Immortal Reingcarnation

Immortal Reingcarnation
S2 - Teman Baru



..."Sayang bangun sudah pagi" bisik Sean tepat didepan telinga Leyna. ...


Leyna menggeliat  kemudian membuka matanya. Mata Leyna berkedip beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya.


"Selamat pagi sayang" ucap Sean sambil tersenyum lembut lalu mengecup kening Leyna.


"Emmm... Selamat pagi kak" balas Leyna dengan suara khas bangun tidur.


"Kamu mandi dulu ya. Aku tunggu dibawah"


"Hmm" balas Leyna singkat.


Leyna melihat jam berapa sekarang di ponsel milik Sean yang berada di meja nakas samping dirinya. Matanya membulat saat jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi.


"Aku kesiangan!" pekiknya.


Sean hanya terkekeh dengan kelakuan kekasih kecilnya itu. Dielusnya puncak kepala Leyna.


"Tidak apa, kamu kelelahan setelah bermain dipantai terus belanja"


"Emm" Leyna mengerucut kan bibirnya.


"Ayo mandi dulu. Aku tunggu dibawah ya" ujar Sean lalu mengecup kening Leyna setelah itu Sean keluar.


Leyna keluar kamar dengan pakaian santainya. Kakinya ia langkahkan menuju rung makan. Perutnya dari ia masih mandi sudah berteriak minta di isi.


Saat dipertengahan anak tangga. Leyna melihat diruang keluarga ada Sean, Richard dan dua orang gadis, mereka ber-empat bercanda diselingi dengan tertawa. Tawa mereka berhenti saat melihat Leyna turun kebawah.


"Sayang kamu sudah selesai?" Sean menghampiri Leyna dan mengajaknya untuk berkenalan dengan kedua saudarinya.


"Sayang perkenalkan, mereka berdua akan tinggal disini dan bersekolah ditempat yang sama dengan kamu. Mereka juga akan sekelas denganmu" jelas Sean mengenalkan kedua gadis itu.


"Oh" balas Leyna singkat.


Sean tersenyum tipis dengan tanggapan kekasih kecilnya. Ternyata kekasih kecilnya sedang cemburu.


"Mereka cantik kan" goda Sean.


"Hmm mereka cantik" balas Leyna singkat lalu pergi meninggalkan ruang keluarga dengan kesal.


"Sayang kamu mau kemana? Kan belum selesai perkenalannya" teriak Sean yang berhasil membuat kekasih kecilnya cemburu atau sekarang kekasih kecilnya malah sedang marah.


"Kak jangan permainkan dia. Kamu tahu bukan jika perasaan wanita itu lebih rentan. Apa lagi dia masih kecil" ujar Zeline mengingatkan sang kakak. Kedua gadis itu adalah kedua adik Sean yang mulai saat ini akan tinggal bersama.


"Tenang saja. Aku hanya ingin tahu, dia bisa cemburu atau tidak. Soalnya dia itu gadis yang sangat polos"


"Terserah kakak deh" Zeline memutar bola mata malas.


Sean mengangkat bahu tidak peduli. Ia menyusul ke ruang makan. Ternyata kekasihnya sedang makan sendirian.


"Makanlah yang banyak biar kamu cepat besar"


Leyna menghentikan acara makannya. "Ngapain kakak kesini! Bukankah disana ada dua gadis cantik!"


Sean terkekeh "Tapi menurutku kamu yang paling cantik sayang" godanya. Tapi memang benar. Dimata Sean hanya Leyna dan ibundanya yang paling cantik. Untuk ke dua saudarinya? Itu diurutan terakhir.


"Gembel" gerutu Leyna lalu menyuapkan makanan kedalam mulutnya.


"Kok gembel sih" Sean cemberut.


Leyna menoleh melihat Sean. Leyna ternganga melihat wajah Sean yang terlihat lucu saat cemberut.


"Aku ga cocok loh kalo dibilang gembel. Aku ganteng gini dibilang gembel" ujar Sean dengan pedenya.


Leyna memutar bola mata malas. Percaya diri sekali kekasih nya ini. Leyna melanjutkan acara makannya.


"Kakak ga makan?" tanya Leyna saat ia baru sadar jika Sean hanya diam menatap ia sarapan.


Sean tersenyum manis. "Aku sudah kenyang lihat kamu makan" katanya yang membuat Leyna mendengus.


"Aku ga terlalu membutuhkan makanan manusia sayang" jelas Sean.


"Aku tahu. Kamu kan bukan manusia" ucap Leyna setelah menelan makanannya yang terakhir.


"Aku sudah kenyang. Terimakasih untuk makanannya" lanjut Leyna seraya melemparkan senyum manis kearah Sean.


"Kenapa tersenyum kearahku?" bingung Sean.


"Bukankah ini masakan kakak? Aku mengenali masakan kakak" ujar Leyna.


Setelah membereskan meja makan dan meletakkan piring bekas makannya kedapur, Sean mengajak Leyna kembali ke ruang keluarga.


