Immortal Reingcarnation

Immortal Reingcarnation
Awal dari Segalanya



Flashback on


Disebuah hutan yang lebat, hujan mengguyur bumi dengan derasnya. Seorang gadis berlari ketakutan, berusaha menghindar, tidak bukan menghindar lagi, tapi menjauh darinya.


Tiba-tiba sekelebat bayangan hitam berhenti tepat di depan gadis itu.


Gadis itu menabrak seseorang yang berdiri tiba-tiba didepannya dan dia jatuh terduduk.


"Tolong biarkan aku pergi" lirihnya dengan air mata yang terus mengalir di kedua pipinya, tapi air mata itu langsung lenyap terkena hujan.


Pria itu menyeringai kemudian ia berjongkok didepan gadis itu. "Tidak semudah itu, sayang" ucapnya dengan nada yang membuat gadis itu merinding.


Gadis itu semakin ketakutan, ia mencoba mundur tapi sepertinya keadaan tidak memihak padanya. Pria itu mencekal pergelangan tangan gadis itu dengan kuat sehingga membuat gadis itu meringis kesakitan.


"Kau pikir aku akan melepaskanmu dengan mudah? Tidak sayang"


"Kalau kau mau menikah denganku, aku akan memperlakukan dirimu dengan sangat lembut" katanya sambil menatap tajam ke arah gadis itu.


"Dan kau sudah berjanji padaku untuk menjadi milikku!" lanjutnya dengan nada dingin.


"TIDAK! AKU TIDAK MAU MENIKAH DENGANMU! AKU MEMANG PERNAH BERJANJI PADAMU KARENA AKU TAKUT TIDAK MEMILIKI MATE. AKU... " teriak gadis itu, tapi teriakan dia langsung terhenti saat mata itu berubah menjadi merah darah.


"Kau! Gadis tidak tahu diri! Berani sekali kau memanfaatkan aku!" geram pria itu dan membuat gadis itu semakin ketakutan.


Sebuah ide gila terlintas diotaknya untuk....


*****


Disisi lain


Hahhhh... Dia terus menghela napas.


Dahinya mengernyit saat ia melihat seorang gadis berlari keluar, kemudian disusul dengan seorang pria yang ia kenal mengejar gadis itu. Karena dia merasa ada yang aneh, ia memutuskan untuk mengikuti mereka berdua. Ia melompat dari balkon ke bawah setelah menyamarkan aromanya dan membuatnya tidak terlihat.


Kenzie terus mengikuti mereka diam diam. Dan memperhatikan apa yang terjadi di bawah sana.


Kenzie berhenti terbang saat dua orang yang mereka ikuti berhenti berlari. Tapi yang membuatnya mengernyit kan keningnya, ia melihat gadis itu terjatuh dan ia mendengar semua percakapan mereka.


Saat ia akan turun , niatnya langsung terhenti. Matanya langsung membelalak ketika tangan itu mengambil jantung gadis itu.


Rahangnya mengeras dengan kedua tangan yang mengepal.


Akhirnya ia menapak ketanah dan membuatnya terlihat kembali saat pria itu pergi setelah menghancurkan jantung yang ada ditanggannya.


"......... Buka matamu....kumohon" lirihnya. Perlahan dengan tangan bergetar dia mengusap air matanya yang sudah lolos.


Kenzie tahu siapa pelakunya! "Al...-" ucapannya terpotong saat sebuah suara berat terdengar di telinganya dengan pilu. "EVELYN" Teriaknya dengan suara pilu.


Pria itu menyambar tubuh tak bernyawa yang memiliki nama Evelyn. Dia menatap tajam kearah Kenzie.


"Aku dan dia, sudah mengapdikan hidup kami dibawah kuasamu. Dan ini balasan darimu!" Teriaknya pada Kenzie.


"Vano... Ini bukan seperti apa yang kamu lihat" kenzie memandang Vano dengan sendu.


Vano membaringkan tubuh Evelyn perlahan diatas tanah. Tiba-tiba Vano sudah berada di depan Naira dan hendak mencekik leher Naira yang berada tak jauh dibelakang Kenzie.


Kenzie juga tahu kalau Naira mengikuti mereka berdua. Tapi dia hanya diam saja memperhatikan dari atas sampai ia memutuskan untuk turun melihat keadaan Evelyn yang sudah menjadi mayat.


Sebelum Vano mendapatkan leher Naira, tubuhnya terhempas kearah samping dengan keras menabrak sebuah pohon besar hingga pohon itu roboh.


"Berani sekali kau ingin menyetuh Ratuku, Elvano Hemsworth!" ucap Kenzie dengan nada dingin dan pandangan yang sangat menusuk.


