
Semakin lama Sean perhatikan, sikap orang yang ia awasi semakin berubah.
Beberapa hari yang lalu, ia menemukan sebuah lebam pada punggung adiknya, Eshal. Saat menyentuh lebam itu, Sean bisa tahu kejadian apa yang telah dialami adiknya itu.
Perlakuan kasar yang diterima adiknya membuatnya geram. Tapi sayangnya, adik bungsunya enggan membuka mulut. Jika adiknya mengatakan dengan jujur, maka ia bisa menyelidiki orang itu dan menghukumnya.
"Paman sudah bertemu dengan Eshal?" tanya Sean tanpa ekspresi.
Yang ditanya mengangguk "Dia sedang belajar"
"Kalau begitu aku pergi dulu" pamitnya.
Sean menatap punggung orang yang baru saja pergi dengan dingin. "Aku akan terus mengawasimu! Jika sekali lagi kau menyakiti adikku! Aku akan memberimu pelajaran sebagai seorang kakak yang melindungi adiknya!" desis Sean ketika pria itu menghilang dari pandangannya.
Sean berjalan kekamarnya, dia ingin istirahat sejenak untuk menghilangkan rasa penatnya akan kerajaan. Sungguh melelahkan.
Malam harinya, Eshal sudah bersiap. Dia akan berkencan dengan matenya. Saat ini usia Eshal sudah dua puluh tiga tahun, Kenzie maupun Naira sudah memberikan sedikit kebebasan pada kedua putri mereka. Berbeda dengan Sean, dia terus mengawasi pergerakan adiknya secara diam-diam.
Seperti saat ini, Sean sudah menyiapkan rencana. "Eshal, pakailah ini. Tadi saat aku keluar, aku melihat gelang ini" kata Sean sembari memberikan gelang berbentuk naga berwarna emas.
Mata Eshal berbinar "Cantik sekali!" pujinya sambil memakai gelang itu tanpa ragu.
"Terimakasih kak. Aku pergi dulu ya" ucapnya sekaligus pamit kemudian mencium pipi Sean dan pergi menemui Richard yang sudah menunggunya.
'Jika dia berbuat macam-macam pada adikku, segera lumpuhkan dia!' mindlink Sean ke Li Shen yang merupakan hwan spiritualnya.
'Baik tuan' balas Li dengan patuh.
Eshal berjalan dengan terburu-buru, dia tak ingin matenya menunggunya lebih lama.
"Maaf lama" ujarnya meminta maaf setelah sampai didepan orang yang akan mengajaknya keluar.
Richard menoleh, terlihat seorang gadis yang terlihat cantik dengan balutan gaun yang sederhana tapi terlihat menawan. Richat sempat terpesona dengan penampilan matenya. Dia melihat penampilan matenya dari atas sampai bawah. Matanya terhenti melihat gelang baru yang dikenakan mate nya itu. "Gelang baru?" tanyanya dengan mengangkat alis sebelah.
Eshal mengangkat tangannya yang memakai gelang pemberian Sean "Cantik kan? Kak Sean yang memberikannya padaku"
"Hmm... Cantik" tanpa mencurigai.
Tanpa Richard sadari, gelang yang dipakai Eshal bukanlah gelang biasa.
"Ayo" ajak Richard.
Dalam beberapa saat, Richard sudah membawa Eshal ke mansionnya. "Kak kenapa kita ke mansion kakak?" tanyanya heran.
"Kamu akan tahu nanti" jawab Richard penuh misteri.
Richard membawa Eshal kekamarnya. Setelah mereka masuk, Richard mengunci pintunya tak lupa juga memasang pelindung juga.
"Kak kenapa memasang pelindung juga?" tanya Eshal berusaha agar tidak takut.
"Kamu takut? Bukankah kamu akan segera tinggal ditempat ini nantinya?!" jawab Richard kemudian mendorong Eshal ke ranjang king size miliknya.
"Ah... Kakak mau apa?!" tanya Eshal waspada.
"Bukankah kita pacaran? Seharusnya kamu tidak perlu bertanya apa yang akan aku lakukan padamu" bisik Richard ditelinga Eshal sambil menindih tubuh gadis itu.
"Kak jangan seperti ini!" lirih Eshal sambil memejamkan mata.
"Mengapa hmm... Bukankah kita juga akan menikah?!" ucapnya sambil membelai leher Eshal dengan sensual.
