Immortal Reingcarnation

Immortal Reingcarnation
S2 - Ketakutan Leyna



Pagi ini Leyna tengah duduk di taman bunga milik mendiang Nyonya Jeslyn yang tak lain adalah milik ibunya.


Leyna duduk termenung ditemani seorang pelayan yang lebih muda darinya.


Sudah satu bulan ia tinggal Dimansion itu. Semua barang-barang yang penting sudah tertata rapi dikamarnya.


Seorang pria mendekat ke arah taman. Pelayan yang melihat pria itu datang, lantas pergi meninggalkan taman.


Pria itu duduk disamping Leyna yang masih belum menyadari kedatangannya.


"Sepertinya kau sangat sibuk nona" seru nya mengagetkan gadis disampingnya.


"Om Raf" ujar Leyna yang sudah mengendalikan rasa kagetnya.


"Apa yang kau lamunkan?" tanya Rafael.


"Apa kau tidak merindukan dia?" tanyanya lagi karena gadis disampingnya hanya diam saja.


"Dia saja tidak mencariku. Mungkin saja dia sudah mendapatkan pengganti ku" lirih Leyna menundukkan kepalanya.


Rafael mendongakkan kepalanya menatap birunya langit dipagi hari. "Bagaimana jika dia merindukanmu dan tengah mencarimu?"


Lagi, Leyna lebih memilih bungkam.


"Apa kamu tidak ada niat untuk kembali?"


"Kamu masih sakit hati dengan perkataan kak Richard?"


"Arga bilang padaku, pria itu datang untuk membunuhmu. Artinya dia sudah berkhianat!"


Rafael menoleh kearah Leyna yang masih menunduk "Aku tahu jika kau sudah bisa mengendalikan kekuatanmu. Sudah saatnya kamu kembali Leyna"


"Aku tidak ingin kembali. Aku tidak ingin menyakitinya lagi seperti dulu" lirih Leyna.


"Biarkan aku disini saja. Tempatku disisi kak Arga lebih aman dibanding bersama dengannya" lanjutnya.


"Sudah enam tahun kalian berpisah. Sean sangat membutuhkanmu Leyna. Dia belum pulih sepenuhnya."


"Aku tahu. Yang bisa kulakukan hanya bisa mendoakannya saja"


"Kedatanganmu sangat dinanti semua orang. Bahkan Sean lebih menantikan kehadiranmu"


"Para tetua dan Raja para klan terus mendesak Sean untuk mengangkat seorang permaisuri. Apakah kamu tidak khawatir jika dia menikah dengan orang lain"


Perkataan Rafael sangat menyinggung perasaan Leyna. Bisa dilihat dari warna matanya yang sekarang sudah berubah semerah darah!. Rafael bisa melihat itu walau hanya sekilas.


Dalam hati Rafael tersenyum setelah melihat reaksi gadis itu. Sudah cukup perpisahan mereka berlangsung. Sudah saatnya kedua orang itu harus bersatu kembali. Batinnya.


"Aku tidak peduli" kata Leyna dingin.


Gagal! Rafael gagal membuat gadis itu memiliki keinginan untuk kembali.


Sepertinya ia harus memberikan sedikit waktu untuk permaisuri kerajaan immortal. Dengan berat hati Rafael pamit meninggalkan Leyna sendirian.


Sepeninggal Rafael, isak tangis keluar dari bibir Leyna. Ya! Leyna menangis. "Aku tidak bisa kembali. Jika aku kembali semuanya akan ia hancurkan. Kalian semua akan tiada" bisiknya sambil terus menangis.


Pelayan muda tadi kembali ke taman setelah Rafael pergi. Ia melihat bahwa nona mudanya menangis. Segera ia menemui tuan mudanya yang berada diruang kerjanya.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu yang terus menerus membuat Arga mengalihkan perhatiannya dari dokumen ditangannya. Ia berdiri lalu berjalan mendekati pintu.


"Ada apa?" tanya Arga datar setelah membuka pintu.


"Anu... Itu tuan..."


"Atur nafasmu dulu" perintah Arga namun pelayan muda didepannya malah menggeleng.


"Nona... Nona menangis tuan" lapornya dengan deru napas yang masih memburu. Tidak ada waktu baginya untuk menenangkan diri.


Dahi Arga mengerut "Manangis bagaimana?"


"Setelah kepergian tuan Rafael, saya kembali untuk menemui nona. Tapi saya melihat nona menangis"


Mendengar hal itu ia segera berlari menuju lift. "Ikut aku" perintahnya ada peayan itu. Dengan ragu pelayan itu mengekor dibelakang Arga.


