Immortal Reingcarnation

Immortal Reingcarnation
S2 - Kembali Terulang



Setelah kembali ke kamarnya. Leyna memikirkan semua yang terjadi di ruang tamu.


Jadi pria itu tadi tuan besar?!


Apa para pelayan tahu wajah tuan besar seperti apa? Kecuali kepala pelayan tentunya.


Lalu kenapa sikap pria itu (tuan muda Sean) seperti itu padaku?!


Dan kenapa tuan besar menawariku untuk melanjutkan pendidikan ku?


Ada apa dengan kedua pria itu? Sikap mereka sangat aneh! Apa lagi gelang ini dan fasilitas mewah yang tidak seharusnya dinikmati oleh seorang pelayan. Seperti itu lah yang dipikirkan oleh Leyna dan masih banyak lagi di otak kecilnya.


Leyna masih terus memikirkan semua nya sampai ia tak sadar sudah terlelap ke alam mimpi.


...»---♡---«...


Pagi harinya Leyna sudah siap. Leyna hanya membawa beberapa pakaian saja. Karena kata kepala pelayan disana sudah tersedia pakaian untuk nya dengan ukuran badan Leyna.


"Kamu sudah siap Leyna?!" Ujar tuan besar.


"Iya tuan'' jawab Leyna pelan.


"Ingat tugas kamu apa. Kamu harus mendapatkan peringkat pertama disetiap kelasnya! Jadi, kamu harus berusaha sangat keras! Jika kamu gagal maka pendidikan mu akan berhenti saat itu juga! Apa kamu paham Leyna?!." Ujar Richard mengingatkan gadis kecil itu.


"Saya paham tuan. Saya akan berusaha sangat keras! Saya tidak akan membuat tuan besar kecewa!." Seru Leyna dengan penuh keyakinan.


"Baiklah waktunya berangkat" ujar Richard.


Leyna mengangguk dan masuk ke mobil. Tapi sebelum dia masuk kedalam mobil. Leyna merasa ada yang memperhatikannya. Leyna menoleh keatas tepat dimana Sean berdiri yang menatapnya tajam.


Setelah beberapa saat, barulah Leyna benar-benar masuk kedalam mobil. Dan mobil pun langsung melaju ketempat tujuan meninggalkan Sean yang masih menatap tajam kearah dalam mobil itu, kearah Leyna.


...»---♡---«...


•Disuatu tempat•


"Bagaimana? Apa kalian setuju dengan rencana itu?!"


"Tapi untuk membuat nya keluar dengan sendirinya, kita harus memancingnya"


"Sebelum kekuatan nya bertambah besar. Kita harus segera melenyapkan putra mahkota"


"Sebelum kebangkitan nya, putra mahkota masih lemah! Jadi kita harus bertindak cepat"


"Jangan meremehkan dia lemah atau tidak. Jika tidak ingin kita tamat sebelum putra mahkota berhasil dilenyapkan"


"Baiklah tiga bulan lagi kita jalankan rencana kita. Kita harus persiapkan segalanya dengan matang, atau kita sendiri nanti yang akan dilenyapkan oleh mereka!"


"Ya benar. Demi membalaskan kematian pangeran Arthur"


...»---♡---«...


•Ditempat Kenzie•


Diruang kerja Kenzie terdapat beberapa orang yang sedang mendengarkan penjelasan dari Kenzie.


"Kekuatan nya tiba-tiba terbuka meski hanya sesaat. Tapi aku merasakan kekuatan yang sangat besar."


"Apa dia sedang dalam bahaya?" Tanya Rafael khawatir.


"Dia akan baik-baik saja selama berada dalam jangkauan tuan Richard" seru Vano.


"Ya. Selama dia berada dalam jangkauan kak Richard, dia akan baik-baik saja" timpal Kean.


"Aku merasakan firasat jika musuh yang selama ini bersembunyi akan memancing pangeran untuk keluar dari persembunyiannya" ujar Vian tiba-tiba.


"Yang dikatakan Vian benar. Mereka sedang merencanakan agar pangeran keluar dengan sendirinya'' timpal Kenzie.


"Kemungkinan besar yang akan berhianat adalah klan penyihir" gumam Kenzie yang masih didengar oleh yang lainnya.


"Kakak benar. Kita menyembunyikan pangeran Arthur dari mereka. Dan yang mereka dengar bahwa pangeran Arthur mati karena dibunuh oleh kakak!" Ujar Kean


"Wanita itu!" Geram Rafael.


Mereka lantas melihat kearah Rafael, saat Rafael bergumam menyebut wanita itu.


Rafael menatap Kenzie.


"Aku yakin, jika wanita itu adalah mata-mata yang dikirim oleh mereka agar mereka tahu pangeran Arthur masih hidup atau sudah mati. Tapi sayangnya wanita itu mati duluan" kata Rafael.


"Hahhh.... Kesalahpahaman kembali terulang" gumam Kenzie sambil memejamkan mata lelah.


Vano yang mendengar gumaman Kenzie langsung menoleh kearah lain. Dia merasa bersalah karena tidak mau mendengar penjelasan dari Kenzie.


"Yang mengetahui keberadaan putra mahkota hanya klan penyihir. Jadi sebisa mungkin keberadaan putra mahkota tidak diketahui oleh klan yang lainnya"


"Bagaimana caranya kak? Kita tidak mungkin membunuh mereka dari klan lain yang mengetahui keberadaan putra mahkota. Itu sama saja kita mengibarkan bendera perang!"


