
"Mengenang masa lalu huh?!" ujar Rafael yang hanya mendapatkan senyuman canggung.
"Jika waktu itu tuan tidak menyelamatkan aku, mungkin aku tidak akan menjadi seperti ini dan aku pasti sudah mati"
"Tapi tuan gagal menemukan keberadaan adikku!" lanjutnya tanpa tahu malu.
Rafael mendelik mendengar perkataan itu "Heh... Masih untung aku menyelamatkan mu dan membantumu mencari adikmu, meskipun akhirnya aku tidak menemukan dimana adikmu. Tapi aku yakin, dia masih hidup"
"Kamu tidak kembali kekantor? Bukankah jam makan siang akan segera berakhir?" lanjut Rafael mengalihkan pembicaraan.
"Hmm.. Aku akan kembali" jawabnya dengan lesu.
Arga memperhatikan gadis disebrang sana yang sedang menata bunga. "Tuan" panggilnya.
"Ya?"
"Entah mengapa aku merasa seperti mengenalnya" gumamnya pelan tapi masih terdengar. Mata Arga masih terus memperhatikan gadis itu.
"Sebaiknya kau jangan memprovokasinya! Atau Sean akan membunuhmu!" ancam Rafael dengan dingin.
Merasa bahwa tuannya berbicara dengan nada serius Arga pun berdiri kemudian membungkuk hormat "Saya permisi tuan" pamitnya.
Arga membalikkan badan tapi setelah tiga langka ia berkata "Aku bukan merasakan perasaan pria dan wanita pada gadis itu. Aku merasakan perasaan lain yang sudah lama tidak aku rasakan!" setelah berkata Arga pergi dan kembali kekantornya, Frederick Group. Perusahaan terbesar nomor tiga didunia.
Rafael terus menatap punggung Arga yang semakin menjauh. Sampai sekarang ia merasa gagal karena tidak berhasil menemukan adik seorang Arga Frederick.
"Bocah kecil yang meraung menyedihkan memohon agar menemukan adiknya. Sudah lima belas tahun lebih, dia bahkan melampaui Gavin yang memiliki darah klan Fairy!"
»---♡---«
Arthur menunjukkan gelas yang ditinggalkan Leyna "Itu gelasnya. Apa kakak melihat tanaman berduri itu?" tanyanya.
Rafael memperhatikan gelas yang berisi darah segar milik Leyna. Segel yang diberikan Leyna tetap membuat darah itu dalam keadaan segar meskipun sudah lama terbuka.
"Aku tidak melihatnya" jawab Rafael dengan tenang.
Arthur menatap Rafael berharap.
"Apa jaminannya jika aku terkena racun dari duri itu meskipun aku tidak melihat segelnya?!"
"Kakak bisa mengakhiri hidupku jika itu terjadi!"
"Enteng sekali kau menjawabnya"
"Demi kaisar kembali sadar, aku akan melakukan segala cara meskipun mempertaruhkan nyawaku sekalipun!" Jawab Arthur dengan tegas.
Rafael meraih gelas itu dan memegangnya. Arthur tersenyum lebar. Leyna memberikan pengecualian! Ia bisa melihat tangan Rafael menembus segel terkutuk itu. Meskipun sudah dipegang oleh Rafael, tapi segel itu masih tetap ada sebagai pelindung darah didalamnya.
"Cepat berikan padanya!" seru Arthur dengan semangat.
Rafael berjalan mendekati Sean yang masih terbaring. Diminumkan isi dari gelas itu menggunakan sendok secara perlahan hingga habis tak bersisa setetespun.
Tak lama setelah itu mata yang sudah lama tertutup akhirnya terbuka kembali memperlihatkan manik mata berwarna hitam, merah, dan emas yang bercampur.
"Tuan akhirnya anda sudah sadar!" ujar Arthur.
"Ugh... Dimana Leyna?" tanya Sean dengan lemas berusaha untuk mendudukkan diri.
"Leyna sudah pergi. Lihat saja jari kelingking disebelah cincin tunanganmu!" jawab Rafael tanpa beban.
Reflek Sean melihat jari kelingking disebelah cincin pertunangannya. Terlihat cincin berlian tersemat dijarinya. "Tidak mungkin!" gumamnya tak percaya.
"Katakan dimana dia!" teriak Sean.
"Aku tidak tahu. Aku akan pergi lagi. Jika ada yang bertanya katakan saja jika kau menemukan cara untuk melepas segelnya" ujar Rafael setelah itu menghilang.
"Kami sudah mencari dimana keberadaan nona Leyna, Tuan. Tapi kami tidak dapat menemukan dimana dia" jawab Arthur dengan hati-hati.
"Kenapa kalian membiarkannya pergi! Seharusnya kalian mencegahnya!" cecar Sean marah.
"Br3ngs3k! Serani sekali pria tua itu mengusir mateku!" amuk Sean penuh dendam.
"Tuan sebaiknya anda mengendalikan diri anda. Jangan sampai emosi menguasai anda"
"Mengendalikan diri?! Calon istriku diusir dan tidak ditemukan! Bagaimana bisa aku bisa menahan diri, Arthur!" teriaknya menggema membuat mansion bergetar.
