
Diatas pegunungan terlihat dua orang pria. Satu orang berdiri dengan gagahnya lengkap dengan pakaian kebesarannya, dikeningnya terdapat sebuah gambar yang sangat unik. Kedua matanya berwarna merah darah berpadu dengan warna emas.
Pandangan pria itu terus menatap hamparan hutan nan hijau dibawah sana dengan tatapan tak terbaca.
Sedangkan dibelakangnya terdapat seorang pria dengan penampilan berantakan sedang terbaring diatas rumput. Kedua matanya masih tertutup rapat.
Tak lama kemudian, mata itu perlahan terbuka setelah mendengar seruan seseorang. "Buka matamu!"
Pria itu akhirnya membuka mata. Akan tetapi, ketika dirinya ingin menggerakkan tubuhnya, tubuhnya seakan terkunci.
"Empat hari! Kau tertidur selama empat hari!" ucap pria yang masih menatap kebawah.
Pria yang baru sadarkan diri itu teringat kejadian sebelumnya. Ia sudah membunuh permaisuri! Lantas dia pun tertawa pelan.
"Apa yang kau tertawakan" suara dingin menghentikan tawa pria tersebut.
"Aku sudah membunuh permaisuri mu Kaisar! Mate mu Sean! Hahahaha..."
Dengan wajah dingin Sean membalik badan. Ia menatap dingin pria yang sedang terikat ditanah dengan kekuatannya. "Sungguh memiliki keberanian yang besar! Aku sudah memberimu pilihan paman, tapi kau memilih jalan lain!"
"Memangnya kenapa? Kau mungkin kuat, tapi kau tidak akan mampu memusnahkan seluruh makhluk immortal!"
Sean melangkah mendekati Richard kemudian berjongkok ketika sampai disampingnya.
"Kau ingin melihat secara langsung bagaimana aku menghancurkan dunia ini?" tanya Sean dengan tenang.
"Cih... Kau tidak akan mampu!"
Kekuatan menyelimuti tubuh Richard, membuat tubuh Richard melayang diudara. Tubuh Sean dan Richard melayang tinggi di langit yang gelap.
"Kau sudah terlalu banyak membuat kesalahan dari masa lalu hingga sekarang! Kau terlalu banyak membunuh orang yang tidak bersalah! Kau bahkan berani membunuh permaisuri ku! Akan kuperlihatkan bagaimana aku menghancurkan dunia kecil ini, Richard Alcander Lucifer!" ucap Sean dengan tegas.
Richard hanya tertawa mendengar penuturan Sean. Menurut nya bocah didepannya sangat lucu. Menghancurkan dunia ini? Dia tidak akan mampu!.
Tawa Richard seketika terhenti saat mendengar perkataan Sean yang seperti titah yang tak bisa dibantah.
"Aku Kaisar Sean Alexis Maximus akan membuat Richard Alcander Lucifer melihat kehancuran dunia ini! Hancurkan dunia kecil ini beserta isinya! Jangan sisakan apapu!" dengan lantang Sean mengatakan perintahnya yang langsung disahuti oleh alam.
Cahaya kilat diikuti suara gemuruh petir saling bersahutan, angin kencang menerpa dengan kencang. Dari atas langit, turun badai tornado yang sangat besar dan kuat menghantam bumi dan merusak yang disekitarnya. Bumi juga ikut bergetar hebat. Dari arah selatan air laut datang menerpa menyapu yang ia lewati. Menenggelamkan segalanya. Gunung gunung juga mengeluarkan segala isi diperut bumi.
Dari atas Sean dan Richard melihat kehancuran dibawah sana. Disetiap klan tidak ada yang selamat! Semuanya dihancurkan.
Istana yang terkuat sekalipun yakni kerajaan immortal juga tersapu menjadi tanah.
Tak berapa lama semua bencana itu berakhir. Alam kembali tenang. Dan segala yang berada ditanah runtuh menyatu dengan tanah.
Mata Richard terpejam melihat dunia dibawahnya hancur tak bersisa. Terdengar suara isak tangis dari bibirnya. Kenyataan yang ia saksikan secara langsung membuatnya tersadar akan segala kesalahannya. Dirinya teringat akan ketiga putranya yang pasti sudah tiada.
"Arion, Gavin, Damian... " gumamnya sambil menangis.
"Sean maafkan aku... Aku sadar aku salah... Mereka yang dibawah sana tidak bersalah. Hukum saja aku. Biarkan yang lainnya hidup" mohonnya sambil menatap Sean.