"Sebenarnya aku memiliki kemampuan tersembunyi" lirih Vano membuat semuanya menatap kearahnya.


"Kemampuan apa?" Tanya Vian.


"Jika kita menghapus ingatan orang lain, maka energi kita akan berkurang. Tapi tidak denganku"


Mereka hanya diam mendengarkan Vano yang sedang mengungkapkan.


"Aku bisa memasukkan ingatan palsu dan menghapus ingatan orang lain tanpa harus kehilangan energi ku" jelas Vano sambil menatap ke arah Kenzie.


"Aku mengerti maksud mu. Tapi sangat sulit jika kita mencari dan menunggu siapa yang mengetahui keberadaan putra mahkota kecuali klan penyihir" ujar Kenzie.


"Aku akan kirim mata-mata ku untuk mengamati mereka" ujar seseorang tiba-tiba.


Semua orang terkejut dengan kedatangan orang yang baru saja bicara itu. Pasalnya ruangan itu sudah diberikan barrir agar tidak seorang pun bisa masuk kedalam.


Kenzie tersenyum tipis dengan kedatangan Richard.


"Sepertinya hanya kamu yang bisa menembus barrir yang kubuat" seru Kenzie


"Vano! Setelah mata-mata ku memberikan informasi siapa saja yang mengetahui keberadaan putra mahkota kecuali klan penyihir, kau harus segera menghapus ingatan mereka." Jelas Richard.


Vano menunduk hormat. "Terimakasih atas kehormatan yang anda berikan, tuan. Saya akan menjalankan perintah dengan sebaik mungkin"


"Aku percaya padamu'' kata Richard sambil menepuk pundak Vano.


"Apa dia baik-baik saja?" Tanya Kenzie pada Richard.


"Dia sangat baik"


"Jadi, apa yang membuatnya sampai lepas kendali?"


"Alex mengambil alih tubuh nya" ujar Richard serius.


Dahi Kenzie mengernyit begitu pun juga dengan yang lainnya. "Apa?!" Kata Kenzie.


"Kemarin ada dua pelayan baru di kediamanku"


"Apa hubungannya dengan pelayan barumu?" Tanya Kean.


"Satu pelayan baru itu sudah mati karena melanggar peraturan yang aku buat" lanjut Richard dengan santai.


'hah?! Mati karena hanya melanggar aturan?! Mengerikan sekali dia!' batin mereka semua kecuali Kenzie.


"Semua konsekuensi itu juga seimbang dengan fasilitas dan gaji yang kuberikan pada semua pelayanku. Semuanya tergantung pada diri mereka sendiri, apa mereka taat dengan peraturan yang aku buat atau mereka akan melanggar peraturan itu. Jadi, jika mereka melanggar nya! Ya itu salah mereka sendiri" jelas Richard yang mendengar pikiran mereka.


"Ahahahaha... Bertambah lagi satu orang! Yang ketat dengan peraturan nya!" Gurau Kean.


"Memangnya siapa saja yang ketat dengan peraturan?" Tanya Vano.


"Kakakku sendiri (Kenzie), kakak dari ibu mate mu (Rafael), dan kakak kembaranmu (Vian), dan sekarang ditambah kak Richard!." Ujar Kean yang langsung mendapat tatapan tajam dari orang yang dia singgung barusan.


Vano meringis "Lalu kamu?'' tanyanya ke Kean.


"Aku? Jika itu tidak menimbulkan masalah besar, aku tidak akan terlalu kaku (terlalu taat pada peraturan itu)"


"Wah wah... Aku yakin, dulu sebelum kak Kenzie menikah dengan ibu mertua, kau pasti sering menggoda ibu mertua dan mencium nya kan?!" Seru Vano memanas-manasi Kenzie.


Kenzie yang mendengar nya langsung menatap tajam Kean. "Jadi kau sering menciumnya?!" Tanya Kenzie sangat dingin yang membuat mereka merasa merinding kecuali Richard.


"Dan kau!" Ujar Kenzie menatap tajam Vano.


"Sejak kapan aku merestui mu dengan putriku!"


Kean tergagap "A-aku hanya melakukan nya sebagai peran seorang kakak kepada adiknya" kata Kean terbata.


"Aku menganggap kakak ipar seperti adik perempuan ku sendiri! Memangnya tidak boleh?! Umur kakak ipar juga lebih muda dariku! Di kehidupan sekarang maupun dikehidupan yang sebelumnya" seru Kean sambil cemberut.


Kenzie menatap Kean sedih. Kenzie tahu jika Kean pasti sangat merindukan adik kecil mereka. Kenzie yang sebagai seorang kakak merasa tidak berguna karena sudah membuat adik perempuan mereka tiada. Seharusnya Kenzie mengorbankan nyawa nya sendiri. Tapi, takdir berkata lain. Adik mereka lah yang harus berkorban demi keselamatan kedua kakaknya.


Vano yang merasa akan ada kesedihan yang akan hadir, dia pun berkata. "Meskipun kak Kenzie tidak memberikan aku restu! Tapi calon ayah mertuaku tidak akan tega dengan putrinya" katanya setelah itu tertawa.


Kesedihan yang akan berlangsung itu seketika menguap karena tingkah kepedean Vano.


Kenzie terdiam kemudian ia kembali bertanya dengan wajah serius "Kenapa Alex sampai mengambil alih? Apa... "


Richard mengangguk singkat "Gadis itu sudah datang!" jawabnya singkat.


Semua orang terdiam dengan jawaban orang yang selama ini merawat pangeran kecil mereka didunia manusia.


...»---♡---«...


...TBC...