I'M Lord Vampire

I'M Lord Vampire
42. Penjaga Dimensi



"Apa kau baik-baik saja?" tanya Alex.


Alex khawatir melihat Natasha terus diam.


Natasha tidak menanggapi Alex, dan terus berjalan memasuki hutan.


Semakin mereka memasuki hutan, semakin pekat energi yang dapat Alex rasakan.


"Tunggu di sini!" perintah Natasha kepada Alex.


Natasha kemudian mengeluarkan sesuatu dari bajunya.


Benda itu berbentuk seperti kunci berwarna hijau kekuningan.


"Kunci apa itu?" tanya Alex kepada Natasha.


"I-ini… kunci ini untuk membuka penghalang yang ada di sini, jadi kita bisa masuk dengan mudah" ucap Natasha.


Setelah Natasha membuka penghalang, mereka berdua kembali berjalan memasuki hutan.


Dari kejauhan, Alex bisa melihat sebuah Kastil yang sangat besar.


Saat semakin dekat dengan Kastil itu, Alex merasakan semakin berat ketika dia berjalan.


Natasha juga berhenti berjalan.


"Tuan Jein, ada yang ingin menemui Anda!" teriak Natasha.


Pintu Kastil perlahan terbuka, terlihat seorang pria keluar dari Kastil.


"Siapa?" tanya Jein dingin.


"Alexander, seorang Vampire sekaligus pemilik Jiwa Phoenix" ucap Alex.


"Pemilik Jiwa Phoenix… seluruh…" gumam Jein.


"Kau ikut denganku, dan Putri… sebaiknya kau kembali" ucap Jein kemudian masuk kembali ke Kastil.


"Ta-tapi…"


"Natasha, kembalilah terlebih dahulu, aku akan baik-baik saja" ucap Alex.


Alex kemudian mengikuti Jein masuk ke dalam Kastil.


Natasha hanya melihat Alex masuk ke dalam Kastil itu, setelah itu langsung pergi meninggalkan tempat itu.


Alex terus mengikuti Jein, dan mereka masuk ke salah satu ruangan.


Alex merasakan tekanan yang cukup kuat ketika dia melewati pintu itu.


"Pintu itu dipasang kekuatan gravitasi dan portal menuju dunia bawah" ucap Jein.


"Dunia bawah?" tanya Alex bingung.


"Neraka…"


Alex terkejut saat mengetahui jika portal yang ada di pintu itu terhubung dengan Neraka.


Alex kemudian melihat sekeliling ruangan itu.


Di dalam ruangan itu terdapat delapan peti mati yang di simpan berjajar, dan juga sebuah peti mati yang di sandarkan ke dinding, jadi ada total sembilan peti mati di ruangan itu.


"Kenapa peti mati yang ada di sana dibuat berdiri?" tanya Alex penasaran.


"Itu peti mati tempat Caine tertidur" ucap Jein.


"Caine?"


"Dia adalah yang pertama, yang dipilih oleh Dewa sebagai Penjaga Dimensi" ucap Jein.


"Jadi, dia adalah Penjaga Dimensi pertama, sekaligus yang terkuat?" tanya Alex.


Jein hanya mengangguk untuk menanggapi pertanyaan Alex.


"Para Dewa-Dewi sudah memprediksi bahwa akan terjadi kekacauan antara kedua dunia, seribu tahun setelah Tuan Caine terpilih menjadi Penjaga Dimensi, sembilan orang lainnya termasuk aku terpilih menjadi Penjaga Dimensi" ucap Jein.


Alex kemudian mendekati peti mati tempat Caine tertidur, dan membuka tutup peti mati.


"0,2%…" gumam Alex.


"Apa maksudmu?" tanya Jein.


"Energi di tubuhnya semakin berkurang" ucap Alex.


"Sebenarnya peti mati itu khusus dibuat agar energi milik Tuan Caine tidak berkurang, tapi karena energi milik Tuan Caine terlelu besar, peti mati itu tidak bisa menampung energi miliknya" ucap Jein.


"Apa aku bisa membawa mereka ke suatu tempat?" tanya Alex.


"Kemana kau akan membawa mereka?" Jein balik bertanya kepada Alex.


Alex tidak menjawab pertanyaan Jein, dan kemudian Alex memunculkan portal waktu.


"Portal waktu!" ucap Jein terkejut.


Alex hanya bisa membuka portal menuju tempat pertama kali dia bertemu dengan Mofsi.


Alex kemudian menggunakan rantai yang terbuat dari api silver untuk membawa semua peti itu.


"Rantai apa itu?" tanya Jein.


"Aku akan menjelaskannya nanti" ucap Alex dan langsung masuk ke dalam portal sambil membawa semua peti mati.


Jein kemudian mengikuti Alex masuk ke dalam portal.


Setelah melewati portal itu, Jein merasakan energi di sana sangat pekat.


"Kalian semua, keluarlah!" teriak Alex.


Mofsi yang sebelumnya keluar dengan wujud manusianya langsung merubah wujudnya ke wujud aslinya.


