
Seperti perkataan Arion dan Gavin. Mereka berdua benar-benar mendekati Leyna dan Eshal! Bagi mereka kedua gadis itu mudah untuk didekati dari pada sang kakak, Zeline. Meskipun masih beberapa hari mereka bersekolah disana, ketiganya sangat dikenal banyak siswa dengan kelas yang sama ataupun kakak kelas mereka.
Leyna dikenal sebagai gadis yang lemah lembut, Eshal dikenal sebagai gadis yang periang, dan Zeline dikenal sebagai gadis yang sangat dingin seperti lemari es berjalan. Sangat mudah untuk berteman dengan Leyna dan Eshal, berbeda dengan Zeline yang hanya acuh dengan sekitarnya.
Pagi ini setelah bel masuk, Damian yang bertugas sebagai bendahara mulai menagih uang kas kelas untuk kebutuhan kelas mereka nantinya. Jika tidak mau membayar, dia akan bersikap tegas serta menggertaknya dengan mengadukan siswa itu pada wali kelas mereka yang juga terkenal sangat dingin.
Damian sampai dibangku paling belakang tempat Leyna, Eshal, dan Zeline duduk. "Ehem... Uang kas" Damian berdehem sebelum menagih uang kasnya.
"Ini uang kas kami bertiga" kata Zeline dingin sambil menyodorkan uang kas mereka bertiga.
Damian melotot melihat tiga lembar uang seratus ribuan.
"Cukup untuk sepuluh hari kedepan!" kata Zeline saat ia melihat tatapan Damian.
"Eh... Ba-baiklah. A-aku akan mencatatnya" jawab Damian terbata karena gugup. Ia gugup bukan karena suka. Tapi ia masih merasa sungkan setelah kejadian diruangan wali kelasnya.
Setelah mencatat Damian segera pergi ketempat duduknya.
Tak lama kemudian Sean memasuki kelas dengan setumpuk buku paket yang akan di bagikan ke para siswa.
"Ketua silahkan pimpin doa!" suruh Sean setelah meletakkan buku paket di atas meja guru.
Leyna berdiri dengan sedikit gugup karena ini pertama kalinya ia menjadi ketua kelas. Meskipun sudah yang kedua kali ia memimpin kelas, tapi ia masih tetap gugup. Sebelum memulai Leyna menarik napas dalam dan mengeluarkan secara perlahan.
"Semuanya berdiri!" serunya dengan lantang dan tegas.
Para siswa berdiri semua mengikuti instruksi sang ketua kelas.
"Berdoa sesuai agama masing-masing. Berdoa mulai!" semua siswa menundukkan kepala berdoa sesuatu agama masing-masing.
"Selesai!" Leyna mengangkat kepalanya diikuti yang lainnya.
"Beri salam!"
"Selamat pagi pak" ujar semua siswa dengan serentak.
"Selamat pagi semua. Hari ini kita akan memulai pelajarannya. Sebelum kita mulai. Damian, kamu bagikan buku paket ini!" Jawab Sean kemudian menyuruh Damian dan angsung ia lakukan. Dari pada Damian terkena masalah karena wali kelasnya. Mending ia langsung bertindak.
"Buka halaman pertama dibuku yang baru dibagikan"
"Tapi pak ini matematika!
Bukankah... -"
"Saya tahu! Pelajaran pertama bukan matematika" potong Sean ketika ada salah satu siswa memprotes.
"Jadwalnya tetap sama. Hanya matematika dan Fisika yang diubah di jam pertama. Jika matematika dan fisika diletakkan di jam terakhir, saya yakin otak kalian akan sulit untuk menangkap materi" lanjutnya.
Sean membuka buku paketnya "Persamaan dan pertidaksamaan linear nilai mutlak satu variabel! kita selesaikan materi ini dulu"
"Persamaan Mutlak
Secara geometris, nilai mutlak dari suatu bilangan adalah jarak antara bilangan itu dengan nol pada garis bilangan real. Misalkan, nilai mutlak dari x ditulis |x|, yaitu jarak dari x ke 0 pada garis bilangan real. Karena jarak selalu bernilai positif atau nol (tidak pernah bernilai negatif), maka nilai mutlak x juga selalu bernilai positif atau nol untuk setiap bilangan real." Sean mulai menjelaskan materi yang ia ajarkan.
...
...
Pertidaksamaan nilai mutlak linear satu variabel merupakan suatu pertidaksamaan nilai mutlak yang hanya menggunakan satu variabel (biasanya variabel x).
