
Peringatan!
Ada sedikit adegan kekerasan didalamnya! Mohon untuk bijak ya. Terimakasih 😇
...»---♡---«...
Lima belas tahun yang lalu meskipun Kenzie melarang semua kaum untuk pergi kedunia manusia, hanya Rafael seorang yang bisa keluar masuk dunia immortal dengan mudah tanpa diketahui. Semua itu juga tak luput dari kerja samanya dengan Kenzie. Kenzie meskipun mengenal Richard sangat lama, tapi dia tidak sepenuhnya percaya dengan pria itu. Untuk keamanan putranya, Kenzie memerintahkan Rafael untuk menjaga sang putra mahkota dari kejauhan. Hanya Rafael yang bisa melindungi dari jarak jauh tanpa diketahui kecuali Kenzie yang bisa tahu dimana keberadaannya.
Ketika didunia manusia Rafael tak sengaja bertemu anak kecil yang berusia lima tahun yang dikepung oleh para penculik digang kecil yang sepi karena hari sudah malam.
"Dimana adikmu?!" gertak salah satu penculik itu.
"Aku tidak tahu! Meskipun aku tahu, aku tidak akan beritahu kalian!" balas anak itu tanpa rasa takut.
"Kau tidak takut mati rupanya"
"Untuk apa aku takut! Yang terpenting adikku selamat dan baik-baik saja!"
Merasa geram dengan jawaban yang dilontarkan anak kecil itu, pemimpin penculik memerintahkan anak buahnya untuk menangkap anak itu "Tangkap dia dan robek mulutnya, patahkan juga tangan dan kakinya!"
"Baik bos"
Anak kecil itu mulai gemetar ketakutan, tapi ia berusaha untuk mengendalikan diri. Dia juga berusaha menghindar, karena ia masih seorang anak kecil yang pengetahuan ilmu beladirinya masih rendah akhirnya tertangkap.
Krak..
Suara retakan tulang terdengar diikuti jeritan kesakitan. Tanpa rasa kemanusiaan, salah satu anak buah sipenculik berhasil mematahkan tangan anak kecil yang masih berusia lima tahun itu.
Secara tiba-tiba tubuh pria yang tadi mematahkan tangan anak itu terlilit tanaman merambat berduri. Mencekiknya dan mengangkatnya keatas sehingga kakinya tidak menapak ditanah lagi. Darah bercucuran dengan deras dari pria itu diiringi dengan jeritan kesakitan.
Sedangkan para penculik yang lainnya terkejut bukan main. Dari mana asalnya tanaman itu berasal. Ditengah kebingungan mereka, tanaman merambat berduri juga melilit mereka, tapi tidak sampai membuat mereka dibuat kesakitan seperti pria sebelumnya yang sudah mati mengenaskan dengan tubuh yang terpotong membuat yang melihatnya merasa bergidik ngeri.
Ditengah rasa sakit yang menimpa para penculik, terdengar suara dingin dan tajam yang berjalan kearah mereka. "Berani sekali kalian melakukan hal sekeji itu pada anak kecil! Tidak tahukah kalian, jika kalian memiliki anak dan anak kalian juga mengalami hal yang sama yang terjadi pada anak kecil ini!"
"S-si-siapa k-kau?!" tanya sipemimpin para penculil.
"Malaikat yang akan mencabut nyawa kalian!" jawabnya dengan suara menyeramkan.
"Hancurkan!" dengan sekali ucapan, tanaman rambat yang penuh duri melilit para penculik hingga hancur seperti teman mereka yang pertama kali mengalami kematian yang sangat mengerikan.
Rafael berjalan kearah anak kecil itu. Dipengangnya lengan kanan yang dipatahkan penculik tadi. Seketika terlihat cahaya putih kehijauan muncul. Bibir Rafael tersenyum tipis. "Aku sudah menghukum mereka yang telah menyakitimu. Sekarang buka matamu" ujarnya ketika ia tahu jika anak itu pingsan setelah menyaksikan ia menghukum para penculik itu.
Mata itu kembali terbuka. Ia terjengkit ketakutan lalu mundur menjauhi Rafael "Jangan bunuh aku!" teriaknya dengan penuh ketakutan.
"Hei tenanglah! Aku tidak akan menyakitimu dan tidak akan membunuhmu!" kata Rafael dengan lembut agar anak itu tidak merasa takut lagi padanya.
"Tapi kamu sudah membunuh mereka!" seru anak itu dengan ketakutan.
Rafael menghela napas pelan "Aku tidak membunuh mereka dengan tanganku. Mereka terbunuh karena tanaman rambatku, anak manis"
Sama saja sudah membunuh!. Gumam anak itu dalam hati.
