
"Sudah sampai" ujar Kenzie Yang sudah menghentikan mobil nya di pekarangan tempat tinggal keluarga Efron.
Kenzie keluar dan membukakan pintu mobil samping Naira.
Naira keluar setelah Kenzie membukakan pintu untuk nya.
"Aku langsung pulang, ya" pamitnya.
"Tidak mampir dulu?" tawar Naira saat Kenzie pamit pulang.
Kenzie tersenyum manis. Naira terpaku melihat senyum Kenzie. Pria itu!. Pikir Naira saat melihat senyum milik Kenzie yang mirip dengan senyum pria di mimpinya?!.
"Terimakasih, lain kali saja aku mampir. Aku ada urusan penting soalnya" tolak Kenzie secara halus.
Naira menghela nafas kecewa. Kecewa? Entahlah tapi Naira merasakan kecewa di relung hatinya.
"Aku ada urusan mendadak dan itu sangat penting. Kalau tidak terlalu penting aku akan menunda nya dan memilih mampir dulu. Kalau urusannya sudah selesai aku akan segera menemuimu" ujar kenzie saat melihat raut kecewa di wajah cantik Naira.
Naira tersenyum menanggapi ucapan kenzie "Baiklah, lain kali mampirlah. Kedua kakak ku yang cerewet itu ingin bertemu denganmu"
"Iya. Baiklah... Kalau begitu aku pergi dulu" pamit Kenzie.
"Hati hati" ujar Naira sebelum mobil sport milik Kenzie membelah jalan.
...»---♡---«...
"Sudah pulang sayang?" ujar Sheila melihat putri kesayangan nya yang baru saja menapak di anak tangga pertama.
Naira menoleh ke arah suara lembut itu. "Bunda" Naira menghampiri bundanya dengan senyum manis yang terpatri di wajah cantiknya.
"Di mana kak Rafa, sayang?" tanya Sheila membuat Naira cemberut mengingat dia yang telah lama menunggu kakak keduanya itu dan untunglah ada Kenzie jadi Naira tidak menunggu lebih lama lagi.
"Ada apa sayang? Di mana kak Rafa?" tanya Sheila.
"Kak Rafa ada rapat dengan klien dan lupa mengabari ku kalau dia sedang rapat" kesal Naira.
Hah... Sheila menghela nafas. Sifat Rafa benar benar sama dengan Naira apa lagi sifat pelupanya mereka seperti kembar saja atau seperti kakak ber-adik.
"Terus kamu pulang sama siapa? Naik taxi?"
Naira menggeleng "Tidak bun. Aku tadi di antar Kenzie"
Sheila tersenyum. "Sekarang di mana dia?"
"Aku tadi menawarinya untuk mampir, karena kak Kean sama kak Rafa ingin bertemu sama dia. Tapi dia menolak karena ada urusan mendadak dan penting katanya"
"Ya sudah, kalau begitu kamu ganti baju terus istirahat"
"Tidak bun, Nai akan bantu bunda masak" tolak Naira dan tersenyum manis.
"Hah...baiklah terserah kamu saja kalau kamu tidak lelah"
"Kamu mandi dulu gih" suruh Sheila yang di angguki oleh Naira.
Skip
Setelah mandi dan berpakaian Naira turun ke bawah untuk membantu Sheila memasak.
Masakan yang di masak Sheila yang di bantu Naira pun matang. Mereka membawa masakan mereka ke meja makan.
Dilihatnya jam tangan yang Naira taruh di atas meja makan tadi sebelum membantu Sheila memasak menunjukkan pukul setengah enam sore.
"Bun, Nai mau ganti baju dulu ya" kata Naira setelah semua makanan tertata rapi di meja makan.
Sheila menoleh kearah putrinya "Baiklah sayang, jangan lama lama ya. Takutnya nanti ayah sama kedua kakakmu itu lama menunggu untuk makan malam" pesan Sheila karena Naira yang suka sering telat datang untuk makan malam kerena keasikkan berendam air hangat di batthup yang kadang bisa membuatnya mengantuk dan mereka yang ada di meja makan yang akan makan malam harus menunggu Naira atau kalau Naira sudah kelewat lama salah satu dari mereka akan memanggil Naira di kamarnya. Itu pun hampir setiap hari. Dan itu membuat mereka penasaran apa yang di lakukan gadis itu di kamarnya. Toh bila sudah selesai mandi dan berpakaian Naira keluar dengan wajah polos tanpa make up apa pun.
Skip
"Sayang, panggilin ayah gih" suruh Sheila saat meliht putrinya sudah turun dengan wajah tanpa polesan apapun.
Naira yang di suruh pun pergi memanggil ayahnya.
"Kean sama Rafa hari ini sampai beberapa hari atau sampai beberapa minggu ini tidak bisa pulang karena mereka bertemu klien di luar negeri. Lebih tepatnya di Korea" ujar Louis yang sudah duduk manis di tempat ia duduk biasanya.
"Apa? Beberapa hari atau minggu? Kenapa tiba tiba dan kenapa mereka tidak memberitahu Nai kalau mereka pergi ke Korea?! Nai kan juga ingin ikut kesana dan ketemu bias Nai di sana"
Sheila dan Louis saling bertatapan. Bias? Maksudnya Idol yang di idolakan Naira?
"Bias?" tanya louis.
