
"Emmm.... Per-permisi tuan..... Apa t-tuan yang memanggil ssaya?" Tanyaku sambil menundukkan kepala dan tubuhku bergetar hebat.
Aku masih merasakan pandangan tajamnya. Aku benar-benar ketakutan sekarang. Apalagi saat ini aku hanya berdua dengan tuan muda.
Kata kepala pelayan dirumah ini, tuan besar tidak suka jika ada pelayan saat beliau berada di kediamannya. Itu sebabnya, waktu kerja kita sudah diatur agar tuan besar tidak bertemu dengan para pelayan. Dan hanya kepala pelayan saja yang keluar masuk dengan bebas dikediamannya.
Tuan muda duduk di sofa lalu ia menyuruh ku untuk duduk. "Duduk" suruhnya dengan tegas.
Dengan cepat aku langsung duduk dilantai dan masih dengan wajah yang menunduk takut. Sampai ketika suara tuan muda terdengar lagi "Siapa yang menyuruh mu untuk duduk dibawah situ" dan tanpa sengaja membuat ku menatap tuan besar. Tapi dengan segera dia langsung menunduk lagi.
Untuk kesekian kalinya aku merasa terkejut.
Meski hanya beberapa detik. Aku bisa melihat melihat wajah tuan besar dalam jarak dekat.
"Duduklah diatas" kali ini suaranya melembut tapi tatapan matanya masih tidak berubah.
Dengan pelan aku pun duduk di sofa berhadapan dengan tuan besar.
"Siapa namamu?!" Tanya tuan muda.
"Leyna, tuan" jawab ku dengan pelan.
"Nama lengkap?!" Tanya tuan muda lagi.
"Leyna Jeslyn"
Hmm..... tuan muda hanya berdehem.
"Malaikat kecil yang diberkahi dengan kekayaan dan kecantikan" ujar tuan muda pelan, tapi masih bisa didengar oleh ku.
Kaya apanya. Cari uang buat makan saja sangat sulit. Syukur kalau sehari bisa makan meski cuman sekali. Gerutu ku dalam hati.
"Nama yang indah" ujar tuan muda.
Aku hanya menunduk. Tidak berani menatap mata tajam milik tuan besar.
"Apa kau bersekolah?" Tanyanya tiba-tiba.
"Ya tuan?" Jawab ku tapi lebih tepatnya seperti bertanya.
"Tatap wajah saya!" Perintah tuan muda.
Dengan cepat aku menatap tepat ke arah mata tajam milik tuan muda.
Tampan. Batin ku menilai karya Tuhan yang berada di depan ku ini.
Dalam beberapa saat tuan muda hanya diam sambil menatap tajam ke arah ku.
"Apa kau bersekolah?" Tanya tuan muda lagi.
Aku menunduk "Saya hanya lulusan sekolah dasar" Jawab ku sedih.
"Jadi kau tidak melanjutkan pendidikan mu? Kenapa?" Tanyanya.
"Hahhh.... Saya bisa makan saja sudah bersyukur, tuan" Jawab ku seadanya.
"Memangnya orangtuamu tidak bekerja?"
Aku hanya menggeleng dengan sedih. "Mereka sudah tiada saat saya baru menginjak bangku SMP."
"Apa kau mau melanjutkan pendidikan mu lagi?!" Tanya tuan muda untuk yang kesekian kalinya.
Apa sekolah? Untuk ku? Aku akan disekolahkan oleh tuan muda?
Dengan segera aku mendongakkan kepalanya menatap tuan muda dengan mata berbinar "Saya mau tuan!" Ujarku semangat.
"Baiklah!? Aku akan segera mengurus nya. Dengan syarat...."
Aku hanya mengernyit dan berkedip polos.
"Kau hanya boleh menikah dengan pria yang ku pilihkan!"
Rahang ku rasanya mau jatuh mendengar persyaratan dari tuan muda.
"Kau akan menyukai pria pilihanku nanti!" Ujar tuan muda. Mungkin tuan tahu apa yang aku pikirkan.
"Tugasmu hanya belajar sampai kependidikan tertinggi. Dan aku juga yang akan memilihkan kau akan mengenyam pendidikan di mana. Saat waktu nya sudah tiba, aku akan membawamu menemui pria itu" jelas tuan muda.
Aku hanya diam saja.
Tidak apa-apa. Tuan tidak akan menyerahkan aku pada orang yang tidak baik. Aku percaya pada tuan. Yang penting keinginan ku untuk melanjutkan pendidikan ku tercapai. Batinku.
"Apa kau setuju?!" Tanya nya.
Tuan muda menyeringai "Bagus!?"
"Tapi..." aku ragu untuk mengungkapkan apa yang mengganjal di hatiku.
"Katakan!" Seru nya.
