
Disinilah Sean membawa Leyna. Tepi pantai dengan tiupan angin yang menyejukkan ditambah dengan ombak yang tak terlalu besar disertai dengan pemandangan alam yang memanjakan mata. Ketika Leyna turun dari mobil, ia langsung berlarian menghampiri bibir pantai kemudia bermain air. Anggap saja ia tak pernah kepantai, tapi kenyataannya Leyna memang tidak pernah kepantai.
Sean tersenyum tipis melihat tingkah ajaib kekasih kecilnya. Sean juga senang melihat gadis kecilnya tertawa bahagia.
"Kak Sean kemarilah" ajak Leyna dengan melambaikan tangannya. Sean pun menghampirinya dan setelah berada didepannya tiba-tiba Leyna menyiramkan air ke arah Sean yang membuat Sean terkejut.
Melihat Kekasihnya yang tengah berlari sambil tertawa riang setelah menyiramnya dengan air laut Sean pun berlari mengejar gadis kecilnya yang nakal. mereka terus berlarian tanpa mempedulikan pengunjung lainnya yang sedari tadi menyaksikan tingkah mereka.
"Ketangkap" seru Sean setelah berhasil menangkap tubuh mungil itu dan mereka pun tertawa bersama.
"Kakak aku ingin membuat istana pasir" kata Leyna yang masih dipelukan Sean.
"Baiklah, kita buat istana yang megah"
Setelah acara berlarian saling kejar-kejaran yang membuat lelah, mereka pun membuat istana pasir bersama. Sean terus memandang wajah mungil yang terlihat bahagia meskipun apa yang mereka lakukan tidak seberapa. Bahagia itu sederhana ya kan.
Ketika mereka lagi asik membuat istana pasir yang hampir selesai, seorang wanita menghampiri mereka. "Wah istana kalian bagus" ujarnya menghentikan Leyna membuat istana pasirnya yang hampir jadi. sedangkan Sean hanya acuh.
"Ah iya kak" balas Leyna sambil tersenyum ramah.
"Kamu kesini sama kakaknya?!" tanya wanita itu basa-basi.
"Iya, saya kesini hanya berdua dengan kak.... —"
"Sayang kamu masih belum makan siang loh. nanti kalau kamu sakit bagaimana? aku tidak ingin dihari pernikahan kita kamu jatuh sakit" ujar Sean sengaja ketika ia tahu maksud wanita tadi mendekati mereka dan kekasih kecilnya malah dengan polosnya menjawab wanita itu.
"Ah iya kak, kebetulan aku juga sudah lapar" balas Leyna menatap Sean sambil tersenyum.
"Aku sudah bilang sama kamu, jangan panggil aku kakak. Itu bisa buat orang lain salah paham, sayang" pesan Sean seakan mengingatkan.
Leyna hanya tersenyum "Iya Honey" ucapnya malu-malu.
Melihat kemesraan dua sejoli itu, wanita tadi mendengus kesal karena merasa terabaikan kemudian ia pergi begitu saja melupakan niatnya tadi yang ingin mendekati pria tampan yang sedari tadi ia perhatikan.
Setelah makan siang, Sean mengajak Leyna pergi ke pusat perbelanjaan yang tak jauh dari pantai. "Kita ngapain kesini kak?" tanya Leyna penasaran.
"Apa lagi kalau bukan berbelanja sayang" jawab Sean santai.
"Belanja?" tanya Leyna lagi.
Sean menghentikan langkahnya. Kedua tangannya menangkup pipi Leyna gemas. "Kita akan belanja semua yang kamu butuhkan. Kamu tinggal pilih mau yang mana, nanti paman Richard yang membayarnya" jelas Sean santai.
Mata Leyna melotot "Kok bisa om Richard yang bayar? Kan seharusnya kakak!" protesnya.
Sean terkekeh geli "Iya sayang, yang bayar nanti aku bukan paman Richard kok. Tadi aku hanya bercanda saja"
"Sekarang kita beli perlengkapan sekolah kamu dulu" lanjut Sean membuat mata indah itu berbinar sambil menatap kearahnya.
"Sungguh? Apakah aku akan bersekolah?" tanya Leyna bersemangat. Memastikan apa yang dikatakan Sean benar atau tidak.
