
Para murid baru berdesakan untuk melihat kelas mereka yang sudah tercantum di mading sekolah.
Ketiga gadis itu hanya diam dibelakang tanpa perlu berdesakan mereka sudah tahu dimana kelas mereka. Ketiganya mempunyai penglihatan yang sangat tajam. Leyna bisa melihat atau mendengar hal sekecil apapun setelah terbangkitkan oleh darah Sean.
Ketiganya melenggang pergi menuju kelas mereka. Dengan paksaan Sean pada Alvian selaku kepala sekolah agar menempatkan ketiganya dikelas yang sama. Mereka berada di kelas B dan yang menjadi wali kelasnya adalah Sean sendiri. Alvian hanya pasrah dengan paksaan calon Kaisarnya dimasa depan.
Sean juga mengancam Alvian dan Rafael untuk menghentikan aktivitas MOS yang menurut Sean, apa yang harus mereka pakai hari ini sangat memalukan. Bagaimana tidak memalukan, mereka harus memakai kaus kaki selingkuh, memakai kalung dengan nama mereka yang ditulis dikertas karton, serta harus membawa plastik besar sebagai tas nya. Sangat tidak berkelas dan juga mempermalukan diri sendiri.
Para osis yang berencana ingin mengerjai adik kelas mereka menjadi kecewa, lantaran kepala sekolah menghentikan aktivitas MOS.
Eshal mengajak Leyna duduk sebangku dengannya yang berada dibelakang sendiri paling pojok sebelah jendela. Leyna hanya bisa mengangguk. Lagi pula Leyna juga tidak ingin berada didepan. Sedangkan Zeline berada disamping Leyna yang berada ditengah.
Leyna yang melihat tempat duduk mereka dan juga ia ingat jika tadi mereka duduk seperti itu juga. Ingatannya kembali mengingat apa yang Sean katakan tadi dimobil yang mengatakan jika ia memiliki bodyguard yang akan melindunginya digarda depan jika ia dalam bahaya. Ia sadar jika bodyguard yang dimaksud Sean adalah kedua adiknya yang juga posesif padanya. Tapi Sean lebih posesif terhadap Leyna dibandingkan kedua saudari itu.
Leyna seketika tertawa pelan membuat Eshal dan Zeline menatapnya heran.
"kenapa tertawa? Ada yang lucu?" tanya Eshal yang mendengar kekehan Leyna.
Leyna menggeleng sambil berusaha menghentikan tawanya.
Tak berapa lama wali kelas mereka memasuki kelas. Wajah khasnya yang dingin selalu melekat di ingatan mereka terutama para murid perempuan. Mereka bersorak senang karena mendapat wali kelas yang merupakan pria paling tampan disekolah. Sedangkan para murid laki-lakinya bergidik ngeri dengan aura yang dikeluarkan Sean.
"Selamat pagi semua" sapa Sean yang sudah berdiri dibelakang meja guru.
"Selamat pagi pak" balas para murid.
"Semuanya berdiri!" perintah Sean yang langsung dituruti semuanya.
"Kita berdoa sesuai dengan agama masing-masing dalam hati. Berdoa mulai!" ujarnya lalu menunduk. Mereka semua menundukkan kepala berdoa dengan khidmat.
Sean mengangangkat wajahnya "Selesai"
Setelah berdoa para murid kembali duduk dengan tenang.
Sean menatap ke semua penjuru dikelas. "Karena hari ini masih belum pelajaran, kita perkenalan dulu" ucapnya melihat Leyna yang juga menatap kearah nya. Sean melemparkan senyum sangat tipis dan hanya diketahui oleh Leyna seorang, karena Zeline dan Eshal sibuk sendiri.
"Nama saya Sean A. Maximus. Panggil saya Max! Usia saya 25 tahun dan sudah bertunangan!" katanya memperkenalkan diri dengan sangat jelas karena ia yakin jika para siswi akan mempertanyakan hal tersebut jika dilihat dari wajah mereka yang tampak kecewa.
"Cieee yang diakui sama tunangannya didepan" bisik Eshal sambil terkikik geli.
Leyna hanya menunduk dengan wajah merona sambil menahan senyumnya. Ya, Sean dan Leyna sudah bertunangan tadi malam sebelum Kenzie kembali kedunia immortal.
