Immortal Reingcarnation

Immortal Reingcarnation
S2 - Kepergian Rafael



Keesokan harinya Richard dan Arthur kembali ke mansion milik Kenzie dengan membawa semua orang yakni Kean, Alvian, vano, Eshal, Zeline, Arion, Gavin, dan Damian. Kenzie dan Naira sudah kembali kedunia immortal, mereka tidak bisa menunggalkan tempat itu lebih lama lagi. Kenzie mengirim Vano kedunia manusia untuk ikut mencari cara bagaimana menyembuhkan Sean. Sedangkan Rafael? Dia tidak tahu dimana. Setelah Leyna pergi dari rumah Richard, Rafael memutuskan untuk pergi.


Flashback on


Rafael menatap kepergian Leyna tanpa ekspresi.


"Aku akan pergi!" kata Rafael hingga semua orang menatap kearahnya.


"Kakak pergi kemana?" tanya Naira mengusap air matanya. Setelah menantu kecilnya pergi, akankah kakaknya akan pergi meninggalkan dirinya juga?!.


Rafael memandang adiknya dengan lembut kemudian tersenyum hangat "Aku hanya pergi sementara untuk mencari mateku, adikku"


Naira memeluk Rafael dengan erat. "Kakak harus segera kembali! Sean masih belum sadar dan Leyna sudah pergi." ingin sekali Naira menangis lagi. Tapi disana ada kedua putrinya dan orang lain.


Rafael mengangguk setelah melepas pelukan mereka. "Aku akan segera kembali"


"Aku titip adik dan ketiga keponakanku padamu!" ucap Rafael ke Kenzie. Kenzie hanya mengangguk mengerti. Ia mengerti dengan maksud Rafael. "Aku akan menjaga mereka dengan nyawaku sendiri!" balas Kenzie.


Setelah berpamitan Rafael pergi dari kediaman Alcander dengan menaiki mobilnya.


...


...


...(Gambar berasal dari g00gl3) ...


Flashback off


"Jadi diantara kita tidak bisa menyentuh gelas itu?" ucap Gavin.


Arthur mengangguk "Kita bisa melihat segel itu yang otomatis kita tidak bisa menyentuhnya!" jelasnya.


"Tinggal Daddy, Mommy, dan paman Raf yang belum kesini" kata Zeline.


"Kita tidak bisa meminta kak Kenzie dan kakak ipar kesini. Bisa gawat jika disana tidak ada yang berjaga!" sahut Kean.


"Kau benar Kean. Harus ada yang berjaga disana!" timpal Arthur dengan nada dingin.


"Hanya Rafael yang bisa kesini" kata Richard yang sedari tadi hanya diam saja.


"Tapi kita tidak tahu dimana keberadaan paman Raf!" sahut Eshal.


Semuanya terdiam, memikirkan harus seperti apa.


"Biar aku saja yang mencari keberadaan Raja Rafael!" ucap Arthur.


"Baiklah. Kami yang akan jaga Sean disini!" balas Kean menatap Arthur penuh arti dan Arthur membalas dengan anggukan singkat.


...»---DiKota Lain---«...


Seorang gadis sedang menatap sebuah rumah kecil dipunggir jalan Raya yang terlihat ramai. Bibir mungilnya menampilkan senyum manis ketika melihat rumah yang akan ia tempati itu untuk kedepannya.


"Meskipun hanya bisa mengontrak saja, aku tidak masalah. Sisa uangnya akan aku pakai untuk modal bisnis kecil-kecilan! Aku tidak ingin jadi buruh cuci keliling lagi seperti dulu" gumamnya lalu masuk kedalam rumah itu.


Pada malam harinya, ia memulai aksinya. Mengubah ruang tamu rumah kecilnya menjadi toko bunga ketika jalanan sudah sepi.


"Akhirnya selesai juga!" ujarnya membaringkan tubuhnya dikasur keras yang cukup untuk dua orang. Kemudian ia mulai terlelap.


"Sykurlah dia baik-baik saja. Aku tidak perlu terlalu cemas dengan dimana ia akan berteduh dari matahari dan hujan, serta untuk tidur." gumam seorang pria yang mengamati rumah kecil didepan kafe yang ia kunjungi itu.


Pagi buta gadis itu terbangun. Setelah membersihkan diri, dia mulai membereskan sisa kekacauan yang ia perbuat tadi malam serta menata bunga-bunga yang tampak segar dan cantik dihalaman rumahnya.


"Selesai" ucapnya dengan ceria setelah menggantung papan yang bertuliskan Toko Bunga Jeslyn.


"Wah! Ada toko bunga baru! Dan bunganya juga terlihat sangat segar dan sehat!" ujar seorang gadis yang disetujui kedua temannya.


"Ada yang bisa dibantu kak? Silahkan kalau mau lihat-lihat bunganya" sapa Gadis itu dengan sopan disertai senyuman manisnya.


"Kami boleh melihatnya?" tanya gadis tadi.


"Silahkan kak" gadis itu mempersilahkan calon pembelinya untuk melihat bunga miliknya.


"Sangat harum ya!" ujar teman gadis tadi sembari membau salah satu bunga.


"Iya! Warnanya juga cantik! Aku jadi ingin membelinya!" seru teman yang satunya.


"Aku bisa menabung uang ini! Besok aku harus pergi mendaftar kesekolah!" gumamnya setelah ketiga pembeli itu sudah pergi.


"Tidak Leyna! Kamu harus melupakan dia!"


