
Disebuah apartemen berkumpul empat orang pria tampan. Wajah mereka tampak serius.
"Disetiap kali kaisar lahir, akan ada musuh dalam selimut! Kita harus segera menemukan siapa musuh itu!" ucap salah satu dari mereka.
"Yang dikatakan Arthur benar! Setiap kali kaisar terlahir, pasti akan ada pemberontakan dari dalam. Kita harus berhati-hati" jawab yang lainnya sambil menatap pria paling muda di antara mereka berempat dengan wajah sangat serius.
"Penghianat itu hanya mengincar kaisar dan permaisuri! Dia dan kaumnya pasti akan segera bertindak cepat atau lambat" timpal yang lainnya.
"Sedari dulu hanya satu klan yang selalu mengincar nyawa Kaisar dan Permaisuri! Klan Lucifer! Kita harus mengawasi klan tersebut, terutama pemimpinnya!" Lanjutnya.
"Mungkinkah dia yang akan menjadi tersangka?" tanya yang lain tak yakin.
"Percaya atau tidak, semua orang tidak akan pernah tahu apa yang dipikirkan otak dan hati seseorang seperti apa! Yang harus kita lakukan adalah memancing calon tersangkanya menunjukkan taringnya!"
"Ya ayah. Aku percaya dengan perkataan ayah. Tanpa ayah katakan aku sudah percaya dengan istilah itu. Aku tahu bagaimana cara memancingnya agar ia menunjukkan taringnya" balas pria yang paling muda diakhiri dengan seringai kejam.
"Apa rencanamu Sean?"
"Aku akan menggunakan Leyna sebagai umpan! Sebelumnya aku harus mempertemukan dia dengan ketiga anak itu! Setelahnya aku akan mengurung Leyna di mansion milik ayah di tengah hutan terlarang dan aku akan membangkitkan darah iblisku yang berada ditubuhnya!" Jelas Sean.
"Mengapa harus darah iblis dulu?" tanya sang ayah tak mengerti.
"Mungkin aku selalu menginginkan Leyna tetap lemah lembut dan berhati mulia. Tetapi, menjadi lemah lembut dan berhati mulia tidak akan cukup untuk mendampingiku kelak! Dia juga harus bisa tegas! Pemberani! Dan yang pasti harus bisa melindungi dirinya sendiri! Aku tidak akan bisa bersama dengannya seharian penuh! Dengan membangkitkan darah iblis terlebih dahulu, dia akan memiliki keberanian!" Sean menjelaskan sambil memikirkan gadisnya sedang melakukan apa.
"Lalu rencana selanjutnya apa?"
"Saat kekuatan darah iblis terbangkitkan sepenuhnya, Leyna akan kehilangan kendali. Mungkin aku akan melawannya dan membuat energinya habis meskipun itu juga akan membuat energiku terkuras juga."
"Setelah Leyna kehabisan energi dan pingsan, aku akan menyegel energiku agar aku tetap tidak sadarkan diri. Meskipun itu sangat menderita bagiku. Disaat aku sedang koma, kalian berpura-pura lah menyalurkan energi kalian padaku dan biarkan pria itu ikut melakukannya juga, meskipun usaha kalian akan sia-sia. Hanya Leyna yang tahu bagaimana membuatku sadar kembali. Aku akan memberikan sedikit sinyal padanya, bagaimana aku bisa sadar kembali"
"Selama aku koma, kalian buat alasan yang pastinya membuatnya curiga bahwa ia tengah dibohongi. Jika sudah waktunya tiba, aku yakin perasaan gadis itu yang merasa dibohongi akan meledak. Kemudian dengan memanfaatkan sikap kekanak-kanakan Leyna, pria itu pasti akan muak dengan sikapnya kemudian mengusirnya keluar. Aku paham seperti apa sifat pria itu! Dia sangat membenci sikap yang kekanak-kanakan dan penakut, apa lagi yang tak bisa diatur!"
"Setelah Leyna diusir, aku yakin Jika pria itu akan segera menunjukkan taringnya sedikit demi sedikit" dan aku yakin salah satu di antara kalian pasti akan menjaga gadisku. Lanjut Sean dalam hati.
"Jangan lupa untuk mengawasi Eshal!" kata Sean mengakhiri ucapannya.
