Immortal Reingcarnation

Immortal Reingcarnation
S2 - Lepas Kendali



Leyna kembali teringat dengan cerita Kenzie, ayah Sean.


"Bukan hanya dia saja yang menyesal karena gagal melindungi orang terkasihnya! Begitupun denganku! Aku merasakan penyesalan yang sangat besar karena tidak percaya dengan suamiku sendiri, sehingga aku harus berpisah lama darinya dan melupakan segalanya yang pernah terjadi" ucap Naira sedih mengingat perpisahannya dengan suaminya, Kenzie.


"Aku tidak ingin membandingkan perjalanan masa lalu kamu dengan putraku, Sean. Meskipun Sean dari bayi sudah bergelimang harta, tetapi ia kekurangan kasih sayang orangtuanya, sedangkan kamu masih bisa merasakan kasih sayang orangtua meskipun hanya sebentar. Sean menjadi pribadi yang dingin dan tak tersentuh. Ia bahkan tak pernah menunjukkan senyumnya pada siapapun atau bisa dibilang Sean tidak pernah tersenyum. Jika ia tersenyum hanya ada senyum mengerikan."


"Kenapa aku bisa mengetahui seperti apa Sean, padahal aku tidak pernah bertemu dengannya? Kamu pasti bertanya soal itu bukan? Kak Richard menceritakan semuanya pada Kenzie suamiku dan Suamiku bercerita padaku." lanjut Naira.


"Sesungguhnya aku merasa iri denganmu, Leyna. Semua yang ada pada Sean kamu dapatkan pertama kali. Kamu bertemu dengannya lebih dulu dari pada aku yang sebagai bundanya. Kamu mendapat senyumnya lebih dulu dari pada aku. Kamu mendapatkan cintanya lebih dulu dari pada aku. Kamu mendapatkan darahnya lebih dulu dari pada aku. Dan kamu mendapatkan kehidupannya lebih dulu dari pada ibundanya. Kamu sangat beruntung sayang. Bukankah kamu mendapatkan segalanya pada diri Sean dari pada ibundanya?!"


Leyna dibuat terdiam oleh kata-kata Naira. Mengapa ia tak pernah berpikir soal demikian! Bukankah ia sangat beruntung? Mungkinkah ia harus memulai kehidupan barunya meskipun terasa berat? Entahlah, Leyna masih merasa bimbang.


Tak ingin membuat Leyna kembali bersedih lagi, Naira berkata "Jika kamu bosan tinggal ditempat ini hanya berduaan dengan Sean, bunda akan ikut tinggal disini jika kamu mau. Kamu juga akan memiliki teman bicara sesama perempuan, bukan?" tawarnya mengalihkan perhatian.


Leyna hanya diam saja. Dia tak bisa memutuskan seenaknya meskipun yang ada dihadapannya sekarang adalah ibunya Sean.


"Apa kamu takut untuk memutuskan? Tenang saja Leyna. Dua hal yang tak akan bisa Sean tolak dan abaikan. Pertama Ibunya dan yang kedua belahan jiwanya, kamu Leyna! Sean tidak akan bisa menolak meskipun ingin!"


"Terkecuali satu hal yang akan membuat Sean tidak setuju. Semuanya yang berhubungan dengan keselamatan kamu!" lanjut Naira karena ia melihat Leyna membuka mulut ingin menyuarakan isi pikirannya.


Naira memegang tangan Leyna "Dengarkan bunda, Leyna. Percayalah pada keputusan Sean! Dia melakukan ini semua agar kamu baik-baik saja. Sean tidak akan pernah berpikiran menyakitimu. Dia tidak akan berani menyakitimu, Leyna"


"Mungkin jika hanya dengan mengatakan terlihat mudah karena orang lain tidak mengerti apa yang dirasakannya. Satu hal yang harus kamu pegang teguh! Percayalah pada orang yang sudah menyerahkan hidupnya padamu! Ia tidak akan pernah berniat menyakitimu meski hanya seujung rambut, Leyna" lanjut Naira mencoba meyakinkan gadis kecil itu.


Semua kata-kata yang dilontarkan Naira mulai merasuk dipikiran Leyna.


Ya! Leyna tidak akan pernah mengecewakan orang yang sudah menyerah kan hidupnya padanya. Leyna harus menerima kenyataan meski itu terlalu pahit dirasakan. Leyna tidak peduli.


...»---♡---«...


Sudah dua hari Naira tinggal berdua dengan Leyna. Mereka semakin dekat dan Leyna kembali ceria dan menjadi gadis polos seperti sebelumnya meskipun warna matanya masih ada perpaduan warna merah darah.


Selama dua hari itu, Sean tidak pernah kembali setelah pertengkaran terakhir mereka. Leyna tidak tahu dimana keberadaan Sean. Tapi sepertinya dia mulai merindukan Sean.


"Sean benar-benar masih menganggapmu anak kecil. Lihatlah semua pakaian yang seharusnya digunakan anak sekolah dasar! Ck ck" Naira menggeleng melihat isi lemari Leyna yang hanya berisi pakaian anak kecil. Yang paling bagus hanya gaun seorang putri, bahkan juga terlihat kekanak-kanakan!


"Tidak apa-apa bunda. Leyna suka kok dengan semua pakaian yang diberikan kak Sean" ujar Leyna.


