Immortal Reingcarnation

Immortal Reingcarnation
Ancaman Rafael



Naira yang masih bergelung dengan selimutnya terpaksa harus membuka matanya karena mentari pagi menerpa wajahnya.


Naira duduk lalu meregangkan otot ototnya yang kaku. Meraih segelas air putih di atas nakas lalu meminumnya hingga habis.


Berjalan ke kamar mandi dengan langkah gontai dan memulai ritual mandinya.


Setelah selesai mandi dan berpakaian Naira turun membantu bundanya yang sedang memasak. Memeluk bundanya dari belakang membuat Sheila terkejut. "Selamat pagi, bunda" sapanya dengan manja.


"Pagi sayang. Kamu tuh ngagetin bunda aja" sapa Sheila membalas sapaan putrinya.


"Bunda masak apa? Biar Nai bantu" tawar Naira.


"Tidak usah sayang. Ini juga udah selesai kok. Bantu bawa ke meja makan aja ya"


Semua makanan sudah tertata rapi di meja makan. "Bun, kenapa makanannya banyak sekali?" tanya Naira heran melihat banyaknya makanan di meja makan.


Sheila tersenyum "Ada seseorang yang sudah pulang"


Naira mengernyit, "siapa yang pulang?" tanyanya bingung.


"Apa kamu tidak merindukan aku?" ujar seseorang dengan suara beratnya dari belakang Naira.


Naira menoleh ke sumber suara lalu matanya berbinar bahagia "Kakak" ujarnya lalu memeluk Kean. "Kakak kenapa tidak pulang pulang" ucapnya dengan manja.


Kean tidak membalas pelukan Naira, ia hanya mengelus belakang kepala Naira dengan lembut "Haha... Aku juga merindukanmu" sindir Kean.


"ishh... Kakak, Nai juga rindu sama kakak" ujar Naira cemberut saat Kean menyindirnya.


"jangan cemberut dong, ayo senyum" Naira tersenyum manis seakan ia melupakan kesedihannya. Naira kembali memeluk Kean lagi sampai suara berat khas Louis mengintruksi mereka membuat Naira melepas pelukannya.


"Kita sarapan dulu, nanti saja kangen kangenannya, ayah sudah lapar soalnya" ujar Louis yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Ayo kak, kita sarapan dulu" ajak Naira ceria, dan Kean hanya menurut saja.


Sedangkan Rafael hanya memandang keduanya datar. Merasa terabaikan.


Mereka pun makan dengan tenang.


"Nai, Ada yang ingin kakak bicarakan padamu" ujar Kean setelah menyelesaikan acara makannya.


Naira menghentikan minumnya lalu menatap Kean "Ada apa?"


"Kean, nanti saja. Sekarang sudah siang jadi kalian berangkat bekerja dulu"


"Tapi, yah"


"Benar kata ayah. Nanti saja setelah makan malam 'kan bisa" Sheila membenarkan perkataan suaminya.


"Hahh... Baiklah" Pasrah Kean.


Skip


Setelah makan malam Kean angkat bicara "Aku kekamar dulu, selamat malam" ujarnya lalu berjalan meninggalkan meja makan.


Rafael, Louis dan Sheila menatap Kean bertanya. Ada apa dengannya? Kenapa Kean tidak juga mengatakannya pada Naira?!. Pikir mereka.


Kean masuk kedalam kamarnya lalu mengunci pintunya. Meskipun itu tidak berlaku untuk Rafael. Tapi setidaknya yang lainnya tidak akan bisa masuk.


"Maaf kak, Kean belum bisa mengatakannya pada Naira. Setelah aku membaca pikirannya aku jadi tidak tega jika itu akan membuatnya semakin bersedih" gumam Kean gundah.


Kean yang sudah menganggap Naira sebagai adiknya sendiri dikehidupan sebelumnya dan sekarang.


'Enam hari lagi' batin Kean.


Kean menghela napas pelan lalu meletakkan tubuhnya di ranjang nya senyaman mungkin.


Saat ia akan menutup matanya tiba tiba jendela kamarnya terbuka lebar sehingga angin malam masuk ke dalam.


Kean duduk kembali lalu memandang siapa pelaku yang sudah berani mengganggu nya dengan datar.


