Immortal Reingcarnation

Immortal Reingcarnation
S2 - Berbeda



Li membaringkan tubuh Leyna diranjang yang berada dikamar Sean. Ditatapnya wajah damai itu yang masih terpejam. "Dia akan segera sadar. Tapi aku tidak tahu kapan dia akan terbangun"


Li berjalan mendekati Kenzie yang dalam ingatan tubuh tuannya bahwa pria yang bernama Kenzie merupakan ayah tuannya.


Li sedikit membungkuk pada Kenzie lalu ia berkata "Aku akan kembali ketempat tadi untuk memulihkan tubuh tuan Sean selama beberapa hari. Aku juga akan membantu mereka memulihkan diri juga. Jika aku tetap memaksa tubuh ini tetap sadar, tubub tuan perlahan akan hancur dan tidak akan bisa menahan kekuatan kami bertiga!"


Kenzie tersenyum tipis "Li, kau merupakan bagian dari putraku, Sean. Sama halnya dengan Alex yang merupakan wolf Sean. Kau juga putraku!"


Li mendongak menatap Kenzie dengan wajah tak terbaca. Tapi matanya berbeda. Kenzie bisa melihat tatapan bahagia Li.


Kenzie merentangkan kedua tangannya "Kemarilah putraku, peluk ayahmu!" seru Kenzie dengan senyum hangat.


Li menggeleng pelan "Aku tidak pantas mendapatkan semua itu, tuan" ujarnya pelan. Li tersadar ia hanya hewan spiritual tuannya, bawahan tuannya.


"Apa yang kau katakan Li? Kau pantas mendapatkannya! Sean pasti akan senang jika kamu mendapat perlakuan yang sama dari kami"


Li ragu untuk menerima.


Melihat keraguan Li yang hanya diam mematung, Kenzie mendekat kemudian membawa Li keperlukannya. Kenzie yakin jika naga dipelukannya ini tidak pernah mendapatkan kasih sayang, meskipun usianya sudah ratusan ribu tahun bahkan lebih, Kenzie tidak peduli. Ia hanya ingin memperlakukan Li seperti putranya sendiri.


"Li, panggil kami seperti Sean memanggil kami" ucap Kenzie.


"Aku tidak berani tuan. Tuan Sean akan marah padaku jika aku lancang memanggil kalian seperti tuan Sean memanggil kalian." tolak Li halus.


Kenzie melepaskan pelukannya "Sean tidak akan marah padamu"


Li menggeleng kemudian mundur. "Nona muda sudah baik-baik saja, dia hanya butuh istirahat yang cukup."


"Aku akan pergi sekarang. Tolong jaga nona disini. Jika nona menanyakan tuan Sean, katakan saja jika tuan memiliki urusan mendadak dan tak bisa diganggu. Aku yakin nona pasti tidak akan mencari tuan lagi" lanjut Li.


"Li kenapa kau memanggilnya nona? Panggil saja namanya, Li. Dia pasti tidak akan keberatan" ujar Naira yang merasa aneh jika tubuh Sean memanggil calon menantunya dengan sebutan 'nona'.


Li lagi-lagi menggeleng, kali ini senyum tipis terlihat "Aku tidak berani memanggil nona dengan namanya. Aku hanya hewan spiritualnya tuan Sean. Aku tidak ingin bersikap lancang nyonya" ucap Li dengan tenang.


"Terimakasih atas sambutan kalian yang menerimaku. Aku permisi" Li langsung menghilang setelah berpamitan. Ia tidak ingin pembicaraan terus berlanjut. Biarlah masa lalu Li hanya dia yang tahu. Jika tuannya memintanya untuk menceritakan masa lalunya, ia akan dengan senang hati mengatakannya.


...»---♡---«...


Keesokan harinya, Leyna membuka mata. Ia merasa tubuhnya sangat lemas. Dengan sekuat tenaga Leyna berusaha mendudukkan tubuhnya dan menyender dikepala ranjang.


"Sayang kamu akhirnya bangun juga" Sapa Naira yang baru masuk kekamar Sean.


"Bunda" panggil Leyna.


"Iya sayang?"


"Apa bunda baik-baik saja? Aku tidak menyakiti bunda dengan serius kan?" tanya Leyna khawatir. Mengingat terakhir kali ia menyerang calon ibu mertuanya.


Naira tersenyum hangat "Bunda baik-baik saja sayang. Sean menghentikan kamu tepat waktu"


"Kak Sean dimana?"


