
"Aku lebih baik tidak memiliki belahan jiwa jika dia memiliki kelakuan bejat seperti nya!" jawab Eshal dengan dingin.
Meskipun Eshal enggan menghadiri pengadilan di aula utama istana yang disengaja oleh Sean sendiri, seharusnya di aula pengadilan bukan di aula utama. Eshal harus tetap menghadiri pengadilan untuk mendapatkan keadilan dari kaisar.
"Jika itu keputusanmu. Maka aku akan kabulkan!"
"Ucapkan ikrar pemutusan mate Eshal Victoria Maximus!" Lanjut Sean dengat sangat tegas dan lantang.
Richard menggeleng lemah "Tidak Eshal, maafkan aku. Aku menyesal. Ampuni aku. Tolong jangan singkirkan aku dari hidupmu sayang" ucapnya lirih disertai air mata kesedihan dan penyesalan. Semua orang mendengar lirihan Richard, tetapi mereka hanya diam saja.
Penyesalan datang diakhir. Mungkinkah Richard mendapat karma atas perbuatannya dimasa lalu?!
Eshal terdiam sejenak, memantapkan hatinya, dari awal ia sudah putuskan tidak ingin menjadi mate pria itu lagi! "Aku Eshal Victoria Maximus, mate Richard Alcander Lucifer menyatakan memutuskan hubungan mate dengannya!" ujarnya dengan lantang tanpa ragu. Setetes air mata kesedihan meluncur dipipi kirinya.
Pandangan Richard berubah kosong. Tak ada lagi yang tersisa. Kekuatannya sudah diambil paksa, dan sekarang matenya memutuskan hubungan mate dengannya! Sungguh menyedihkan!.
Sean menatap semua yang berada di aula "Pengadilan sudah selesai. Kalian silahkan kembali kekediaman masing-masing!" tutup nya.
Semua orang membubarkan diri setelah mendapat titah kaisar Agung.
Sean menghampiri Eshal yang berada dipelukan bundanya.
Naira segera melepaskan pelukannya ketika putranya mendekat kearah mereka bertiga.
Sean membawa Eshal kepelukannya. Dipeluknya tubuh adiknya dengan hangat kemudian berbisik "Aku sudah memberikan keadilan untukmu. Aku juga akan memberikan sesuatu untukmu" meskipun hanya berupa bisikan orang lain masih mendengar bisikannya. Setetes air mata meluncur dipipi kiri Sean. Air mata itu berubah menjadi mutiara putih berhias warna abu-abu tanda ia juga ikut bersedih.
Ting...
Zeline yang memperhatikan melihat kajadian yang tak biasa itu. Ia memungut mutiara yang berasal dari air mata kakaknya. Semua orang juga melihat mutiara yang dipungut Zeline.
Eshal menatap kakaknya. "Kakak menangis?" tanya Eshal saat dirinya melihat bekas air mata dipipi kiri kakaknya.
Semua orang yang tersisa tercengang mendengar jika kaisar muda yang terkenal dingin dan kejam bisa menangis. Sebelumnya mereka tidak ingat jika Sean pernah menangis histeris karena kematian matenya, mereka melupakan kejadian itu karena Sean sudah memutar waktu sehingga tidak ada yang mengingat kejadian itu kecuali Sean sendiri.
"Aku juga memiliki perasaan. Bagaimana mungkin seorang kakak tidak bersedih melihat adiknya menderita" bisik Sean.
"Aku sebagai kakak merasa gagal dalam menjaga adikku sendiri!" lanjutnya.
Eshal menggeleng "Kakak tidak gagal. Kakak sudah mencegah bencana yang akan menimpaku" lirihnya.
Sean tersenyum tipis mendengar penuturan adiknya.
"Mm... Bukankah kakak akan memberiku sesuatu?" tanya Eshal mengalihkan pembicaraan.
