
Red full moon yang muncul hanya seribu tahun sekali akhirnya akan muncul malam ini. Semua persiapan untuk melaksanakan ritual penyatuan darah telah selesai tanpa ada hambatan sama sekali.
"Yang Mulia Lord Agung, memasuki ruangan" ujar seorang penjaga didepan pintu masuk tempat diadakan ritual sekaligus pernikahan sang pemimpin Immortal.
Kenzie memasuki ruangan terbuka itu dengan gagah tak lupa wajah dingin seperti biasa. Ia berjalan menuju tempat singgasana yang sudah disediakan.
Sebelum duduk disinggasana, Kenzie menatap nyalang penuh selidik kepada beberapa orang penting didalam tempat ritual yang akan menjadi saksi pertukaran dan penyatuan darah sekaligus pernikahannya.
Merasa tidak ada yang mencurigakan Kenzie pun duduk di singgasana nya.
Red full moon hanya datang seribu tahun sekali dan akan membuat kaum bangsawan immortal menjadi sangat kuat.
Pada ritual yang akan berlangsung ini, Kenzie memilih orang-orang terkuat nya dan yang pasti orang-orang setianya. Agar apa yang tidak dia inginkan tidak terjadi.
Mereka membungkuk memberi hormat pada sang pemimpin dunia immortal "Hormat kami kepada Yang Mulia Lord, semoga anda berumur panjang"
"Silahkan duduk" perintah Kenzie.
"Apa mereka belum sampai?" tanya kenzie ke Alvian karena sebentar lagi Red full moon akan terjadi.
Tak berapa lama sang penjaga di depan mengumumkan kedatangan orang yang ia tunggu.
"Yang Mulia Ratu Naira Victoria Devender dari klan Fairy , Pangeran Keanu Alexis Maximus dan Yang Mulia Raja Rafael Beckham Devender telah tiba" teriak sang penjaga dengan lantang memberitahu kedatangan sosok ketiga atasannya.
Mendengar pemberitahuan itu Kenzie lantas berdiri dari duduknya di ikuti para bawahannya. Terlihat raut bahagia diwajah Kenzie, tapi raut itu perlahan memudar tak kala ia melihat sang pujaan hati yang tak sadarkan diri didalam gendongan sang kakak.
Rafael berjalan dengan wajah datar tapi dengan sorot mata sedih dan tak lupa ada adiknya Naira, berada dalam gendongannya yang terbalut dengan gaun berwarna putih.
Dibelakang Rafael di ikuti Kean yang juga menampilkan ekspresi yang sama seperti Rafael. Wajah datar namun sorotan mata yang sedih.
"Hormat kami pada Yang Mulia Raja Kenzie" ujar Rafael dan Kean bersamaan. Rafael mengucapkan dengan wajah menundukkan kepalanya, karena ia tengah menggedong Naira. Sedangkan Kean, Kean menekuk kakinya dengan satu lutut menyentuh lantai dan tak lupa dengan kepala menunduk hormat.
"Bangunlah" ujar Kenzie singkat.
Kenzie memandang Naira sedih. Tanpa di jelaskan padanya, dia sudah mengetahui terlebih dahulu.
Mate nya tidak pernah berubah, tetap keras kepala.
Cahaya bulan merah mengenai tubuh Naira yang sudah diletakkan di tempat pembaringan yang sudah disiapkan.
Dengan cepat ritual pertukaran darah segera dilaksanakan sebelum bulan purnama merah itu berakhir.
Kenzie mendekati Naira yang terbaring. Setelah sampai didekat Naira, Kenzie mendekatkan kepalanya ke leher putih milik Naira. Taring Kenzie keluar setelah dia menemukan tempat dimana ia akan mengambil darah sang mate.
Saat Kenzie menancapkan taringnya dileher Naira. Tubuh Naira menegang, seolah Naira sadar jika ada benda asing yang menancap dilehernya.
Tak berapa lama, Kenzie mencabut taringnya perlahan, takut membuat orang yang dia cintai kesakitan. Darah mengalir dari bekas gigitan itu. Kenzie menatap luka dari gigitannya dan seketika itu, luka itu terlutup dan menghasilkan sebuah tanda seperti tato. Tanda itu berbentuk pedang dan mawar.
Kenzie menatap mata Naira yang masih setia terpejam, lalu turun ke hidung mungil namun mancung itu dan berakhir dibibir yang biasanya berwarna pink itu sekarang berubah pucat pasi seperti mayat hidup.
Kenzie menggigit bibirnya hingga mengeluarkan darah, bahkan dengan sengaja dirinya menyedot darah yang keluar dari luka gigitannya, setelah darah itu terkumpul dimulutnya, Kenzie mendekatkan wajahnya ke wajah Naira.
'aku merindukan mu, sayang. Mulai saat ini, aku akan melindungi mu dengan nyawaku sendiri' batin Kenzie.
Cup
Bibir Kenzie menempel dibibir Naira. Dengan perlahan Kenzie mencoba memasukkan darahnya kemulut Naira. Darah itu telah masuk sepenuhnya dimulut Naira dan terus mengalir menuju tenggorokan nya dan darahnya sudah tertelan. Yang berarti ritual itu sudah berhasil dan ritual itu dilaksanakan tepat dibawah sinar sang rembulan.