"Tunggu! Kapan kalian bertunangan?!" tanya Eshal yang sadar dengan ucapannya barusan dengan keras sampai membuat semua orang menatap ke arahnya heran kecuali Sean yang menatapnya tajam. Mulut adiknya benar-benar tidak bisa dikontrol. Batin Sean.
"Kau kenal dengan pak Max?" tanya salah satu siswi yang katanya anak gubernur pada Eshal.
"Tentu saja aku sangat mengenalnya! Eh tidak juga sih" ujar Eshal sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Eshal sebaiknya kamu diam" tegur Zeline yang memang agak pendiam jika berada diluar.
Eshal menuruti perkataan kakak perempuan nya dengan patuh.
Sean kembali melanjutkan perkenalan yang tertunda sejenak. Semua murid memperkenalkan diri mereka masing-masing dan juga ada yang berusaha menarik perhatian Sean. Tapi Sean hanya acuh. Baginya hanya gadisnya lah yang paling cantik dan menarik perhatiannya.
Sean menatap Leyna dengan lembut. "Nama saya Leyna Jeslyn" ucap Leyna lembut membuat para siswa terpikat dengan suara indahnya.
"Eshal Victoria M. Panggil saja Eshal"
"Perkenalan nya sampai disini. Sekarang saya akan menentukan siapa yang menjadi ketua kelas, wakil ketua kelas, sekretaris dan bendahara"
"Pak saya mengajukan diri sebagai ketua kelas" ujar salah satu siswi dengan percaya diri yang merupakan anak dari pengusaha terkenal.
"Saya sendiri yang akan menentukan. Kalian tenang saja, saya akan memilih dengan baik." kata Sean dengan dingin. Siswi yang tadi hanya bisa menundukkan kepalanya malu.
"Zeline yang akan menjadi wakil ketua kelas! Eshal menjadi sekretaris, bendahara Rizka" putusnya.
"Lalu ketuanya siapa pak? Laki-laki apa perempuan? Masa perempuan semua!" protes salah satu siswa bernama Damian Franco.
"Rizka kamu mau jadi bendahara?" tanya Sean.
Rizka menggeleng "Tidak pak terimakasih." tolaknya.
Sean menatap kedepan "Baiklah, Damian yang akan menjadi bendaharanya!" katanya membuat Damian melotot.
'Jaga matamu, atau kupaksa bola matamu keluar dari tempatnya!' mindlink Sean yang tahu jika Damian seorang immortal. Dengan menjadikan Damian sebagai bendahara, Sean bisa mengawasi salah satu immortal yang entah mengapa berada didunia manusia. Sean akan mencari tahu sampai tuntas! Ia tidak ingin suatu hal buruk akan terjadi nantinya.
Damian gelagapan mendapat mindlink dari wali kelas nya yang ternyata seorang immortal juga. Pria itu terlihat sangat misterius. Batin nya.
"Ya pak" kata Damian menerima dengan pasrah karena ia lagi-lagi mendapat ancaman dari Sean.
"Yang akan jadi ketua kelasnya Leyna! Tidak ada bantahan" putus Sean dengan senyum menawan yang menghiasi wajahnya membuat para siswi semakin terpukau dan tanpa sadar mereka mengangguk.
"Bagus kalau kalian setuju Leyna yang menjadi ketua kelasnya"
"Kok saya pak?!" teriak Leyna tanpa sadar ia berdiri dn menggebrak meja membuat Eshal dan Zeline yang berada di sampingnya terkejut.
"Tidak ada pilihan lain selain kamu Leyna" keukeh Sean tanpa bantahan.
Leyna duduk dengan pasrah dan akhirnya Leyna menerima keputusan Sean yang mendadak.
Sean menyeringai sangat tipis, ia akan selalu berduaan dengan gadis kecilnya itu. Licik memang.
Zeline menatap kakaknya dengan seksama. Ia mengetahui apa yang kakaknya rencanakan. Ia hanya menggeleng pelan karena keposesifan kakaknya sangat berlebihan.
Sean menatap jam tangannya sebentar kemudian kembali menatap kedepan "Harap ketua kelas, wakil ketua dan bendahara mengikuti saya keruangan saya untuk mengambil buku pelajaran" suruhnya kemudian keluar kelas.
Leyna menatap Zeline disebelahnya yang hanya mengangguk pelan. Leyna berdiri dan maju kedepan diikuti Zeline dibelakangnya.
Sedangkan Damian hanya mendengus sebal. Ia juga mengikuti kedua gadis didepannya.
...»---♡---«...
...T.B.C...