Immortal Reingcarnation

Immortal Reingcarnation
S2 - Kedatangan Tamu Tak Di Undang



Jam istirahat sudah berbunyi, para siswa maupun siswi keluar kelas untuk mengisi perutnya.


Disinilah Arion, Gavin dan Damian berada. Tempat persembunyian mereka yakni gudang yang sudah tak terpakai. Meskipun ruangan itu penuh dengan tumpukan rongsokan, tapi setengah dari ruangan itu bersih dan rapi. Diam-diam mereka menggunakan gudang tak terpakai itu.


Damian menceritakan apa yang sudah terjadi padanya kemarin. Setelah pulang sekolah, Damian tak sempat untuk bercerita lantaran Arion dan Gavin sibuk dengan acara mereka masing-masing.


"Jadi pak Max mengetahui jika kita bukan manusia biasa?!"


Damian mengangguk "Benar kak. Dan pak Max juga bilang agar kita tidak mencari masalah dengan gadis yang bernama Leyna dan Eshal!"


Arion mengerutkan keningnya "Memangnya kenapa jika kami mendekati dua gadis itu?" tanyanya penasaran.


Damian menghela napas pelan "Yang aku lihat kemarin dari perlakuan pak Max terhadap ketua kelas ku yang bernama Leyna seperti pria yang memperlakukan wanitanya?! Bahkan ketika ia memberikan peringatan yang dikhususkan untuk ketua kelas, aku melihat sekilas warna matanya berubah berwarna emas?!"


"Berwarna emas?" tanya Gavin yang hanya diangguki Damian.


"Tidak ada makhluk yang memiliki warna mata Emas! Makhluk yang memiliki warna mata emas hanya terlahir seratus ribu tahun sekali!" gumam Gavin pelan tapi masih bisa didengar keduanya.


Mereka bertiga terdiam karena mendengar penuturan Gavin. Sampai sebuah suara membuat tubuh mereka menegang.


"Seperti nya kalian sedang senggang?!" ujar seseorang dibalik barang-barang yang menjulang tinggi.


"Hmm... Tempat ini kotor sekali! Cocok untuk dijadikan baseman gratis! Siapa yang sangka, jika tempat yang kotor dan terpencil ini memiliki baseman" lanjutnya diikuti kekehannya yang ia anggap lucu.


Ketiganya saling melirik berniat untuk kabur. Tapi mereka mengurungkan niat mereka, saat pria dibalik barang-barang itu berkata "Kalian tidak bisa keluar dari sini tanpa izin dariku!" ujarnya dengan suara Alphatone nya.


Tap... Tap... Tap...


Kesunyian yang mendera membuat gudang itu menggema sihingga langkah kaki pria dibalik barang-barang yang menjulang tinggi terdengar.


"Kusarankan kalian tidak memberontak! Jika tidak... Kalian akan berakhir sampai disini!" peringatnya diikuti kekehannya yang membuat ketiganya merinding.


Blam...


Cahaya lampu yang menyala redup tiba-tiba mati. Entah mengapa Arion, Gavin dan bahkan Damian yang memiliki penglihatan tajam hanya bisa melihat kegelapan.


Tap...


Langkah dari pria itu berhenti. Mereka yakin jika pria itu tidak jauh dari hadapan mereka.


"Seperti nya kalian cukup mengetahui informasi yang bahkan hanya tersimpan diperpustakaan kerajaan pusat. Hanya orang tertentu yang bisa mengetahui informasi sebesar itu."


"Bisa dipastikan, jika salah satu orang tua kalian berasal dari kaum bangsawan yang bisa masuk kedalam perpustakaan kerajaan pusat. Dan salah satu orang tua kalian adalah orang yang sama. Apa yang ku ucapkan benar 'kan?!" lanjut pria itu sambil menyeringai.


Arion, Gavin dan Damian diam mendengar perkataan pria asing itu. Mereka tidak tahu harus melakukan apa. Aura yang dikeluarkan pria asing itu sangat menakutkan.


"Bulan purnama kedua datanglah keMansion yang berada ditengah hutan terlarang. Kalian akan mengetahui siapa kalian dan dari mana asal kalian yang sampai saat ini kalian cari"


Sekilas mereka melihat cahaya mata yang berubah warna dan terakhir  berwarna emas dan merah darah. Yang menunjukkan bahwa ia seorang penguasa agung.