Naira melihat kearah lain "Sean sedang ada urusan didunia immortal. Mungkin beberapa hari lagi baru kembali. Bunda akan beritahu dia kalau kamu sudah bangun jika urusannya sudah selesai" Naira terpaksa berbohong agar kesehatan Leyna cepat pulih.


Leyna mengangguk, ia mengerti jika tunangannya calon raja. Mungkin akan sibuk dari waktu ke waktu. Eyna harus sabar menanti kepulangan kekasihnya.


Naira menghela napas pelan. Ia lega jika Leyna percaya. Tapi ia juga merasa bersalah karena harus membohongi gadis lugu didepannya ini.


"Ah iya Leyna, apa kamu lapar? Bunda akan bawa makanannya kesini" tanya Naira mengalihkan pembicaraan.


Leyna mengangguk pelan "Iya bund. Aku merasa lapar. Tapi aku akan turun kebawah saja"


"Tidak sayang. Kamu masih sakit"


Terpaksa Naira menyetujui keinginan Leyna. Jika ia membiarkan Leyna larut dengan kesendiriannya, takutnya gadis itu akan teringat putranya lagi.


"Leyna kamu sudah sadar? Bagaimana keadaanmu?" Tanya Kenzie yang melihat istrinya turun bersama dengan Leyna.


"Aku baik-baik saja ayah" balas Leyna.


"Duduk disini sayang" ujar Naira mempersilahkan Leyna duduk di kursi yang biasa ditempati gadis itu.


"Kakak ipar, apa kamu benar sudah membaik? Wajahmu masih pucat" seru Zeline yang terus memperhatikan Leyna.


Leyna tersenyum tipis "Aku baik-baik saja"


"Jika diperhatikan, kakak ipar lebih cantik dari sebelumnya" celetuk Eshal membuat semua mata melihat Leyna.


"Benar juga. Tadi bunda tidak memperhatikan. Kamu sangat cantik sekali, sayang" kata Naira yang sadar jika Leyna tampak lebih cantik dari sebelumnya, meskipun wajahnya masih terlihat pucat.


"Kita makan dulu sebelum makanannya dingin" titah Kenzie dan setelahnya sarapan pagi di kediaman Alcander.


"Sayang kenapa tidak dimakan? kamu makan yang banyak ya biar cepat pulih" ujar Naira saat ia melihat Leyna hanya diam tak memakan makanannya.


"Kak Sean dimana?" tanya Leyna untuk yang kedua kalinya.


"Sean ada urusan Leyna. Nanti juga akan segera pulang" jawab Kenzie cepat.


"Kamu makan dulu ya biar kamu cepat pulih" lanjut Kenzie.


Leyna pun makan dalam diam. Ia bedusaha mengingat kejadian setelah ia menyerang Naira.


"Aku sudah kenyang. Terimakasih makanannya. Aku ingin istirahat sendiri" pamit Leyna setelah makanan dipiringnya bersih.


"Bukankah kak Leyna agak aneh?" celetuk Eshal setelah Leyna masuk kedalam kamarnya.


"Kamu benar. Darah iblisnya lebih mendominasi. Kalian ingat kemarin perkataan Leyna terdengar kasar bukan" jawab Kenzie.


"Kita tidak tahu, apakah Leyna tidak ingat kejadian kemarin atau Leyna berpura-pura tidak ingat. Kita harus berhati-hati" sahut Richard.


Semuanya mengangguk setuju.


Waktu terus berlalu. Hari terus berganti menjadi minggu.


Dimansion ditengah-tengah hutan terlarang seorang pria terbaring diatas ranjang king size. Kedua mata pria itu terpejam.


Di alam bawah sadarnya sosok naga terus memberikan energi miliknya pada jiwa tuannya dan jiwa wolf milik tuannya.


Selama seminggu Pria itu masih enggan membuka mata.


Serigala didepan naga itu perlahan membuka mata. 'Akhirnya kau bangun juga' ujar sang naga merasa sedikit lega.


Serigala itu tersenyum tipis 'Terimakasih sudah menjaga kami, Li' ucapnya dengan suara lemah.


'Apa yang kau ucapkan. Sudah kewajiban ku menjaga tuanku!' balas Li.


'Untuk sementara aku tidak bisa mengambil alih tubuh Sean. Kau ambil alih dulu untuk sementara. Setelah energiku kembali, aku akan ambil alih'


'Sesuai keinginanmu. Tapi aku tidak tahu harus bersikap seperti apa?'


'Tenang saja. Aku akan membantumu.'


Li hanya mengangguk saja.


...T.B.C...