
Satu tahun kemudian semenjak penyatuan darah itu semuanya menjadi damai dan tentram.
Kenzie berjalan kesana kemari dengan sangat cemas di depan pintu kamarnya. Kean hanya diam melihat sang kakak yang sangat memperlihatkan raut cemas itu. Sikembar Vian dan Vano juga diam menundukkan kepala. Rafael yang sedang rapat dengan para dewan kaum Fairy lantas menunda rapatnya dan langsung terbang menemui sang adik yang sedang berjuang hidup dan mati.
Richard juga memperlihatkan raut cemas dan bahagia karena sebentar lagi yang ia tunggu datang juga.
Di luar istana langit dipenuhi awan mendung dan petir menggelegar terus bersahutan ditambah dengan hujan deras, membuat semua orang di dalam istana maupun diluar istana semakin cemas.
Meskipun dulu sang putra mahkota Richard lahir kedunia, alam tidak seperti ini. Kecemasan Richard semakin menjadi saat suara petir terakhir terdengar begitu keras dan suara tangisan bayi akhirnya terdengar juga. Tapi semua kecemasan yang dia alami dia sembunyikan dengan wajah dinginnya yang seperti biasanya.
"Sang Raja Immortal yang sesungguhnya telah lahir,....-" gumam Richard yang masih didengar oleh mereka. Setelah Richard berkata seperti itu pintu kamar terbuka. Kenzie pun segera masuk kedalam kamar dan ia melihat istrinya sedang terlelap. "Selamat Tuanku, Yang Mulia Ratu telah melahirkan sang pangeran dan pangeran lahir dengan sangat sehat, tuanku" ujar tabib kerajaan kepada kenzie dengan menunduk hormat.
Rafael, Kean, Vian dan Vano masuk kedalam kamar disusul dengan Richard dan Gerald.
"Lakukan segera" ujar Kenzie pada Richard. Dan detik berikutnya suara teriakan dari asisten perempuan sang tabib berteriak kesakitan saat api hitam Richard membakar tubuhnya dan tubuh itu menjadi abu dan lenyap tak berbekas. Sedangkan sang tabib tubuhnya bergetar hebat sedari tadi saat Richard mengatakan bahwa dia hanya percaya pada tuannya saja, yang berarti sebentar lagi dia juga akan tamat.
"Tuan. Hamba mohon jangan bunuh saya. Hamba berjanji tidak akan mengatakan pada siapapun jika pangeran masih hidup" mohon sang tabib sambil berlutut di hadapan Kenzie.
"Kematianmu tidak akan sesakit dari kematiannya tadi. Aku tahu kau berkata jujur. Kau setia padaku. Tapi berbeda dengan asisten mu itu dia juga mengincar darah putraku" jelas Kenzie.
Sang tabib terdiam mendengar ucapan Rajanya. "Kalau begitu izinkan hamba untuk memberikan ini kepada pangeran" ujar tabib sambil mengeluarkan sesuatu dari katong pakaiannya.
"Tugas hamba sudah terlaksana yang mulia, hamba sudah siap jika yang mulia ingin mengakhiri nyawa hamba demi keamanan pangeran" putus tabib dengan pasrah.
...»---♡---«...
Kelopak mata indah itu perlahan terbuka, memperlihatkan iris mata yang memukau.
Kenzie yang menyadari bahwa istrinya sudah sadar lantas menghampiri istrinya itu. Sedari tadi menunggu Naira yang belum sadar, ia berdiri di depan jendela yang memperlihatkan taman yang indah tapi tidak dengan hatinya yang gundah memikirkan bagaimana ia menyampaikan bahwa anaknya telah tiada.
"Sayang, kamu sudah bangun" ujar Kenzie lembut.
Naira menatap suaminya "Dimana anakku?" Tanyanya yang membuat Kenzie mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Dia hanya diam saja.
"Dimana anakku?" Tanya Naira lagi. Tapi Kenzie masih bungkam.
