
"Sayang angkat wajahmu" ujar Sean pelan ke Leyna yang masih setia menunduk.
..."Kamu dengar suaraku kan sayang?!" tanya Sean dengan suara Alpatone nya membuat orang-orang disana bergidik mendengarnya. ...
Dengan perlahan Leyna mengangkat wajahnya. Dengan perasaan takut, Leyna menatap takut kearah Sean.
"Kamu tahu kesalahanmu?" tanya Sean pelan yang diangguki oleh Leyna.
"Apa?" tanya Sean lagi. Zeline dan Eshal hanya bisa diam mematung mendengarkan kakaknya yang sedang mengintrogasi Leyna.
"Pulang terlambat" Cicit Leyna membuat Zeline dan Eshal meringis.
"Apa? Aku tidak mendengarnya. Ulangi!" Sean geram dengan kekasihnya yang tidak mau mengaku.
"Kami pulang terlambat karena keasikan melihat-lihat dipusat perbelanjaan" cicit Leyna lagi.
"Ulangi yang keras" kata Sean dengan tegas.
"Maaf" lirih Leyna menahan airmatanya yang hampir tumpah.
"Kubilang ulangi yang keras. Aku tidak ingin mendengar permintaan maafmu" bentak Sean geram.
"Hiks maaf... Maafkan aku hiks" Leyna menangis karena kaget dengan bentakan Sean.
"Sean tidak seharusnya kamu terlalu keras padanya" ujar Richard yang merasa kasihan pada Leyna.
"Jangan ikut campur" balas Sean dingin.
"Apa yang dikatakan kak Richard benar Sean" timpal Rafael yang juga merasa kasihan dengan gadis kecil itu.
"Kubilang jangan ikut campur! Aku hanya sedang mendisiplinkan calon ratuku!" ucap Sean pelan dengan menekan setiap perkataannya yang masih bisa didengar semuanya.
Mereka hanya bisa diam. Ternyata calon Kaisar mereka lebih menyeramkan dari pada Lord mereka yang sekarang, Kenzie.
"Sayang, sepertinya aku terlalu banyak memberimu kebebasan setelah kedatangan mereka" ucap Sean pelan.
"Mulai besok, aku yang akan antar jemput kamu. Aku tidak menerima penolakan!" putus Sean.
Leyna memandang Sean memohon. Ia tidak ingin kebebasannya terbelenggu. Ia ingin bebas menikmati hidup. Ia ingin sebebas dulu melakukan ini itu tanpa ada yang melarang atau terlalu dikekang.
"Sean biarkan saja dia pergi bersama dengan mereka...-" ucapan Richard terhenti karena Sean menghilang dengan membawa Leyna.
"Kak bagaimana ini" cicit Eshal pada Zeline merasa kasihan dengan Leyna.
...»---♡---«...
Ditempat lain. Disebuah mansion yang megah ditengah hutan terlarang, mansion peninggalan Kenzie. Sepasang kekasih sedang menikmati film yang sedang diputar dilayar lebar diruangan bioskop pribadi.
"Kak, apa tadi kakak tidak keterlaluan?" tanya gadis itu seraya mendongakkan wajahnya melihat kekasihnya.
"Tidak sayang. Aku hanya ingin membuat mereka jera, agar mereka tidak memaksakan kehendak mereka padamu" balas pria itu yang masih fokus pada film yang mereka tonton.
"Hahh... Aku terlihat menyedihkan dimata mereka" gadis itu menghela napas pelan lalu kembali menatap ke layar lebar.
Pria itu menoleh kearah kekasih kecilnya. "Hmm maafkan aku ya. Aku sebagai calon Kaisar harus terlihat tegas tanpa bisa dibantah. Aku harus bisa memimpin dengan baik. Itu sebabnya aku minta tolong sama kamu, sayang" jelas pria itu sambil meminta maaf.
"Alasan macam apa itu! Aku sampai kaget dengan bentakan kakak waktu itu" gadis itu mengerucutkan bibirnya sebal.
Pria itu mendongakkan dagu kekasihnya agar gadisnya melihat kearah nya. "Aku minta maaf sudah membentakmu tadi. Aku tidak bermaksud. Aku hanya ingin membuat mereka tidak seenaknya sama kamu. Aku tahu mereka sangat menyayangimu, tapi mereka tidak pernah mau mendengar pendapatmu yang setuju atau tidak. Bukankah dengan begini, mereka akan minta izin dulu padaku sebelum pergi atau mengajak kamu? Dan mereka juga tahu batasan waktu. Kamu paham kan maksudku melakukan itu Leyna sayang" jelasnya pada kekasih kecilnya yang tak lain adalah Leyna.
