
Tahun ajaran baru sudah dimulai. Ratusan murid baru kelas 1 dan kelas 2 juga kelas 3 SMA Devender dikumpulkan di aula utama karena banyaknya murid yang bersekolah disana.
Acara pembukaan murid baru pun dimulai. Kepala sekolah Devender yang tak lain dan bukan ialah Alvian Hemsworth memberikan beberapa sambutan pada seluruh murid baru.
Para siswi terpanah dengan ketampanan Alvian terkecuali Zeline dan Eshal yang terkejut dengan sosok yang berdiri didepan podium. Setelah menyampaikan sepatah dua kata. Naiklah Rafael selaku pemilik sekolahan. Rafael juga memberikan sedikit sambutan dengan wajah dinginnya sama dengan Alvian.
Semuanya kembali normal setelah Kebangkitan Sean sudah sempurna, meskipun Kenzie masih tetap melarang kaum Immortal pergi kedunia manusia. Dan dalam darah Sean juga sudah tercampur dengan darah Leyna saat membangkitkan Leyna. Begitupun juga dengan Leyna yang memiliki darah Sean. Leyna bukan lagi manusia biasa. Ia juga memiliki kekuatan yang dimiliki Sean kecuali sosok wolf tidak dimiliki dalam diri Leyna,tetapi kekuatan leyna masih belum terbangkitkan. Darah Sean maupun Leyna sudah tidak berguna lagi bagi kaum immortal. Yang ada, darah mereka akan seperti racun bagi mereka.
"Woaaa aku tidak percaya jika mereka ada disini" Eshal berdecak kagum melihat dua orang pria gagah berada didepan podium.
"Kamu lupa jika sekolah ini milik paman Raf" timpal Zeline berbisik.
"Ah iya. Sama dengan nama belakang paman Raf"
Tak lama Kean, Vano, Arthur, Richard bahkan Sean juga ikut berbaris naik keatas podium lalu berdiri dibelakang Rafael.
"Saya ingin memperkenalkan kepada seluruh murid SMA Devender. Mereka semua yang berdiri dibelakang saya adalah guru baru yang sudah terpilih disekolah ini" ucap Rafael memperkenalkan ke-lima pria yang berdiri dibelakangnya dengan wajah dingin.
Sekarang SMA Devender seluruhnya bukan diurus oleh manusia. Melainkan para makhluk immortal yang tak lain bawahan kepercayaan mereka.
Leyna, Zeline dan Eshal terbengong melihat para pria yang berdiri disana.
"Apa yang dilakukan kak Sean dan om Richard?" tanya Leyna bingung terhadap mereka berdua. Pasalnya Leyna hanya mengenal dua orang itu saja. Tapi sebaliknya, mereka semua yang berdiri diatas podium tahu siapa Leyna. Dan mereka disana sekarang untuk melindungi Leyna yang hanya setengah manusia.
"Kami juga tidak tahu" jawab Eshal.
Zeline dan Eshal sudah sangat dekat dengan Leyna. Bahkan mereka berdua selalu bikin Sean pusing karena selalu diganggu saat ia berduaan dengan Leyna.
Semuanya memperkenalkan diri masing-masing, setelah selesai mereka turun dari podium.
Dari acara dimulai Sean ingin sekali menghampiri kekasih kecilnya lalu membawanya pergi. Ia jarang sekali berduaan dengan kekasihnya karena selalu diganggu kedua adik luknutnya. Bahkan ia tidak lagi tidur berdua dengan kekasihnya. Alasannya karena kedua adiknya takut jika dirinya menerkam Leyna.
Jam istirahat pun tiba. Saat ini mereka bertiga yang tak lain Leyna, Zeline dan Eshal berjalan kearah kantin. Mereka bertiga menjadi bahan tontonan karena wajah cantik yang mereka miliki. Tapi ketiganya acuh.
Banyak sekali yang memuji kecantikan mereka tapi ada juga yang iri pada kecantikan tiga gadis itu.
Saat sampai dikantin Leyna mencari tempat duduk kosong. Sedangkan Zeline dan Eshal yang membeli dan mengambilkan makanannya.
Leyna melihat tempat kosong dipojokan kantin yang berisi empat kursi. Leyna duduk dengan tenang disana tanpa tahu jika masalah akan segera menghampiri dirinya.
Byur
Leyna tersentak saat seseorang mengguyurnya dengan segelas jus.
"Heh ngapain kau disini. Tempat ini punya kami. Oh murid baru ya" katanya sambil menjambak rambut Leyna.
Leyna hanya diam sambil menatap tajam orang yang menjambaknya. Entah mengapa jambakan dirambutnya tak terasa sakit sama sekali.
Tak lama suara guyuran air terbang kearah gadis yang sedang menjambak rambut Leyna. Tapi anehnya Leyna tidak terkena air kotor itu.
