Immortal Reingcarnation

Immortal Reingcarnation
Perintah Kenzie dan Kembalinya Rafael



"Dia tidak berubah sama sekali. Dari dulu Sampai sekarang sama saja. Benar benar menyebalkan. Memang nya aku tidak peka bagaimana?" gerutu Kenzie yang masih di dengar Kean dan Alvian.


Perasaan Kenzie selalu peka terhadap Naira.


Merindukan seseorang monolog Kenzie di pikirannya.


"Apa yang di maksud Rafael 'Naira sedang merindukan seseorang' itu adalah merindukan aku?!" lanjutnya.


"Aha ... Tepat sekali! Naira sedang merindukan mu, kak?! Bagaimana tidak kangen coba kalau dia tidak bertemu denganmu selama dua bulan ini. Setelah bertemu dengan nya kakak selalu nempel kayak perangko sama amplop nya setiap hari" ujar Kean membenarkan gumaman Kenzie.


"Sudah dua bulan ya?!"


"Yap. Apa kau tidak merindukan nya?! Meskipun Naira belum bertemu dengan kakak, kakak selalu menemuinya saat dia sedang tidur. Tapi sejak dia kembali kakak tidak punya waktu untuk menemuinya" lanjut Kean dengan nada sedatar mungkin di akhir kalimatnya.


"Aku percayakan Naira pada Rafael karena Naira adik kandungnya. Dia pasti akan menjaganya dengan nyawanya sendiri..."


"Jangan terlalu percaya pada orang lain!? Bisa jadi musuh berada didekat kita!" sarkas Kean menyela ucapan kakak nya.


"Termasuk aku" Lanjutnya yang langsung mendapat tatapan mematikan dari Kenzie.


"Tapi tenang saja. Aku bukan musuh dalam selimut. Aku akan langsung melakukan apa yang ku inginkan tanpa harus mendekati incaran ku berlama lama" lanjut Kean, lagi.


"Jadi... Apa tugasku?"


"Tugasmu menjaga istana ini. Pastikan musuh tidak menginjak istana ini" ujar Kenzie datar dan...dingin.


"Hanya itu?" ujar Kean dengan satu alis terangkat.


"Aku dan Vian akan mencari nya sebelum berhasil menemukan Naira!" ujar Kenzie mengacuhkan pertanyaan Kean. Kean yang pertanyaannya di acuhkan hanya mendengus pelan. Ia tahu kalau kakaknya yang tegas dan kejam itu sangat tidak menyukai mengulang kata kata yang keluar dari mulutnya.


"Memangnya kalian akan mencari dia dimana?"


Kenzie berdiri dari singgasananya. Mendekati Kean lalu menepuk bahu Kean setelah dihadapannya.


"Soal kita akan mencari dia di mana, kami sudah merencanakannya dari awal!"


"Rencana apa?" tanya Kean yang hanya mendapat seringai kejam penuh misteri di wajahnya.


"Kami pergi dulu! Jaga rumah dengan baik atau..."


"Huh...ya baiklah yang mulia" kata Kean menekan kata terakhirnya saat Kenzie menggantungkan perkataannya yang Kean tahu sebuah ancaman.


...»---♡---«...


Seorang pemuda tampan perlahan menghentikan mobilnya lalu keluar dari mobilnya setelah memastikan telah aman.


Dia menoleh was was kesekitar takut ada orang lain. Kosong. Karena ini sudah jam sembilan malam yang kebanyakan orang sudah berada di alam mimpi mereka masing masing.


"Keluarlah!" katanya seperti perintah peada seseorang. Tidak, melainkan beberapa orang atau lebih tepatnya pengawal dari kaum Immortal yang terkuat dan yang pasti mereka memiliki kesetiaan seutuhnya pada tuannya.


Mereka yang mendengar titah dari tuannya pun dengan secapat kilat berada di depannya.


"Salam hormat kami pada yang mulia king Fairy" hormat mereka berlutut dengan satu kaki dan menunduk hormat.


"Hmm" gumamnya membalas salam mereka.


