
"Kalian kenal dengan ketiga orang itu?" ujar pria yang tadi membuka tirai.
Terlihat dibalik tirai terdapat tiga foto besar didalam bingkai yang cantik.
"Mama!" ucap Arion, Gavin dan Damian bersamaan. Mereka tidak percaya dengan yang mereka lihat. Didepan mereka terdapat tiga foto gadis dengan tersenyum anggun.
"Apakah benar mereka mama kalian?!" tanya seseorang dengan suara serak.
"Benar! Mereka mama kami!" ucap Arion.
"Siapa nama mereka?!" tanya pria itu lagi.
"Mama Senna, mama Jhena dan mama Rhena. Mama Shena adalah mamaku! " jawab Arion.
"Mama jhena adalah mamaku" timpal Gavin.
"Dan mama Rhena adalah mamaku" sambung Damian lirih.
"Shena Alcander Lucifer adik pertama! Jhena Alcander Lucifer adik kedua! Rhena Alcander Lucifer adik ketiga!" lanjut pria yang duduk dikursi kebesaran.
Arion, Gavin dan Damian yang mendengar perkataan pria yang duduk disana kembali berbalik kearah kedua pria yang masih setia melihat keluar jendela. Memperhatikan rembulan yang tengah purnama. Bulan purnama.
"Mereka adikku! Aku tidak menemukan mereka saat aku terbangun dari tidur panjangku!" pria itu memutar kursinya. Seketika ketiga pemuda itu terkejut dengan seseorang yang ternyata guru baru mereka, Mr. Richard!.
"Mr. Richard!" seru ketiganya.
"Richard Alcander Lucifer. Itu namaku!"
Pria yang berdiri menghela napas kemudian berbalik. Lagi, mereka dibuat terkejut. "Pak Max!"
"Sean Alcander Maximus! Sean Alexis Maximus! Panggil Sean!" ralat Sean memperkenalkan namanya didunia manusia dan nama aslinya.
"Sepertinya kalian cukup beruntung, karena aku tidak membunuh kalian yang sudah berani mendekati gadis-gadisku!" tukas Sean menatap tajam.
"Maafkan kami pak" sesal mereka bertiga dengan kepala menunduk.
"Sudahlah! Lupakan saja. Tapi jika kalian berani mendekati gadis-gadisku, aku tidak akan segan lagi!" ancam Sean.
"Aku tinggal keluar. Selesaikan urusan kalian" ucap Sean dingin kemudian keluar memasuki kamarnya disayap sebelah kanan pintu paling ujung juga.
"Maaf aku terlalu lama" ucap sean pelan sambil mengelus pucuk rambut Leyna yang sudah tertidur lelap. Setelah itu ia ikut berbaring disampingnya kemudian menyusul kealam mimpi.
Masalah Richard akan diselesaikan orangnya sendiri. Sean tidak akan ikut campur lagi.
Keesokan paginya.
Sean membuka mata duluan. Ia menoleh kesamping, kekasihnya masih terlelap. Sean mengecup dahi Leyna lembut. "Selamat pagi sayang" sapanya meskipun yang disapa tidak membalas bahkan tidak mendengar. Kemudian ia beranjak menuju kekamar mandi.
Setelah membersihkan tubuh dan berpakaian santai, Sean keluar kamar mandi. Gadisnya masih belum membuka mata. Sean tersenyum tipis. Mungkin gadisnya tidur terlalu malam sehingga sampai sekarang masih belum bangun.
Sean memutuskan keluar kamar setelah menyiapkan pakaian santai gadisnya yang sama dengannya.
"Pagi semua" sapa Sean saat melewati ruang keluarga.
"Pagi Sean" balas Richard yang masih fokus ke acara ditelevisi.
"Pagi pak Max" balas Arion, Gavin dan Damian bersamaan.
"Ck. Panggil Sean saja" decak Sean.
"I-iya kak Sean" ucap merek bertiga.
"Kalian sudah sarapan?" tanya Sean basa-basi sambil menyiapkan bahan.
"Aku sedang malas masak" ujar Richard beralasan membuat Sean memutar bola mata malas.
"Aku tidak bisa menggunakan dapurnya" kata Arion beralasan yang diangguki Gavin.
"Aku tidak bisa masak hehe" lanjut Damian meringis.
"Kalian kebanyakan alasan! Dan kau Damian! Kau akan menjadi seorang pria. Jika pria tidak bisa masak sendiri, bagaimana nanti kau bertemu dengan mate mu kemudian kalian menikah dan istrimu sakit. Kau akan memberikan makan apa? Beli? Tidak jentel sama sekali! Kemarilah Damian" ejek Sean yang mulai memasak beberapa hidangan berkelas.