Sean membawa Leyna ke mansion ayahnya saat ayahnya berada didunia manusia. Menurut Sean, kedua adiknya perlu dikasih tahu tentang batasan waktu dan tidak memaksakan kehendak pada orang lain tannpa mendengar orang itu setuju atau tidak. Dan Sean juga sedikit membalas dendam pada kedua adiknya itu karena sudah mengambil waktu berduaannya dengan kekasih kecilnya itu.
•Flashback on•
Pintu terbuka, Sean menatap kedua adiknya dengan dingin tak lupa tatapan tajam yang menusuk.
Mereka bertiga diam berdiri dengan kaku karena mendapat tatapan menakutkan yang diberikan Sean.
Leyna yang sudah terbiasa dengan percakapan lewat pikiran dengan Sean, jadi sudah tidak kaget lagi jika mereka berkomunikasi lewat mindlink.
Setelah mengatakan itu Sean menjalankan rencananya dibantu matenya yang berpura-pura takut pada Sean.
•Flashback off•
Sean terkekeh geli mengingat reaksi kedua adik perempuannya yang takut padanya. Bukan hanya adik nya saja, bahkan orang-orang disana merasa ngeri pada Sean.
"Oh iya kak tadi kok ada 4 orang pria di rumah om Richard?" tanya Leyna bingung.
"mereka berempat?" tanya Sean mengulang dan diangguki Leyna.
"Mereka paman-pamanku, yang bernama paman Rafael pemilik sekolahan Sma Devender kakaknya ibunda dan paman Kean adiknya Ayah" jelas Sean.
Leyna mengangguk mengerti. "Lalu yang dua lagi?" tanya nya.
"Yang kembar?" tanya Sean.
"Iya"
"Mereka paman Alvian kakaknya dan paman Vano adiknya. Paman Vano matenya Zeline. Dia akan menjadi adik iparku. Paman Richard juga akan menjadi adik iparku" jelas Sean diakhiri dengan tawa misterius.
"Ooh" Leyna hanya mengangguk.
"Aku yakin sekarang mereka sedang sibuk mencari kita" ujar Sean lalu tertawa renyah.
Saat Sean masih tertawa lepas, datanglah seseorang yang membuatnya terkejut. "Apa kamu begitu senang mempermainkan semua orang putraku?" tanyanya yang berjalan mendekat ke mereka berdua.
"Ayah!" seru Sean lalu berdiri sambil menarik tangan Leyna pelan agar ikut berdiri juga.
"Apa kabar putraku? Sudah sebulan kamu tidak berkunjung" kata Kenzie berbasa-basi.
"Sean baik ayah. Bagaimana kabar ibunda?" tanya Sean.
"Kamu tidak menanyakan kabar ayah?" kata Kenzie dengan raut wajah sedih.
"Jika ayah disini, berarti ayah baik-baik saja" jawab Sean santai.
Kenzie tertawa lalu memeluk Sean.
"Apa dia calon menantu ayah?" tanya Kenzie setelah melepaskan pelukannya, ia bertanya pada Sean seraya menatap Leyna yang sedang menunduk.
"Ya ayah. Dia calon istriku" jawab Sean sambil tersenyum tipis.
"Dia masih kecil Sean. Rawat dia dengan baik!" ujar Kenzie sambil menatap tajam putranya.
"Ayah tenang saja. Aku akan merawat Leyna dengan sangat baik" ucap Sean sangat yakin.
Mata tajam Kenzie menyipit "Benarkah?"
"I-iya ayah"
"Kenapa gugup?" tanya Kenzie.
"Ti-tidak! siapa yang gugup!" elak Sean.
Tiba-tiba saja tubuh Sean terpental menjauh lalu menghantam tembok mansion dengan keras.
"Kak Sean!" teriak Leyna dengan mata berkaca-kaca.
Kenzie mengarahkan tangannya kearah Sean, lalu muncul lah barrir yang mengelilingi Sean, agar ia tidak bisa keluar.
...»---♡---«...
...T.B.C...