawat dan membesarkannya.
Berbeda dengan Leyna. Gadis itu mulai menunjukkan perubahan pada bentuk maupun sifatnya. Hanya saja sifat polosnya masih mendominasi.
»---Bulan Purnama Ke-Dua---«
Sesuai dengan yang dikatakan pria asing yang digudang tempat persembunyian mereka jika disekolah. Arion, Gavin dan Damian saat ini sudah berada di depan sebuah mansion megah. Dihalaman terdapat sebuah mobil mewah hitam mengkilat.
...
...
...(Bugatti La Voiture Noire)...
...
...
...(Pagani Zonda HP Barchetta - Mercedes Benz) ...
"Ayo kita masuk" ujar Gavin yang diangguki Arion dan Damian.
Arion menekan bel dan setelahnya pintu terbuka dengan sendirinya.
"Kak apa kita yakin masuk kedalam?" kata Damian Ragu.
"Masuklah!" suara pria yang pernah mereka dengar digudang mengagetkan ketiganya.
Setelah Arion mengangguk, mereka masuk kedalam mansion.
Blam...
Pintu yang tadi terbuka sendiri juga tiba-tiba tertutup dengan sendirinya membuat ketiganya kembali kaget.
"Tempat ini mewah sekaligur terlihat menyeramkan" bisik Gavin.
"Sebaiknya jangan berkomentar apapun!" tegur Arion.
"Naiklah keatas lantai tiga" suara pria tadi kembali terdengar.
Mereka menaiki tangga sampai kelantai tiga. "Sayap kiri. Pintu paling ujung" suara pria itu kembali terdengar.
Mereka hanya mengikuti instruksi dari suara pria misterius itu. Ketiganya sampai dilorong paling ujung dan benar saja terdapat sebuah pintu.
"Masuklah!"
Lagi, Arion mendorong dua pintu besar itu. Setelah terbuka, didalam sana sangat gelap. Sama seperti yang pernah mereka alami digudang waktu itu.
"Saya bilang masuk! Bukan menyuruh kalian hanya diam diluar! Kalian dengar 'kan?!"
"Tapi didalam sangat gelap" seru Arion mewakili kedua adiknya juga.
"Maju enam langkah!"
Mereka bertiga saling melirik, kemudian Arion mengangguk. Mereka masuk kedalam dan pintu menutup dengan keras membuat ketiganya membalik badan kearah pintu.
Terdengar suara jentikan jari dan lampu ruangan kembali menyala.
"Kalian membuang waktuku!" geram pria itu.
Arion, Gavin dan Damian membalik badan. Terlihat dua orang pria menghadap keluar jendela. Yang satunya duduk dikursi kebesaran dibalik meja yang luas dengan beberapa buku dan beberapa peralatan pekerjaan kantoran dan yang satunya berdiri dengan salah satu tangan yang dimasukkan kedalam kantong celana.
"Kalian membuat kita menunggu lama!" seru pria itu.
"Maafkan kami tuan. Dari ujung jalan kami harus berjalan kaki kedalam hutan ini" ujar Arion memberikan alasan.
"Lupakan!l
Tangan pria yang sedang berdiri terulur kearah tirai besar "Lihat ini!"
Sreekkk....
Tirai terbuka lebar memperlihatkan isi dibalik tirai itu.
Mata Arion, Gavin dan Damian terbelalak dengan mata berkaca-kaca.
"Kalian kenal dengan ketiga orang itu?" ujar pria yang tadi membuka tirai.
...»---♡---«...
...T.B.C...