Sean menangkup kedua pipi Eshal. "Aku tahu ini terburu-buru, tapi aku bisa pastikan kamu akan suka dan merasa aman jika dengannya!"
Sean berhenti sejenak, memikirkan kata-kata yang sekiranya tidak akan menyakiti adiknya.
"Apakah kamu mau menerima Li Shen sebagai mate barumu dan mate terakhir mu?!"
Tubuh Eshal menegang begitupun dengan Li yang sudah berubah wujud kebentuk tubuh manusianya.
"Tuan, hamba tidak berani" ujar Li sambil berlutut.
"Siapa yang mengizinkanmu berbicara!" ujar Sean dengan tegas.
Li hanya menunduk terdiam. Sejujurnya jantungnya berdetak dengan cepat ketika tuannya menawarkan dirinya untuk menjadi mate adik bungsunya.
'Kau akan senang jika adik bungsuku ini menerimamu bukan?! Aku hanya membantumu saja. Dan aku akan percayakan keselamatan adikku padamu!' Sean mengirim mindlink pada Li.
'Yang dikatakan Sean benar. Kau pilihan yang tepat untuk adik bungsu kami' ujar Alex ikut menimpali.
'Aku akan menurut' balas Li dengan perasaan senang yang membuncah.
"Maksud kakak, naga itu?"
Sean mengangguk membenarkan ucapan Eshal. "Kamu keberatan? Dia hanya seekor naga saja, didunia ini juga ada segerombolan serigala dan manusia ikan (mermaid) jadi tak masalah bukan jika kamu memiliki mate seekor naga?!" katanya dengan sedikit candaan.
Eshal tertawa pelan, ia geli dengan perkataan kakaknya. "Jika mereka mendengar mereka dikatain segerombolan serigala dan manusi ikan, mereka pasti akan muntah darah"
Richard mendongak saat mendengar tawa Eshal yang begitu lembut. Andai saja ia bisa memutar waktu, kejadian ini pasti tidak akan terjadi. Sayangnya semua ini hanya tersisa penyesalan.
"Apa keputusanmu Eshal?" tanya Sean karena Eshal tidak juga menjawab.
Apa jangan-jangan... Tidak mungkin bukan?!
'Yang kamu pikirkan benar!' mindlink Sean pada Eshal.
Eshal kembali menatap Sean dengan perasaan kaget.
'Percayalah pada kakak, kebahagianmu pasti ada bersamanya! Kakak percaya padanya. Kamu tak perlu khawatir, hidupnya ada ditangan kakak'
"Kamu bisa mencoba untuk dekat dengannya, jika kamu masih tidak merasa nyaman didekatnya. Kakak tidak akan memaksa juga" ujar Sean pada akhirnya karena Eshal tetap diam. Sean mengerti jika ini terlalu cepat bagi adiknya yang baru mengalami tragedi yang memilukan.
"Jika dia macam-macam padamu, kakak akan menghancurkan dirinya sampai tak bersisa"
Eshal memikirkan perkataan kakaknya. Apakah kebahagiaannya ada pada naga itu? Melihat aksi naga waktu itu, dia begitu melindunginya dari pria badjingan itu. Bahkan naga itu juga tidak berani menatap tubuhnya yang tak berbusana lengkap.
Sekilas Eshal merasa terpesona dengan aksi Li saat menyelamatkannya. Ditambah wajah Li yang tampan sebagai pendukungnya membuat siapa saja akan terpikat.
Baru beberapa jam yang lalu dia mengalami kejadian itu, dan sekarang ia ditawari mate baru oleh kakaknya yang merupakan seorang kaisar.
Eshal menatap penuh kebencian kearah Richard yang juga tengah menatap dirinya dengan tatapan sendu penuh penyesalan. Eshal mendengus kasar memutuskan pandangan keduanya.
Sean mengelus pipi adiknya yang tampaknya masih ragu. "Kakak tidak akan memaksamu untuk menjawab sekarang. Biarkan saja Li menunggumu dan memperjuangkan kamu!"