"Aku mau pulang" lirih Eshal, perasaan takut sudah hinggap dihatinya.
"Kamu tidak akan bisa pergi dari sini, sweet heart! Kita nikmati malam yang panjang ini bersama!" bisik Richard dan dengan sekali hentak tangannya berhasil merobek gaun yang dipakai Eshal sehingga membuat gadis itu menjerit.
"Aku mohon jangan seperti ini!" pintanya sambil menutupi daerah pribadinya.
"Jangan ditutupi keindahanmu sayang" tangan Richard menyingkirkan kedua tangan Eshal lalu membawanya keatas kepala Eshal.
"Kakak mau apa?! Jangan lakukan itu! Aku mohon jangan!" jerit Eshal berusaha memberontak tapi hanya sia-sia saja karena tenaganya kalah dengan tenaga pria diatasnya itu.
Gelang berbentuk naga yang dikenakan Eshal bercahaya, setelah itu muncul sosok naga bersisik hitam keemasan menatap Richard yang sudah berdiri karena terkejut. "Kau!"
Mata naga itu berkilat marah. "Berani sekali semut sepertimu menyentuh adik tuanku!" geram naga itu kemudian mulai menyerang Richard.
'Si*al! Sean mengirim naganya untuk melindungi Eshal. Apa jangan-jangan dia sudah tahu semuanya?! Tidak mungkin! Aku bermain bersih! Bahkan gadis itu tidak akan berani mengaku jika aku sudah menyakitinya' batin Richard sembari menghindar dari serangan naga milik Sean.
"Tuan tidak akan pernah bisa memaafkan perbuatan kejimu ini, iblis!" seru Li sambil terus menyerang Richard.
Ughh...
Darah segar dimuntahkan Richard karena Li berhasil mengenainya. Tanpa membuang kesempatan, Li membelit tubuh Richard sehingga Richard terkurung didalamnya meskipun berusaha berontak sekuat mungkin. Naga ini bukan naga biasa, kekuatan naga agung ini setara dengan kekuatan kaisar agung!.
Setelah kepergian Li, Eshal menangis dengan keras "Kak Sean!" panggilnya sambil mencakar tubuhnya. Dia merasa tubuhnya sudah kotor meskipun Richard masih belum melakukan tindakan lebih.
"Sst.. Apa yang kamu lakukan?! Jangan sakiti dirimu sendiri!" Setelah Li sampai, Sean segera menjemput Eshal setelah Li menjelaskan inti dari kejadian tersebut.
Sean membawa Eshal kepelukannya "Menangislah" ucapnya sambil mengusap rambut adiknya.
Setelah puas menangis Eshal melihat kakaknya yang masih mengenakan pakaian kebesarannya. Sepertinya habis dari pertemuan penting. "Ka-kak... Di-a... "
"Ssstt... Jangan diteruskan jika itu menyakitimu. Kamu sudah menangisinya, kedepannya jangan pernah menangis karena pria itu! Pria tua itu tidak pantas kamu tangisi adikku!" sela Sean tak tega melihat keadaan adiknya yang hampir tanpa busana. Sean mengusap air mata adiknya dengan penuh kasih.
"Aku akan memberimu keadilan. Akan kubuat dia merasakan bagaimana dia dilucuti!" kata Sean dengan tegas tanpa bantahan.
Sean memakaikan jubah kebesarannya pada adiknya agar bisa menutupi tubuh gadis itu. Sean menggendong Eshal bridal style kemudian meninggalkan tempat terkutuk yang membuat jiwa Eshal terguncang.
"Putriku!" teriak Naira yang melihat Eshal dalam keadaan mengenaskan digendongan sang kakak.
"Zeline bantu dia!" perinta Sean dengan dingin setelah meletakkan Eshal diatas ranjang.
Zeline mengangguk "Baik kak"
Sean pergi meninggalkan kamar Eshal dalam keadaan marah.
"Aku tidak percaya, orang yang selama ini kita percayai malah berbuat seperti ini!" ujar Naira sambil memeluk Eshal.
»---Satu Minggu Kemudian---«
Di aula istana.
Semua orang berkumpul disana, bukan hanya para pejabat tapi Arion, Gavin dan Damian juga berada disana.
Mereka bertiga tak menyangka jika paman mereka melakukan tindakan tak senonoh pada seorang gadis. Terutama gadis itu adalah adik bungsu kaisar! Sangat berani!.
