Immortal Reingcarnation

Immortal Reingcarnation
Season 2 - PROLOG



Di luar istana langit dipenuhi awan mendung dan petir menggelegar terus bersahutan ditambah dengan hujan deras, membuat semua orang di dalam istana maupun diluar istana semakin cemas.


Meskipun dulu sang putra mahkota Richard lahir kedunia, alam tidak seperti ini. Kecemasan Richard semakin menjadi saat suara petir terakhir terdengar begitu keras dan suara tangisan bayi akhirnya terdengar juga. Tapi semua kecemasan yang dia alami dia sembunyikan dengan wajah dinginnya yang seperti biasanya.


'Raja Immortal yang sesungguhnya telah lahir. Semua klan akan memperebutkan darah sang raja agar mereka menjadi yang terkuat dan tak tertandingi yang akan menguasai dunia immortal. Semua akan menjadi semakin sulit jika semua klan memperebutkan darah sang raja yang memiliki darah dari setiap klan. Kehidupan nya akan dipenuhi dengan banyak musuh dan pemberontakan. Jika dia bisa melewati rintangan yang sangat berat itu, dia akan menjadi Raja yang terkuat bahkan kekuatan nya melebihi kekuatan klan lucifer murni dan kekuatan ayahnya sendiri. Tapi yang di takutkan, apakah dia akan menjadi Raja yang yang bijaksana atau dia akan menjadi Raja yang sangat kejam, yang akan ditakuti oleh rakyat nya disetiap detiknya.' batin Richard.


"Sang Raja Immortal yang sesungguhnya telah lahir,....-" gumam Richard yang masih didengar oleh mereka. Setelah Richard berkata seperti itu pintu kamar terbuka. Kenzie pun segera masuk kedalam kamar dan ia melihat istrinya sedang terlelap.


"Selamat Tuanku, Yang Mulia Ratu telah melahirkan sang pangeran dan pangeran lahir dengan sangat sehat, tuanku" ujar tabib kerajaan kepada kenzie dengan menunduk hormat.


Rafael, Kean, Vian dan Vano masuk kedalam kamar disusul dengan Richard dan Gerald.


Setelah semuanya masuk Richard membuat barir pelindung agar orang luar tidak bisa masuk dan bisa mendengar percakapan didalam kamar itu.


Semua orang menatap Richard kecuali Kenzie yang masih setia membelai wajah Naira yang masih lelap usai melahirkan. Tabib istana dan asistennya hanya diam sambil menundukkan kepalanya. Pasalnya orang orang penting kerajaan yang sangat kuat berada dalam satu ruangan dengan mereka. Saat tabib istana dan asistennya ingin keluar tadi dengan segera Richard masuk sehingga sang tabib mengurungkan niatnya untuk keluar dari ruangan. Tapi naas saat Richard sudah masuk kedalam, Richard malah membuat barir pelindung, siapapun tidak bisa keluar masuk dari barirnya tanpa izin dari Richard.


"Pangeran harus segera disembunyikan, karena darahnya akan diincar oleh seluruh kaum immortal" ujar Richard. Suasana akan mencekam jika Richard sedang bicara serius.


"Mungkin aku bisa mempercayai kalian (sambil menatap Rafael, Kean, Vian dan Vano berganian) tapi tidak dengan mereka(tabib istana dan asistennya) dan juga Queen" lanjut Richard.


"Apa maksudnya kau tidak percaya dengan adikku!?" desis Rafael tak terima saat mendengar perkataan Richard barusan.


Richard menghela napas "Hahh... Queen sekarang seorang ibu. Seorang ibu tidak akan mau berpisah dengan anaknya dan Queen juga tidak akan mau berpisah dari suaminya" Richard menatap Rafael intens. "Kita akan menyembunyikan sang pangeran tanpa sepengetahuan Queen. Keberadaan sang pangeran hanya akan diketahui oleh kita" lanjut Richard sambil menatap Kenzie, Rafael, Kean, Vian, Vano dan Gerald bergantian lalu menatap Rafael kembali.


"Lalu apa yang harus kita katakan jika dia menanyakan dimana bayinya" tanya Kean.


"Katakan saja jika bayinya telah tiada" ucap Richard pelan.


Rafael menatap Richard marah "Apa kau gila! Jika dia tahu bayinya telah tiada dia akan sangat bersedih" teriak Rafael.


"Queen hanya akan berpisah dengan pangeran sampai umur pangeran 25 tahun. Dan pangeran akan kembali saat pangeran telah siap dengan kebangkitan kekuatan dahsyatnya nanti" ujar Kenzie yang masih menatap lekat Naira. "Aku tahu Naira akan sangat bersedih. Tapi aku tidak ingin dia lebih bersedih lagi jika anaknya akan menjadi raja kejam yang akan ditakuti oleh rakyat nya"


"Aku sudah membicarakan hal ini dengan Nya sebelum Naira melahirkan" lanjut Kenzie.


