Immortal Reingcarnation

Immortal Reingcarnation
S2 - Yang Dirasakan Kaisar



Setelah kepergian Leyna. Sean bukannya berubah menjadi baik, tapi malah semakin menjadi.


Hampir 10 tahun Sean menjadi pribadi yang sangat kejam, bengis dan tanpa ampun. Bahkan terhadap keluarganya tidak pandang bulu jika berbuat sedikit kesalahan saja akan ia hukum dengan tidak boleh diberi makan selama sebulan penuh juga tidak boleh dikunjungi oleh siapapun dikamar mereka. Kecuali ayah dan bundanya yang hanya dikurung didalam kamar terpisah selama sebulan dan tidak boleh dikunjungi siapapun. Mereka tetap diberi makan seperti biasa dan pelayan yang mengantar makanan tersebut.


Hal itu membuat Naira sering jatuh sakit karena perilaku putranya yang sudah diluar kendali.


Bahkan Alex sudah lama tidak menunjukkan dirinya pada Sean semenjak Leyna pergi. Sean tidak peduli akan hal itu.


Bulan bersinar dengan terang. Didalam kamar mewah yang gelap gulita, kaisar tidur dengan nyenyak setelah ia berlatih pedang sampai benar-benar membuatnya kelelahan dan akhirnya tertidur.


Tak lama kemudian mata tajam kaisar kembali terbuka memperlihatkan manik mata berwarna emas menyala terang. Alex mengambil alih tubuh Sean yang pemiliknya masih terlelap.


Alex bangun dari tidurnya. Berganti pakaian menjadi lebih santai lalu keluar kamar.


Semua prajurit dan pelayan yang melihat kaisar keluar kamar langsung membungkuk takut. Alex terus berjalan tanpa menghiraukan sekitarnya. Tujuannya saat ini adalah menemui ayahnya.


Sesampainya dikamar orang tuanya, Alex mengetuk pintu tergesa.


Kenzie dan Naira yang masih terlelap terbangun mendengar ketokan pintu yang terdengar terburu-buru.


Kenzie membuka pintu kamar mereka. Ia melihat punggung putranya.


"Sean kamu... Alex!" Kenzie terkejut melihat manik mata berwarna emas itu.


"Masuklah" ajak Kenzie.


Alex menurut lalu ikut masuk. Kenzie menutup pintu dan menguncinya.


"Alex kami sangat merindukanmu" ujar Kenzie memeluk Alex.


"Aku juga merindukan kalian" Alex membalas pelukan Kenzie.


"Alex apa itu kamu nak?" suara lembut terdengar ditelinga Alex.


Alex menghambur memeluk bundanya. "Bunda ini Alex"


"Mengapa bunda menangis. Maafkan kelakuan Sean selama ini. Aku juga tidak tahu mengapa dia bisa berubah drastis." ucap Alex sambil mengusap air mata bundanya.


"Bunda ingin sekali memeluk kalian. Tapi Sean seakan tak tersentuh"


"Sayang biarkan dia duduk dulu" kata Kenzie.


Mereka pun duduk disofa empuk yang berada didalam kamar.


"Bagaimana dengan Sean" tanya Kenzie setelah mereka duduk.


"Sean sedang tertidur. Dia kelelahan karena latihan berpedang" jelas Alex.


Kenzie mengangguk mengerti "Itu sebabnya kamu terlihat kelelahan"


"Baiklah apa yang ingin kamu katakan pada kami" tanya Kenzie langsung agar Alex bisa segera beristirahat.


"Setelah kepergian Leyna, aku memilih bersembunyi dan membiarkan Sean begitu saja. Aku bersembunyi karena mendapat dorongan dari tubuh ini. Aku juga merasakan ada yang aneh dengannya. Tapi aku tidak tahu mengapa"


"Coba jelaskan apa yang kamu rasakan sekarang"


Alex memandang Kenzie lama kemudian berkata "Aku merasa tubuh ini remuk seperti habis dipukuli dengan keras dan kuat. Aku juga merasakan panas yang sangat kuat, tapi dipermukaan kulit tubuh ini suhunya normal." jelas Alex.


Kali ini aku merasa ingin menangis. Apa Leyna baik-baik saja. Lanjut Alex dalam hati.


Kenzie menatap Naira yang juga sedang menatapnya.


"Yang kamu alami pasti efek dari.... " ucapan Kenzie terhenti saat melihat salah satu warna mata milik Alex berubah merah. Sean terbangun!.


Naira memeluk suaminya saat melihat mata milik Sean.