"Apa yang kau lakukan padanya, b*ch" ucapan dingin terlontar dari bibir merah Zeline seraya ikut menjambak rambut gadis yang menarik rambut Leyna.
Eshal mencengkram tangan gadis itu dengan kuat sampai membuat gadis itu kesakitan dan ia merasa bahwa tulangnya akan patah jika tidak segera dihentikan "Lepaskan tangan kotormu dari nya, j*l*ng"
"Siapa kalian?! Kalian hanya junior disini. Berani sekali kalian padaku!" katanya sambil menahan sakit.
Mereka menjadi bahan tontonan dikantin. Tapi Zeline maupun Eshal tidak peduli jika ada yang melapor. Malah bagus jika ada yang melapor.
"Apa yang kalian lakukan" teriak seorang yang baru saja memasuki kantin.
"Pak tolong saya. Mereka menyakiti saya pak" ujar gadis itu yang bernama Sindy setelah melepaskan tangannya dari rambut Leyna.
"Pak mereka menyakiti Sindy pak. Coba anda lihat" adu teman Sindy yang bernama Rina.
"Kamu ikut saya keruangan saya. Dan juga kamu" tunjuk pria itu pada Sindy dan Rina.
Pria itu tahu jika yang bersalah adalah Sindy. Tapi mereka malah menyalahkan ketiga gadis yang ia jaga.
"Tapi pak Kean, saya tidak bersalah. Merekalah yang salah pak" bela Sindy yang tidak mau mengaku.
"Baiklah. Jika kalian tidak ingin ikut. Akui disini atau diruangan saya!" ancam Kean dingin. Mereka berdua gemetar ketakutan.
Zeline dan Eshal saling bertatapan. Mereka tahu jika kedua gadis itu suka membuat ulah.
"Pak anda tidak perlu membawa mereka. Kami tadi hanya sedang bercanda. Benarkan?!" cegah Zeline sambil menatap Sindy penuh ancaman. Dengan bodohnya Sindy mengiyakan perkataannya. Karna ia juga tidak ingin mendapatkan hukuman dari guru BK yang baru dengan kabar yang katanya tidak pandang bulu dalam memberikan hukuman.
"Saya harap kalian tidak benar-benar bertengkar" kemudian Kean pergi meninggalkan kantin. Bercanda apanya?! Keduanya basah kuyup begitu! Untung keponakan sendiri! Biarlah mereka yang mengurus semuanya! . Lanjut Kean dalam hati yang terus berjalan dengan santai keluar dari kantin.
Setelah kepergian Kean suasana kembali ramai. Lalu kantin kembali hening saat seorang pria yang lain memasuki kantin. Kaki jenjangnya melangkah cepat dengan kedua tangan yang mengepal kuat menahan amarah.
Diraihnya sebuah minuman yang dibawa seorang siswa.
Byurrr
Untuk kedua kalinya Sindy tersiram. Dan kali ini yang menyiramnya guru baru di SMA Devender yang bernama Sean Alexis Maximus.
"Berani sekali kau menyakiti tunanganku!" geram Sean dengan suara Alpa Tone nya. Alex lah yang sekarang sedang mengambil alih. Jika Sean yang mengambil alih, bisa dipastikan gadis itu pasti akan mati ditangannya.
Semua orang terkejut dengan kelakuan guru baru itu yang sudah menyiram gadis biang onar yang selalu membuli murid yang lemah. Apa lagi saat pria itu mengatakan jika Leyna adalah tunangannya.
Sean datang karena tiba-tiba kepalanya terasa pusing, seperti rambutnya ada yang menariknya dengan kuat.
"Saya tidak peduli kamu anak siapa. Yang jelas kamu sudah berani menyakiti tunangan saya."
"Akan kupastikan keluargamu hancur" bisik Sean/Alex tepat ditelinga Sindy.
Tubuh Sindy bergidik ngeri dengan ancaman yang dilontarkan Sean.
Dengan sekali jentikan jari, seperti waktu berputar kembali ke awal. Keadaan kembali seperti tidak terjadi apa-apa. Semua orang tidak ada yang mengingat tentang kejadian tadi kecuali satu orang yang masih mengingatnya, Sindy.
Semua orang dikantin merasa heran dengan keadaan Sindy yang basah kuyup. Sedangkan Leyna dan dua bersaudari masih belum sampai dikantin.
Sindy menatap sekitar seperti waktu diputar kembali. Benar saja! Ketiga gadis itu! Gadis yang ia jambak dan kedua gadis yang menyiksanya baru memasuki kantin.
Tubuh Sindy gemetaran dan akhirnya ia keluar meninggalkan kantin dengan perasaan takut. Apakah guru barunya itu bukan manusia? Batin Sindy ketakutan mengingat sebelum guru baru itu mengancam agar tak membocorkan masalah siapa dirinya, atau dia akan mati dengan mengenaskan.
...»---♡---«...
...T.B.C...