"Kenapa kamu hanya diam saja?!"
"Katakan dimana anakku?!" Teriak Naira.
Kenzie yang mendengar teriakkan dari istrinya, bukannya menjelaskan tapi ia malah melangkah keluar dari ruangan.
Naira hanya diam menatap kepergian suaminya itu.
Diluar kamar ada Rafael, Kean, Vian dan Vano, sedangkan Richard dan Gerald sudah pergi dari sana.
Mereka berempat diam memperhatikan Kenzie yang berjalan ke ruangan sebelah.
Tak lama kemudian ia keluar dari kamar itu sambil menggendong buntalan dengan raut wajah yang sedih.
Naira terus saja menatap kearah pintu kamar. Seseorang yang ia tunggu akhirnya muncul juga dengan buntalan yang ia gendong.
Seketika itu senyum Naira terbit dibibir yang masih sedikit pucat.
"Anakku" ujar Naira sembari menerima buntalan itu dengan hati-hati dan digendong nya secara perlahan.
Senyum itu seketika hilang saat menyadari ada yang berbeda dari anaknya.
"Kenapa dia tidak bernapas?!"
"Anakku tidak mungkin mati! Anakku masih hidup!" Teriak Naira dengan berurai air mata.
Kenzie segera mendekap tubuh Naira ke pelukannya. "Dia tidak selamat!" lirih Kenzie.
"Tidak!..." Teriak Naira kemudian tubuhnya lemas tak sadarkan diri.
"Maafkan aku sayang" bisik Kenzie tak berdaya.
...»---♡---«...
Sepuluh tahun kemudian
Terlihat dua orang gadis kecil dengan pakaian yang sama. Umur si kakak berusia 7 tahun, sedangkan gadis kecil yang satunya berusia 5 tahun.
Mereka duduk dibawah pohon yang rindang.
"Kakak" kata sang adik. Yang dipanggil kakak pun menoleh kearah nya.
"Ada apa Sha?" Sahut kakak nya.
"Ayo kembali, aku sudah lapar"
"Baiklah, sudah waktunya makan siang" timpal sang kakak.
Setibanya di kediaman mereka, kedua gadis kecil itu memanggil ibunya secara bersamaan. "Mom kami lapar!" Ujar mereka sembari berlari kedalam ruang makan.
"Ayo sayang, Mom sudah buatkan makan siang untuk kalian" kata Naira
"Untuk Daddy?" Tanya Kenzie yang tiba-tiba muncul di ruang makan.
"Daddy kebiasaan deh selalu muncul tiba-tiba" protes sang kakak.
Yang diprotes malah nyengir lebar.
"Untuk kami ada tidak?" Ujar seseorang dari arah luar ruang makan.
Berdirilah keempat pria dengan senyum konyol mereka.
"Duduklah, aku memasak banyak hari ini"
"Wah ada makanan kesukaan ku!"
"Aku sengaja membuat kan makanan kesukaan kalian hari ini"
"Hanya ingin saja" lanjut Naira saat ia mendapat tatapan bertanya dari semua orang yang ada di ruang makan.
Sepuluh tahun setelah ia kehilangan putra nya. Sekarang dia memiliki dua orang putri yang cantik. Zeline berusia 7 tahun dan Eshal berusia 5 tahun.
Mereka pun menyantap makan siang dengan penuh kehangatan. Kenzie hanya tersenyum tipis saat ia mendengar perkataan dari Vano, Vino, Kean dan Rafael. Kenzie merasa ada yang kurang disana yang terdapat satu kursi kosong disebelah kanannya yang memang sengaja membiarkan satu kursi itu kosong dengan bertuliskan nama seseorang di sandaran atas kursi itu.
Mereka tidak bertanya kenapa ada sebuah kursi yang dibiarkan kosong dengan tertulis nama seseorang, seakan kursi itu dibuat khusus untuk orang itu.
...SELESAI!...