Sean menatap dingin kearah Richard yang sudah dirantai oleh Li yang pastinya siapapun tidak akan ada yang bisa melepas rantai itu! Terkecuali kaisar tentunya.
Dengan dingin Sean berkata "Apa pembelaanmu, Richard Alcander Lucifer!"
"Aku akan tetap melakukan apa yang sudah leluhurku lakukan sebelumnya!"
Sean terkekeh sinis "Melakukan apa yang sudah leluhurmu lakukan? Dengan membunuh kaisar dan permaisuri?!" desis Sean dengan nada mengerikan.
"Lancang! Dari mana asal keberanianmu ini! Kau kira aku sama dengan kaisar sebelumnya? Aku bukan kaisar lemah seperti yang sebelumnya!" lanjutnya menggema diseluruh aula, bahkan sampai terdengar keluar aula.
Saat Richard menatap Sean dengan nyalang, Sean menggunakan kesempatan itu untuk mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya.
Bibir merahnya tersenyum sinis "Biadab! Kau benar-benar seorang iblis Richard! Bukan hanya tubuhmu saja, hatimu juga sama!"
Sean turun dari tempatnya, ia berjalan dengan penuh wibawa. Matanya berkilat merah setelah berada didepan Richard.
"Aku akan menghukummu dengan tanganku sendiri! Akan kutunjukkan bagaimana rasanya kekuatanmu dilucuti darimu" desis Sean menahan gajolak amarah.
Diarahkan tangannya kearah kepala Richard "Aku Sean Alexis Maximus, kaisar para raja memerintahkan untuk mencabut kekuatan yang dimiliki Richard Alcander Lucifer secara paksa. Buat dia tersiksa!" perintahnya dan alam seakan mendukung, diluar terdengar suara guntur yang bersahutan disertai dengan angin kencang.
Richard berteriak kesakitan ketika kekuatannya diambil secara paksa dengan cara yang menyakitkan.
"Ampuni aku! Aku menyesal! Tidaaaakkkk.... " teriakan Richard menggelegar mengiringi suara guntur diluar.
Bahkan dengan sengaja Sean membuat suara teriakan menyakitkan yang di alami Richard terdengar disuruh penjuru immortal. Setiap kali ada pemberontak, Sean pasti akan menggemakan hukuman apa yang akan dijatuhi pada para pemberontak.
Tubuh Richard berlutut lemas tak bertenaga lagi. Kekuatannya sudah menghilang dan alam juga ikut tenang.
"Paman!" Seru Arion, Gavin dan Damian bersamaan.
"Tetap ditempat kalian! Jika kalian berani mendekat, aku tidak akan segan menjatuhi hukuman!" perintah Sean dengan tegas dan lantang ketika ketiga pria muda itu ingin mendekati Richard.
Ketiganya mengurungkan niatnya dan tetap berada ditempat.
Sean mendekat kearah Richard kemudian membisikkan tepat disamping telinga pria itu "Semua orang pasti akan terkejut jika melihat apa yang sudah paman perbuat! Apa lagi ketiga anak itu pasti akan sangat syok jika aku membongkar semuanya."
"Apa paman ingin tahu kehebatanku yang lain? Bukan hanya tidak bisa membaca pikiran orang lain, aku juga bisa menampilkan apa yang dipikirkan dan ingatan seseorang agar orang lain mengetahuinya" Lanjut Sean yang melihat Richard hanya terdiam.
"Satu hal lagi yang akan membuatmu merasakan penderitaan! Kau akan segera kehilangan matemu! Kau selamanya akan sendirian! Richard Alcander Lucifer!" desis Sean yang sudah tidak tahan ingin segera membunuh pria yang sudah lancang menyakiti bahkan menyentuh adiknya. Hanya saja ia harus menahan diri. Tubuh didepannya bukanlah tubuh asli! Sebelum tubuh asli ditemukan, diluar sana masih berbahaya!.
Sean kembali ke singgasananya dengan dingin ia berkata "Eshal Victoria Maximus, apa keputusanmu?!" tanya Sean pada adiknya yang dari tadi sudah hadir ketika kekuatan Richard diambil secara paksa.
Eshal menatap kearah lain, ia enggan menatap pria yang sudah bersikap kurang ajar padanya.
...T. B. C...