Mata Sean terpejam. "Semua sudah hancur. Tak ada lagi yang tersisa. Aku bukanlah tuhan yang mampu menghidupkan kembali suatu makhluk. Berdoalah kepada-Nya bahwa ini hanya sebuah mimpi" ucapnya setelah itu menghilang meninggalkan Richard yang termenung menyesali perbuatannya.
...»---♡---«...
Disebuah ruangan yang gelap gulita terbaring seorang pria dalam keadaan mengenaskan, bagaimana tidak mengenaskan bila salah satu tangannya terputus dan semua lukanya sudah sembuh tapi masih meninggalkan bercak darah yang sudah mengering.
Peluh bercucur dari wajah pucatnya dan airmata mulai mengalir dimatanya yang masih terpejam hingga ia tersentak kaget dan terbangun memperlihatkan manik matanya berwarna merah darah.
Napasnya tersenggal memburu. "Mimpi apa itu. Mengapa terlihat nyata" gumamnya. Matanya melirik sekitar, ia merasa tidak asing dengan ruangan itu. Tubuhnya berada diatas ranjang empuk.
"Sudah bangun?!" sebuah suara lirih mengagetkannya. Ia melirik arah asal suara itu.
"Siapa? Dimana kau?" ucapnya waspada.
Bukannya menjawab, asal suara tadi malah tertawa lirih. "Kau terlihat sangat menyedihkan. Apakah kau sudah tidak bisa melihatku ditengah kegelapan?"
"Sean? Apa itu kau?" tanya pria itu dengan suara parau dan lemah.
Suara langkah kaki terdengar meninggalkan ruangan kemudian tidak terdengar lagi.
Isak tangis mulai terdengar pilu "Maafkan aku... Aku sungguh menyesal"
"Tuhan terimakasih telah menyadarkan ku"
"Aku sudah siap untuk kau cabut nyawaku. Aku tahu jika dosaku terlalu besar... Aku tidak meminta untuk dimaafkan, tapi aku ingin kau ambil nyawaku saja. Dengan kepergianku, mungkin semua orang akan merasa damai" semakin lama tubuh itu semakin lemah.
Air matanya kembali meleleh membasahi ranjang empuk yang ia tempati. Napasnya mulai melemah "Maafkan aku Sean" lirihnya menghembuskan napas terakhir nya dan matanya juga ikut terpejam.
Tak...
Lampu dalam ruangan menyala terang. Tampak beberapa orang berdiri disekitar ranjang king size tempat dimana seseorang terbaring tak bernyawa. Mereka berdiri dengan sedih
Bruk...
Salah satu diantara mereka meluruh dengan lutut menabrak marmer dingin dengan keras.
Semua orang menoleh kearahnya. Pria itu menunduk dalam menyembunyikan kesedihannya.
Terdengar suara kekehan kesedihan dari bibirnya. "Bahkan didetik terakhir hidupmu, kau menyebut namaku paman. Mengapa bukan anak-anakmu saja yang kau sebut" hatinya begitu teriris ketika pamannya menyebut namanya di napas terakhirnya.
"A-yah..." ucap Damian untuk yang pertama dan yang terakhir pada sosok didepannya. Air matanya mengalir begitu saja. Begitupun dengan Arion dan Gavin. Mereka juga bersedih melihat sosok ayah yang selama ini mereka benci dan sekarang sosok itu sudah tak bernyawa.
Kenzie memeluk Naira yang juga ikut bersedih. Kenzie juga merasa kehilangan pada orang yang selama hampir seluruh hidupnya ia kagumi.
Eshal menangis dalam pelukan Li, sang naga agung. Ia juga merasa bersedih pada sosok yang sudah terbaring kaku itu. Meskipun ia pernah diperlakukan buruk oleh pria itu, tapi dihatinya juga pernah diisi dengan namanya.
Sean berdiri kemudian duduk disebelah tubuh yang tak bernyawa lagi. Ia menatap lama pada wajah pucat itu. Tangannya terulur pada pundak kanan pria itu lalu muncul lengan baru pada tubuh itu.
"Richard Alcander Lucifer... Beristirahatlah dengan tenang. Aku menghargai keputusan yang sudah kau ambil dengan tidak ingin kembali bereingkarnasi. Kami akan selalu mendoakanmu"
Selesai mendengar perkataan Sean, semua orang menangis. Tubuh tak bernyawa itu adalah Richard. Pria kejam dengan seribu kebaikan dipermukaan telah menyerahkan hidupnya.
