Immortal Reingcarnation

Immortal Reingcarnation
P.D.2#03



"Siapa namamu?!" Tanya Richard.


"Leyna, tuan" jawab gadis itu dengan pelan.


"Nama lengkap?!" Tanya Richard lagi.


"Leyna Jeslyn"


Hmm..... Richard hanya berdehem.


"Malaikat kecil yang diberkahi dengan kekayaan dan kecantikan" ujar Richard pelan, tapi masih bisa didengar oleh gadis itu.


Kaya apanya. Cari uang buat makan saja sangat sulit. Syukur kalau sehari bisa makan meski cuman sekali. Gerutu Leyna  dalam hati.


Leyna tidak tahu jika Richard bisa membaca pikiran orang lain.


Richard hanya tersenyum tipis saat mendengar gerutuan gadis didepannya itu.


"Nama yang indah" ujar Richard.


Leyna hanya menunduk. Tidak berani menatap mata tajam milik tuannya itu.


"Apa kau bersekolah?"


"Ya tuan?" Jawab gadis itu.


"Tatap wajah saya!" Perintah Richard.


Dengan cepat gadis itu menatap tepat ke arah mata tajam milik Richard.


Perpaduan warna mata itu... Batin Richard sambil mengingat sesuatu.


Didunia immortal ini, kelak akan ada seorang pemimpin dengan semua darah dari setiap klan yang mengalir di tubuhnya. Disamping raja tersebut ditemani seorang wanita yang diberkahi dengan kecantikan nya dengan mata yang memiliki perpaduan  dua warna di manik matanya. Wanita itu hanya manusia biasa. Tapi, dia akan diberkahi hidup panjang untuk mendampingi sang raja. Sampai sang raja tiada, maka wanita itu juga akan tiada .


Ramalan itu?! Ujar Richard dalam hati.


"Apa kau bersekolah?" Tanya Richard lagi.


Gadis itu menunduk "Saya hanya lulusan sekolah dasar" Jawab Leyna sedih.


Alis Richard terangkat sebelah. "Jadi kau tidak melanjutkan pendidikan mu? Kenapa?"


"Hahhh.... Saya bisa makan saja sudah bersyukur, tuan" ujar gadis itu.


"Memangnya orangtuamu tidak bekerja?"


Leyna hanya menggeleng dengan sedih. "Mereka sudah tiada saat saya baru menginjak bangku SMP."


"Apa kau mau melanjutkan pendidikan mu lagi?!" Tanya Richard untuk yang kesekian kalinya.


Leyna mendongakkan kepalanya menatap Richard dengan mata berbinar "Saya mau tuan!" Ujarnya semangat.


"Baiklah!? Aku akan segera mengurus nya. Dengan syarat...."


Leyna mengernyit dan berkedip polos.


"Kau hanya boleh menikah dengan pria yang ku pilihkan!"


Rahang Leyna rasanya mau jatuh mendengar persyaratan dari Richard.


Apa?! Bagaimana kalau tuan nanti menikah kan aku dengan om om jelek, pendek, dekil, perut besar dan uhhh... Batinnya ngeri ketika Leyna akan dinikahkan dengan om om seperti itu.


"Kau akan menyukai pria pilihanku nanti!" Ujar Richard saat mendengar perkataan Leyna meski tidak diucapkan oleh gadis itu.


"Tugasmu hanya belajar sampai kependidikan tertinggi. Dan aku juga yang akan memilihkan kau akan mengenyam pendidikan di mana. Saat waktu nya sudah tiba, aku akan membawamu menemui pria itu" jelas Richard.


Gadis itu hanya diam saja.


Tidak apa-apa. Tuan tidak akan menyerahkan aku pada orang yang tidak baik. Aku percaya pada tuan. Yang penting keinginan ku untuk melanjutkan pendidikan ku tercapai. Batinnya


"Apa kau setuju?!" Tanya Richard.


Dengan sangat yakin gadis itu menjawab "saya setuju tuan"


Richard menyeringai "Bagus!?"


"Tapi..." Gadis itu ragu untuk mengungkapkan apa yang mengganjal di hati nya.


"Katakan!"


