I'M Lord Vampire

I'M Lord Vampire
11



"Ah, itu Alex" teriak Xeran.


"Alex berhenti!" Nithael juga ikut berteriak.


Dak!


Nithael mengambil sebuah batu seukuran telapak tangannya, dan melemparkannya.


Batu itu mengenai kepala bagian belakang Alex, dan membuat Alex langsung terjatuh.


"Oi! Kenapa kau melempariku dengan batu!" Alex langsung berdiri dan berteriak.


"Karena kau tidak mendengar perkataanku!" teriak Nithael.


"Berhenti berteriak" ucap Gazardiel dingin.


"Terserah aku! ini bukan urusanmu! Kau kan bisa berpura-pura tidak mendengar teriakanku" teriak Nithael.


"Bagaimana mungkin aku berpura-pura tidak mendengar, sedangkan teriakanmu itu membuat telingaku sakit!" ucap Gazardiel kesal.


Duak!


Nithael tiba-tiba menendang Gazardiel, tapi Gazardiel berhasil menangkisnya, dan membuat Nithael terlempar ke belakang beberapa meter.


Pertarungan pun tidak bisa terelakan.


Alex yang melihat Nithael dan Gazardiel bertarung langsung melompat ke atas dahan pohon besar yang ada dibelakangnya, kemudian duduk di atas dahan pohon itu.


Xeran dan Mofsi yang melihat Alex melompat dan duduk di atas sebuah dalam pohon langsung mengikuti Alex, dan mereka berdua duduk disamping Alex.


Mereka memutuskan untuk membiarkan Nithael dan Gazardiel bertarung dan menonton pertarungan mereka berdua, dan tak lupa beberapa cemilan tiba-tiba muncul di tangan Alex entah darimana, dan mereka bertiga memakan cemilan itu.


Pertarungan Nithael dan Gazardiel membuat beberapa pohon tumbang, dan tanah retak serta hancur.


Setelah beberapa jam mereka bertarung, Nithael dan Gazardiel memutuskan untuk berhenti.


Nithael kemudian terjatuh ke tanah, dan Gazardiel memutuskan untuk pergi ke tempat Alex.


"Apa sudah selesai?"


Gazardiel menanggapi pernyataan Alex dengan anggukan.


"Waaaaa! Kenapa aku bisa kalah darimu?!"


Nithael tiba-tiba berteriak, membuat Alex, Gazardiel, Xeran, dan Mofsi terkejut.


Tak!


Karena terkejut, Alex refleks melempar sebuah ranting pohon ke arah Nithael, dan mengenai kening Nithael, dan membuatnya meringis kesakitan.


"Jika kalian sudah selesai, kita pergi ke Kastil sekarang!" ucap Alex kemudian melompat turun, diikuti Xeran dan Mofsi.


Nithael bangun dari posisi tidurnya, dan mendekati Alex.


"Ayo pergi sekarang"


Nithael hanya mendengus kesal, sedangkan yang lainnya mengangguk.


Alex kemudian melesat menuju Kastil, diikuti oleh yang lainnya.


~•~


Alex dan yang lainnya sekarang sudah berada di halaman Kastil.


"Kita benar-benar akan masuk?" tanya Nithael.


"Jika kita masuk, kita tidak bisa keluar dari sini sampai Alex di angkat menjadi Lord selanjutnya" ucap Gazardiel putus asa.


"Kita tidak punya pilihan lain, jika kita tidak masuk, mungkin kematian akan cepat menghampiri kita" ucap Alex yang tidak kalah putus asa dari Gazardiel.


"Alex, kapan pengangkatanmu?" Xeran bertanya kepada Alex.


"Sekitar 2 minggu lagi, tapi itu hanya pengangkatan sebagai pewaris, bukan sebagai Lord" Alex menjawab pertanyaan Xeran dengan ekspresi yang sulit untuk dikatakan.


"Apa kau tahu kapan pengangkatanmu sebagai Lord?" tanya Xeran kembali.


"Entahlah, Lord Regmus hanya mengatakan ketika aku menikah dengan putri ketiganya, itu sekaligus pengangkatanku sebagai Lord selanjutnya"


"Berapa usia putri ketiga Lord Regmus?" tanya Xeran.


"Berarti pengangkatanmu sebagai Lord masih sekitar 2 tahun lagi" ucap Xeran.


"Kenapa kau bisa menyimpulkannya seperti itu?" tanya Alex.


"Itu berlaku bagi semua keturunan Raja, mereka diperbolehkan menikah ketika umurnya menginjak 16 tahun.


16 tahun adalah waktu di mana seorang Vampir akan mendapatkan kekuatan penuhnya, kekuatan yang sesungguhnya dari dalam diri Vampir itu.