Dengan ragu aku mengatakan nya "Apa yang akan saya katakan pada saudara dari orangtua saya jika saya melanjutkan pendidikan. Sedangkan saya tidak memiliki biayanya" ayolah, jika keluarga mendiang ayahku menganggap aku apa jika tiba-tiba aku kembali bersekolah.
"Kau tenang saja. Aku akan membiayai pendidikanmu dengan embel-embel beasiswa. Aku yakin bahwa kau itu sangat cerdas" jelasnya.
Apa dia sedang memujiku? Woaaa aku dipuji sama tuan muda, tampan lagi.
"Sekarang usiamu seharusnya sudah memasuki SMA. Tapi berhubung kau belum mendapatkan ijazah SMP mu. Untuk sementara kau home schooling kejar paket dahulu sampai kau mendapatkan ijazah SMP mu, lalu kau tinggal masuk ke SMA yang aku pilihkan setelah kau mendapatkan ijazah itu" jelas tuan muda lagi.
"Tapi kau harus pergi dari rumah ini..." Ucapan tuan muda terhenti ketika ada seseorang yang berani menyela pembicaraan nya.
Lalu, jika aku pergi dari rumah ini, aku harus tinggal dimana? Bukankah aku kesini untuk bekerja?.
"Paman akan membawanya kemana?!" Sela pria lain yang turun dari lantai atas.
Pria itu menatap tuan muda dengan tatapan tak kalah tajam dari tuan muda. Apa keluarga ini bakatnya menatap orang seperti itu.
"Duduklah" ujar tuan muda.
Pria itu pun langsung duduk berdempetan disebelahku.
Hah disebelahku?! Kenapa pria itu duduk disini. Kan masih ada tempat yang lain.
Pria itu yang merasa jika aku terkejut lantas mengatakan
"Aku terbiasa duduk didepan paman Richard saat sedang mengobrol" katanya dengan santai dan berkedip polos ke arah ku.
Paman?.
Hahhh... Tuan muda menghela napas.
Apa-apaan tangan nya. Santai sekali pria ini merangkul ku. Tuan tolong singkirkan tangan anda.
Pria itu hanya menatap ku penuh kelembutan dan senyum manis dibibir nya.
Kenapa dia menatapku seperti itu. Dan kenapa dia tersenyum begitu padaku?.
Tuan muda geleng-geleng kepala melihat tingkah pria disampingku ini.
"Baiklah paman. Sekarang katakan! Paman mau membawanya kemana?!"
Kenapa pria ini memanggilnya paman? Apa jangan-jangan?! Pria didepan itu tuan besar?! Dan pria disampingku ini yang tuan muda?! Apa tuan besar akan membunuhku? Ya Tuhan aku masih tidak ingin pulang. Aku masih ingin hidup.
"Yang pasti kamu tidak akan menemukan gadis itu!" Geram tuan besar.
Aduh kenapa perkataannya seperti itu. Apa aku akan dibunuh?!
Pria itu yang ku sebut tuan muda yang mendengar perkataan tuan besar, lantas mengangkat ku yang membuat ku terpekik kaget. Tuan muda membawa ku ke pangkuannya.
Apa-apaan pria ini. Kenapa dia malah membawaku ke pangkuannya?!. Dasar pria gila. Umpatku kesal.
"Paman tidak boleh membawanya pergi jauh dariku!" Katanya sambil memeluk ku dengan posesif. Sedangkan aku hanya diam saja. Mau berontak juga tenagaku kalah besar dari pria ini.
Kenapa dia tidak boleh membiarkan aku pergi?!
Hahhh.... tuan besar menghela napas lagi dan kali ini dia memutar bola matanya malas.
"Heh bocah! Gadis itu hanya akan fokus belajar! Jika dia ada dirumah ini, yang ada dia tidak akan fokus kependidikan nya! Kamu akan terus mengganggu nya nanti!" Geram tuan besar.
Tebakanku benar. Jadi pria yang tadi aku tatap dari awal itu tuan besar.
"Aku tidak mengizinkan dia pergi dariku! Dan aku tidak akan mengganggunya paman. Percayalah" Keukeh pria yang sedang memangku ini. Mengapa dia tidak menurunkan aku sih?!.
"Aku akan menjelaskan rencanaku nanti setelah makan malam. Sekarang turunkan gadis itu, dan biarkan dia pergi"
Rencana? Rencana apa?! Kenapa melibatkan aku?! Hiyaaaaaa aku tidak mau!
Bukannya melepaskan, tuan muda malah mempererat pelukannya.
"Turunkan dia atau aku benar-benar tidak akan membuatmu bisa melihatnya lagi!" Teriak tuan besar. Mungkin dia sudah kesal dengan tingkah pria ini.
Pria itu pun langsung melepaskanku, dan dan aku pun langsung pamit ke kamarku dengan berbagai pertanyaan yang tidak aku mengerti.
•Jeslyn POV off•
...TBC...