Beberapa bentuk pertidaksamaan dan cara mengerjakannya, yaitu:
Pertidaksamaan Linear: cara penyelesaiannya dengan memisahkan variabel x ke ruas kiri.
Pertidaksamaan Kuadrat: langkah awal dengan mengubah ruas kanan menjadi 0, memfaktorkan ruas kiri, dan membuat garis bilangan untuk mencari penyelesaiannya.
Pertidaksamaan Pecahan: langkah awal dengan mengubah ruas kanan menjadi 0, menyamakan penyebut, dan membuat garis bilangan untuk mencari penyelesaiannya.
Pertidaksamaan Bentuk Akar: kaudratkan kedua ruas, ubah ruas kanan menjadi 0, faktorkan ruas kiri menjadi faktor linear, buat garis bilangan untuk menentukan penyelesainnya, dan iriskan untuk memenuhi syarat hasil x >"
...
...
"Ada yang mau ditanyakan? Jika tidak ada berarti kalian sudah paham!" Kata Sean setelah menjelaskan materi. Baginya materi kelas 10 begitu mudah, bahkan dengan memejamkan mata saja dia bisa menjawabnya.
"Jika tidak ada yang mau ditanyakan, kalian kerjakan soal dibawah! Nomor 1 - 20. Kumpulkan sebelum istirahat!" lanjut Sean saat ia hanya mendapati para siswanya hanya diam saja.
Sean melihat jam tangannya sebentar. "Saya akan tinggal sebentar, ingat satu hal ini!. Kalian tidak bisa menyontek! Disetiap pojok di dinding terdapat cctv!. Saya tetap akan memantau kalian!" setelah berkata seperti itu, Sean keluar kelas menuju ruangan Alvian.
Para siswa yang ditinggal wali kelasnya bisa bernapas lega. Rasanya ketika pelajaran matematika ini, aura wali kelas mereka sangat menyeramkan. Mereka mengerjakan tugas dengan tenang. Mereka tidk berani untuk berisik barang hanya sekecil apapun. Haruskah mereka bersyukur mendapat wali kelas paling tampan, atau merasa bahwa wali kelas mereka seperti sebuah kutukan mendapat guru yang sepertinya akan menjadi guru killer di sekolah SMA Devender?!. Entahlah. Semoga wali kelas mereka bukan sebuah kutukan.
...»---♡---«...
Sean sampai diruangan Alvian, ruang kepala sekolah. Didalam terdapat Rafael, Richard, Kean, dan Alvian. Mereka akan kembali mendiskusikan tentang keberadaan ketiga makhluk yang seharusnya tidak ada didunia manusia.
"Sean! Akhirnya kamu datang!" seru Rafael ketika melihat Sean memasuki ruangan.
"Maaf, aku harus memberi muridku materi, setelah aku memberi mereka tugas mengerjakan soal 1 - 20, aku baru kesini" ujar Sean memberi alasan.
"Wow... Sangat hebat! Apa kamu gila?! Mereka baru memulai pelajaran dan kamu sudah memberi 20 soal?! Lembutlah sedikit pada muridmu Sean" Komentar Kean saat ia mendengar penjelasan Sean yang memberikan 20 soal matematika!.
Sean memandang datar pamannya. "Aku tidak ingin memanjakan murid ku paman! Aku tidak ingin ada muridku yang bodoh! Anggap saja tugas pertama matematika ini sebagai tes penentuan otak mereka! Lagi pula yang diuntungkan juga mereka dimasa depan! Tidak ada ruginya bukan?!"
"Ah.. Ya... Benar juga apa yang kamu katakan" Kean meringis tak tahu harus berkata apa lagi. Keponakannya begitu kejam. Bukankah seharusnya yang menjadi guru BK itu keponakannya saja? Agar para murid nakal tidak akan berani untuk bertemu dengan guru dingin dan kejam yang pasti akan mereka takuti.
"Lagi pula soal yang aku berikan sangat mudah! Mereka pasti bisa menyelesaikan tugas sebelum waktunya habis" timpal Sean dengan santai.
'Mudah kepalamu! Mereka hanya manusia biasa dengan otak yang pasti tidak semuanya pintar!' batin mereka tak percaya dengan perkataan Sean dan yang pasti, Sean tidak akan mendengar apa yang mereka pikirkan.
...T.B.C...
Note : gambar dan materi berasal dari g00gl3