I'M Lord Vampire

I'M Lord Vampire
88



Saat sampai di kota, Alex terkejut melihat keadaan kota yang sudah hancur dan semua bangunannya rata dengan tanah.


"Apa yang terjadi?" gumam Alex.


"Alex, kau terlambat" ucap Sean.


"Maaf"


"Tidak banyak korban dalam penyerangan ini, tapi hampir semuanya terluka, dan aku sudah memindahkan mereka ke Mansion ku, dan aku juga membuat sebuah tempat khusus di halaman Mansion untuk menjadi tempat pengungsian karena satu-satunya yang masih utuh adalah Mansion milikku" ucap Sean dan hanya mendapat anggukan dari Alex.


Alex langsung mengikuti Sean untuk pergi ke Mansion.


Terlihat ada banyak tenda yang didirikan di halaman Mansion Sean, Setiap tenda juga berbeda warna.


Merah untuk orang-orang yang terluka parah, kuning untuk luka cukup parah, hijau untuk luka ringan, dan biru untuk orang yang tidak terluka.


"Orang-orang di kota ini sangat mendukung manusia dan non manusia untuk tinggal bersama karena mereka sudah terbiasa untuk bersama non manusia selama ini karena kota mereka dekat dengan dimensi kita, dan karena serangan yang terjadi, mereka berada di pihak kita sekarang" ucap Sean.


"Gazardiel, aku membutuhkan kekuatan mu" ucap Alex, dan sebuah busur putih muncul di hadapan Alex.


Alex menarik tali busur dan mengarahkannya ke langit, sebuah anak panah tercipta dari energinya dan juga energi Gazardiel.


Anak panah dilesatkan ke langit, dan saat turun ke bawah, anak panah itu berubah menjadi ribuan anak panah.


Saat menyentuh tanah, ribuan anak panah langsung menghilang, digantikan oleh cahaya hijau yang mengelilingi Mansion.


Cahaya itu menyelimuti semua orang yang terluka, menyembuhkan luka mereka perlahan.


Setelah semua orang sembuh, cahaya itu langsung menghilang.


Orang-orang yang berada di dalam tenda langsung keluar, mereka melihat sosok yang menjadi penyelamat mereka.


Alex menyimpan kembali Gazardiel di dalam dimensinya.


"Sean, aku menyerahkan tempat ini untuk dijaga oleh mu, aku akan membawa semua yang mendukung ku kemari, dan sisanya akan aku musnahkan" ucap Alex.


"Tunggu! Kau akan membunuh mereka?" tanya Sean.


"Ya, aku akan membunuh mereka, lalu aku akan membangkitkan mereka kembali, mereka yang menentang akan terikat dengan ku dan keturunan-keturunan mereka juga akan terikat jiwa denganku, hidup dan mati mereka berada di tangan ku" ucap Alex.


"Kalau begitu berhati-hatilah, kau harus kembali, Anna dan ketiga anakmu itu baru saja merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang ayah" ucap Sean, diangguki oleh Alex.


Setelah itu Alex pergi, meninggalkan Zach bersama Sean.


"Paman Sean, sebenarnya, seperti apa sifat Ayahku?" tanya Zach kepada Sean.


"Ayahmu adalah orang yang bertanggung jawab, dan selalu mementingkan orang lain dibandingkan kepentingannya sendiri, dia akan mengorbankan dirinya jika itu untuk keselamatan banyak orang, bahkan untuk yang berbeda ras dengannya sekalipun" ucap Sean.


"Zach, kau mewarisi kekuatan Ayahmu, aku tidak akan memintamu untuk menjadi seperti Ayahmu. Tapi, tolonglah mereka yang membutuhkan bantuan mu, semakin kuat kekuatan mu, semakin besar tanggung jawab yang harus kau hadapi, seperti Ayahmu saat ini, kekuatan yang dia miliki anugerah sekaligus kutukan baginya" ucap Sean.


Zach hanya terdiam mendengar kata-kata dari Sean, diantara kedua saudaranya yang lain, dia adalah yang tertua dan paling kuat, mewarisi elemen alam milik Alex.