Setelah aura mengerikan itu menghilang, lampu kembali menyala dan barrir tempat mereka terkurung juga menghilang.


"Aku merasa merinding dan takjub dengan perubahan warna matanya" gumam Gavin.


"Benar kak. Apa lagi warna mata yang terakhir, merah darah dan emas!" sahut Damian dengan manik mata hazel dan abu-abu, menandakan jika tubuhnya juga dikuasai dua jiwa, jiwa Damian dan jiwa wolf nya, Axel.


"Apa kita akan ketempat yang pria itu katakan bulan depan?" tanya Arion yang sedikit ragu.


"Bagaimana Damian?" tanya Arion yang melihat adik bungsunya hanya terdiam.


"Pria itu memiliki mata emas dan pak Max sepertinya juga memiliki mata emas?! Apa pria tadi pak max?!" ujar Damian sambil menatap kedua kakaknya memutuskan bicara dengan apa yang dia pikirkan.


"Kita tidak bisa ber-asumsi sendiri. Mungkin kemarin kamu salah lihat, Damian. Purnama bulan kedua, bulan depan kita ketempat yang pria itu maksud" putus Arion mengambil keputusan. Ia juga beranggapan yang sama. Hanya saja ia tidak ingin salah paham.


...»---♡---«...


Ketiga gadis itu memakan makanan mereka dengan lahap. Leyna yang memang jarang makan makanan enak, Eshal yang tidak pernah makan makanan manusia yang belum ia makan, dan Zeline juga sama seperti Eshal.


Tenang saja, Leyna memakan makanan yang sehat. Jika dua bersaudari itu membiarkan calon kakak iparnya makan makanan yang tidak sehat, bisa dipastikan mereka akan dihukum gantung dengan kepala dibawah oleh kakak laki-laki mereka satu-satunya, Sean. Memang kejam, tapi itu semua demi kebaikan gadis kecilnya yang masa lalunya tidak makan dengan benar.


"Mereka perempuan tapi makannya banyak"


"Apa mereka tidak pernah makan ya?"


"Cantik-cantik makannya banyak"


Seperti itu bisikan yang didengar ketiganya. Namun mereka tidak peduli dengan tanggapan orang lain.


"Ahh... Kenyangnya" seru Eshal sambil mengusap perutnya yang sedikit buncit.


"Eshal jaga sikapmu!" tegur Zeline karena adiknya bersikap layaknya bukan seorang putri kerajaan. Tidak ada anggun-anggunnya sama sekali!.


"Kita berada disini kak. Tak apa jika kita bertindak semau kita asal tidak merugikan orang lain. Rasanya tubuhku cepat lelah jika berada di mansion, tidak bisa bersikap bebas" keluh Eshal.


Memang benar jika mereka didunia immortal mereka harus menjaga sikap mereka agar tetap terlihat anggun. Menjadi putri kerajaan atau bangsawan sangat merepotkan dengan adanya kelas tata krama. Sungguh melelahkan.


"Meskipun begitu, kita juga harus menjaga sikap kita, Eshal!"


"Ya... Ya... Terserah kakak"


"Sudah! Ayo kita kembali kekelas" ucap Leyna menengahi.


Setelah sedikit perdebatan mengenai perilaku Eshal, akhirnya mereka kembali kekelas. Mereka berjalan beriringan.


Tanpa mereka sadari, sedari tadi mereka diperhatikan oleh tiga orang siswa. Arion, Gavin, dan Damian. Mereka keluar dari gudang setelah keputusan mereka mengenai akan datang ke tempat itu atau tidak.


"Sayang sekali jika kita tidak bisa mendapatkan kedua gadis itu kak" gumam Gavin pelan tapi masih didengar Arion dan Damian.


"Aku ingin tahu, apa yang akan terjadi jika aku tetap mendekati gadis yang bernama Leyna itu!"


Mata Damian membola mendengar perkataan kakak sulungnya. "Apa kakak gila?! Pak Max akan membuat kita berakhir!" ujarnya tidak mengerti dengan pemikiran Arion.


"Aku hanya ingin mengetahui hubungan pak Max dengan pria itu! Apa mereka orang yang berbeda atau memang orang yang sama!"


"Aku juga!" Sahut Gavin.


"Kalian...!" Damian tidak bisa berkata-kata lagi. Kedua kakaknya sepertinya sudah gila.


...»---♡---«...


...T.B.C...