"Mengerti lah. Bukan hanya Naira yang bersedih, tapi aku pun juga ikut sedih akan berpisah dengan putraku. Aku yang baru saja menjadi seorang ayah harus berpisah dengan anaknya" lirih Kenzie. Perlahan air mata Kenzie meluruh saat menatap wajah putranya yang tidur dengan damai di gendongan nya.


"Lakukan segera" ujar Kenzie pada Richard. Dan detik berikutnya suara teriakan dari asisten perempuan sang tabib berteriak kesakitan saat api hitam Richard membakar tubuhnya dan tubuh itu menjadi abu dan lenyap tak berbekas. Sedangkan sang tabib tubuhnya bergetar hebat sedari tadi saat Richard mengatakan bahwa dia hanya percaya pada tuannya saja, yang berarti sebentar lagi dia juga akan tamat.


"Tuan. Hamba mohon jangan bunuh saya. Hamba berjanji tidak akan mengatakan pada siapapun jika pangeran masih hidup" mohon sang tabib sambil berlutut di hadapan Kenzie.


"Kematianmu tidak akan sesakit dari kematiannya tadi. Aku tahu kau berkata jujur. Kau setia padaku. Tapi berbeda dengan asisten mu itu dia juga mengincar darah putraku" jelas Kenzie.


"Kekuatan pangeran yang begitu dahsyat akan membuat pangeran tidak bisa mengendalikan kekuatan nya dengan baik sebelum kekuatan pangeran terbangkitkan sepenuhnya.


Cincin ini peninggalan dari nenek hamba yang juga seorang tabib istana di klan penyihir. Beliau bisa melihat masa depan. Dan saat beliau tahu jika akan ada seorang pangeran yang memiliki darah dari setiap klan dengan kekuatan yang sangat luar biasa, beliau langsung mengundurkan diri berhenti menjadi seorang tabib istana.


Beliau pergi kesuatu tempat yang hanya bisa di jangkau oleh orang yang memiliki darah lucifer dan membuat cincin ini dengan mengorbankan nyawanya agar bisa melindungi sang pangeran nantinya.


Sebelum beliau pergi, beliau berpesan pada hamba jika ada cincin dengan permata merah datang pada hamba, hamba harus menyimpannya dan memberikan cincin itu pada pangeran yang lahirnya bersamaan dengan petir yang bersahutan." jelas tabib panjang lebar.


"Dan beliau juga berkata, agar hamba sudah siap saat sang pangeran lahir, hamba akan tiada demi keamanan sang pangeran" lanjut tabib membuat semua orang tercengang kecuali Richard.


"Tugas hamba selesai sampai disini My Lord. Hamba siap menyerahkan diri pada Tuanku" lanjut tabib yang masih berlutut di hadapan Kenzie dengan tangan yang menjulur keatas dengan cincin ditelapak tangannya.


Kenzie mengambil cincin itu lalu memakaikannya ke jari pangeran. Tanpa diduga cincin yang tadinya besar seketika pas di jari mungil sang pangeran yang baru saja lahir. Seperti menyesuaikan ukuran pada jari sang pangeran.


'sringggg'


Cahaya putih tiba-tiba muncul dari cincin itu membuat mereka yang ada di sana memejamkan matanya.


'Semoga pangeran selalu dilindungi' batin tabib yang bisa didengar oleh mereka.


"Tugas hamba sudah terlaksana yang mulia, hamba sudah siap jika yang mulia ingin mengakhiri nyawa hamba demi keamanan pangeran"


"Bawalah dia bersama mu. Aku tidak bisa melindungi putra ku dari dekat. Bukannya aku tidak percaya padamu, aku merasakan kemampuan tersembunyi didalamnya dan aku mengakui kesetiaan dia padaku dan juga kerajaan" ujar Kenzie ke Richard. Tak disangka tabib itu yang awalnya mengira dirinya akan dibunuh tapi Kenzie meminta ke Richard untuk membawanya.


Richard mengangkat satu alisnya "Dia tahu segalanya tentang kemampuan putra ku. Aku percayakan dia untuk menjaga dan melatih putra ku" lanjut Kenzie.


"Terimakasih yang mulia. Terimakasih atas kebaikan yang mulia memberikan hamba kepercayaan"


"Karena aku tahu siapa dirimu. Kau bukanlah seorang tabib!. Kau adalah putra mahkota kerajaan penyihir. Benar bukan?!" Desis Kenzie menatap tajam tabib itu.


ยป---โ™ก---ยซ


T.B.C


Jangan lupa hadiah dari kalian ya ๐Ÿ˜†


Terimakasih ๐Ÿ˜‡