Immortal Reingcarnation

Immortal Reingcarnation
P.D.2#05



•Jeslyn POV•


Perkenalkan namaku Leyna Jeslyn. Usiaku masih 15 tahun. Aku hanya lulusan sekolah dasar. Kedua orangtuaku sudah  meninggal. Ibuku meninggal saat aku berusia 2 tahun, ibu meninggal karena terkena kanker rahim. Dan ayahku meninggal saat aku baru menginjak bangku SMP dan mengharuskan aku berhenti sekolah.


Keluarga dari ibuku sudah tidak ada, sedangkan keluarga ayah? Mereka tidak ingin merawat ku, itu sebabnya aku berhenti sekolah. Keluarga dari ayah tidak menerima kehadiran ibuku dan juga aku. Tapi, ayah tetap merawatku sampai akhirnya beliau wafat.


"Leyna kamu sudah siap?" Tanya kak Sarah.


" Aku sudah siap kak. Ayo berangkat" jawabku dengan semangat.


Setelah itu kami berdua berangkat.


Sesampainya di tempat tujuan.


"Wow" gumamku takjub dengan rumah didepanku ini.


Kak Sarah mengajak ku untuk bekerja disebuah rumah mewah. Karena kasihan padaku yang bekerja keras untuk mencari uang demi sesuap nasi.


Pekerjaan yang ku lakukan adalah cuci gosok keliling. Aku tidak peduli dengan pekerjaan ku itu. Yang penting aku bisa makan. aku tidak mungkin menunggu orang lain untuk iba kepadaku lalu memberi ku makan.


Seorang pria berjalan menghampiri kami berdua.


"Selamat datang dikediaman Alcander nona-nona" siapanya.


Kami hanya tersenyum membalas sapaannya.


"Saya disini sebagai kepala pelayan. Nama saya damon" katanya memperkenalkan diri.


"Nama saya Sarah dan disebelah saya Leyna" ujar kak Sarah memperkenalkan nama kami.


"Senang bertemu dengan kalian nona Sarah dan nona Leyna" ujarnya sopan.


"Mari ikuti saya" ajaknya.


Kami pun mengikuti kepala pelayan itu.


"Tempat ini khusus untuk para pelayan. Dan disini ada beberapa peraturan yang harus kalian patuhi. Jika tidak, hidup kalian akan terancam"


"Apa itu tuan?" Tanyaku ragu.


"Karena kalian sudah memasuki kediaman Alcander, maka kalian tidak akan bisa keluar dari sini. Tapi, akan ada waktu nya kalian bisa pulang untuk menemui keluarga kalian dengan syarat tidak boleh mengatakan pada siapapun yang berhubungan dengan keluarga Alcander" jelasnya.


Kami diam mendengarkan semua penjelasannya sampai selesai.


"Saya akan sebutkan beberapa peraturan yang wajib tidak boleh kalian langgar. Jika tidak! Nyawa kalian taruhannya!"


"Haha tenang saja. Selama kalian patuh, kalian akan baik-baik saja." Ujarnya menenangkan kami. Karena dia menyadari kalau kami ketakutan apa lagi aku.


Aku mending kerja cuci gosok saja kalau pekerjaan ini bisa mengancam nyawa ku. Sesal ku.


"Aturan dirumah ini adalah...


1. Jika tuan besar berada di kediaman, maka semua pelayan dilarang masuk ke dalam kediaman dan harus berada dikamarnya masing-masing! Ini yang paling utama!.


2. Makanan harus siap tepat waktu. Jam sarapan 06:00 pagi. Siang 12:00 dan malam 19:00!.


3.Makanan harus masih segar dan langsung diambil dari kebun. Dan yang penting makanannya harus enak dan steril!.


4.Tuan besar tidak suka jika ada makanan sisa! Jadi masak secukupnya! Jika ada sisa, makanan tidak boleh dibuang!.


5. Setiap seminggu sekali rumah harus dibersihkan. Dan tidak boleh ada debu sedikit pun yang tertinggal. Jadwalnya Sabtu untuk membersihkan debu, entah itu menyapu, membersihkan barang-barang dari debu dll. dan Minggu untuk mengepel!.


