Immortal Reingcarnation

Immortal Reingcarnation
S2 - Segel



Leyna menyusuri jalanan yang ramai dengan tatapan kosong. Kakinya yang tak memakai alas kaki lecet dan mengeluarkan darah karena terus bergesekan dengan kerikil yang tajam. Leyna tidak peduli dengan keadaannya.


Sesekali ia menghela napas lelah. Tidak tahu akan kemana tujuannya. Yang jelas dia hanya mengikuti langkah kakinya. Bahkan bulan sudah menampakkan dirinya dengan anggun dilangit malam, Leyna terus saja melangkah. Untung saja dia sekarang bukan manusia lagi jadi dia tidak merasa lapar maupun haus.


Kepalanya terus menunduk tanpa memperhatikan sekitarnya. Ia tidak sadar jika kakinya mulai melangkah memasuki hutan terlarang. Sampai ia didepan barrir yang dibuat Sean yang hanya dimasuki orang tuanya, Richard, Kean, Rafael dan Arthur saja, Leyna tidak sadar sudah memasuki barrir itu dan mulai mendekat kesebuah mansion yang sangat megah.


Leyna menghentikan langkah kakinya kemudian mendongakkan kepalanya kedepan. Terlihat sebuah bangunan yang selama beberapa hari mengurungnya. "Bukankah tempat ini sudah runtuh? Ah iya aku lupa" gumamnya.


Leyna melangkah dengan cepat kepintu utama mansion tersebut. Didorongnya pintu besar itu lalu masuk kedalam mansion.


Tanpa ia sadari seseorang terus mengawasinya dari atas memastikan gadis yang ia ikuti sampai dengan selamat.


"Terimakasih sudah menjagaku" gumam Leyna dibalik pintu. Leyna tahu jika ada yang mengikutinya.


Leyna menyusuri mansion berjalan kekamar yang ditempatinya dulu. Benar saja, diatas ranjang terdapat seorang pria yang ia tunggu selama hampir sebulan lamanya.


Air matanya kembali menetes saat melihat pria yang dicintainya terbaring tak berdaya.


"Kak Sean" panggilnya lirih. Tangannya terulur menyentuh pipi yang terasa dingin. Sudah sangat lama! Seharusnya mereka langsung mengatakan padanya keberadaan Sean. Ia bisa merasakan keadaan Sean tanpa diberitahu oleh orang lain. Tunangannya dalam keadaan kondisi yang buruk ia juga merasakannya dan ikut merasa menderita. Bukan hanya Sean saja yang bisa merasakan rasa sakit yang diderita Leyna. Leyna juga merasakan rasa sakit yang diderita Sean. Tapi dia menyembunyikan rasa sakit yang menjalar ditubuhnya. Meskipun Leyna tidak terluka tapi ia merasakan sakit yang dialami Sean.


"Aku tahu maksud mereka baik dengan menyembunyikan keadaan kakak dari ku. Mereka tidak ingin aku merasa menyesal. Tapi yang mereka lakukan justru semakin membuatku menyesal dan menderita." Adu Leyna pada Sean meskipun lawan bicaranya tidak akan bisa membalas perkataan nya.


"Seharusnya dari awal aku meminta seseorang untuk mengantarku kepinggiran hutan terlarang kemudian aku akan masuk sendiri dan mencari mansion ini. Maaf karena aku terlambat datang" lanjutnya sambil memeluk tubuh Sean. Air matanya jatuh membasahi kemeja yang digunakan Sean. Ia menangis sepanjang malam kemudian tertidur sambil memeluk kekasihnya karena kelelahan karena kebanyakan menangis. Mungkin malam ini adalah pelukan terakhir mereka. Besok Leyna akan pergi jauh dari kota ini. Dia akan kembali kerumah peninggalan orang tuanya dan akan menjual rumah itu untuk memuli hidup yang baru.


Keesokan paginya Leyna terbangun dari tidurnya. Ia melihat pria itu masih belum membuka mata. Leyna beranjak dari atas tubuh Sean lalu berjalan kekamar mandi dan memulai ritual mandinya.


Setelah mandi dan berpakaian, Leyna bergegas kedapur untuk mengisi perutnya. "Aku tidak bisa lama disini. Aku harus segera pergi setelah memberikan darahku padanya. Jika aku berlama disini, takutnya mereka akan ketempat ini." gumamnya sambil memakan roti yang sudah diberi selai kesukaannya sampai tak habis.