Dilain tempat.
Disebuah ruangan terdapat seorang pria terbaring diatas ranjang king size. Matanya terpejam karena masih berada di alam mimpi.
Bulir keringat mengalir dari pelipisnya. Kedua matanya tampak bergerak gelisah diikuti dengan jari panjang dan besar ikut bergerak.
"Ri-chard" gumamnya.
"Ti-dak... Kem-bali"
"Tidak!" teriaknya dengan napas tersenggal dan memburu.
Pria itu turun dari ranjang dengan tubuh lemahnya.
Bruk...
Tubuhnya ambruk karena kedua kakinya masih belum kuat menahan bobot tubuhnya.
"Kakak!" teriak seorang gadis terlihat panik ketika melihat pria yang ia jaga jatuh ke marmer dingin dengan tubuh telungkup.
"Kakak mau kemana?tetaplah diatas tempat tidur. Kakak masih belum pulih" katanya dengan khawatir.
Pria itu mendongak. Kedua matanya menangkap wajah tampak tak asing. "Nana" bisiknya dengan nada tak percaya.
Gadis yang dipanggil Nana itu mengangguk. "Iya kak, ini Nana. Kakak..." ucapannya terhenti. Pria itu mencoba mendudukkan tubuhnya. "Nana" lirih pria itu setelah duduk walau tubuhnya masih lemah ia mencoba untuk bertahan.
Memeluk gadis itu dengan erat. Air matanya meleleh membasahi pipinya. "Adikku... Kamu masih hidup" bisiknya.
Mendengar bisikan kakaknya lantas gadis itu mengangguk. "Aku masih hidup kak. Leyna masih hidup"
"Leyna... Kakak sangat takut kehilangan kamu. Ketika kakak merasakan kamu tak bernapas lagi, kakak juga tidak ingin hidup lagi."
"Aku baik-baik saja kak Arga. Aku tidak terluka sama sekali"
Pria itu adalah Arga. Setelah pertarungan dengan Richard berakhir, Rafael membawa Arga ke dunia para immortal. Sekarang ia berada di kerajaan immortal tepatnya. Arga dirawat sendiri oleh Rafael.
Arga melepas pelukannya. Ia menatap bingung pada adiknya. Keningnya mengernyit dalam "Apa maksudmu tidak terluka sama sekali?"
"Aku akan menjelaskan nanti saat kakak sudah pulih. Sekarang kakak istirahat dulu ya"
"Tidak Leyna. Kakak ingin bertemu dengan seseorang" tolak Arga langsung.
"Kakak mau kemana? Tubuh kakak masih lemah" ujar Leyna khawatir.
"Aku ingin bertemu dengannya"
"Siapa? Kak Sean, Om Raf?"
Arga menggeleng lemah "Adikku, Richard"
"Besok saja ya kak. Sekarang kondisi kakak masih lemah"
"Tidak Leyna! Kakak harus bertemu dengannya! Firasat kakak tidak enak. Tolong bawa kakak padanya. Kakak mohon"
Leyna tertegun dengan permohonan kakaknya. Dengan berat hati, ia mengguk dan mengantar Arga menemui Richard.
Para prajurit menunduk memberi hormat pada calon permaisuri kerajaan Immortal ketika sang permaisuri datang.
Suara kedatangan Leyna dan Arga diumumkan dengan keras.
"Yang Mulia Permaisuri dan Yang Mulia Pangeran memasuki ruangan"
Pintu yang terbuat dari beton berlapis emas murni terbuka.
Terlihat didalam semua orang berkumpul dan tengah bersedih.
"Dimana Richard?" tanya Arga yang sudah berada didalam ruangan. Semua orang kecuali Sean, Arion, Gavin dan Damian menoleh kearahnya dengan mata sembab.
"Dimana dia?" tanya Arga lagi. Arga nenoleh pada adiknya, Leyna. "Nana mengapa kamu membawaku ke mari? Mengapa kamu tidak membawaku ke ruang tahanan?" tanyanya tidak mengerti.
Yang ditanya hanya menunduk saja. Tidak tahu harus menjawab apa.
"Nana mengapa kamu hanya diam saja?!" tanpa sadar Arga membentak Leyna karena tak kunjung bicara.
"Jangan membentaknya!" teriak Sean sambil menatap tajam kearah Arga.