"Tidak bisa! Calon menantuku harus tampil cantik dan modis! Bukan tampil seperti anak kecil terus! Anak itu benar-benar!" geram Naira.


"Tapi kak Sean bilang kalau aku terlihat cantik jika memakai pakaian itu" ucap Leyna malu-malu.


Naira menganga tak percaya dengan perkataan gadis itu. "Omong kosong macam apa itu. Leyna, kamu sudah diperdaya oleh Sean! Dia hanya tidak ingin tubuh kamu dinikmati orang lain!"


Leyna tersenyum "Tidak apa-apa bunda. Leyna Juga nyaman memakai semua itu."


Naira hanya menatap isi lemari yang semuanya serba tertutup. "Tidak bisa! Bunda akan mengganti semua pakaian itu dengan yang lebih cantik dan modis tentunya!" keukeh Naira.


Leyna hanya bisa menghela napas pasrah dengan keras kepala calon mertuanya. Bukan hanya putranya yang keras kepala, tapi ibunya juga keras kepala.


"Baiklah jika itu kemauan bunda" putus Leyna disertai dengan senyum paksa.


"Kak Sean!" gumam Leyna pelan tapi masih terdengar jelas ditelinga Naira yang tajam.


Naira memindlink Sean agar segera kembali. Tapi ia tidak bisa menghubungi Sean. Berulang kali dicoba tapi tetap tidak bisa dihubungi. Naira juga menelfon menggunakan ponselnya, tapi tetap saja Sean tidak bisa dihubungi. Pada akhirnya Naira menghubungi Kenzie agar datang ke mansion mereka didunia manusia, tapi tetap tidak dapat dihubungi. Rafael, Kean, Alvian,  bahkan Richard tidak dapat dihubungi. Kemana mereka sebenarnya!. Hanya satu orang yang belum dicoba, Vano!.


'Vano! Kamu bisa mendengar aku?!' mindlink Naira ke Vano.  Ia juga mulai menahan Leyna menggunakan kekuatannya agar Leyna tidak lepas kendali.


'Izin menjawab yang mulia. Hamba mendengar anda yang mulia' balas Vano.


'Vano dimana Kenzie dan yang lainnya? Leyna dalam bahaya!'  ujar Naira langsung ke inti.


'Menjawab yang mulia. Lord dan yang lainnya sedang berada didunia manusia. Hanya hamba seorang diri yang tinggal didunia immortal yang mulia' balas Vano.


'Mereka tidak dapat kuhubungi Vano! Coba kamu yang menghubungi mereka! Aku tidak bisa menahan Leyna... Aahg...' Naira terbatuk karena dia berhasil dihempaskan dan menabrak tembok disebabkan oleh Leyna.


Setelah menyadari keanehan Leyna, Naira langsung menahan Leyna dengan kekuatannya. Tapi sayangnya Kekuatan Leyna lebih besar dari pada dia.


'Yang mulia! Anda baik-baik saja?!' tanya Vano panik mendengar teriakan Naira.


'Aku baik-baik saja. Cepat hubungi siapapun! Suruh Sean cepat kemari' perintah Naira sambil menghindari serangan yang dilontarkan Leyna kearahnya.


"Leyna sadarlah! Tenangkan dirimu, sayang" teriak Naira yang masih berusaha menghindar.


"Bunda pergi dari sini. Menjauhlah dari tempat ini! Aku tidak ingin menyakiti bunda! Aaargh.... —" seru Leyna yang berhasil mengendalikan kekuatan yang berusaha mengendalikan dirinya, tapi itu tidak bertahan lama. Leyna kembali menyerang Naira.


"Tidak Leyna! Bunda tidak akan meninggalkan kamu!"


"Bunda, Leyna mohon pergi dari sini, Leyna akan baik-baik saja. Leyna mohon, bunda pergilah. Kak Sean tidak akan marah jika nanti aku tidak menghancurkan tempat ini, dia akan memperbaiki tempat ini dalam sekejap" pinta Leyna yang berusaha untuk tetap sadar.


"Apapun yang terjadi, bunda tidak akan meninggalkan kamu!"


Brak...


Tubuh Naira kembali terpental menabrak tembok kamar hingga roboh.


"Leyna tidak ingin menyakiti bunda lebih dari ini. Leyna sudah tidak kuat menahannya bunda! Leyna mohon pergilah!" pinta Leyna tapi masih ditolak keras Naira.


Darah Sean berusaha saling mendominasi menguasai tubuh Leyna. Mata Leyna sepenuhnya berwarna merah darah. Ia sudah sepenuhnya diambil kendali oleh kekuatan besar ditubuhnya.


Mata Naira membola sempurna. Leyna sudah tidak sadar lagi. Bisa dilihat dari warna matanya yang sudah sepenuhnya merah darah, berbeda dengan tadi yang masih berwarna hijau zamrud bercampur emas dan merah darah.


Tangan Leyna terulur kedepan. Sebuah kekuatan api biru mulai berkumpul ditelapak tangannya. Semakin besar dan setelah membesar dan sangat panas, ia arahkan api tersebut kearah Naira yang tidak berdaya. Tidak sempat lagi untuk menghindar.


Api biru yang sangat panas diarahkan ke Naira yang terus mundur berusaha menghindar.


Aaaaarghhh....


...»---♡---«...


...T.B.C...