Leyna mengambil gelas dan pisau dapur lalu mengarahkan pada telapak tangan kanannya dan menggores telapaknya sangat dalam hingga mengeluarkan darah segar yang sangat banyak.


Ssstt...


Ia berdesis menahan sakit.


Setelah darahnya memenuhi gelas dan membalut lukanya, Leyna membawanya kekamar Sean. Ia meletakkan gelas yang berisi darahnya dimeja depan sofa.


Ia berjalan mendekati Sean, mengusap pipi Sean dengan lembut. Tanpa sadar air matanya mengalir keluar, Ia mencium pipi Sean dengan lembut membuat air matanya jatuh kewajah pria itu. "Maafkan aku, kelak jangan mencariku lagi jika itu akan membuat kakak seperti ini" bisiknya.


Leyna membalik badan. Ia berjalan ke gelas yang berisi darahnya. Diulurkan tangannya itu kearah gelas. "Aku hanya akan mengizinkan ayah, bunda, dan om raf yang bisa menyentuh gelas yang berisi darahku! Siapapun yang memegang galas ini maka dia akan tertusuk duri beracun ini!" setelah mengatakan itu dan memberikan perlindungan pada gelas yang berisi darahnya.


Untuk terakhir kalinya, Leyna kembali mendekati tubuh itu. Diciumnya kening pria yang dia cintai itu kemudian bergumam "Aku pergi. Selamat tinggal kak Sean. Aku akan selalu menyayangi kakak!" dan setelahnya Leyna menghilang dari kamar itu, meninggalkan mansion menggunakan teleportasi.


Bertepatan dengan kepergian Leyna, Richard dan Arthur datang. Setiap tiga hari sekali mereka akan datang berkunjung berusaha mengobati Sean. Tapi semua tindakan yang dilakukan hanya sia-sia.


"Darah?!" ujar Arthur yang melihat darah diatas meja.


"Gadis itu baru saja pergi!" sahut Richard dengan nada dingin.


Arthur hanya memperhatikan sikap Richard yang mulai berubah. Apakah Richard berubah karena gadis itu yang sudah membuat Sean terbaring tak berdaya seperti ini atau ada maksud lainnya?! Entahlah, Arthur harus tetap waspada!.


"Jangan sentuh!" cegah Arthur ketika Richard ingin mengambil gelas itu.


"Kenapa?" Tanya Richard terheran. Bukankah itu hanya gelas biasa yang berisi darah gadis itu?!. Batinnya.


"Gelas ini sudah dipasang pelindung duri beracun. Siapa saja yang memaksa mengambil akan terkena duri dan keracunan!" jelas Arthur.


"Aku kira hanya sebuah ilusi saja!"


Kekuatan orang ini lebih besar dari ku! Tapi tidak bisa membedakan ilusi dan barrir beracun itu! Bukan dia yang tidak bisa membedakan antara ilusi dan sungguhan. Barrir beracun itu hampir menyerupai ilusi semata! Sepertinya kekuatan gadis itu tidak bisa dianggap remeh!. Batin Arthur meneliti lilitan berduri itu dengan seksama.


"Dari mana kau tahu jika itu bukan ilusi?" tanya Richard.


"Aku seorang putra mahkota klan penyihir, tidak heran jika bertemu dengan sihir seperti ini, karena aku selalu bermain-main dengan sihir ini jika bertemu musuh" jelas Arthur.


"Lihat ini!" lanjut Arthur yang sudah memegang seekor kelinci berwarna pitih. Ia memegang salah satu kaki bagian depan kelinci itu lalu menusukkan kaki kelinci percobaan nya pada duri yang menyerupai ilusi itu.


Mata Richard terbelalak melihat kelinci itu berubah menjadi abu dalam beberapa detik saja. "Ini hanya seekor kelinci bisa membuatnya menjadi butiran debu! Jika manusia biasa, mereka akan mati dalam keadaan seluruh tubuh yang membengkak dalam beberapa jam. Sedangkan makhluk yang memiliki penyembuhan diluar nalar seperti kita hanya akan mati dalam hitungan detik dan setelahnya akan berubah menjadi debu tak bersisa. Bahkan tidak akan bisa bereingkarnasi lagi!" jelasnya panjang dengan tenang. Meskipun dia juga terkejut dengan hasil percobaannya tadi, tapi ia bisa mengontrol ekspresi nya agar tetap tenang.


"Bukan duri biasa. Atau bisa disebut duri terkutuk!" lanjut Arthur.


...T.B.C...