"Auuuuuuuu…" Mofsi langsung melolong, dan kemudian berlarian.


"Serigala bulan!" Jein terkejut ketika dia melihat seekor serigala bulan berlarian tepat di depan matanya.


"Mofsi! Jangan berlarian, kau membuat tanahnya bergetar!" teriak Nithael.


Mofsi tidak mendengarkan teriakan Nithael dan terus berlari.


Xeran dan Rin menghentikan Mofsi, lalu mereka berdua duduk di atas kepala Mofsi.


"Hei! Itu tidak adil! Aku juga ingin duduk di sana!" teriak Nithael, kemudian menyusul Xeran dan Rin yang duduk di atas kepala Mofsi.


"Alex! Kami akan pergi ke dunia manusia, karena di sini kedua dunia masih saling terhubung!" teriak Xeran, dan mereka langsung pergi tanpa menunggu persetujuan Alex.


Gazardiel memilih untuk bersandar di sebuah dahan pohon.


"Gazardiel, kau tidak ingin ikut dengan mereka?" tanya Alex.


"Tidak" ucap Gazardiel.


"Tapi aku takut mereka membuat kekacauan" ucap Alex kepada Gazardiel.


"Membuat kekacauan?" tanya Gazardiel bingung.


"Kau tahu kan sifat mereka…" ucap Alex.


Gazardiel menghela napasnya kemudian menyusul Mofsi dan yang lainnya.


"Kau akan membiarkan mereka?" tanya Jein.


"Aku mempercayai Gazardiel, jadi tidak masalah" ucap Alex.


Alex kemudian membuka semua tutup peti mati, dan menggunakan rantai yang terbuat dari api silver untuk mengikat orang-orang yang ada di dalam peti mati.


"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Jein.


Alex tidak menjawab pertanyaan Jein, dan hanya fokus mengontrol kekuatannya.


Alex kemudian membungkus kesembilan Penjaga Dimensi itu dengan rantainya, dan mengangkat mereka ke udara.


Setelah itu, Alex mengalirkan energi miliknya ke rantai yang ada di tangannya, perlahan rantai itu dilapisi dengan energi berwarna hijau terang.


Alex tidak sepenuhnya menggunakan energi miliknya, tapi Alex menggabungkan energinya dengn energi alam yang ada di sekitar.


Jein takjub dengan energi yang dimiliki oleh Alex.


"Energi yang sangat murni…" gumam Jein.


Setelah beberapa jam berlalu, ada 3 rantai yang bergerak, menandakan orang yang ada fi dalam rantai itu sudah sadar.


Alex terkejut ketika satu rantai miliknya hancur, dan terlihat seorang pria berambut biru muda langsung melesat ke arah Alex, dan akan menyerangnya.


"Rui, berhenti!" teriak Jein.


Pria berambut biru muda itu langsung berhenti.


"Kenapa kau menghentikan ku?" tanya Rui.


"Dia sudah mengorbankan energi miliknya untuk membangunkanmu, apa kau benar-benar akan menyerangnya?" tanya Jein kepada Rui.


Rui kemudian memandang Alex.


"Terlalu lemah…" ucap Rui.


Alex yang mendengar itu langsung kesal, dan memukul Rui, membuat Rui mundur beberapa langkah.


Alex tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk menggunakan teknik darah untuk mengunci pergerakan Rui.


Alex langsung melukai tangannya, dan saat darahnya menetes ke tanah, sebuah lingkaran berwarna merah darah langsung muncul di tanah yang dipijak oleh Rui.


"Teknik pengendalian darah?!" Rui terkejut melihat Alex bisa menggunakan teknik pengendalian darah.


Rui mencoba menggerakkan tubuhnya, tapi tubuhnya tidak bisa digerakkan.


"Le…"


"Lepaskan aku!"


Ucapan Rui terpotong oleh teriakan seorang wanita yang berasal dari dalam rantai milik Alex.


Alex kemudian mengeluarkan semua orang yang sudah sadar.


Semua Penjaga Dimensi sudah sadar, tapi tinggal Caine yang energinya belum pulih.


'Aku sudah lelah, kapan dia akan sadar?' pikir Alex.


Setelah 4 jam berlalu, rantai milik Alex bergerak, setelah itu langsung hancur seperti yang dilakukan Rui ketika sadar.


"Ah, apa aku akan di serang seperti yang pertama tadi…" gumam Alex.


Alex melihat bayangan yang melesat ke arahnya.


Saat bayangan itu akan menyerang Alex, Alex langsung menghindar, dan melesat ke arah Rui.


Bayangan itu terus mengejar Alex, dan saat bayangan itu akan menyerang Alex lagi, Alex langsung menunduk.


Serangan itu tidak mengenai Alex, tapi mengenai wajah Rui, membuat Rui terlempar beberapa puluh meter, dan langsung tak sadarkan diri.


"Ah, aku salah memukul…" ucap bayangan itu.


Para Penjaga Dimensi lainnya tak bisa berkata-kata, hanya menatap kasihan kepada Rui yang terkena serangan dari bayangan itu, yang ternyata adalah Caine.