Setelah Kenzie melepas ciumannya. Tubuh Naira melayang dengan dikelilingi sinar terang yang membuat semua orang yang berada di sana menutup mata, kecuali Kenzie. Kenzie terus menatap tajam pada tubuh Naira. Dia harus tetap memperhatikan tubuh Naira takutnya nanti hal yang tak ia inginkan terjadi.
Perlahan, gaun putih yang dikenakan Naira berubah menjadi gaun yang sepasang dengan pakaian yang di kenakan Kenzie.
Bibirnya yang tadi pucat pasi perlahan berubah menjadi pink kembali. Rambutnya yang berwarna coklat berubah menjadi warna putih keperakan.
Sebuah mahkota yang sama persis seperti dimimpinya muncul dikepala Naira. Lalu, sepasang sayap berwarna putih membentang dan mengepak dengan perlahan.
Red full moon pun telah berakhir, dan akan terjadi pada seribu tahun lagi.
Naira turun secara perlahan dan menapak ditanah. Ia membungkukkan badannya sebentar kemudian berdiri dengan anggun.
Perlahan, kelopak mata yang tadinya tertutup rapat menjadi terbuka memperlihatkan manik mata berwarna hijau zamrud. Warna mata fairy nya.
Ritual pertukaran darah dan juga sinar dari sang rembulan cukup membuat kekuatan serta ingatannya pulih kembali.
"Suamiku, terimakasih sudah menjemputku" suara lembut bagaikan seperti angin yang menerpa dengan pelan terdengar di telinga Kenzie. Bukan hanya Kenzie yang mendengar suara lembut itu melainkan semua orang yang ada disana.
Semua orang tersenyum haru saat melihat raja mereka tersenyum bahagia. Mereka yakin bahwa keadaan dunia immortal tidak akan tegang lagi, karena raja mereka yang dingin, kejam, bengis dan sadis akan berubah menjadi hangat dan lembut pada semua orang kecuali musuhnya dia akan tetap menjadi Kenzie yang dingin, kejam, bengis dan sadis.
...»---♡---«...
Ditempat lain sebelum bulan purnama berakhir
Cahaya rembulan bukan hanya mengenai tempat ritual berada, melainkan juga mengenai dimana tempat peti mati itu berada.
Ssssshhh
Cahaya merah melingkupi peti mati itu.
Perlahan peti terbuka dan boom...
Asap mengepul dipenjuru ruangan itu.
Perlahan asap itu mulai menghilang dan memperlihatkan sesosok pria berdiri dengan tegap di balut dengan pakaian serba hitam melekat ditubuh nya.
Pria yang senantiasa menjaga dan menanti tuannya untuk bangkit lagi tersenyum tipis.
Gerald Jarvis. Seorang jendral besar dan merupakan tangan kanan dari tuannya. Meskipun umurnya sudah ribuan tahun tapi wajahnya masih tetap awet muda. Dia memiliki mata merah seperti yang dimiliki kaum Lucifer dan vampire dengan surai hitam yang sedikit panjang.
Perlahan mata pria itu terbuka, memperlihatkan warna mata semerah darah sama seperti milik Kenzie.
"Hormat hamba my Lord" ujar Gerald memberi salam hormat pada tuannya.
"Bangunlah" perintahnya yang langsung dilaksanakan sama tangan kanannya, Gerald.
Pria itu berjalan mendekati jendela menikmati sisa dari cahaya rembulan dengan mata terpejam.
"Berapa lama aku tertidur?" tanya pria itu masih dengan mata tertutup pada bawahan nya.
"Ampun Yang Mulia. Anda tertidur selama 864 tahun lamanya" jawab Gerald.
Tiba-tiba sebuah kejadian terlintas dengan cepat di kepala pria itu. Pria itu membuka matanya dan ia berkata "Ikuti aku" setelah itu menghilang tanpa menunggu balasan dari bawahannya. Gerald yang melihat tuannya pergi, lantas ia segera menyusul tuannya dengan mengikuti aura tuannya yang masih tertinggal.
...*****...
Sosok pria yang sedikit jauh dari diatas sana memperhatikan jalannya ritual. Bagai predator yang tengah memperhatikan mangsanya dari kejauhan jauh.
Disaat ritualnya sudah selesai, dan orang yang dia incar membuka matanya, dia segera melesat incarannya, tapi sebelum dia beranjak ia berkata "Sayang, aku akan segera membalaskan dendam mu" desisnya dengan secepat cahaya melesat ke arah Naira. Karena penjagaan yang sangat ketat tadi tidak terjadi sesuatu hal yang membahayakan dan membuat mereka menjadi lengah, dan dia tak menyia-nyiakan kesempatan ini.
...*****...
Kembali lagi ke tempat ritual
Kenzie berjalan menghampiri istrinya. Tatapannya terus menatap wajah istrinya yang masih tersenyum manis.
Kenzie langsung memeluk istri tercinta nya dengan erat. Menikmati harum dari tubuh istri yang ia rindukan.
Tanpa ia ketahui sebuah cahaya melesat ke arah Naira.
"TIDAK" teriak Alvian tiba-tiba dan...
Jlep
Uhuk
Darah keluar dari perut, mulut, dan hidungnya.
Semua orang yang ada disana menahan napas dengan mata terbelalak. Mareka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
...T.B.C...
...Vote, comment, and follow!...
...Thank you...