"Karena kamu, dia jadi seperti itu!" katanya sambil menyalahkan dirinya sendiri.


Leyna setelah meninggalkan mansion, langsung menjual rumah mendiang kedua orangtuanya. Kemudian mencari rumah yang cocok untuk dijadikan toko bunga. Setelah menemukan rumah yang diinginkan, Leyna memilih untuk mengontrak saja dari pada membeli rumah itu. Sisa uang hasil penjualan rumah kedua orangtua nya ia gunakan untuk biaya pendidikannya.


Esoknya, Leyna mendatangi salah satu sekolah negeri dikota itu. Setelah mendaftar Leyna pergi berbelanja untuk kebutuhan sekolahnya dan sehari-hari.


Satu bulan telah berlalu.


Rafael ditemukan oleh Arthur dinegara tetangga. Tanpa basa-basi lagi, Arthur langsung menjelaskan kedatangannya.


"Jadi Leyna meninggalkan darahnya tapi kalian tidak bisa menyentuh gelas itu?"


"Benar kak! Hanya tersisa Lord, Ratu dan kakak saja"


"Aku tidak bisa kembali sekarang!" tolak Rafael mentah-mentah.


"Setidaknya kakak coba dulu! Siapa tahu jika gadis itu membuat pengecualian!"


"Aku tidak ingin kembali!"


"Apa alasan kakak tidak ingin kembali?!"


Rafael tersenyum sinis. "Aku muak melihat sikap sok baiknya itu!" sindir Rafael dengan kilatan marah.


Arthur hanya terdiam, dia tak bisa memaksakan kehendaknya agar mau ikut kembali bersamanya. "Siapa maksudmu?" tanyanya tidak mengerti.


Rafael mendengus sebelum berbicara "Aku tidak perlu sebut namanya!"


"Tugasku sebagai Raja Fairy harus membantu melindungi kebenaran dan membantu memusnahkan kejahatan. Aku tidak ingin berhubungan dengan dia lagi"


"Aku mengerti maksud anda yang mulia" balas Arthur dengan sopan karena Rafael menyinggung dirinya sendiri dengan sebutan Raja yang menekankan bahwa dia seorang Raja.


"Tidak perlu sungkan. Panggil seperti biasa"


Arthur mengangguk "Kalau begitu aku akan kembali" pamitnya.


"Aku akan kesana jika tidak ada dia!" putus Rafael sebelum Arthur pergi.


Arthur membalik badan dan tersenyum lega. Ia mengangguk sebelum berkata "Terimakasih kak!"


Rafael hanya mengangguk sekilas dan Arthur pun menghilang.


"Kenapa tidak terpikirkan, jika darah gadis itu yang dibutuhkan Sean! Tapi mengapa dia memberikan segel pada gelas tersebut?!" gumam Rafael.


"Aku akan kembali mengamatinya!"


Rafael kembali ketempat ia mengamati seseorang dari kejauhan dinegara gadis tersebut. Mengapa dia tidak bisa ditemukan dinegara itu dan memilih ke negeri tetangga? Rafael tidak ingin keberadaan gadis itu diketahui oleh siapapun! Termasuk Sean!.


Dari dalam kafe yang sudah ia beli dengan harga tinggi ia mengamati seorang gadis yang menjual bunga ditoko bunga kecil milik gadis itu dari lantai atas. Tak lupa ia selalu menyembunyikan auranya agar tidak diketahui oleh gadis yang sedang ia awasi.


Rafael memutuskan untuk membeli kafe itu agar bisa membantu gadis yang sedang ia jaga. "Kalian sudah mendatangi gadis itu untuk kerja sama dengan kafe ini?" tanya nya pada bawahannya yang meruakan tangan kirinya yang tak diketahui oeh siapapun! Hanya Kenzie yang tahu keberadaan bawahan Rafael yang satu ini. Anggap saja, dia merupakan penjaga bayangan!.


"Kami sudah mengatur semua yang anda inginkan, tuan. Gadis itu juga sudah setuju. Melihat dari raut wajahnya, sepertinya dia sangat senang mendapat penawaran dari kafe ini" jawabnya sembari membungkukkan badannya tanda hormat.


Rafael mengangguk puas. "Terimakasih sudah melakukan dengan baik, Arga!" balasnya sambil menepuk bawahannya yang bernama Arga.


"Anda tidak perlu sungkan tuan"


"Hanya kau yang bisa bersikap seperti ini padaku! Tidak menganggapku sebagai seorang Raja Fairy!"


"Anda adalah penyelamat saya 15 tahun yang lalu, dan anda juga yang memberikan kekuatan pada saya tuan"


"Aku selalu puas dengan pekerjaanmu didunia manusia! Jangan pernah kecewakan aku"


"Saya tidak akan mengecewakan anda!" balas Arga dengan tegas.


Rafael selalu dibuat puas dengan jawaban dan tindakan pria kecil didepannya ini. "Aku akan membantumu mencarikan adikmu yang sudah menghilang 15 tahun yang lalu!"


Arga menatap tuannya tak percaya. Dia tersenyum haru melihat kebaikan tuannya. "Terimakasih tuan! Terimakasih banyak! Aku pasti tidak akan pernah mengecewakan anda" ujarnya sambil membungkuk.


"Bangunlah. Jangan seperti ini. Aku sudah menganggapmu sebagai adikku sendiri" kata Rafael diakhiri dengan senyuman hangat.


...T.B.C...