
Sean menyeringai puas dengan perbuatan Alex, wolf nya.
Ingin sekali Sean memberikan pelajaran yang lebih dari yang diberikan Alex. Tapi sepertinya Alex memiliki rencana sendiri.
'Bukankah dia anak dari salah satu donatur sekolah? Bagaimana kalau kita hancurkan perusahaan mereka lalu mengeluarkan gadis kurang ajar itu dari sekolah, lalu kita bisa menyiksanya setelah dia tidak berhubungan dengan sekolah, dan nama sekolah tidak akan tercoreng' kata Alex melalui mindlink mengeluarkan pendapatnya.
Sean memutar bola mata malas. 'Terlalu ribet. Kita hancurkan keluarganya. Dan biarkan para murid yang melanjutkan. Hahahaha' balas Sean kemudian tertawa jahat.
Alex memutus sepihak mindlink mereka. Sedangkan Sean terus memikirkan bagaimana cara membalas perbuatan gadis itu yang sudah menyakiti kekasihnya. Akan Sean buat gadis itu bertekuk lutut atau kalau bisa bersujud memohon ampunan dari kekasihnya.
Ya itu pemikiran yang sangat bagus. Pikir Sean.
...»---♡---«...
Hari pertama penyambutan murid baru dihari pertama hanya diisi beberapa acara saja. Setelah penyambutan dari pihak sekolah, dilanjutkan dengan acara yang sudah disusun para osis.
"Kagiatan kita sampai disini. Besok jangan lupa membawa barang yang sudah kita sampaikan tadi. Jika tidak membawanya, kalian akan mendapat hukuman" jata sang ketua osis menutup acara karena bel pulang sudah berbunyi.
Semua osis membubarkan diri masing-masing setelah itu ratusan murid kelas 1 juga berhamburan untuk pulang atau ketempat lain.
Zeline dan Eshal menghampiri Leyna yang berada dibarisan depan. Mereka berdua berada dibarisan paling belakang. Karena mereka hanya main-main saja mengikuti MOS (Masa Orientasi Siswa).
"Leyna ayo pulang" ajak Zeline. Yang diangguki sama Leyna.
"Tunggu kak. Hari masih siang, bagaimana kalau kita jalan-jalan saja dulu" ujar Eshal.
"Aku tidak bisa. Kak Sean akan marah nanti kalau aku tidak langsung pulang" tolak Leyna langsung.
"Kamu tenang saja Kakak ipar. Urusan Kak Sean belakangan. Kita bersenang-senang dulu" keukeh Eshal.
"Tapi....-" ucapan Leyna terputus ketika tangannya ditarik Eshal menuju parkiran.
Diparkiran masih banyak siswa yang belum pulang. Mereka penasaran dengan pemilik mobil mewah yang terparkir rapi dibarisan parkir siswa.
Eshal terus menarik tangan Leyna menuju mobil mereka yang terparkir.
Langkah mereka terhenti.
"Mobil ini adalah milikku. Kalian boleh berfoto dengan mobilku ini" ujar seorang gadis mengklaim mobil sport berwarna merah.
Mendengar perkataan gadis itu, semua murid kagum dengannya.
Eshal memutar bola mata jengah. Apa lagi ini. Masih kelas 1 sudah bikin masalah. Batin Eshal geram. Ingin sekali dia mempermalukan gadis itu.
Zelin yang mengerti dengan pandangan adiknya yang terlihat kesal, ia segera mengambil kunci mobilnya. Ia tekan remot kontrolnya yang membuat mobil itu berbunyi.
Para siswa yang tadi ribut melontarkan pujian seketika terdiam saat mobil yang diduduki gadis itu berbunyi.
"Permisi mau lewat" ujar Zeline agak keras. Betul saja, para siswa memberi mereka jalan.
"Maaf nona. Sepertinya kau salah mobil" ucap Zeline dingin.
Mendengar ucapan Zeline, gadis itu meradang. "Heh kau bicara apa? Salah mobil? Jelas-jelas ini mobil ku!" Akunya dengan sombong.
"Turun atau kau akan lebih malu lagi!" ancam Zeline dingin.
"Kau yang minggir. Pergi sana!" usir gadis itu ke Zeline.
Zeline mendengus jengah.