Damian mendekat kedapur.
"Ada yang bisa aku banting? Eh bantu" ucap Damian gugup.
Sean menghela napas. "Lakukan ini... Lakukan itu... Kecilkan apinya... Benar begitu... Jangan lupa balik dagingnya... Tata yang rapi diatas piring... Kau cukup pandai memasak rupanya" kata Sean memberikan instruksi dan diakhiri dengan pujian.
"Hehe kak Sean lah yang lebih pandai" balas Damian rendah hati.
Sean mengamati satu hasil karya Damian. Ia memotong sedikit dagingnya kemudian memindahkan dipiring tempat ia mencicipi. Ia coba rasa masakan Damian "Enak. Sedikit lagi akan mendekati sempurna. Latihan menghias piring lagi biar enak dipandang. Sangat buruk!" Damian bagai melayang dilangit, tapi ia kembali dihempaskan kebawah oleh wali kelasnya itu.
Kedua kakak Damian hanya menyemangati Damian dalam hati.
Sean menghias piring lainnya, kemudian memindahkan daging hasil masakan Damian kedalam piring yang sudah ia hias.
Seporsi Beef Steak Medium Rare sudah siap dihidangkan.
Sean melihat jam dinding diatas kulkas. "Sepertinya ia masih tidur" gumam Sean.
"Kalian berdua kemarilah!" panggil Sean ke Arion dan Gavin.
Sean memandang dingin "Siapa lagi jika bukan kalian!"
Arion dan Gavin mendekat kedapur. Tersisa Richard diruang keluarga yang masih fokus pada acaranya.
"Kalian juga tidak mungkin menggunakan peralatan masak butut bukan? Akan sangat memalukan bagi paman Richard kalau kalian tidak bisa memakai teknologi yang berada didapur!" ejek Sean.
'Kena kalian' Damian membatin.
"Sajikan dimeja makan hasil masakanmu Damian!" seru Sean yang langsung dituruti oleh Damian.
"Masih satu porsi. Kau harus bisa memasak masakan yang lain!" kata Sean menghentikan langkah Damian. Ia tahu apa yang dipikirkan Damian.
"Emm... Apa yang harus kami masak?" tanya Arion setelah Damian pergi keruang makan.
"Lihat saja bahan-bahannya apa saja. Terserah kalian mau masak apa"
Arion dan Gavin mengangguk paham. Sean mulai memberikan instruksi bagaimana cara menggunakan peralatan didapur yang mewah itu.
"Akhirnya selesai juga" ujar Gavin sambil meregangkan ototnya setelah menata semua makanan diatas meja makan.
Masakan buatan Arion
...
...
...
...
...
...
Masakan buatan Gavin
...
...
...
...
Masakan buatan Sean
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
"Aku akan kekamar dulu."
Sean membuka pintu kamarnya. Dilihatnya gadis kecilnya sudah bangun dan sepertinya sudah membersihkan diri. "Sayang kapan kamu bangun?" tanya Sean melihat gadisnya hanya diam metap keluar.
Sean menutup pintunya kemudian menghampiri gadisnya. Ia memeluk Leyna dari belakang. "Sayang, kenapa hanya diam saja hmm" Sean terheran dengan diamnya Leyna.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Sean.
Leyna menoleh melihat wajah Sean.
Mata Sean membulat terkejut dengan perubahan Leyna. Kedua mata gadis itu berwarna emas! Darah Sean mulai terbangkitkan.
"Kak Sean aku haus" lirih Leyna dengan menatap sendu ke Sean. Gigi taringnya juga muncul. Semakin terlihat cantik dimata Sean.
Sean tersadar dari rasa terkejutnya. Ia sadar, belahan jiwanya sedang membutuhkan dia! "Aku menunggu kakak dari tadi. Aku takut keluar dengan keadaan seperti ini." ucap Leyna pelan.
Leyna membalik badan. Kini mereka sepenuhnya saling berhadapan. "Kak, Leyna haus" kata Leyna lagi.
"Aku mengerti sayang" kata Sean tersenyum hangat sambil mengelus rambut Leyna. Ia harus menenangkan gadis kecilnya itu.
...T.B.C...
Masakan sederhana aja ya. Kalau makanan berkelas biasanya sedikit dan kurang mengenyangkan 😁😂 soal makanan tidak bisa jauh-jauh dari kata porsi agak banyak sampai banyak 😋