
Di alam bawah sadarnya, Alex hanya bisa terdiam mendengar ucapan Renz.
'Para Penjaga Dimensi memiliki dukungan dari Dewa, semakin kuat Dewa itu, semakin besar kekuatan yang akan kita dapat… Alex, kau memiliki Dewa Semesta di belakangmu' Alex mendengar suara Renz di alam bawah sadarnya.
"Seberapa kuat Dewa Semesta itu?" tanya Alex.
"Dewa Semesta bisa menghancurkan sebuah planet hanya dengan jentikan jarinya, dan jika dia menggunakan seluruh kekuatannya, maka hancurlah alam semesta ini" ucap Renz yang tiba-tiba muncul dihadapan Alex.
"Kembalilah" ucap Renz.
"Kau mengambil alih tubuhku hanya untuk mengatakan itu?!" tanya Alex kesal, dan Renz hanya menganggukkan kepalanya.
Alex hanya menghela napasnya, kemudian kembali.
"Alex" panggil Jein.
"Ya?"
"Tidak apa-apa, aku hanya memanggilmu" ucap Jein.
Alex hanya menatap datar ke arah Jein.
"Apa yang akan kita lakukan kepada para Hunter itu sekarang?" tanya Vivi.
"Pembantaian" ucap Zill sambil menyeringai.
"Jiwa Iblisnya bangkit lagi" ucap Asra sambil menjauh dari Zill.
"Zill kendalikan dirimu, aku tidak ingin ada kekacauan di sini" ucap Kayle.
"Dan jika itu terjadi, pasti kami berdua yang selalu membereskan kekacauan itu" ucap Kyale.
"Hei, tapi kita sudah lama tidak membuat kekacauan" ucap Zill.
"Bukan kita, tapi kau" ucap Rui sambil menunjuk Zill.
"Kau satu-satunya yang selalu membuat kekacauan, Zill" ucap Jein.
"Mema…"
Jddaaarrr! Bam!
Sebelum Zill menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba sebuah petir menyambar Alex.
"Eh, ALEX!" teriak Vivi.
Saat para Penjaga Dimensi ingin mendekat ke arah Alex, Alex kembali tersambar petir.
Para Penjaga Dimensi hanya bisa menjauh dari Alex.
"Apa ini Dewa Petir?" tanya Vivi.
"Bukan, petir milik Dewa Petir berwarna biru, sedangkan petir ini berwarna ungu" ucap Jein.
"Petir ungu… Hanya ada satu Dewa yang memiliki petir ungu" ucap Caine.
"Siapa?" tanya Vivi.
"Dewa Semesta" ucap Caine.
"Berarti, saat ini Dewa Semesta sedang menguji Alex" ucap Jein.
"Mungkin saja… sebaiknya kita menjauh dulu" ucap Caine.
Para Penjaga Dimensi kemudian menjauh dari Alex.
Di sisi lain…
Dimensi milik Alex bergetar hebat ketika Alex tersambar petir.
"Apa yang terjadi?" tanya Nithael ketika dimensi itu tiba-tiba bergetar.
"Lebih baik kita keluar terlebih dahulu, dimensi ini mulai tidak stabil" ucap Nithael.
Mereka semua kemudian keluar dari dimensi milik Alex.
"Apa ini? Kenapa Alex terus disambar petir?" Tanya Xeran.
"Ini adalah petir ungu, yang hanya dimiliki oleh Dewa Semesta" ucap Gazardiel.
"Apa master akan baik-baik saja?" tanya Rin khawatir.
"Dia memiliki Jiwa Phoenix, untuk apa kau mengkhawatirkannya?" tanya Xeran kepada Rin.
"Kenapa aku tidak boleh khawatir?!" teriak Rin kemudian menggembungkan pipinya.
"Rin, Alex memiliki Jiwa Phoenix Hitam… itu adalah Jiwa Phoenix paling misterius, masih banyak yang belum diketahui tentang Jiwa Phoenix Hitam, kau juga tau itu" ucap Xeran.
"Ya, aku tau, tapi kenapa para pemilik Jiwa Phoenix Hitam selalu mati tragis?" tanya Rin bingung.
"Apa master juga akan mati dengan tragis?" tanya Rin.
"Kenapa kau terus bertanya? Kau tau kan jika Alex memiliki Jiwa Phoenix Putih yang bisa menstabilkan Jiwa Phoenix Hitam miliknya" ucap Xeran kesal karena Rin terus bertanya.
Rin kemudian terdiam.