"Paman jangan dekat-dekat dengan Eshal! Mau aku penggal kepala paman!" ancam Sean yang melihat Richard duduk berdekatan dengan adik bungsunya.


Richard melihat Sean dingin "Kamu kira aku ini kamu yang langsung memangku Leyna yang bahkan tidak mengenalmu sama sekali!" balas Richard lalu menyeringai.


Pipi Leyna memerah mendengar ucapan Richard.


"Oh sudah jelas dia belahan jiwaku! Cepat atau lambat Leyna akan menikah denganku!"


"Cih Eshal juga mate ku. Cepat atau lambat dia juga akan menikah denganku!" balas Richard membuat Sean terdiam karena kata-kata nya dikembalikan sama pamannya.


"Y-yah itu bedalah. Eshal adikku sedangkan Leyna kekasihku meskipun aku belum bilang padanya dulu" elak Sean.


"Aku kakak nya jadi akulah yang harus menjaga mereka disini. Apa lagi disini ada paman yang terus mendekati Eshal" lanjut Sean.


"Alasan macam apa itu" gerutu Zeline.


Zeline berdiri lalu menghampiri Leyna. Didorongnya tubuh kakaknya yang tinggi besar itu.


"Jangan dekat-dekat dengan calon kakak ipar kami yang masih polos ini" celetuk Zeline sambil tersenyum manis kearah Leyna.


'Calon kakak ipar?' pikir Leyna.


"Yap kamu calon kakak ipar kami berdua. Jangan dengarkan makhluk dingin itu yang terus menggodamu kakak ipar" kata Zeline yang membaca pikiran Leyna.


"Tidak sopan! Jangan pernah membaca pikiran kekasihku! Dasar adik durhaka" ketus Sean kesal dengan perkataan adiknya yang satu ini memang suka benar.


"Selama ada kita disini, kak Sean akan kesulitan untuk mendekati kakak ipar" sahut Eshal yang dari tadi diam.


"Bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan! Aku baru pertama kali datang kedunia manusia" lanjut Eshal.


"Tidak! Kami kemarin habis jalan-jalan!" tolak Sean.


"Aku tidak mengajak kakak! Aku mengajak kakak ipar" ucap Eshal sambil memeletkan lidahnya.


"Dia habis jalan-jalan kemarin Eshal. Aku tidak ingin dia sakit karena kelelahan" tegasnya.


"Sudahlah jangan membantah!" lanjut Sean saat Eshal ingin membuat alasan.


"Sayang perkenalkan, mereka berdua adalah kedua adikku. Dia adik pertamaku namanya Zeline mate Vano" ucap Sean dengan lembut.


Mereka berdua ternganga dengan sifat lembutnya yang hanya ditunjukkan untuk gadis kecil itu.  Sedangkan Richard sudah terbiasa dengan ucapan Sean yang hanya lembut pada Leyna.


"Salam kenal kakak ipar" ujar Zeline sambil tersenyum manis.


"Dan dia adik bungsuku, namanya Eshal mate paman Richard. Sebenarnya paman Richard bukan pamanku, aku memanggil nya paman karena usianya sudah ribuan tahun. Seharusnya aku memanggilnya kakek saja" lanjut Sean mengenalkan Eshal sambil mengusap dagunya yang kokoh ketika ia berkomentar tentang pria itu.


"Hahaha kakak benar. Seharusnya panggil saja kakek Richard!" canda Eshal dengan tertawa lepas mendengar komentar pedas sang kakak terhadap matenya itu.


"Bocah kurang ajar" sinis Richard menatap tajam Sean.


"Abaikan mereka kakak ipar, mereka memang suka bertengkar seperti anjing dan kucing" komentar Eshal tak kalah pedas. Meskipun mereka baru bertemu. Tapi, melihat kelakuan kakak dan matenya itu sudah membuatnya tahu kalau keduanya sering berdebat, yang akhirnya perdebatan itu dimenangkan oleh kakak laki-laki nya yang keras kepala ingin menang sendiri itu.


"Sweet heart kamu kok gitu sama aku sih" protes Richard pada Eshal.


Sean bergidik mendengar panggilan Richard pada adiknya.


"Paman terlihat seperti pedofil" gerutu Sean.


"Kamu juga sama!" balas Richard lalu dengan cepat membawa Eshal menghilang.


"Yak! Paman membawa adikku kemana!" teriak Sean kesal.


"Sudahlah kak. Kakak tidak kekantor? Ini sudah siang"


"Aku hanya ingin seharian sama kamu sayang" Sean menggeleng lalu menggenggam tangan Leyna.


"Kakak ipar tetap sama aku. Paman Richard sudah menculik Eshal. Kak Sean tidak boleh membawa kakak ipar" larang Zeline sambil cemberut.


Dengan pasrah Sean mengalah. Sean memutuskan untuk pergi ke kantor.


...»---♡---«...


...T.B.C...