Ting


Pintu lift terbuka. Arga dengan cepat masuk kedalam lift disusul pelayan pribadi adiknya.


Dengan terburu-buru Arga menekan tombol lift menuju lantai bawah meskipun pelayan itu baru masuk kedalam lift. Setelah sadar jika Arga seperti dalam posisi tengah memeluk gadis didepannya, ia segera mundur sambil menoleh kesamping. Sekilas terdapat semburat merah dipipinya. Sedangkan pelayan tadi diam menunduk takut.


Ting


Pintu lift terbuka. Arga segera melesat menuju taman meninggalkan pelayan tadi.


"Ayah!"


"Ada apa Moira? Mengapa tuan berlari dengan wajah khawatir?" tanya pria itu ketika ia melihat heran tuannya berlari dengan gelisah.


"Nona menangis, aku memanggil tuan. Tapi sepertinya aku sudah membuat tuan khawatir"


"Nona menangis? Mengaa ia menangis?" tanya kepala pelayan bingung.


Gadis bernama Moira itu menggeleng "Aku tidak tahu ayah. Setelah tuan Rafael pergi, aku menemukan nona dalam keadaan menangis"


"Maaf ayah, aku harus kembali ke taman"


"Tidak Moira! Jangan pernah ikut campur dengan masalah keluarga ini!" cegah kepala pelayan yang merupakan ayah dari Moira.


Kening gadis itu mengernyit bingung "Memangnya mengapa ayah? Aku juga tidak akan ikut campur dengan urusan keluarga tuan"


"Sudahlah. Kembalilah ke kamarmu. Kamu akan dipanggil lagi jika nona membutuhkanmu."


»---♡---«


Di taman.


Bisa ia lihat, adiknya tengah menangis di taman seorang diri. Terlihat seperti menderita.


Dengan segera Arga membawa adiknya ke pelukannya. "Mengapa kamu menangis adikku? Apa yang membuatmu menangis seperti ini?!"


"Ka-kak..."


"Aku ti-dak... ingin kem-bali...hiks"


"Kamu akan tetap disini sayang"


"Jika... Aku kembali... Hiks... Semuanya akan hiks... Hancur..."


Pikiran Arga berpikir keras, apa maksud dari perkataan adiknya itu?!.


"jika aku... Hiks... Mati... Dia akan... Meng-han-curkan... Hiks semuanya... "


"Kalian semua akan binasa... Huhuhu..."


"A-apa maksudnya? Kamu akan tetap hidup. Kita semua akan tetap hidup!" ucap Arga sambil mengeratkan pelukannya. Kali ini Arga benar-benar dibuat kebingungan sekaligus takut.


Beberapa saat kemudian, Leyna sudah tenang. Ia tertidur.


Arga membaringkan Leyna ditempat tidurnya. Dibelainya rambut lembut adiknya. "Apa sebenarnya maksudmu Nana, mengapa kita semua akan binasa jika kamu kembali kepadanya"


"Apa aku tanya padanya saja?!"


Dikamarnya Arga segera menelfon Rafael, ia ingin bertemu dengannya secara langsung untuk membahas masalah perkataan Leyna.


"Aku ingin bertemu secepatnya" ucapnya setelah telfon terhubung.


"........."


"Ini mengenai masalah Nana"


"........."


"Alasan mengenai kenapa dia tidak ingin kembali"


".........."


"Ya" Arga menyimpan kembali ponselnya lalu pergi ke ruang kerjanya.


Arga membuka pintu ruang kerjanya kemudian masuk dan menutup pintu kembali, tak lupa ia juga menguncinya.


Didalam ruangan, Rafael sudah duduk di single sofa. "Kedatanganku tadi ingin meyakinkan dirinya agar mau kembali. Tapi ia menolaknya dengan dingin dan terkesan tidak peduli" kata Rafael saat Arga sudah duduk dihadapannya setelah menyiapkan minuman dingin yang sudah tersedia didalam ruangan itu.


"Setelah kepergianmu, dia menangis tersedu, dia terlihat sangat menderita" ucap Arga dengan tangan menyentuh pangkal hidung mancungnya dan pandangan menatap kebawah.


"Dia berkata jika dia tidak ingin kembali. Jika dia kembali semuanya akan hancur. Jika dia mati maka semua orang di dunia immortal akan musnah"


"Aku tidak mengerti maksud perkataannya apa. Memangnya siapa yang akan membunuhnya? Siapa yang akan melenyapkan kita semua?"


Tap


Rafael menyentuh pundak Arga. "Jangan terlalu dipikirkan. Kami sudah merencanakan semuanya dari awal hingga akhir. Kaisar juga terlibat dalam masalah ini."


...»---♡---«...


...Tbc...