Naira mengangguk cepat.
"Laki laki atau perempuan?" tanya Louis lagi.
Tubuh Louis menegang tapi Louis berusaha biasa biasa saja.
Dalam hati Louis berdoa semoga Kenzie tidak tahu kalau Naira mengidolakan seorang pria. Bisa gawat kalau sampai ketahuan. Naira akan di bawa ke istananya nanti dan mengurungnya disana sebelum waktunya.
"Tidak apa apa sayang. Tapi ingat meng idolakan seseorang harus dengan cara yang sehat ya. Jangan terlalu melebih lebihkan takutnya sesuatu yang tidak di inginkan terjadi" pesan Louis.
Naira tersenyum mendengar Louis berkata seperti itu "Iya yah. Lagian Nai mengidolakan mereka karena talenta mereka dalam suara dan dance mereka karena bagus kalau wajah itu bonus hehe"
Louis dan Sheila hanya geleng geleng kepala. Mengingat Putri nya yang sebentar lagi akan menginjak usia 20 tahun.
...»---♡---«...
Hah...
Sudah berapa kali Naira menghela napas karena bosan.
Kenzie ada urusan dan sampai sekarang belum kembali sekolah pun ia izin untuk beberapa hari. Dan kakaknya tidak tahu kapan pulang. Sebenarnya kenapa mereka bertiga pergi tiba tiba secara bersamaan?! Pikir Naira.
Lelah karena terus memikirkan mereka bertiga yang tiba tiba pergi secara bersamaan Naira pun beranjak dari balkon kamarnya menuju kamar mandi untuk memulai ritualnya sebelum tidur.
Setelah selesai Naira naik ke atas ranjang untuk tidur.
Tak lama kemudian Naira terlelap dan bermimpi bukan tentang kejadian yang sama. Kalau mimpi wanita yang sama persis dengannya di bunuh pria bertopeng ya mimpi seorang pria bermata merah menyala dengan tubuh yang di rantai. Kali ini Naira bermimpi orang yang wajah nya sama persis dengannya. Ia menikah dengan pria bermata merah menyala itu. Dan mereka nampak bahagia.
Naira berharap agar ia tidak terbangun dari mimpi indahnya itu.
...»---♡---«...
Dilain tempat.
Ke empat pria yang berada diruangan singgasana dengan tatapan datar mereka masing masing. Satu pria dengan wajah datar dan dingin nya di baluti pakaian kebesaran nya melekat di tubuhnya.
Rambutnya panjang berwarna perak dengan mata merah menyala karena kemarahan yang akan membuncah ia tahan agar tidak meluap.
"Kita harus cepat menemukan pria itu yang telah membunuh istriku yang tidak bersalah dengan kejam nya, sebelum dia menemukan istriku lalu membunuh nya lagi." ujar pria itu dengan nada sedingin es yang beku.
Mereka bertiga yang mendengar suara sedingin es itu menegang karena pria yang mereka anggap sebagai raja dari seluruh kaum immortal itu tengah menahan amarah yang kalau meledak akan menghancurkan sekitar.
"Baik yang mulia" ucap mereka bertiga bersamaan.
"Kami akan mencari pria itu dan membawanya pada yang mulia" lanjut pria bersurai pirang. Yang di angguki dua pria lainnya.
"Rafael! Aku tugaskan kau untuk menjaga dia dengan baik! Tidak, dengan sangat baik!" titah sang raja dengan menekan kalimat terakhirnya.
"Aku akan menjaga adik ku dengan nyawaku sendiri" ucap Rafael dengan tegas.
"Beberapa prajurit akan membantumu jika kau mengalami kesulitan!? Aku akan mengirim prajurit terhebat agar tidak menyusahkan mu nanti" lanjut sang raja.
"Terimakasih yang mulia. Kalau begitu aku pergi"
"Aku percayakan Naira padamu Rafael! Karena kamu kakak kandung nya"
Rafael tersenyum mendengarnya. "Terimakasih kakak sudah mempercayai aku. Aku janji akan menjaga Naira dengan sangat baik! Aku pastikan dia tidak akan terluka. Kecuali..."
Kenzie mengerutkan keningnya karena Rafael menggantungkan kalimat terakhirnya.
"Kecuali?"
"Kecuali jika hati nya terluka karena seseorang aku tidak bisa mencegahnya" lanjut Rafael serius.
"Apa maksudmu?" tanya Kenzie lagi dengan kening yang masih berkerut.
"Dia sedang merindukan seseorang?!"
Kenzie yang mendengar kan semakin bingung.
"Sudah lah aku pergi saja menemui princess ku. Aku sangat merindukannya. Dua bulan tidak bertemu rasanya aku ingin segera menemuinya dan memeluk erat dirinya. Percuma saja bicara pada orang yang tidak peka" oceh Rafael dan pergi begitu saja meninggalkan mereka bertiga yang menganga tidak percaya karena berani pada Kenzie raja dari semua raja.
Buat apa takut. Toh dia kakak dari istrinya Kenzie jadi kalau dia macam macam padanya, Rafael tidak akan mengizinkan Naira untuk bertemu dengan Kenzie meskipun hanya sedetik.
...»---♡---«...
...T.B.C...
...Jangan lupa Vote and comment! ...
...Terimakasih :)...
^^^Minggu, 28 oktober 2018^^^