"Kau tenang saja. Aku akan membiayai pendidikan mu dengan embel-embel beasiswa. Aku yakin bahwa kau itu sangat cerdas"


"Sekarang usiamu seharusnya sudah memasuki SMA. Tapi berhubung kau belum mendapatkan ijazah SMP mu. Untuk sementara kau home schooling kejar paket dahulu sampai kau mendapatkan ijazah SMP mu, lalu kau tinggal masuk ke SMA yang aku pilihkan setelah kau mendapatkan ijazah itu" jelas Richard lagi.


"Tapi kau harus pergi dari rumah ini..." Ucapan Richard terhenti ketika ada seseorang yang berani menyela pembicaraan nya.


"Paman akan membawanya kemana?!" Sela Sean dingin dan menatap Richard tajam.


•Sean POV•


Saat aku dan paman Richard mengobrol. Tiba-tiba ada suara teriakan yang terdengar sangat mengerikan.


Tapi yang membuat perhatian ku teralihkan justru dengan hal lain.


Mataku terpejam menikmati harum yang tiba-tiba menusuk panca indera penciuman ku.


'Mate... Mate... Mate' teriaknya dalam pikiran ku.


'Berhentilah berteriak! Aku tahu harum ini milik mate kita!'


'Cepat cari dia' katanya.


'Sabar Al. Jangan sampai keberadaan kita diketahui oleh musuh!' kataku karena dengan hanya dengan aromanya saja sudah membuatku hampir hilang kendali.


Dia Alex, wolf ku. Dia muncul sewaktu aku menginjak umur 17 tahun. Bulunya berwarna putih keperakan dengan mata berwarna emas.


Aku menyela perkataan paman Richard yang sedang mengomeli kepala pelayan itu.


"Apa ada pelayan baru?" Tanyaku.


Mereka berdua diam. Lalu aku bertanya lagi.


"Apa ada pelayan baru?" Kenapa aku bertanya seperti itu? Karena tidak ada yang diizinkan masuk ke area kediaman ini. Jadidi tidak ada seorang pun yang bisa masuk kecuali jika ada pengangkatan pelayan baru dan juga penjaga yang saling berjaga bergantian. Dan bau harum itu baru saja aku rasakan. Itu berarti ada pelayan baru. Tidak mungkin pengawal. Karena semua pengawal dirumah ini hanya laki-laki.


Kepala pelayan itu menjelaskan dan mengatakan ada 2 pelayan baru hari ini. Yang satunya sudah mati, karena sudah berani masuk tanpa izin. Dan pelayan kedua adalah gadis yang masih berusia 15 tahun. Masih belia.


'mate kita masih bocah al' kataku.


'aku tidak peduli dia bocah atau bukan. Yang jelas, jika kamu tidak ingin mencarinya, biar aku yang mencarinya!' paksa Al.


Kami mendengar suara yang terdengar sangat lembut dan merdu ditelinga kami. Dan bau harum mawar yang baru mekar dan hutan setelah hujan itu semakin sangat pekat.


'Al jangan gegabah bodoh!' cegahku. Tapi Alex sudah menguasai sebagian besar tubuhku.


'Alex bodoh! Kamu sudah membuat penyamaran kita terbongkar!' teriakku.


'Aku tidak peduli! Aku ingin segera menemui gadis kecilku!'


'Gadis kecil kita, Al!' koreksi ku.


Kami terus berdebat melalui mindlink yang hanya bisa didengar oleh aku dan Alex saja.


Saat kami terus berdebat. Tiba-tiba aku tersadar karena tepukan paman Richard.


Aku langsung berdiri dan memasuki kamar. Tidak peduli dengan gadis kecil itu. Yang jelas, aku harus membuat Alex tenang terlebih dahulu.


Dari kamar kami mendengar semua percakapan paman Richard dan gadis kecil kami.


Oh sayang, kasihan sekali kamu. Pasti kamu jarang makan dan kamu hanya tinggal sendirian.


Aku suka idemu paman. Aku ingin gadis kecil ku melanjutkan pendidikan nya sampai tamat.


Apa maksudnya dengan dia akan menikah kan gadis kecil kami dengan pria pilihannya?!


Apa paman sudah tahu, jika gadis kecil itu adalah mate ku?!.


Tidak tidak! Dia harus tetap dirumah ini! Richard sialan! Berani sekali dia mau membawa gadis itu pergi dari rumah ini.


Dengan segera aku turun kebawah tanpa suara. Alex? Dia sudah tenang, tapi dia mulai mengamuk saat paman menyuruh gadis itu pergi dari rumah.


"Paman akan membawanya kemana?!" Kataku.


•Sean POV off•


TBC