I'M Lord Vampire

I'M Lord Vampire
53. Jiwa Lain Alex



Saat ini Alex berada di kamarnya yang ada di Kastil Lord Regmus.


Alex hanya berbaring di atas kasurnya.


Gazardiel, Xeran, Nithael, Rin, dan Mofsi keluar dari dimensi milik Alex.


"Alex, kau terlihat seperti mayat hidup" ucap Xeran.


"Ukh… tubuhku terasa sangat lemah" ucap Alex.


"Itu salahmu sendiri, kau mengorbankan energi milikmu sendiri untuk digunakan para Penjaga untuk memperkuat dimensi" ucap Xeran.


"Apa salahnya?" tanya Alex.


"Untuk memperkuat dimensi, membutuhkan energi yang besar, dan tubuhmu belum terbiasa menggunakan energi yang lebih besar dari energi milikmu sebelumnya, jika kau memaksakannya, inilah yang akan terjadi" ucap Xeran.


"Ukh…"


Brak!


Seseorang menendang pintu kamar Alex, pelakunya adalah Zen.


"Zen, ada apa?" tanya Alex yang masih berbaring di atas kasur miliknya.


"Apa kau yang mengatakan jika pada Hunter memiliki cara untuk menerobos dimensi ini, walau dimensi ini sudah diperkuat?" tanya seorang wanita yang berada dibelakang Zen.


"Hmm… siapa?" tanya Alex kepada wanita itu.


"Aku Violan, Raja Merman dan Ratu Mermaid memintaku untuk menjadi perwakilan untuk nenemuimu" ucap wanita itu.


'Oh, pantas saja warna rambutnya biru laut' pikir Alex.


"Alex, tidak semua Mermaid atau Merman memiliki rambut biru" bisik Xeran.


"Apa aku harus memanggil dengan namamu?" tanya Alex kepada Violan.


"Ya, dan juga… apa kau bisa, tidak berbaring terus di ranjang mu?" tanya Violan.


"Memangnya kenapa?" tanya Alex.


"Apa kau tahu, tidak sopan berbicara dengan seseorang sambil berbaring seperti itu" ucap Violan.


"Alex, apa kau baik-baik saja?" tanya Zen.


"Apa menurutmu dia terlihat baik-baik saja?" tanya Xeran kepada Zen.


"Eh, tidak mungkin baik-baik saja ketika kau mengorbankan energi milikmu untuk memperkuat dimensi" ucap Zen.


"Apa? Dia mengorbankan energinya untuk memperkuat dimensi?" tanya Violan terkejut.


"Ya, Alex memberikan energinya kepada para Penjaga Dimensi, aku tidak tahu berapa lama ini akan berakhir" ucap Zen.


Tiba-tiba Jein muncul di kamar Alex.


"Alex, kau ikut aku…" ucap Jein.


"Hm, untuk apa?" tanya Alex.


"Kami menggunakan energimu untuk memperkuat dimensi, ada hal terakhir yang kurang untuk proses ini" ucap Jein.


Saat Alex ingin bertanya, Jein langsung membawa Alex pergi menggunakan teleportasi.


Zen dan Violan hanya bisa terdiam melihat Alex menghilang dari pandangan mereka.


Sedangkan Gazardiel dan yang lainnya hanya kembali ke dimensi milik Alex, meninggalkan Zen dan Violan.


Zen dan Violan kemudian memutuskan untuk kembali ke wilayah mereka masing-masing.


Saat Alex tiba di Kastil yang ditempati oleh para Penjaga Dimensi, Jein langsung membawa Alex ke suatu ruangan.


Saat tiba di ruangan itu, Alex melihat para Penjaga Dimensi berdiri melingkar, dan dilantai juga terdapat sebuah pola aneh.


"Alex, berdirilah di tengah" ucap Jein.


Alex hanya menurutinya, setelah itu Jein juga bergabung dengan para Penjaga Dimensi lainnya.


Para Penjaga Dimensi kemudian meneteskan darah mereka ke lantai, perlahan pola dilantai itu bercahaya merah.


Cahaya merah itu langsung masuk ke dalam tubuh Alex.


Saat cahaya merah itu masuk ke dalam tubuhnya, Alex berteriak kesakitan.


"Alex, tahan sakitnya…" teriak Vivi.


Alex tidak bisa menahan rasa sakit itu, dan perlahan kesadarannya hilang.


Para Penjaga Dimensi yang tidak lagi mendengar suara Alex, menjadi khawatir.


Di sisi lain, Alex masuk ke alam bawah sadar miliknya.


"Ini…" gumam Alex.


Alex melihat ke sekeliling, dan hanya melihat hamparan es di sana.