"Akhirnya kau muncul juga setelah sekian lama! Betapa sulitnya aku membuatmu keluar dari persembunyian mu didalam sana!" ujar Sean dingin kepada Alex.


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti" balas Alex.


"Cih! Seorang pengecut tidak akan tahu bagaimana rasa derita yang kualami!" Sean berdecih kesal.


"Kau ingin tahu apa yang kurasakan?" tanya Sean pelan.


"Apa kau tahu alasanku untuk segera mengikat mate kita, Alex?"


"Tunggu matahari terbit dan kau akan mengetahuinya" lanjut Sean dingin.


"Berdiri bod*h! Kita kembali ke kamar!" Alex geram karena di ejek oleh Sean. Dengan terpaksa Alex mengikuti perkataan Sean.


Saat ingin pergi Naira menghentikan Sean/Alex.


"Biarkan Alex disini malam ini" pinta Naira.


"Tidak sayang. Biarkan mereka pergi. Alex harus tahu apa yang selama ini terjadi pada Sean" cegah Kenzie. Malam ini putranya harus beristirahat.


"Tapi"


"Kalian pergilah" kata Kenzie.


Sesampainya dikamar. Sean/Alex langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang empuk.


"Jangan berani kau menghilang lagi. Atau aku akan menyegelmu selamanya!" ancam Sean sebelum akhirnya mereka terlelap.


KeEsokan paginya terdengar suara teriakan dari kamar kaisar. Semua orang panik mendengar teriakan dari dalam kamar.


"Apa yang terjadi, dad? " tanya Zeline yang juga mendengar suara teriakan itu.


"Kalian jangan kemana-mana. Tetaplah disini"


"Zeline dengarkan daddy! Kak Sean sekarang sangat berbahaya. Daddy tidak ingin kalian celaka!"


"Vano, Li jaga mereka" pinta Kenzie pada Vano dan Li yang baru saja sampai.


Keduanya mengangguk patuh "Baik dad" balas mereka bersamaan.


Li dan Eshal sudah menikah dan sudah dikaruniai seorang putra yang sangat tampan namanya Zhuang Li yang sudah berusia 8 tahun.


Sedangkan Vano dan Zeline juga sudah menikah dan memiliki putra tak kalah tampan namanya Pietro Hemsworth yang berusia 6 tahun.


Kenzie sampai didepan kamar kaisar. Teriakannya terus terdengar semakin keras.


"Dimana yang lain?" tanya kenzie pada salah satu prajurit saat ia tidak menemukan siapapun diluar.


Prajurit itu membungkuk hormat "Menjawab yang mulia, Pangeran Kean, yang mulia Rafael dan tuan Alvian berada didalam"


"Apa mereka yang menyuruh kalian?"


"Benar yang mulia" jawab prajurit itu.


Suara lolongan serigala terdengar keras.


"Tetap waspada" Kenzie masuk kedalam kamar kaisar. Terlihat ketiganya sedang memasang rantai sihir ditubuh serigala berbulu putih keperakan.


"Kakak tolong bantu kami. Alex ingin keluar dari kamar!" teriak Kean yang melihat kakaknya masuk dengan terburu-buru.


Kenzie mendekati Alex yang berubah menjadi serigala berukuran sangat besar.


"Alex tenanglah. Jika kamu lepas kendali, akan sangat rumit masalahnya nanti." ucap Kenzie pelan sambil mengusap lembut moncong Alex.


"Kenapa rasanya sangat sakit, panas sekali" rintih Alex.


"Biarkan Sean mengambil alih"


Alex menggeleng lemah "Aku tidak bisa. Dia tidak mau keluar dan aku juga ingin menanggung apa yang dideritanya selama ini"


Tak kehabisan akal Kenzie kembali berkata "Sean apa kamu mau Alex lepas kendali dan pergi keluar dari sini? Dia akan membuat masalah besar nantinya. Apa kamu tahu jika kaum Werewolf yang sedang kesakitan juga diliputi hasrat yang besar? Aku yakin jika Alex berhasil keluar dari sini, maka dia akan mencari Werewolf betina diluar sana!"


Benar saja. Setelah kenzie berkata demikian, warna mata sebelah kanan serigala itu berubah warna menjadi merah darah.


Sean kembali mengambil alih tubuhnya sepenuhnya, ia membiarkan Alex istirahat. Tubuh serigala itu berubah menjadi tubuh manusia.


