Immortal Reingcarnation

Immortal Reingcarnation
Persiapan Ritual



"Tak ada pilihan lain. Kita tetap harus membawa Naira meski dalam keadaan tidak sadar" ujar Rafael pasrah.


"Apa kau gila! Kakak akan murka jika kita gagal menghentikan Naira untuk mengingat kehidupannya yang lalu dengan paksa!" Jawab Kean menatap tajam Rafael.


"Memangnya kau tahu bagaimana caranya agar dia sadarkan diri, huh?!"


"Setidaknya kita pikirkan dulu bagaimana caranya agar dia sadar kembali!" ujar Kean.


"Tidak ada waktu lagi! Kita harus segera membawanya ketempat ritual itu berada!" Rafael dibuat jengkel sama Kean. Sudah tidak ada waktu lagi dan Kean masih memikirkan bagaimana agar Naira siuman. Red full moon akan segera terjadi!.


"Sudah-sudah! Hentikan pertengkaran kalian! Bertengkar tidak akan menyelesaikan masalah!" ujar Louis menengahi.


"Apa yang dikatakan Rafael benar, Kean! Kalian harus tetap membawa Naira ke ritual pertukaran darah itu secepatnya, meskipun dia tak sadarkan diri" timpal Sheila membenarkan perkataan Rafael.


"Tapi kakak bisa sangat marah nanti" ujar Kean pasrah.


Louis menepuk bahu Kean lalu ia berkata "Jika kalian tidak cepat membawa Naira kesana dan bulan purnama merah telah selesai, maka Naira tidak akan pernah hidup lagi dan hal yang tidak pernah kalian inginkan pasti akan terjadi. Kenzie akan melenyapkan kalian dan seluruh kaum immortal! Ingat itu Kean"


"Bawalah Naira sekarang. Apa pun keadaan Naira sekarang tidaklah penting. Nyawa seluruh kaum immortal ada di tangan kalian."


"Lord kenzie akan tetap melaksanakan ritual pertukaran darah dengan Naira meskipun sekarang Naira tidak sadar!" lanjut Louis.


Kean menoleh ke arah Rafael yang tengah menatap Kean dingin. "Jika kau tidak ingin membawanya, biar aku sendiri yang akan membawanya. Aku tidak ingin adikku serta keluarga kandungku satu-satunya tiada untuk yang kedua kalinya!" desis Rafael.


"Ayo kita pergi" ujar Kean yang langsung diangguki Rafael.


"Berhati-hati lah" pesan Sheila sebelum Kean dan Rafael menghilang membawa Naira pergi.


...»---♡---«...


Di dunia Immortal


"Bagaimana persiapannya?" Tanya Alvian pada salah satu pelayan yang tengah menyiapkan untuk ritual pertukaran darah nanti malam.


"Semua persiapannya sudah selesai, Tuan" jawab sang pelayan sambil membungkuk kan badannya hormat.


"Pergilah" dan pelayan itu pun pergi setelah Vian menyuruhnya pergi sambil mengibaskan tangannya.


Alvian memanggil salah satu orang kepercayaannya.


"Ya, tuan?" Kata pengawal itu setelah berada didepan Vian.


"Aku tidak ingin terjadi masalah sedikitpun dalam ritual yang akan berlangsung nanti!"


"Kau pastikan semuanya aman dan jangan sampai ada satu penghianat pun ada dalam ritual itu!" perintah Alvian. "Apa kau mengerti?!" Lanjutnya.


"Saya mengerti tuan!"


...»---♡---«...


Malam sudah tiba dan Red Full Moon akan terjadi sebentar lagi.


Alvian memasuki kamar Kenzie dan menemukan Kenzie tengah berdiri di depan jendela sambil memperhatikan tempat bulan purnama itu akan muncul.


"Lord" ucap Alvian dengan satu lutut tertekuk dan lutut satunya menempel ke lantai, tak lupa kepalanya menunduk menghormat pada Kenzie.


"Persiapannya sudah selesai. Anda tinggal menunggu King Rafael dan Pangeran Kean datang membawa Yang Mulia Ratu" ujar Vian ketika Kenzie hanya diam dan tetap menatap ke langit.


"Queen, aku sangat merindukan mu, sayang" gumam Kenzie yang bisa di dengar Vian.


Alvian yang mendengar gumaman Kenzie lantas memandang Kenzie sedih.


"Berhentilah menatapku seperti itu." Kata Kenzie saat dirinya merasakan tatapan sedih dari orang kepercayaannya, Alvian Hemsworth.


"Dan jangan salahkan dirimu lagi. Masa lalu tetaplah masa lalu. Jangan sesali apa yang telah kau perbuat. Aku yakin jika kau saat itu gelap mata akan obsesimu kepada Evelyn dan menginginkannya menjadi milikmu"


"Ayo kita ke tempat ritualnya" ujar Kenzie mengalihkan situasi sedih itu.


"Baik My Lord" jawab Vian lalu mengikuti Kenzie dari belakang.


...»---♡---«...


"Bulan purnama akan segera tiba"


"Aku akan membunuh nya setelah ritualnya selesai"


"Aku akan membalaskan dendam kematian mu, sayangku"


"Takkan ku biarkan dia hidup bahagia bersama dengan matenya!" desisnya sambil menatap tajam bulan purnama merah yang akan muncul, kemudian ia menghilang.


...»---♡---«...


Seorang pria muda bermata merah yang memakai pakaian serba hitam. Berjalan menyusuri lorong gelap itu.


Ia berjalan memasuki sebuah ruangan yang gelap gulita.Tak ada setitik cahaya sedikitpun.


Didalam ruangan itu terdapat sebuah peti mati.


"Tuan" Ucapnya dengan kaki di tekuk dan satu lutut menyentuh lantai dan tak lupakan kepalanya menunduk hormat.


"Tuan... Sebentar lagi bulan purnama merah akan berlangsung. Anda akan segera terbangkitkan" ujarnya masih menunduk.


Pria itu berdiri, lalu berjalan kearah jendela yang ditutupi kelambu tebal berwarna hitam pekat, sehingga tak ada sinar yang bisa menembusnya.


Diliriknya peti mati itu kemudian beralih pada kelambu besar yang menggantung itu.


Mata nya bersinar merah terang dan 'srekk' kelambu itu bergerak karena pria itu menggunakan kekuatan nya untuk mengendalikan kelambu itu yang membuka dengan sendirinya yang memperlihatkan jendela kaca yang tinggi. Membiarkan cahaya malam masuk kedalam ruangan itu.


Sinar cahaya dari bulan purnama merah itu perlahan merambat masuk mengisi cahaya redup kedalam ruangan yang gelap gulita.


...»---♡---«...


...T.B.C...


Jangan lupa beri Like 😇