Si pelaku masuk melompat ke dalam kamar Kean dengan cepat saat kedua sayap putih di punggungnya menghilang.


"Kapan kau akan mengatakannya ke Nai?!" katanya memandang Kean sama datar nya.


"Pergilah! Aku mau tidur" usir Kean.


"Baiklah. Aku akan ke kamarku" balasnya lalu ia menatap Kean tajam.


"Ingat! jika kau tidak mau mengatakannya pada Naira, aku sendiri yang akan mengatakannya! Karena aku tidak ingin adikku semakin bersedih karena menunggu kak Kenzie." gertak nya lalu ia menghilang dengan tertutup nya kembali jendela yang tadi terbuka sendiri.


"Aku akan segera mengatakan nya ke Naira. Tapi tidak sekarang!?" gumamnya lalu merebahkan kembali tubuhnya dan menutup mata nya.


Esoknya, ketika masih subuh Kean sudah siap dan berangkat ke kantornya setelah ia menempelkan pesan di depan pintu kamarnya yang bertuliskan 'Aku sudah berangkat ke kantor dan tidak tahu kapan aku pulang'


Seperti biasa, keluarga Efron akan melakukan kebiasaan mereka sebelum berangkat bekerja. Sarapan bersama, tapi  Kean yang baru pulang tidak bisa ikut sarapan bersama.


Rafael mengepalkan tangan kirinya yang berada di bawah meja dengan kuatnya sehingga otot tangannya terlihat. Rafael marah karena Kean tidak terlihat dan ia juga tidak merasakan aura nya di rumahnya. Kean pergi dengan alasan bekerja dan ia juga tidak tahu kapan dia pulang.


'Kalau kau sampai terlambat membawa Naira ke tempat ritual pengikatan, aku... yang akan membunuhmu jika sampai perang itu terjadi!' Sumpah Rafael melalui mindlink pada Kean.


"Kamu sudah selesai sarapannya, Nai?" tanya Rafael datar saat Naira sudah menghabiskan roti selai kesukaannya dan susu nya.


Naira memandang kakaknya "Sudah kak" katanya sambil tersenyum manis.


Rafael tersenyum hangat "Kalau sudah ayo kakak antar"


Mereka berjalan beriringan. Naira sesekali tersenyum jika ada siswa yang menyapa mereka.


Mereka sampai diruangan khusus guru dan para guru menyapa keduanya dengan hormat. Dan itu membuat Naira risih sendiri.


Naira duduk di tempatnya dan melihat jadwal ia akan mengajar.


Bel sudah berbunyi dan jam pertama Naira mengajar dikelas dua belas a dan jam ketiga di kelas sebelas a karena sekarang naira mengajar bahasa inggris menggantikan pak Dino yang lagi sakit.


Kalau bel sudah berbunyi.


Biasanya Raihan akan menyusulnya sebelum bel berbunyi. Tapi sekarang, tidak ada lagi yang menyusulnya. Sepertinya Naira merindukannya.


"Kak, aku akan mengajar menggantikan pak Dino" ujarnya ke Rafael.


Rafael menatap Naira lama. Ia membaca pikiran adiknya itu dan membuatnya gemas karena adiknya merindukan pria muda itu. Raihan.


Rafael mengangguk lalu berdehem "Hmm" lalu menunduk membaca bukunya kembali.


'Ada apa dengan kakak?' batin Naira bingung


...»---♡---«...


*Kean pov*


Subuh hari aku langsung pergi ke tempat biasa nya aku ingin sendirian yang berada di tengah hutan terlarang untuk menjernihkan pikiranku. Dan sekarang aku hanya menatap hamparan pohon yang menjulang sambil memikirkan bagaimana caranya aku memberi tahu Naira kalau kak Kenzie sedang membutuhkannya. Kalau tidak Rafael sendiri yang akan memberitahu Naira. Aku tidak ingin kehilangan kakak nya, keluarga satu satunya. Dan nanti juga akan terjadi peperangan karena pemimpin dunia immortal telah tiada.


Dan kalau hal itu terjadi Rafael sendiri yang akan menghabisiku.


Yeah....semalam yang masuk ke kamarku Rafael lah pelakunya.


Umur kami berselisih dua ratus tahun di dunia kami. Dia lebih tua dariku tapi wajahnya yang terlihat lebih muda dariku membuatnya harus menjadi adik ku bila di dunia manusia.