'Apa sekarang kau tahu mengapa aku memilih bersikap kejam? Agar aku bisa mengalihkan rasa sakit yang teramat sangat itu! Gadis itu juga tidak tahu apa yang aku alami selama tubuh ini tidak memiliki tubuhnya seutuhnya" mindlink Sean ke Alex.


Alex menunduk didalam sana. Rupanya selama ia bersembunyi dirinya tidak tahu apa yang terjadi pada Sean. Kekecewaannya terhadap Sean yang begitu besar sudah membutakannya sehingga melewatkan apa yang seharusnya ia rasakan juga. Tapi Sean lebih memilih mendiamkan serigala itu.


'Aku menunggunya sampai dia benar-benar siap menikah dan menjadi permaisuri di kerajaan ini. Apa aku salah karena aku tidak ingin menemuinya dengan cepat? Aku hanya ingin memberikan dia waktu untuk bersama dengan kakaknya. Kamu pikir, apa aku ini egois? Sudahlah. Aku akan fokus untuk mengalihkan rasa sakitku ini" sambung Sean lirih. Sungguh Alex tidak mengerti isi pikiran Sean.


Kenzie menutupi tubuh Sean yang tanpa sehelai benang dengan selimut tebal yang sudah tergeletak di lantai marmer berlapis emas murni.


Mata tajam milik Sean terbuka, terlihat iris matanya berwarna merah darah.


Sean berdiri setelah menggunakan pakaian lengkap menggunakan sihirnya.


Sean melihat ayahnya datar. Tidak ada tatapan dingin lagi.


Kenzie melangkah mendekati putranya, ia menepuk pundak putranya. "Sudah cukup penderitaanmu Sean, Jemputlah dia. Bawa permaisurimu ke istanamu ini"


Tak ada tanggapan yang berarti dari Sean. Pria itu malah melangkah pergi.


"Bersihkan kekacauan didalam!" perintah Sean pada Arthur yang berdiri diluar kamarnya. Arthur baru kembali dari dunia manusia untuk mengawasi mate Sean. Kepulangan Arthur kali ini membuatnya begitu terkejut, pasalnya ia mendengar teriakan junjungan nya dari ribuan mil jauhnya. Sehingga membuat Arthur langsung melesat menuju istana.


Kenzie hanya menghela napas pasrah. Dia tidak tahu harus melakukan apa untuk putranya.


Putranya berubah menjadi tak tersentuh saat ia tahu jika orang yang merawat nya sejak bayi adalah musuh dalam selimut dan sampai sekarang mereka juga tidak tahu dimana keberadaan tangan kanan Richard, seakan pria itu menghilang ditelan bumi.


"Menjadi kaisar tidaklah mudah! Berbeda dengan kedudukan seorang lord biasa. Seorang kaisar harus mampu melawan dirinya sendiri tanpa belas kasihan. Bisa dilihat dari perubahan Sean yang seperti tidak merasakan apapun. Padahal dia sedang menahan rasa sakit yang dia alami" ujar Rafael setelah keberadaan Sean tidak terlihat.


"Putraku sangat tangguh! Aku tidak tahu harus bersyukur atau bersedih dengan keadaannya saat ini" sahut Kenzie lalu melangkah keluar.


Kini tinggal tersisa Kean, Rafael dan Alvian.


"Hmm... Sepertinya yang jomblo tersisa kita bertiga nanti" ucap Kean usil.


"Dan dia" Sambung Kean ketika Arthur masuk ke kamar.


Arthur hanya mengangkat bahu tidak peduli.


"Wajahku tampan, aku bisa mendapatkan perempuan yang aku mau. Tapi aku tidak tertarik" Kean bergidik mendengar perkataan Arthur.


"Kau gay?!" Arthur melotot tak terima.


"Heh! Kau kira aku suka sesama jenis?! Aku masih waras! Aku masih belum menemukan perempuan yang bisa aku pilih untuk ku jadikan istri. Aku itu pangeran dari klan penyihir, tidak perlu merisaukan soal mate. Kami bebas memilih siapapun, berbeda dengan kalian hahaha....."


Perkataan Arthur sungguh membuat orang lain kesal. Kean hanya bisa memutar mata malas, Rafael dan Alvian memandang Arthur datar. Tapi perkataannya juga tidak salah.


"Maaf pangeran, king Fairy dan tuan. Aku ingin membersihkan kekacauan di kamar tuanku"


"Kau mengusir kami?"


"Bukan maksudku mengusir kalian, pangeran. Aku ingin membereskan kekacauan ini sebelum kaisar kembali.


"Sudah Kean. Kita pergi sekarang" Rafael


...»---♡---«...


...Tbc...