Arthur berusaha menenangkan Sean yang mengamuk. Dia berusaha menjelaskan rencananya yang sudah disusun bersama dengan Rafael dan Kenzie. Meskipun itu, hanya Rafael yang mengetahui keberadaan Leyna. Tapi Arthur tidak mengatakan pada Sean.
Sean mulai tenang. Raut wajahnya tampak tenang dipermukaan tapi itu terlihat lebih mengerikan dibanding ekspresi datar dan dingin sebelumnya. Seperti mengandung bahaya yang menanti didalamnya.
»---♡---«
Tiga tahun kemudian
Sean sudah diangkat menjadi Kaisar dua tahun lalu. Semua orang tak percaya jika keturunan pertama Lord terdahulu mereka masih hidup!.
Selama dua tahun, Sean memimpin dunia immortal dengan penuh keadilan dan juga kekejaman! Semua yang tak patuh akan dibuat patuh olehnya.
Pembawaan Sean yang tenang justru semakin membuat setiap orang waspada agar tak melakukan kesalahan kedepannya.
Seperti air sungai yang mengalir dengan tenang tapi menyimpan bahaya yang mematikan!.
Seperti itu sebutan untuk kaisar muda dunia immortal.
Sean sudah membebaskan kaum immortal keluar masuk kedunia manusia dengan persyaratan harus mau ditanam sebuah alat yang dibuat Sean. Jika ada kaumnya yang ingin menyakiti bahkan membunuh didunia manusia, maka akan membuat tubuhnya hancur tak bersisa bahkan sekecil debu pun. Kecuali jika dirinya merasa terancam maka dia akan baik-baik saja. Semua itu Sean lakukan agar bisa menjaga keseimbangan dua dunia agar tetap berjalan sebagaimana mestinya. Jika ada yang melanggar maka akan terkena sanksi.
Semua rahasia yang ditutupi selama ini perlahan akan terbongkar. Dimana seseorang yang melakukan kejahatan dengan keji juga akan segera terungkap.
"Sean kamu sudah menemukan keberadaannya?" tanya Naira dengan hati-hati.
Sean menatap ibunya sendu kemudian menggeleng. Sean masuk kedalam pelukan ibunya. "Aku masih belum menemukannya, bund. Dimana lagi aku harus mencarinya?!" katanya dengan manja.
Naira mengusap punggung putranya pelan. "Kamu yang sabar ya. Dia pasti akan segera ditemukan" katanya menenangkan.
"Sudah! Jangan bersedih lagi. Bukankah kamu akan menemui pertemuan di aula utama istana?"
Sean merasa tidak rela melepas pelukan dengan ibunya.
"Aku ingin bersama bunda. Aku tidak mau kesana yang ujungnya hanya dipaksa menikah!" guman Sean kesal.
"Sayang kamu harus menghadiri pertemuan itu" bujuk Naira.
"Tapi... "
"Kamu kaisarnya, kamu yang tentukan! Bukan mereka! Jika mereka menawarkan putri mereka itu tidak ada salahnya, tapi keputusan akhir ada ditangan kaisar!" sela Leyna.
Dengan pasrah Aean pergi ke aula utama di istana. Meskipun enggan tapi dia harus tetap datang. Dia harus bisa menemukan keberadaan matenya! Jika tidak, penderitaan disodori para putri bangsawan kelas atas akan terus berlanjut.
Sean memasuki aula dengan aura yang mendominasi. Siapapun yang melihat kaisar pasti akan jatuh terperangkap dalam pesona kaisar. Tapi sayangnya, kaisar yang satu ini tidak dapat disentuh oleh siapapun kecuali perempuan yang dia cintai! Bundanya dan matenya serta kedua adiknya.
Banyak yang berusaha mendekati Eshal maupun Zeline agar bisa menjangkau sang kaisar. Tapi mereka berdua tampak acuh dan enggan membantu. Didekati saja mereka sangat sulit untuk disentuh, apa lagi minta bantuan aga bisa dekat dengan kaisar. Hanya satu perempuan yang menurut mereka layak menjadi pendamping kakak mereka, Leyna! Tapi sampai sekarang mereka masih belum menemukan keberadaan gadis itu.
Sean duduk dikursi tahta dengan gagah yang diselimuti aura yang mematikan.
Ekor matanya tak sengaja melihat terdapat beberapa gadis disebelah kiri tempat dimana yang dikhususkan para wanita jika ingin ikut berdiskusi, terkecuali permaisuri akan duduk disamping lord atau kaisar.
Para menteri sekaligus para bangsawan kerajaan yang hadir memberi hormat ada kaisar dengan lantang.
"Salam hormat kami untuk matahari para klan. Semoga kebaikan mengikuti Kaisar"
Sean mengangguk samar "Salam kalian kuterima"
"Sebelum dimulai aku ingatkan, pertemuan hanya membahas masalah kerajaan! Jika ada yang ingin membahas diluar itu, silahkan keluar sebelum aku sendiri yang memerintahkan prajurit untuk mengusir kalian dari tempat ini secara tidak hormat!"
...T. B. C...