Aku benar benar bingung. Apa Naira akan percaya kalau yang ku katakan benar adanya, atau Naira tidak akan percaya dengan apa yang akan ku katakan nanti.


Ya! Aku harus segera mengatakannya. Kalau tidak semua hal buruk itu akan terjadi.


*Kean pov end*


...»---♡---«...


Rafael menggeram marah. Bagaimana ia tidak marah, sudah empat hari Naira belum di temukan.


Setelah Naira mengatakan kalau ia akan menggantikan pak Dino mengajar dan keluar ruangan. Tak lama Rafael merasakan anak buah pria itu yang ingin membunuh adik nya.


Dan selama empat hari itu juga Kean belum kembali. Dan Kean juga tidak bisa di hubungi. Kalau menghubungi Alvian, siapa yang akan menjaga dunia immortal sekaligus Kenzie.


"Keannn... Aku bersumpah akan membunuhmu jika kau tidak kembali juga" Teriak Rafael membahana mengisi kediaman keluarga Efron.


Sheila menatap takut ke Rafael yang tengah murka. Kemarin Rafael sudah memporak-porandakan kamarnya. Dan sekarang sepertinya Rafael akan menghancurkan rumah ini.


"Rafael tenangkan dirimu. Kalau kau sampai lepas kendali bukan hanya rumah ini yang hancur, daerah di sekitar sini juga akan hancur!" Tegas Louis memperingatkan.


"Vano, aku akan menghancurkanmu kalau kau sampai  menyakiti adikku meskipun hanya seujung rambut!" desis Rafael mengerikan lalu menghilang.


Louis menghela napas lalu memeluk Sheila yang ketakutan. "Ssttt... Aku yakin Rafael bisa mengendalikan dirinya" ujar Louis menenangkan istrinya.


...»---♡---«...


Ditempat lain


Di sebuah mansion megah yang terlihat mengerikan dari luar. Dimansion itu terdapat ruang tahanan bawah tanah. Ruang tahanan itu memancarkan bau amis darah yang sudah mengering.


Di salah satu sel terdapat seorang gadis yang tengah melamun. Sudah empat hari dia terkurung di sana. Di culik lalu di masukkan ke dalam sel.


Makanan yang di bawakan pelayan tidak ia makan, takut ada racun di makanan itu.


"Queen Naira. Aku sudah berbaik hati karena kau seorang ratu seluruh immortal. Tapi kenapa kau tidak juga memakan makananmu!" Ujar seseorang pria jangkung berjubah hitam memandang Naira penuh kebencian di akhiri dengan bentakan.


Naira mendongak menatap pria itu "Aku bukan ratu yang anda maksud tuan. Aku manu..."


"Manusia huh? Kau memang seorang manusia sekarang tapi darahmu bukanlah darah manusia! Setelah bulan purnama merah kau bukan lagi manusia. Kau akan menjadi istri dari demon yang kejam" potong pria itu membuat Naira diam antara percaya tidak percaya dengan yang di katakan pria berjubah hitam itu.


Naira menggeleng "Yang anda katakan itu tidak benar tuan. Aku manusia, tidak ada makhluk seperti yang anda sebutkan tadi, dan anda juga manusia'kan?" ngotot Naira tidak percaya.


Suara tawa menggelegar dipenjara bawah tanah terdengar begitu keras dan mengerikan ketika mendengar perkataan mantan ratu nya, lalu dia menyeringai memperlihatkan taringnya yang tajam. "sekarang kau percaya ratu?!" katanya saat melihat Naira ketakutan.


Pria berjubah itu mendekati Naira yang semakin bergetar ketakutan.


"kak Rafael" entah kenapa Naira menggumamkan nama Rafael. Naira merasa seperti memiliki hubungan kuat dengan Rafael.


Pria itu yang mendengar gumaman Naira lantas tertawa lagi dengan sangat keras, mengejek kalau orang yang di sebut Naira tidak akan datang "Hahahaha...... kau menggumamkan kakakmu itu huh? Dia tidak akan bisa menemukanmu" ejeknya.


"Kata siapa aku tidak bisa menemukan adikku" ujar seseorang dingin.


...»---♡---«...


...TBC...


...Jangan lupa like and follow ...


...Terimakasih ...