Eshal berpikir keras 'Jika aku tidak menerima kak Li sebagai mate baruku, dia pasti akan beranggapan jika aku masih mencintainya. Tidak! Rasa cintaku padanya sudah dihancurkan sendiri oleh dirinya! Sekarang aku sudah membencinya. Aku harus buktikan jika aku benar-benar akan melupakannya! Tak peduli meskipun orang-orang berkata apa!' batin Eshal meyakinkah diri.
Sean tersenyum tipis bahkan sampai tidak ada yang menyadari saat ia sedang tersenyum, sean tersenyum karena mendengar pemikiran adiknya.
Eshal memandang kakaknya dengan mantap. "Apakah bisa dilakukan sekarang?" tanyanya.
Sean menelengkan kepalanya "Apanya?" goda Sean.
Eshal yang merasa digoda tersenyum malu. Tidak mungkin dia mengatakan secara langsung bukan?!.
Sean melepaskan Eshal kemudian mundur satu langkah.
"Pilihlah! Jika kamu keluar dari aula, keputusanmu masih belum dipastikan dan jika kamu mendatangi dia, kamu sudah memutuskan dan tidak bisa menarik kembali!" kata Sean memberi pilihan.
Eshl menatap Daddy dan Mommy nya. Kenzie dan Naira mengangguk pelan, mereka mengizinkan Eshal untuk memilih.
Zeline menggenggam tangan Eshal "Kamu berhak memutuskan adikku. Kamu berhak bahagia" dia tahu jika selama ini adiknya menderita karena Richard tidak memperlakukan Eshal dengan baik!. Hanya dia yang mengetahuinya tapi Eshal meminta agar semua itu dirahasiakan dari kedua orangtua nya. Jika kakak mereka Sean, mungkin tanpa diberitahu sudah mengetahui lebih dulu.
"Putuskan Eshal. Jemput kebahagiaanmu"
Li hanya diam menunduk sambil memejamkan matanya, keputusan yang diambil Eshal akan ia terima. Mungkin jika Eshal memutuskan keluar aula, ia bisa simpulkan bahwa Eshal akan menutup hatinya.
Tap...
Suara kaki yang menapak didepannya membuat tubuhnya menegang sekaligus bergetar.
"Aku tidak bisa memutuskan seorang diri kak Sean." ujar Eshal sambil menatap pria didepannya yang masih memejamkan matanya.
Dalam hati dia berkata 'Dalam keadaan menutup mata saja dia terlihat tampan dan damai. Berbeda dengannya... Tidak. Aku harus melupakan dia'
"Kak Li, maukah kakak membantuku membuat keputusan?" tanya Eshal yang ikut berlutut didepan Li.
Li membuka matanya, ia mendongak dan langsung bertabrakan pandangan dengan Eshal. Jantungnya kembali berdetak kencang, bahkan ebih kencang dari sebelumnya. Sean yang memang memiliki pendengaran tajam bahkan sampai terdengar.
"Kau tidak perlu menanyakan keputusanku lagi Li. Jika kau tidak mau, aku akan carikan pria lain" kata Sean saat Li menatapnya ragu.
Dengan cepat Li menggeleng. "Tidak tuan. Hamba hanya ingin meminta restu anda" ujar Li sambil menunduk.
"Bukankah aku sendiri yang menawarkan adikku padamu huh! Sudah pasti aku memberimu restu. Kau mintalah restu pada ayah dan bunda!" sinis Sean.
"Kami serahkan semua keputusan pada putri kecil kami, Li" seru Kenzie saat Li menatap kearahnya.
"Kamu juga menjadi bagian dari kami Li" kata Naira yang juga ditatap oleh Li.
Li tersenyum menawan kemudian mengangguk. "Aku Li Shen akan menerima segala keputusan dari tuan putri Eshal Victoria Maximus" ucap Li dengan tegas sambil menunduk pada Eshal.
...T. B. C...