6. Jika sedang masa menstruasi dilarang masuk ke dalam kediaman!"


Kepala pelayan itu tersenyum "Apa kalian paham sekarang?"


"Mm tuan... Bagaimana kami tahu jika tuan besar berada di kediaman?" Tanyaku bingung.


"Pertanyaan bagus!" Katanya.


Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan dua gelang berwarna perak.


"Ambillah ini!"


Kami pun mengambil gelang besar itu. Dan yang membuat ku kaget ketika aku memakainya, gelang itu bisa berubah ukuran dengan ukuran tangan si pemakai.


"Gelang itu terbuat dari emas putih murni. Gelang itu tidak bisa dilepas! Kecuali jika kalian akan keluar dari kediaman Alcander, maka gelang itu akan menghilang dan kembali dengan sendirinya jika kalian kembali ke kediaman Alcander. Jadi, kalian tidak bisa menjualnya"


"Jika tuan besar berada di kediaman nya maka gelang itu akan berubah warna"


"Ah itu dia" katanya sambil menunjuk gelang yang kami pakai.


Mataku membulat. Bagaimana bisa?! Tadi gelang ini berwarna perak! Kenapa bisa berubah warna menjadi merah?!.


"Ada pertanyaan lagi?" Katanya sambil tersenyum.


"Untuk makanan nya. Apa yang harus dimasak?" Tanya kak Sarah.


"Untuk makanan sudah ada menu di dapur. Dan bahan masakannya akan ada yang mengantarkannya dari kebun"


"Jika ada makanan sisa, apa yang harus kami lakukan?" kali ini aku yang bertanya.


"Untuk makanan sisa. Jika makanan itu masih layak untuk dimakan, maka para pelayan yang harus menghabiskan nya. Tapi, jika makanan itu sudah tidak bisa dikonsumsi, maka sisa makanan itu akan diberikan pada ternak."


"Tuan, kenapa kami tidak boleh masuk kedalam kediaman saat sedang menstruasi dan apa yang harus kami lakukan jika kami selesai mengerjakan pekerjaan kami?" Tanyaku bingung.


Dia tersenyum "Saat para pelayan sedang menstruasi, kalian bisa sebut itu sebagai hari libur kalian dan jika pekerjaan sudah selesai kalian bisa gunakan waktu itu untuk istirahat. Bagaimana?"


"Hari libur?" Tanyaku bingung.


"Iya hari libur kalian. Tenang saja, disini ada 200 pelayan dengan pekerjaan yang berbeda dan jadwal yang sudah ditentukan disetiap para pelayan"


"Lalu tugas kami apa?" Tanyaku dengan polos.


"Baiklah jika ada pertanyaan lagi. Kalian bisa tanyakan pada saya jika saya luang" katanya sambil melihat jam tangan yang melingkar di tangannya.


"Satu lagi. Kalian tidak perlu bingung soal pakaian. Karena tuan besar sudah menyiapkan pakaian disetiap kamar dengan ukuran dari pemakai kamar" setelah mengatakan itu dia pun pergi.


"Peraturannya mudah sekali" gumam kak Sarah.


"Tapi jika kita tidak mengikuti peraturan nya, maka nyawa kita taruhannya" ujar ku.


"Tinggal bagaimana caranya agar tuan besar tidak mengetahui kalau kita melanggar aturan yang dibuatnya" kata kak Sarah dengan enteng kemudian dia pergi mencari kamarnya.


Aku pun juga mencari kamarku.


Dipapan terdapat sebuah tulisan.


Oh jadi kamar kami sesuai dengan gelang yang kami pakai, dan dipintu kamar sudah tertulis nama kami.


Aku pun menuju kamar blok merah. Karena gelangku merah.


Sesampainya didepan pintu kamar bertuliskan namaku, 'Leyna Jeslyn' aku pun memasuki kamar itu. Tapi sebelum aku masuk, di pintu ada sebuah catatan.


"Setiap pintu hanya bisa dibuka oleh pemilik kamar dan pemegang kendali kediaman!"


