I'M Lord Vampire

I'M Lord Vampire
34. Mate Sean



Alex melihat seorang gadis tak sadarkan diri, dengan tangan dan kakinya di rantai.


Gadis itu memiliki rambut berwarna biru tua, bulu mata yang panjang dan lentik, dan tubuhnya yang kecil.


Luka di tubuh gadis itu membuatnya terlihat lemah dan rapuh.


Alex sesaat terpesona dengan gadis itu, tapi dia langsung sadar, karena gadis ini adalah mate Sean.


Alex mendekati gadis itu, tapi saat dia ingin melepaskan rantai yang mengikatnya, gadis itu tiba-tiba menyerang Alex.


Alex langsung menangkap tangan gadis itu.


"Tenanglah, aku di sini untuk menyelamatkan mu" ucap Alex.


"Rambut hitam mu itu membuktikan jika kau adalah bagian dari mereka!" teriak gadis itu.


'Kenapa dia bisa menyimpulkan seperti itu?' pikir Alex, dan menatap gadis itu datar.


"Aku bukan seorang Werewolf, aku adalah Vampire" ucap Alex.


"Va-Vampire…" ucap gadis itu dan mencoba menjauh dari Alex.


Alex tidak membiarkan gadis itu menjauh, Alex langsung menarik lengan gadis itu, membuat tubuhnya menubruk tubuh Alex.


"Kau kasar!" teriak gadis itu.


"Aku tidak peduli…"


Alex kemudian mencoba melepaskan rantai yang mengikat tangan dan kaki gadis itu.


"Ini tidak bisa dilepaskan" ucap Alex.


"Ini adalah rantai pengekang, hanya orang yang memasang rantai ini yang bisa melepaskannya" ucap gadis itu.


"Aku Alex, siapa namamu?" tanya Alex.


"Lasilia Voren…" ucap gadis bernama Lasilia itu.


"Voren?" tanya Alex.


"Ya, apa ada yang salah?"


"Tidak, kau keturunan seorang Alpha, kenapa ayahmu tidak menyelamatkan mu?" tanya Alex kembali.


"Wilayah Blue Moon Pack saat ini di serang oleh ras Iblis yang tiba-tiba saja datang dan langsung menyerang wilayah ku" ucap Lasilia.


"Sejak kapan Iblis menyerang kalian?"


"Sebulan yang lalu" ucap Lasilia.


"Berapa lama kau di sini?"


"Lebih dari tiga bulan"


"Lalu bagaimana kau bisa tahu keadaan Pack-mu?"


"Aku memiliki kekuatan Mata Dewa, mata ini bisa melihat sampai kejauhan ratusan kilometer" ucap Lasilia.


"Begitu ya"


Alex kemudian mencoba kembali untuk melepaskan rantai yang mengikat Lasilia.


Alex menggunakan kekuatan api Jiwa Phoenix miliknya.


'Apa aku coba menggunakan api berwarna silver itu?' pikir Alex.


Alex kemudian menggunakan api berwarna silver, dan api itu langsung keluar dari tangan Alex.


Alex mengarahkan api itu ke arah rantai yang mengikat Lasilia, secara otomatis api silver di tangan Alex melelehkan dan menyerap rantai itu.


"Api apa itu? Kenapa menyerap rantainya?" tanya Lasilia.


"Aku juga tidak tahu kekuatan api ini, jadi jangan bertanya padaku!" ucap Alex.


Setelah beberapa saat, Lasilia sudah lepas dari rantai yang mengikatnya.


"Apa kau bisa berdiri?" tanya Alex.


"Kaki ku mati rasa, aku tidak bisa menggerakkannya" ucap Lasilia.


Alex kemudian menjulurkan tangannya, Lasilia menerima uluran tangan Alex, dan mencoba berdiri.


Alex yang melihat Lasilia kesulitan untuk berdiri, langsung menarik tangan Lasilia dan menggendongnya.


"Waaaa! Alex, turunkan aku!" teriak Lasilia.


Alex menghiraukan teriakan Lasilia, dan langsung keluar dari tempat itu menggunakan teleportasi.


Alex muncul di halaman Mansion keluarga Valcon, dan langsung masuk ke dalam Mansion itu.


"Ini di mana?" tanya Lasilia.


"Kau akan tahu nanti"


Alex langsung menuju kamar yang di tempati oleh Sean.


Brak!


Alex menendang pintu kamar Sean, membuat pintu itu hancur seketika.


Sean yang terkejut langsung terbangun dari tidurnya.


"Alex, kenapa kau menghancurkan pintunya?!" teriak Sean.


"Apa kau tidak tahu siapa yang bersama ku ini?" tanya Alex.


"La…silia…"


Lasilia yang mendengar namanya di panggil langsung melihat ke arah Sean.


"Sean?"


Saat Sean akan membawa Lasilia dari gendongan Alex, Alex langsung menghindar dan mendekati kasur milik Sean.