"Lalu bagaimana caranya agar dia bisa tertangkap dan dihukum berat? Pastinya dia akan bermain bersih."
"Kau tak perlu khawatir Arthur. Aku akan melakukannya dengan caraku sendiri. Aku pastikan dia akan sangat menderita jika menyinggungku!" jawab Sean dengan dingin.
Sean kembali mengingat ketika Leyna mati terbunuh karena ditangkap oleh klan penyihir. Tidak mungkin klan penyihir bisa keluar masuk portal dunia manusia ke immortal! Pasti ada yang membawa gadisnya melewati portal sehingga gadisnya berada di immortal kemudian ditangkap.
Tangan Sean mengepal dengan erat menahan amarah sehingga tubuhnya sedikit bergetar. Artur menepuk pundak Sean agar kembali tenang. Akan sangat tidak lucu jika Sean mengamuk didunia manusia!.
"Ada apa Sean?" tanya Sang ayah, Kenzie.
"Tidak ada." jawab Sean singkat.
Kening Rafael mengerut "Kedua kali?"
"Ya! Sebelumnya dia pernah membuat Leyna mati! Meskipun bukan dia yang membunuh Leyna"
"Apa maksudmu Sean?" tanya Arthur tak mengerti. Leyna baik-baik saja bukan?.
"Aku tak bisa jelaskan sekarang" kata Sean kemudian berdiri.
"Mau kemana?" Tanya Kenzie.
"Aku akan kembali dan memulai rencanaku. Sebaiknya kalian jangan terlalu ikut campur masalah ini, biarkan aku yang akan melakukannya. Kalian hanya perlu membantuku seperti apa yang sudah aku jelaskan. Aku sangat mengerti paman Richard!" Sean juga tidak mengatakan jika ketika dia masih kecil sampai beranjak dewasa, Richard akan mengambil darahnya satu bulan sekali dengan alasan untuk donor darah. Tapi sepertinya Sean sudah tahu apa yang pria itu lakukan dengan darahnya. Ketika Sean ingin kekamar Richard, Sean mendengar perkataan Richard yang membuatnya merasa dibohongi dan dikhianati! Namun ia tetap memilih berpura-pura seperti biasanya agar bisa mengawasi orang yang sudah merawatnya dari bayi.
"Aku pergi" pamit Sean kemudian menghilang.
Kini tersisa Kenzie, Rafael dan Arthur.
"Rafael aku minta padamu untuk menjaga Leyna setelah pergi dari rumah itu. Mungkin saja dia akan menyakiti calon menantuku! Dengan kamu yang menjaganya dari kejauhan, Leyna akan aman ditanganmu" minta Kenzie pada Rafael.
"Kakak tenang saja. Tanpa kakak minta, aku pasti akan menjaga permaisuri dengan nyawaku sendiri. Sudah menjadi tugas klan fairy untuk menjaga permaisuri"
"Terimakasih Rafael" kata Kenzie sembari tersenyum.
Kenzie menatap Arthur "Aku akan minta tolong padamu pangeran Arthur untuk menjaga Sean selalu ketika dia tidak sadarkan diri nanti. Takutnya Richard akan melakukan tindakan secara diam-diam yang dapat merugikan kita!"
Arthur mengangguk "Yang Mulia jangan khawatir, saya akan selalu menjaga pangeran sama seperti sebelumnya. Akan saya pastikan tuan Richard tidak akan menyentuh pangeran." jawab Arthur dengan tegas.
"Terimakasih Arthur"
"Sudah menjadi kewajiban hamba Yang Mulia" balas Arthur sambil sedikit membungkukkan badannya yang masih dalam posisi duduk seperti tadi.
"Aku mengandalkan kalian untuk menjaga calon kaisar dan permaisuri. Untuk kedua putriku terutama Eshal, aku sendiri yang akan melindungi mereka"
"Baik kak" "Baik Yang Mulia" jawab Rafael dan Arthur bersamaan.
"Kita harus berhati-hati dengan tindakan kita! Jangan sampai membuatnya curiga" ucap Kenzie sebelum pergi.
"Aku juga akan pergi. Aku akan menyiapkan semuanya agar Leyna bisa hidup dengan baik ketika ia sudah keluar dari rumah itu"
Arthur mengangguk "Aku juga akan kembali menemui pangeran"
...»---♡---«...
...T. B. C...