"Om... Richard... Ada di-sana" jawab Leyna sambil menunjuk kearah ranjang. Dirinya terkejut bahwa kakak yang selama ini bersikap lembut sekarang membentaknya.
Arga mengikuti arah yang ditunjuk Leyna. Kakinya melangkah dengan pelan menuju ranjang. Tanpa ia sadari air matanya mengalir ketika semakin dekat dengan ranjang.
Rafael dan Arthur yang didekat Sean ikut mundur memberi Arga jalan. Sean berdiri lalu mundur memberikan ruang untuk Arga.
Terlihat sosok Richard dengan mata terpejam. Semakin lama langkah kaki Arga semakin berat. Seolah ia ditahan untuk tidak mendekat lagi.
Tangan Arga gemetar saat ingin menyentuh wajah dingin Richard. "Richard" bisiknya.
"Tidak....." teriak Arga pilu.
"Bangun! Buka matamu si*lan! Aku tidak mengizinkanmu mati! Kau masih belum menebus kesalahanmu pada kakakmu ini!" teriak Arga sambil mengguncang tubuh Richard.
Aaaarghhh.... Teriakan Arga terdengar begitu pilu dan menyayat hati. Didekapnya tubuh sang adik. Tubuh Arga bergetar hebat. Ia menangis karena merasa tidak becus menjaga dan mendidik adiknya. Dia sangat bodoh karena tidak bisa melakukan hal segampang itu.
"Mengapa? Mengapa kau terus saja mengambil orang orang terkasihku?! Kau sudah mengambil nyawa ayah ibuku dan nyawaku! Sekarang kau ambil nyawa adikku juga! Kau buat adikku tidak pernah mendapatkan kasih sayang ayah dan ibu karena kenakalannya... Kau buat adik perempuan ku berpisah dariku sehingga ia menderita! Mengapa kau begitu kejam pada keluargaku!" teriak Arga dengan wajah mendongak.
"Mengapa tuhan" lanjut Arga lirih. Ia kembali menangis terseduh. Hingga Arga kembali tak sadarkan diri.
"Tidak baik untuk kondisinya yang masih lemah. Sebaiknya dia istirahat dengan cukup" ujar Rafael setelah membuat Arga pingsan. Rafael membawa Arga ke kamarnya karena selama Arga masih belum sadar, dia dan Leyna yang merawat Arga secara khusus dikamar Rafael, sehingga Rafael bisa memantau keadaan Arga terus menerus.
Leyna memandang sendu kakaknya yang dibawa Rafael. Ia berada dipelukan Sean.
"Apa pria itu kakak dari ayah kami?" tanya Arion.
"Untuk masalah itu, kalian bisa tanyakan langsung pada orangnya" jawab Sean.
"Aku sendiri yang akan mengurus paman Richard. Kalian keluarlah dulu" perintah Sean.
"Sayang kamu istirahatlah dikamarku. Jika sudah selesai aku akan menyusulmu" kata Sean kepada Leyna dengan lembut.
Sepeninggal semua orang, Sean langsung membersihkan tubuh Richard. Ia melepaskan pakaian Richard secara perlahan. Tak lupa ia menutupi tubuh polos Richard menggunakan selembar kain.
Dengan menggunakan kekuatannya, tubuh Richard mengambang diudara. Kemudian kekuatan air milik Sean mulai membersihkan tubuh Richard. Selesai membersihkan tubuh Richard, Sean membaringkan tubuh Richard diatas ranjang setelah ia membersihkan ranjangnya menggunakan kekuatannya.
Dengan telaten ia memakaikan pakaian terbaik yakni setelan tuxedo berwarna putih dengan aksen hitam dikerah jasnya. Sean juga menyelipkan sekuntum mawar yang baru mekar berwarna merah darah disaku dada pada jas.
Sean juga memakaikan sepatu pantofel hitam mengkilat. Terakhir, ia menyisir rambut Richard dan memakaikan mahkota kecil diatasnya.
"Paman terlihat begitu tampan. Andai paman tidak keras kepala. Mungkin paman masih hidup dan kutukan paman bisa aku hilangkan dengan baik" kata Sean setelah melakukan tugasnya.
"Beristirahat lah dengan tenang paman" lanjut Sean kemudian berteleport kekamarnya setelah memasang pelindung agar orang tidak bertanggung jawab masuk kedalam dan membuat kekacauan.
...»---♡---«...
...T. B. C...