Wow rumah ini benar-benar hebat, keren!.


Aku pun masuk, dan lagi-lagi aku dibuat takjub lagi.


"Ini sih bukan kamar pelayan, kamarnya terlalu mewah untuk ukuran pelayan" gumamku.


"Wah pakaiannya cantik-cantik" seruku waktu melihat isi lemari ku.


Isi kamar ini benar-benar lengkap. Apa mereka tidak akan bangkrut memberikan fasilitas ini pada para pelayan nya?! Heran ku.


Setelah melihat lihat aku merebahkan tubuh ku di kasur.


"Ah nikmatnya. Empuk banget kasur nya" gumamku sambil memejamkan mata.


Tak berapa lama aku mendengar pintu kamar ku diketok.


"Ada apa kak?" Tanya ku pada kak Sarah.


"Ayo kita berkeliling. Aku ingin melihat- lihat rumah ini" katanya dengan semangat.


"Tapi kak. Bukannya tuan Damon bilang, kalau tuan besar berada di kediaman, kita tidak boleh masuk?!"


"Ya jangan sampai ketahuan"


"Aku tidak mau kak. Aku mau istirahat saja. Kalau mau berkeliling nanti saja jika tuan besar tidak ada"


"Kelamaan Leyna. Ya sudah kalau kamu ga mau, biar aku sendiri yang berkeliling" katanya dengan enteng.


"Tapi..." Belum selesai aku bicara, kak Sarah sudah pergi.


Aku pun masuk kembali dengan pikiran berkecamuk.


Bagaimana kalau kak Sarah ketahuan?


Bagaimana kalau kak Sarah nanti dihukum?


Bagaimana kalau kak Sarah....


Semua kata-kata itu terus berputar di kepalaku.


Tidak! Aku harus segera menyusul kak Sarah dan membawanya kembali!


Aku langsung keluar kamar dan melihat kak Sarah yang sudah masuk kedalam kediaman itu. Saat aku hampir dekat dengan kak Sarah.


Aku terkejut bukan main.


Kak Sarah berteriak histeris seperti sangat kesakitan. Dan tak lama kemudian tubuh kak Sarah berubah menjadi abu.


Tubuhku gemetar hebat. Inikah yang dimaksud tuan Damon tadi?!


Dengan cepat aku kembali ke kamarku dan menguncinya dari dalam. Aku menangis ketakutan. Tapi itu tak bertahan lama. Karena seseorang mengetuk pintu kamar ini untuk yang kedua kalinya.


Aku menghapus air mata ku lalu membuka pintu kamar. Ternyata tuan Damon.


Tuan Damon menatap ku sambil tersenyum. "Ada apa nona? Sepertinya teman nona tidak mengindahkan peringatan yang saya ucapkan" katanya.


"Cuci wajah nona dan ikutlah dengan saya" ujarnya dan aku hanya mengangguk.


"Apa tuan yakin? Sebaiknya saya kembali kekamar saya saja" ujarku di depan pintu.


Pria itu tersenyum lagi. Mungkin karena aku masih sangat muda, jadi dia memperlakukan aku dengan lembut.


"Tuan muda memanggil nona dan nona harus menemui tuan muda sekarang!" Katanya setelah itu dia pergi meninggalkan aku sendiri di depan pintu sampin kediaman ini.


Apa yang harus aku lakukan?! Gelangku masih berwarna merah. Jika aku mengalami hal yang sama dengan kak Sarah bagaimana?! Aku tidak mau mati muda. Meskipun aku hanya sebatang kara, aku tetap ingin hidup.


Kulihat tempat terakhir kak Sarah berpijak. Disana hanya ada apa-apa, lantai nya bersih!.


Dengan ragu aku pun memberanikan diri untuk masuk.


Bisa aku lihat diruang tamu berdiri seorang pria dengan setelan serba hitam. Dia menatapku tajam.


Aku pun berjalan sambil menunduk dan berdoa dalam hati agar hari ini bukan hari kematianku!.


"Apa t-tuan yang memanggil ssaya? " Tanyaku sambil menunduk ketakutan.


TBC