Begitu pun dengan Vano, ia memindahkan tubuh tak bernyawa gadis yang sangat ia cintai, mate nya.


Elvano Hemsworth. Kembaran Alvian Hemsworth namun tidak identik. Dia adik Alvian. Vano yang biasanya memiliki tatapan mata yang lembut berubah menjadi tatapan nyalang penuh amarah dan dendam. Sifat Vano memang lembut, berbanding terbalik dengan sang kakak kembarnya yang memiliki sifat sedikit arogan.


Vano memandang Kenzie penuh dendam. Sedangkan Kenzie hanya menatap Vano dengan tatapan dingin dan datar.


"Aku tidak menyangka jika pikiranmu bisa sesempit itu dengan menuduhku yang telah membunuh mate mu. Apa kau lupa bahwa aku juga menyayanginya, bahkan menganggap matemu seperti adikku sendiri" ucap Kenzie


"Cih. Apa kau buta! Lihat tanganmu yang berlumuran darah mate ku" timpal Vano.


Kenzie yang mendengar ucapan Vano lantas melihat tangannya. Bodoh! Kenapa aku membiarkan tanganku berlumuran darah milik Evelyn. Rutuk Kenzie menyadari kebodohannya.


"Kau sudah membunuh mateku, dan aku harus membalaskan kematian mateku! Nyawa dibalas dengan nyawa" desis Vano murka.


Setelah itu terjadi pertempuran sengit antara Kenzie dan vano.


Kenzie mengarahkan tangannya ke arah Vano dan keluarlah api panas dari telapak tangannya.


Vano menghindar ketika api itu mengarah padanya lalu Vano juga melakukan hal yang sama. Melayangkan api ke arah Kenzie. Dengan segera Kenzie membuat barrir perlindungan agar api itu tidak mengenainya. Jika dia mengelak maka api itu akan mengarah ke arah Naira, jadi dia memutuskan untuk membuat barrir pelindung.


Boom


Suara ledakan terdengar ketika api itu menyentuh barir nya. Tanah yang mereka pijak bergetar. Barir itu kemudian menghilang.


"Aku akan membunuh kalian" desis Vano penuh amarah dan dendam. Kemudian dengan cepat dia sudah berada di depan Kenzie dan melontarkan api dari telapak tangannya.


Sebelum api itu mengenai wajah Kenzie. Kenzie berkelit kebelakang dengan cepat menyambar tubuh Naira dan membawa Naira terbang dalam pelukannya.


Serangan api milik Vano mengenai pohon tepat ditempat Naira bersembunyi tadi.


Sayap hitam legam milik Kenzie mengepak kuat, membuat pepohonan di bawahnya bergoyang dan bahkan ada yang hampir roboh karena cepatnya kepakan sayap milik Kenzie, saat ia melihat pohon tempat Naira bersembunyi tadi roboh terkena api dari Vano.


Kenzie murka melihat itu. Vano memang mengalihkan perhatian Kenzie, agar Kenzie mengira kalau api itu memang di arahkan padanya. Tapi, Kenzie tidak sebodoh itu! Dia menyadari taktik yang di gunakan oleh Vano.


Vano menatap tajam ke atas, lebih tepatnya ke arah Kenzie dan Naira. Serangannya barusan gagal, ia tidak menyangka kalau Kenzie menyadari serangannya.


"Kau kira aku sebodoh itu tidak menyadari seranganmu?! Apa kau lupa kalau aku lah yang mengajarimu cara bertarung?! " ujar Kenzie dingin.


"Sudah cukup. Aku tidak ingin melukai mu. Pergilah!? Aku akan menganggap kalau kau tidak pernah ada"


Hati Vano rasanya seperti diremas sesuatu tak kasat mata ketika Kenzie mengatakan kalau dia tak menganggap kalau dirinya ada. Itu sangat menyakitkan! Ia lebih memilih mati di tangan Kenzie dari pada tidak pernah dianggap keberadaannya.


"Suatu saat, aku akan membalaskan ini semua! Ingat janjiku!" desis Vano geram. Dengan langkah gontai Vano berjalan ke arah Evelyn kemudian dengan sekejap Vano dan Evelyn sudah tidak ada di depan mata Kenzie.


Kenzie menatap tempat terakhir Vano dan Evelyn berada dengan tatapan sedih. 'aku akan menerima mu kembali jika kau ingin pulang'


Kenzie pun membawa Naira terbang kembali ke istananya.


Flashback off


...ยป---โ™ก---ยซ...


...T.B.C...


Jangan lupa beri likenya ya ๐Ÿ˜‰


^^^Salam hangat dari Nia_Nai ๐Ÿ˜‡^^^


^^^Pasuruan ^^^