"Kita pindah tempat yang lebih nyaman" ajak Rafael tapi ditolak langsung oleh anak itu.
"Aku tidak mau! Bagaimana jika kamu membunuhku juga!"
"Jika kamu tidak menurut, aku akan meninggalkanmu disini dan polisi akan datang untuk menangkapmu karena disini hanya ada kamu seorang" kata Rafael menakuti.
"Kamu tidak takut dengan potongan tubuh itu?!" tambahnya semakin membuat anak kacil itu ketakutan.
Dengan cepat anak laki-laki itu menggeleng "Aku tidak mau disini!"
Rafael tersenyum sinis "Bukankah kamu tadi menolak dan bahkan tidak mau aku sentuh?"
Dengan ragu anak itu maju mendekat sambil menggendong lengannya yang sudah dipatahkan salah satu penculik tadi. Ia tidak sadar jika lengannya sudah disembuhkan oleh Rafael karena ia hanya merasa ketakutan sehingga perhatiannya teralihkan dari rasa sakit yang ia alami.
"Lepaskan tanganmu itu. Tangan mungilmu itu sudah tidak apa-apa!" seru Rafael dengan tersenyum geli.
"Sudahlah. Kamu ingin membuat lenganmu patah lagi?" ujar Rafael bercanda.
"Aku tidak mau!" jawab anak itu dengan cepat.
"Kalau begitu kita segera pergi dari sini" ajak Rafael yang diangguki anak itu.
"Oh iya... Siapa namamu?" tanya Rafael.
"Namaku Arga Frederick" jawabnya.
Rafael mengangguk "Kemarilah!" pintanya.
Arga mendekat lalu memeluk leher Rafael dan menyembunyikan wajahnya dileher pria itu yang kebetulan Rafael sedang berjongkok. "Kamu takut?"
"Bawa aku pergi dari sini" pinta Arga.
"Perhatikan ini dengan baik!" kata Rafael setelah berdiri sambil menggendong Arga. Dengan terpaksa Arga mengangkat wajahnya. Meskipun ia merasa ngeri sekaligus jijik, tapi ia tetap memperhatikan arah yang ditunjuk pria yang menolongnya itu.
"Hilang" ucap Rafael dan dalam sekejap gang kecil itu sudah bersih seperti tidak ada apapun yang sudah terjadi.
"Bagaimana mungkin bisa hilang tanpa jejak?!" serunya dengan takjub.
Rafael terkekeh geli "Anggap saja ini sulap"
Arga menatap Rafael dengan mata berbinar "Apa kamu bisa mengajariku juga?" pintanya dengan memohon.
"Hmmm..."
"Aku mohon"
"Biar kupikirkan dulu" setelah itu Rafael menghilang dan pergi keapartemen miliknya.
Rafael menurunkan Arga didepan kamar mandi. "Bersihkan tubuhmu dulu" suruhnya yang langsung dituruti Arga.
"Om mau kan mengajari Arga sulap seperti tadi" katanya penuh harap setelah selesai mandi dan memakai pakaian yang sudah dibelikan Rafael.
"Aku tidak pernah mengajari orang bodoh!" jawab Rafael dengan ketus.
"Aku tidak akan mengecewakan om"
"Jangan panggil aku seperti itu! Aku bukan Om mu!"
"Lalu panggil apa?"
"Terserah kamu saja"
"Kalau begitu aku akan memanggilmu tuan!" putus Arga dengan lugu.
Alis Rafael terangkat sebelah "Kamu yakin?"
Arga mengangguk yakin "Karena kamu sudah menolongku. Tuan penolong"
"Tapi adikku..." lanjut Arga dengan suara melemah. Air matanya mengalir dikedua pipi gembulnya.
"Kamu meletakkannya dimana?" tanya Rafael.
Arga menatap Rafael berkaca-kaca "Disekitar tidak ada siapapun, suaraku sudah habis karena terus berteriak saat mereka mengejarku jadi aku terpaksa menghanyutkannya disungai yang gelap!" jawabnya kemudian menangis histeris.
Merasa tidak tega, Rafael memeluk anak kecil itu. Memberikan pelukan hangat. "Dia akan baik-baik saja" ucapnya berusaha menenangkan.
"Tolong selamatkan adikku tuan huaaaa... " pintanya penuh harap.
"Aku akan bantu cari adikmu dengan syarat kamu harus bisa menjadi kuat dan tak terkalahkan. Jika waktunya sudah tepat, aku akan memberitahumu tentang identitas ku!"
...T.B.C...