Zach hanya menatap kosong ke arah di mana tadi sang Ayah berada.


"Semakin kuat kekuatan, semakin besar tanggung jawab, bahkan jika kita tak bisa mengendalikannya, itu sama saja dengan kutukan yang selama ini harus di tanggung" gumam Zach yang hanya bisa didengar olehnya sendiri.


Di sisi Alex saat ini, dia berada di sebuah markas di mana semua pemimpin negara berkumpul, bahkan di luar markas itu terlihat jutaan tentara yang berbaris rapi.


"Ho~ aku sudah memperingati kalian, tapi bahkan kalian tak mengindahkan peringatan itu" suara Alex yang tiba-tiba terdengar di tengah rapat para pemimpin negara itu langsung membuat mereka terkejut.


"Bagaimana bisa!" teriak beberapa dari mereka.


"Apa kalian bodoh? Aku memegang kendali atas seluruh dunia, aku bisa mengetahui seluruh makhluk hidup di dunia ini, bahkan aku bisa menghancurkan dunia ini dengan mudah" ucap Alex.


Aura dingin mengelilingi ruangan, bahkan terlihat dinding ruangan yang memiliki lapisan es.


Seluruh ruangan itu tertutupi es bahkan semua barang di tempat itu langsung membeku karena aura dingin yang di terpancar dari tubuh Alex.


"Aku hanya meminta kerja sama antara dua dunia, kenapa kalian malah mempersulit semuanya, jika kalian menerimanya dengan tenang, aku tidak akan mengancam kalian seperti ini" ucap Julian datar.


Suara jentikan jari terdengar menggema di dalam ruangan, setelah itu, ratusan tentara yang berbaris di luar markas langsung berjatuhan dan tubuh mereka menghantam tanah.


Mereka yang terjatuh adalah tentara yang sebelumnya melawan Alex, dan Alex hanya mengincar mereka yang masih berdiri tegak untuk melawannya.


Dapat Alex rasakan juga bahwa sebagian besar berada jauh dari markas, sudah dipastikan mereka pensiun dan memilih untuk mendengarkan perkataan Alex.


Tentu saja mereka yang pensiun sadar, bahwa akan sia-sia jika melawan Alex, tubuhnya tak bisa dilukai oleh senjata modern, bahkan para Hunter tak bisa melawannya.


Bagaimana mungkin mereka yang hanya manusia biasa bisa melawan sosok seperti itu?


Mereka yang cerdas memilih mundur, tapi kebanyakan masih ingin melawan balik karena tak terima jika kematian mereka ada di tangan Alex.


Walaupun Alex adalah sosok yang memilih mati dari pada membuat ribuan nyawa melayang, tapi dia tak bisa tinggal diam.


Selama ini, ras non manusia selalu dibunuh atau dijadikan budak ketika tertangkap di dunia manusia.


Tapi, ras non manusia tak pernah sekalipun berpikir untuk memperbudak manusia, lalu, kenapa para manusia itu melakukan hal keji seperti itu?


Ketika nyawa melayang di tangan ras non manusia, para manusia akan menyalahkan mereka dan berpikir jika ras non manusia adalah iblis, lalu mereka apa?


Alex menggertakkan giginya, tapi dia harus bisa tenang dalam situasi apapun, jangan pernah biarkan emosi mengambil alih.


Sebuah kursi singgasana terbuat dari energi muncul di belakang Alex, kursi itu berlapis emas dan berlian.


Alex langsung duduk di atas kursi itu, memandang semua manusia di depannya tajam.


"Kalian sudah tau situasi di luar saat ini, kalau begitu, mari kita bicarakan bisnis, selama aku puas, aku akan membiarkan kalian hidup" ucap Alex, aura mencekam memenuhi ruangan, bahkan es yang sebelumnya membekukan seluruh ruangan itu belum mencair, bahkan tidak ada tanda-tanda akan mencair.


Para pemimpin negara itu hanya bisa duduk diam di kursi mereka dengan menggigil kedinginan sekaligus takut dengan kekuatan sosok di hadapan mereka.