"Iya sayang. Kamu jangan khawatir. Aku sudah mengatur semuanya. Melihat dari kecerdasan kamu, aku bisa membuat kamu langsung kelas 12" jeas Sean lagi diakhiri dengan senyum hangatnya.
Leyna memanyunkan bibirnya "Kok langsung kelas 12? Aku juga ingin....-"
"Tidak sweet heart. Aku ingin kita segera menikah!" putus Sean.
"Tapi aku masih umur 15 tahun" lirihnya sambil menundukkan kepalanya.
'Ah iya aku lupa soal umurnya. Sepertinya aku masih harus menunggu sampai usianya 17 tahun. Tapi jika 17 tahun, masih terlalu muda ya.' pikir Sean.
"Baiklah. Aku akan atur semuanya. Mungkin kamu bisa langsung kelas 11"
"Atau tidak sama sekali sayang" lanjut Sean saat Leyna ingin protes.
Pada akhirnya Leyna hanya bisa menuruti keinginan Sean. Setidaknya Leyna bisa mencicipi bangku sekolah.
Mereka berdua berbelanja mulai dari kebutuhan sekolah Leyna, kebutuhan sehari-hari, entah itu kebutuhan mandinya atau skincare untuk perawatan dan Sean juga mengajak Leyna ke butik miliknya.
Selesai makan malam Sean mengajak Leyna pulang. Dalam perjalanan pulang didalam mobil hanya ada keheningan.
Sean menggendong Leyna yang sudah tertidur waktu perjalanan pulang. Diletakkan tubuh Leyna secara perlahan.
...»---♡---«...
Tap
Tap
Tap
Suara langkah kakinya menggema saat ia menelusuri lorong itu.
Ceklek
Semua orang yang berada didalam ruang singgasana menoleh kearahnya.
"Sean Alexis Maximus memberi salam pada ayahanda" ucap Sean dingin.
"Apa yang membawamu kemari putraku?" tanya Kenzie.
"Apa ayah tidak ingin menanyakan kondisiku terlebih dahulu?" cibir Sean datar.
Kenzie tertawa "Putraku. Ayah percaya padamu, bahwa kamu bisa menjaga diri dengan baik"
Sean tersenyum tipis.
"Aku hanya ingin mengatakan kalau aku ingin mengundur upacara pengangkatanku sabagai Kaisar" ujar Sean langsung.
Kenzie tersenyum "Ayah tahu jika kamu masih belum siap menjadi Kaisar. Bukan karena kamu tidak mampu, tapi ada hal lainnya bukan" kata Kenzie tenang.
Sean mengangguk sekilas "Ayah benar. Aku ingin fokus padanya dulu. Jika dia sudah terbangkitkan sepenuhnya, dan jika dia sudah siap menjadi ratu, aku akan melakukan pengangkatan sebagai Kaisar"
"Sean apa kamu akan kembali sekarang?" Tanya Kean.
"Ya paman. Ada apa?"
Kean menggeleng "Aku hanya ingin menanyakan kabar sepasang suami istri benama Louis Effron dan Shaila Effron. Kamu tahu mereka kan?" tanyanya.
"Maksud paman, kakek dan nenek? Aku sering berkunjung kesana"
"Mereka baik-baik saja" lanjut Sean.
Kean mengangguk puas. Ia percaya jika keponakannya itu bisa menjaga orangtua angkatnya.
"Aku ingin bertemu dengan mereka. Dan aku juga merindukan suasana sekolah" ujar Rafael sambil menatap Kenzie.
"Aku mengerti. Jika kalian sudah menyelesaikan tugas kalian, kalian bisa pergi kedunia manusia secara diam-diam" kata Kenzie membuat semua orang yang berada disana bersorak gembira.
Kenzie dan Richard hanya bisa menggelengkan kepala heran dengan perilaku mereka.
...»---♡---«...
"Sayang bangun sudah pagi" bisik Sean tepat didepan telinga Leyna.
Leyna menggeliat kemudian membuka matanya. Mata Leyna berkedip beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya.
"Selamat pagi sayang" ucap Sean sambil tersenyum lembut lalu mengecup kening Leyna.
"Emmm... Selamat pagi kak" balas Leyna dengan suara khas bangun tidur sambil tersenyum.
...»---♡---«...
...T.B.C...