Dibukanya pintu mobil bagian supir lalu ia masuk kedalam mobil. Ditekannya klakson lama membuat semua siswa menutup kedua telinganya. Kecuali Eshal yang dari tadi sudah memakai penutup telinga. Sedangkan telinga Leyna ditutup oleh kedua tangan Eshal.
"Minggir atau aku tabrak!" teriak Zeline dengan mengeluarkan kepalanya keluar sambil melotot kearah gadis itu.
"Tidak tahu malu!" sinis Eshal sambil menyiram mobil bekas yang diduduki gadis itu dengan air mineral yang ia beli tadi saat dikantin. Semua siswa menyoraki gadis itu karena sudah menipu semua orang.
Eshal membukakan pintu mobil yang sebelahnya setelah Zeline mengubah mobil jadi mode terbuka. Eshal masuk kemobil duluan lalu duduk ditengah atas sandaran kursi. "Ayo kak" ujarnya ke Leyna yang masih terbengong melihat Eshal yang sudah duduk santai diatas.
Zeline melajukan mobilnya setelah Leyna naik dan para siswa memberi jalan pada ketiga gadis itu.
Tanpa mereka ketahui, tiga pemuda sedang memperhatikan ketiganya dari kejauhan.
"Mereka unik" komentar salah satunya.
"Kau benar. Mereka juga cantik" komentar yang lainnya.
"Yang pendiam lebih cantik" komentar yang satunya lagi yang tak lain ketua osis. Sedari awal permainan dimulai, ketua osis sudah memperhatikan Leyna.
"Wow si hati es akhirnya akan mencair" celetuk Endra mengejek si ketua osis.
Tanpa membalas perkataan temannya, sang ketua osis pergi meninggalkan mereka berdua.
"Yah dia marah"
"Kau sih bilang begitu"
...»---♡---«...
Sean duduk di sofa ruang tamu. Mata tajamnya tak pernah lepas dari pintu. Jam sudah menunjukkan 5 sore. Tapi, kekasihnya dan kedua adiknya masih belum pulang. Padahal pulang sekolah tadi lebih awal jam 11 siang dan mereka sampai jam 5 sore masih belum pulang juga.
Sedangkan Sean sudah menunggu ketiganya dari jam 3 sore setelah ia menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dikantor milik ayahnya dulu, Kenzie.
Sean sebenarnya sudah tahu jika adik bungsunya mengajak jalan-jalan dulu sebelum pulang. Sean membiarkannya karena ia yakin, mereka tak akan pergi lama. Tapi kenyataannya, mereka malah membuat ia menahan amarah karena pulang terlambat.
Setengah jam kemudian terdengar suara gadis tertawa dengan riangnya tanpa tahu jika sang singa sudah menunggu mangsanya.
Ceklek
Pintu utama terbuka. Eshal berhenti tertawa saat sang kakak sedang duduk dengan bersendekap dada tak lupa dengan pandangan dingin seakan ingin membunuh.
"Apa kalian puas jalan-jalan nya?!" tanya Sean dingin.
"Emm ya" balas Eshal meringis.
"Hmm... Bagus!" timpal Sean dengan tatapan semakin menusuk.
Zeline dan Eshal menelan ludah kasar. Tamat sudah riwayat mereka. Apa lagi Leyna, ia menebak jika Sean lebih marah padanya. Leyna hanya diam menunduk.
"Apa kalian buta jika sekarang sudah hampir malam?!" teriak Sean. Kedua matanya berganti warna menjadi dua warna. Alex juga ikut mengambil alih, jika Alex tidak ikut mengambil alih, bisa dipastikan akan terjadi bencana nantinya.
Richard dan yang lainnya datang keruang keluarga karena mendengar teriakan Sean yang menggema didalam kediaman Alcander.
"Ada apa Sean?" tanya Richard tapi diacuhkan sama Sean.
Sean menatap dingin kekasihnya yang masih menunduk. Ia bisa melihat ingatan kekasihnya. Mereka terlambat pulang karena Eshal masih asik melihat barang-barang di pusat perbelanjaan, padahal Leyna sudah berkali-kali meminta pulang dan bahkan bilang ingin pulang duluan tapi dilarang oleh Eshal.
"Sayang angkat wajahmu" ujar Sean pelan ke Leyna yang masih setia menunduk.
"Kamu dengar suaraku kan sayang?!" tanya Sean dengan suara Alpatone nya membuat orang-orang disana bergidik mendengarnya.
...»---♡---«...
...T.B.C...