Dan Alex, 2 tahun yang akan datang, putri ketiga Lord Regmus dia akan melaksanakan acara kedewasaannya, itu juga bertepatan dengan gerhana bulan merah, dan saat itu juga kekuatan sejatimu akan muncul Alex" Xeran berbicara panjang lebar sambil mengelus mofsi yang ada dipelukannya.


"Apa kekuatanku hanya akan muncul ketika terjadi gerhana bulan merah?"


"Ya, seorang Vampir yang memiliki jiwa Phoenix, kekuatannya hanya akan terbangkitkan ketika gerhana bulan merah" jawab Xeran


"Jiwa...Phoenix?" tanya Alex bingung.


"Seseorang dengan jiwa Phoenix memiliki kekuatan yang sangat besar, bahkan mampu untuk menghancurkan sebuah planet hanya dengan setengah kekuatannya" ucap Nithael.


"Tapi, kekuatan itu juga diukur dari ras orang itu sendiri. Dimana, jika orang yang memiliki jiwa Phoenix adalah ras manusia, maka kekuatannya hanya akan setengahnya dari ras Vampir maupun ras Werewolf" Gazardiel menjelaskan.


"Bagaimana dengan darah campuran?"


"Seorang darah campuran yang memiliki jiwa Phoenix sangat langka, bahkan dia mampu untuk menghancurkan satu Galaxy" jawab Xeran.


"Alex, kenapa kau menanyakan tentang darah campuran?" tanya Xeran kepada Alex.


"Karena dia darah campuran" jawab Gazardiel.


"Kenapa aku tidak tahu!" teriak Xeran.


"Karena selama ini kau tertidur! Bodoh!" jawab Nithael.


~•~


12 hari pun sudah terlewati.


Alex terlihat sedang berbaring di atas sebuah kasur berukuran King size, disampingnya terlihat Mofsi yang sedang tertidur pulas.


"Alex, apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Gazardiel, yang tiba-tiba muncul.


"Entahlah" jawab Alex.


"…Gazardiel muncul tiba-tiba di depan Alex dimulai sekitar seminggu yang lalu, saat itu Alex sedang berlatih membuat senjata di kamarnya, senjata itu terbuat dari energi tubuhnya, dia melalukannya dengan mata terpejam. Dan saat Alex membuka matanya dia melihat Gazardiel yang tiba-tiba berada di depannya, Alex yang terkejut kehilangan keseimbangannya dan terjatuh dari kasurnya, Alex awalnya akan terjatuh dengan menimpa tubuh Gazardiel, hanya saja…Gazardiel langsung menghilang dan membuat wajah Alex mencium lantai dengan keras…"


Sebuah suara tiba-tiba terdengar di telinga Alex, suara itu berada di belakangnya.


Wajah Alex sedikit memerah, antara menahan malu dan marah.


"Nithael! Kenapa kau mengungkit itu lagi?!" ucap Alex kesal.


"Memangnya kenapa? Bocah!"


"Cih!" Alex merasa kesal dan pergi dengan cara berteleportasi, tak lupa dia membawa Mofsi.


Dan Mofsi yang merasakan tubuhnya yang tiba-tiba terangkat langsung terbangun dari tidurnya.


Swoosshh!


Alex berteleport ke sebuah padang rumput yang luas, di padang rumput itu terdapat beberapa rusa yang sedang beristirahat dan berlarian.


"Woof! Woof! Woof!" Mofsi baru pertama kali melihat rusa, itu membuatnya penasaran.


"Mofsi tenanglah, itu hanya sekelompok rusa. Jika kau ingin bermain dengan mereka, pergilah, aku akan menunggu, dan jangan berubah ke bentuk aslimu karena akan menakuti mereka" Alex memperingati Mofsi.


"Woof!" Mofsi berteriak dan langsung mendekati beberapa rusa.


Awalnya kelompok rusa itu waspada karena ada yang mendekati mereka. Setelah melihat Mofsi, mereka mulai terdiam dan mendekat ke arah Mofsi.


Beberapa dari mereka mencoba untuk mencium bau Mofsi, untuk mengetahui Mofsi itu jenis hewan apa.


Beberapa dari mereka mulai mengerumuni Mofsi, tapi Mofsi langsung berlari dan beberapa rusa mengejar Mofsi.


Mereka mulai berlari dan bermain bersama, walau mereka dari jenis yang berbeda tapi mereka bisa akrab.


Alex yang melihat Mofsi bermain, perlahan tersenyum.


Alex mengingat masa kecilnya, dimana Alex, Gabriel, Roland (ayah Alex & Gabriel) dan Lexa (ibu Alex & Gabriel) bermain bersama di sebuah padang rumput dan mengejar beberapa rusa sampai Alex kelelahan dan berbaring di atas rumput itu.