"Kalian berjaga disekitar radius dua puluh meter dari Naira bila ada aku di sekitarnya! Sebaliknya jika aku tidak ada di dekatnya kalian harus memperketat penjagaan! Jangan sampai lengah yang akan membuat musuh mengambil kesempatan emas bagi mereka! Kalian mengerti?!" ujarnya memberi perintah dengan tegas tanpa senyum yang biasa menghiasi wajah menawannya.


"Kami akan melaksanakan perintah king dengan sebaik mungkin" jawab mereka serentak.


"Ya! Dan bila kalian melakukan sedikit kesalahan sekecil apapun kalian akan mendapat hukuma dari Lord Kenzie secara langsung" ucapnya lalu pergi meninggalkan para pengawal yang akan menjaga di sekitar Naira. Dan mereka pun berpencar ketempat posisi yang telah di rencanakan sebelumnya.


...»---♡---«...


"Iya" jwab Rafael singkat dengan senyum tipisnya. Mencium punggung tangan Sheila yang sudah ia anggap ibunya sendiri


"Apa dia sudah tidur?" tanyanya sambik melirik kamar Naira yang tertutup.


"Nai baru saja naik ke kamarnya mungkin sebentar lagi akan tidur"


"Baiklah. Aku akan menemuinya sebentar setelah itu akan istirahat di kamar" ujar Rafael lalu balik badan.


"Apa di rumah hanya ada Bunda dan Nai?" tanya Rafael, lagi.


"Iya. Ayah sedang lembur jadi pulangnya agak telat. Kamu temuin Nai gih keburu tidur"


"Yaudah Rafa ke kamar Nai sebentar" Rafael pun pergi meninggalkan Sheila yang berdiri mematung mengingat penjelasan suaminya kemarin malam soal Naira dan kedua pemuda yang mereka angkat sebagai putra mereka.


...»---♡---«...


"Kamu mau tidur? Padahal kakak baru saja sampai!?" ujar Rafael saat Naira akan menyelimuti tubuhnya.


Naira tersentak kaget sampai kepalanya terantuk di kepala ranjang.


Bagaimana tidak kaget kalau Kakaknya tiba tiba berada di samping tempat tidur!? Bahkan dia tidak melihat pintu kamarnya terbuka.


"Kakak mmmh.."


"Rafa" Rafael menyebutkan namanya saat melihat Naira kebingungan akan memanggilnya Rafael apa Kean karena kamar Naira penerangannya minim di tambah lagi tubuh Rafael yang menjulang tinggi yang mengharuskan Naira mendongak untuk melihat wajah Rafael meskipun sudah menunduk.


"Kak Rafa?!" ulang Naira


Dalam gelap Naira melihat yang ia panggil Rafael menganggukakkan kepalanya.


"Kakak" lirih Naira yang sudah memeluk tubuh Rafael tiba tiba yang membuat Rafael hampir terjungkal kebelakang karena reaksi Naira yang memeluknya tiba tiba. Tapi untungnya Rafael bisa menyeimbangkan tubuhnya.


"Apa kamu merindukan kakakmu ini, hmm"


"Sepertinya iya karena kamu memelukku erat sekali seakan aku akan hilang" lanjut Rafael di ikuti godaan biasanya.


"Ish... Siapa yang rindu ke kakak. Nai hanya senang kakak sudah pulang karena Nai akhirnya ada teman bercanda dirumah" elak Naira.


Rafael terkekeh melihat adiknya yang tidak mengakui kalau dirinya sedang rindu padanya.


"Kan ada Bunda"


"Tapi kan kalau sama Bunda nggak bisa bercanda seperti sama kakak" sungut Naira.


Lagi lagi Rafael terkekeh melihat kelakuan Naira yang seperti anak kecil itu "Baiklah. Kalau begitu kakak tidak akan pergi lagi" ujarnya.


"Benarkah?!" tanya Naira dengan mata berbinar.


...»---♡---«...


...To Be Continued...


...Jangan lupa Vote and Comment!...


...Terimakasih :)...