Setelah beberapa saat Alex menerima petir ungu, petir terakhir menyambar Alex dengan sangat keras, membuat suara ledakan sampai terdengar ke penjuru dunia.
Semua yang ada di sana hanya bisa terdiam menatap tempat Alex berada.
Asap dari ledakan petir itu menutupi penglihatan mereka.
Setelah asap itu menghilang, Mereka dapat melihat perubahan Alex.
Alex memakai sebuah pakaian yang membuatnya terlihat seperti seorang bangsawan.
"Alex, apa kau baik-baik saja?" tanya Vivi.
"Ya, aku tidak pernah merasa sebaik ini" ucap Alex.
"Ternyata kau bukan hanya diakui oleh Dewa Semesta, bahkan kau diangkat menjadi anaknya" ucap Caine.
Para Hunter hanya bisa gemetar ketakutan ketika merasakan tekanan yang sangat besar berasal dari Alex.
"Demigod, aku harus segera mundur" gumam ketua Hunter.
"Kalian ingin pergi kemana?!" ucap Alex, ketika para Hunter bergerak mundur.
Para Hunter hanya bisa terdiam, dan tidak berani bergerak. Mereka sudah salah karena mereka bahkan menantang seorang Demigod.
Lambang sepasang sayap berwarna emas dengan pedang berwarna perak muncul di dahi Alex.
Ketua Hunter yang melihat lambang itu jatuh terduduk.
"Ke-ketua…" para Hunter terkejut melihat ketua mereka.
"Lambang itu… ka-kau keturunan Dewa Se-Seemesta" ucap Ketua Hunter.
"Kalian sudah mengetahui identitas Alex, kami tidak bisa membiarkan kalian!" teriak Zill tiba-tiba.
Zill kemudian menghilang, dan ketika dia muncul kembali di tempat yang sama, hampir seluruh Hunter terbunuh dengan kepala terlepas dari badan mereka, hanya menyisakan beberapa Hunter saja.
"Ho~, ternyata ada yang masih hidup" ucap Zill.
para Hunter yang masih hidup hanya bisa terdiam ketika menyaksikan para Hunter lainnya dan Ketua Hunter terbunuh tepat di depan mata mereka.
"Zill, berhenti" ucap Caine.
"Mereka memiliki Jiwa dan hati yang murni, bisa saja mereka hanya dipaksa untuk ikut kemari" ucap Jein.
"Apakah sangat jarang untuk manusia yang memiliki Jiwa yang murni?" tanya Alex.
"Ya, sangat jarang… bahkan kekuatanku tidak bisa melukai mereka yang memiliki jiwa murni" ucap Zill.
"Apa alasan kalian menjadi Hunter?" tanya Alex kepada para Hunter yang masih hidup.
Hanya ada 4 orang yang masih hidup, 3 orang gadis dan 1 orang pemuda, dari 3000 Hunter.
Mereka masih terdiam, dan membuat Alex menatap datar mereka berempat.
"Mm… na-namaku Rean, aku ikut mereka karena aku membutuhkan uang dan mereka bilang jika bayarannya lumayan, jadi a-aku ikut saja" ucap laki-laki yang bernama Rean itu.
"A-aku juga ikut mereka karena membutuhkan uang…" ucap gadis berambut cokelat gelap, Giana.
"A-aku…"
"Intinya kalian semua membutuhkan uang kan?" tanya Alex.
Mereka kemudian menganggukkan kepalanya bersamaan.
Rean Heranata (18), memiliki tinggi 172 cm, rambut berwarna hitam, mata berwarna ungu cerah, dan warna kulit sawo matang.
Giana Anatha (16), memiliki tinggi 151 cm, rambut berwarna cokelat gelap, mata berwarna hijau, dan kulit putih bersih.
Cecyl Roselia (18), tinggi 159 cm, rambut pirang, mata berwarna biru cerah, dan kulit putih bersih.
Anellia Andressia (17), tinggi 146 cm, rambut berwarna putih, mata berwarna ungu gelap, dan kulit putih bersih.
'Oh, anak ini yang paling pendek ya?' pikir Alex.
'Alex, siapa yang kau panggil anak? Dia seusia denganmu, bahkan lebih tua 2 bulan darimu' ucap Renz.
'Lebih… tua… aku pikir usianya 14 atau 15 tahun'
Alex kemudian menatap ke arah Anellia, dan Anellia hanya bisa menundukkan kepalanya, antara takut dan malu karena ditatap oleh Alex.