Saat Alex melihat lebih jelas, Benda terbang ke arahnya mirip seperti manusia, atau lebih tepatnya mirip seperti Alex.


Dari bentuk wajah, tubuh, dan yang lainnya, hanya satu yang berbeda, yaitu warna rambut miliknya adalah putih.


Alex bisa melihat jelas orang itu ketika dia berhenti tepat dihadapan Alex.


"Kau… siapa?" tanya Alex.


"Aku adalah kau, kau adalah aku… aku adalah jiwa lain dari dirimu" ucap orang itu.


"Lalu, aku harus memanggilmu apa?" tanya Alex.


"Terserah" ucap orang itu dingin.


"Baiklah, aku akan memanggilmu, Al saja" ucap Alex.


"Al?" tanya orang itu bingung.


"Iya, kau bilang terserah aku akan memanggilmu apa" ucap Alex.


"Terserah" ucap orang itu lagi.


Alex mulai kesal.


"Kenapa kau ada di sini, apa kau sudah mati?" tanya Al.


'Perkataannya sangat kejam dan tajam' pikir Alex.


"Aku bertanya padamu" ucap Al.


"Aku tidak mati!" teriak Alex.


"Kalau begitu, apa sebentar lagi kau akan mati?" tanya Al.


"Aku tidak mati ataupun akan mati!" ucap Alex.


'Kenapa dia bisa berpikir jika aku akan mati, apa dia mengutukku agar cepat mati?' pikir Alex kesal.


"Oh, lalu kenapa kau ada di sini jika kau tidak dalam keadaan sekarat?" tanya Al.


'Kenapa dipikirannya hanya ada kata mati?' pikir Alex bingung dan juga kesal.


"Ada dua hal yang membuatmu bisa datang ke alam bawah sadar milikmu. Yang pertama adalah kau sedang sekarat, atau kau sudah mati. Yang kedua, kau tidak bisa menahan rasa sakit yang kau rasakan, dan membuat mu tak sadarkan diri, dan sedang dalam kondisi seperti mati" ucap Al.


"Lalu kenapa kau berpikir jika aku sekarat?" tanya Alex.


"Karena itu adalah yang paling mendekati untuk sikapmu yang terlalu baik itu" ucap Al.


Alex hanya bisa menghela napasnya ketika mendengar ucapan Al.


Alex kemudian melihat ke arah Al.


Al memiliki rambut berwarna putih panjang selutut, memiliki dua tanduk di dahinya, memiliki sepasang sayap berbeda warna, sayap kiri hitam dan sayap kanan putih, dan kulitnya putih bersih, tingginya sama dengan Alex.


"Al, kenapa sayapmu berbeda warna?" tanya Alex.


"Aku tidak tahu" ucap Al.


"Lalu, kenapa di sini hanya ada hamparan es saja?" tanya Alex.


"Tempat ini sebelumnya seperti sebuah lautan yang luas, tapi karena aura dingin yang aku miliki mengubah semua air itu menjadi es…" ucap Al.


"Jika dibiarkan lebih lama, es ini bisa membahayakan mu" lanjut Al.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Al.


"Jika kau mati, aku juga akan menghilang, jadi aku akan menyatu dengan jiwamu, Jiwa Phoenix milik mu bisa mencairkan es di sini" ucap Al.


"Menyatu dengan jiwaku? Berarti kau juga akan tetap menghilang?" tanya Alex.


"Tidak, jika aku menyatu dengan dirimu, aku masih tetap di sini, dan juga aku bisa membantumu ketika kau tidak bisa menghadapi seseorang, atau kau dalam kondisi yang parah, itu akan menguntungkan mu" ucap Al.


"Walau itu menguntungkan bagiku, bagaimana dengan mu?" tanya Alex.


"Aku hanya ingin melihat dunia luar saja, dengan menyatu dengan jiwamu, aku bisa melihat apa yang kau lihat" ucap Al.


"Baiklah jika itu yang kau inginkan, kau bisa menyatu dengan jiwaku" ucap Alex.


Al kemudian menyentuh Alex, dan perlahan menghilang.


Tubuh Alex juga bercahaya terang, dan setelah cahaya itu menghilang, hamparan es yang ada di sana perlahan mencair dan terlihat air yang jernih, itu seperti sebuah lautan.


Setelah itu, Al muncul kembali dihadapan Alex.


"Alex, lebih baik keu segera bangun" ucap Alex.


Alex hanya mengangguk, dan kemudian menghilang.


Saat Alex sadar, dia masih berada di Kastil para Penjaga Dimensi, dan cahaya merah masih masuk ke dalam tubuh Alex.


"Aku, kembali" gumam Alex.