"Jangan lakukan apapun padanya, dia terluka cukup parah" ucap Alex.


"Apa luka ini akan membekas di tubuhku?" tanya Lasilia kepada Alex.


"Ya, luka di tubuhmu akan membekas jika kita mengobatinya, dan jika menunggu regenerasi mu, itu akan memakan waktu" ucap Alex.


"Alex apa kau bisa menggunakan energi mu untuk menyembuhkan lukanya?" tanya Sean.


"Bisa saja, tapi saat ini energi ku tidak sampai setengahnya, jika aku menggunakannya maka aku akan kembali tidur untuk memulihkan energi ku kembali" ucap Alex.


Sean hanya bisa menghela napasnya.


"Jika kau ingin aku menyembuhkan Lasilia, tunggu energi ku kembali" ucap Alex.


"Berapa lama?"


"Satu jam" ucap Alex kemudian pergi menuju hutan.


Alex langsung memposisikan tubuhnya bersila di bawah sebuah pohon, dan mulai menyerap energi alam.


Energi alam mulai masuk ke dalam tubuh Alex, membuat tubuhnya bercahaya hijau terang.


Setelah satu jam berlalu, Alex membuka matanya dan kemudian pergi ke tempat Sean.


"Sean, apa kau bisa membuka baju Lasilia?" tanya Alex yang tiba-tiba muncul.


""Apa?!"" teriak Sean dan Lasilia bersamaan.


"Aku tidak akan berbuat macam-macam, aku hanya ingin menyembuhkan luka dalam mu" ucap Alex.


"Kau tahu aku mengalami luka dalam?" tanya Lasilia.


"Ya, saat aku menyentuh tanganmu, dan juga napasmu tidak teratur" ucap Alex.


"Tapi, ini adalah luka lama, apa kau benar-benar bisa menyembuhkannya?" tanya Lasilia kembali.


"Ya, aku bisa menyembuhkannya… jadi, buka bajumu" ucap Alex.


"Kenapa harus membuka baju?!" teriak Lasilia.


"Aku akan menggunakan api penyembuhan, apa kau ingin bajumu terbakar?" tanya Alex.


"A-api? Kau ingin membakarku hidup-hidup?" tanya Lasilia.


"Apa kau tidak mendengarku tadi, aku akan menggunakan api penyembuhan, penyembuhan!" ucap Alex kesal.


"Intinya kau akan membakarku hidup-hidup!" teriak Lasilia.


"Aku tidak akan membakar kulitmu, aku akan membakar organ dalam mu!" teriak Alex kesal.


"Berhenti bertengkar!" ucap Sean.


"Cih! Biarkan saja luka di tubuhmu membekas! Aku tidak akan menyembuhkanmu!" ucap Alex kemudian melangkah keluar kamar.


"Aku tidak ingin memiliki bekas luka!" teriak Lasilia.


"Bukankah tadi kau bilang tidak ingin aku mengobatimu?" tanya Alex.


"Bukan aku tidak mau, hanya saja… apa kau bisa menggunakan cara lain?" tanya Lasilia.


'Gazardiel, apa aku bisa meminjam kekuatan penyembuhanmu?' tanya Alex bertelepati dengan Gazardiel.


'Gunakan saja, tapi jika kau memasuki mode tidur jangan menyalahkanku' ucap Gazardiel.


Alex kemudian mendekati Lasilia.


Alex merentangkan tangan kanannya ke arah Lasilia, perlahan wujud Alex berubah.


Rambut Alex berubah menjadi putih, dan pupil matanya berubah menjadi putih keungguan.


Lasilia terkejut melihat perubahan yang terjadi pada Alex, tatapan Alex membuatnya ketakutan.


Mata yang tajam, tapi ada kesedihan di mata itu.


'Apa Alex pernah menjalani cobaan hidup dan mati?' pikir Lasilia.


Di sisi lain…


Alex memfokuskan energinya ke tangan kanannya.


Perlahan tangan Alex diselimuti energi berwarna putih, energi itu juga mulai menyelimuti tubuh Lasilia.


"Ini… Alex, apa kau keturunan seorang malaikat?" tanya Lasilia.


Alex hanya menggelengkan kepalanya.


Selama empat jam penuh Alex terus mengalirkan energinya, dan Alex mulai muntah darah.


"Alex!" teriak Sean ketika melihat Alex muntah darah.


"Aku tidak apa-apa" ucap Alex.


Alex sudah mencapai batasnya.


Kekuatan penyembuhan milik Gazardiel terlalu menguras energi milik Alex, dan tubuh Alex tidak bisa menahan kekuatan malaikat.


Cahaya putih yang menyelimuti tangan Alex dan tubuh Lasilia mulai meredup.


Dan saat cahaya itu menghilang, Alex jatuh tak sadarkan diri.