
"Berapa banyak uang yang kalian butuhkan?" tanya Alex.
"Aku hanya membutuhkan uang untuk biaya operasi ayahku" ucap Cecyl.
"Apa yang terjadi?" tanya Alex.
"A-ayahku terkena kanker, dokter bilang satu-satunya cara untuk menyembuhkannya yaitu dengan operasi. Tapi, aku tidak mempunyai uang untuk operasi itu" ucap Cecyl.
"Bagaimana dengan yang lainnya?"
"Aku membutuhkan biaya untuk membayar sekolah adik-adikku" ucap Rean.
"Bagaimana dengan orangtuamu?" tanya Alex.
"Orangtuaku sudah meninggal 3 tahun yang lalu karena kecelakaan, saat itu kami pergi untuk berlibur, dan karena kecelakaan itu salah satu adikku harus kehilangan satu matanya. Jadi, sekarang aku yang harus menghidupi semua adik-adikku" ucap Rean.
"A-aku, Ibuku sakit parah dan ayahku juga meminta untuk berpisah dengan Ibuku ketika mengetahui jika Ibuku sakit parah, sekarang aku harus bekerja untuk membeli obat untuk Ibuku. Intinya aku memerlukan uang untuk membeli obat untuk Ibuku!" ucap Giana.
"Bagaimana denganmu?" tanya Alex kepada Anellia.
"Aku seorang yatim-piatu, ayahku adalah seorang pemilik restoran, tapi dia meninggal ketika perjalanan pulang, waktu itu Ibuku sedang mengandung diriku sangat sedih dan menyebabkan aku lahir di usia kandungan 7 bulan, dan karena pendarahan yang terjadi pada Ibuku membuatnya meninggal. Aku dibesarkan oleh Kakek dan Nenek ku, dan aku mengetahui semua kebenaran itu karena Kakek dan Nenek menceritakannya padaku…"
Anellia berhenti sejenak, lalu menghirup napas panjang.
"Kakek dan Nenek ku meninggal satu tahun lalu, dokter mengatakan jika mereka meninggal karena keracunan. Dan saat itu, yang aku pikirkan hanya Paman dan Bibi ku, mereka selalu mengincar harta peninggalan ayahku, mereka bahkan berniat untuk membunuhku… selama satu tahun ini, aku selalu melarikan diri, dan sekarang aku mengikuti para Hunter karena aku sedang kekurangan uang, dan…"
"Apa paman dan bibi mu berhasil mendapatkan restoran itu" tanya Alex memotong pembicaraan Anellia.
"Mereka tidak mendapatkannya karena ada seseorang yang sudah mengelola restoran milik ayahku, dia adalah orang kepercayaan ayahku, Paman Sam, Samuel Richand" ucap Anellia.
"Begitu ya…"
Alex kemudian membalikkan badannya.
"Kalian kembali dulu, aku akan menyelesaikan semua yang ada di sini. Tapi, Zill kau harus mengurus semua mayat yang ada di sini" ucap Alex.
Zill kemudian membakar semua mayat para Hunter, tapi api itu tidak membakar Rean, Giana, Cecyl, dan Anellia.
Setelah itu, Zill langsung pergi menyusul para Penjaga Dimensi lain menuju Kastil mereka.
Gazardiel, Nithael, Xeran, Rin, dan Mofsi kembali ke dimensi milik Alex.
'Uang ya, bahkan saat ini aku juga tidak memiliki uang… Mm, apa koin yang dari zaman dulu itu bisa aku tukar dengan uang? Berapa banyak yang akan aku dapatkan?' pikir Alex.
"Apa kalian tahu dimana tempat untuk menjual barang kuno?" tanya Alex.
"Toko barang antik" ucap Giana.
"Tunggu, bagaimana jika di lelang ke pelelangan? Aku punya teman pemilik tempat pelelangan itu" ucap Anellia.
"Anellia, kenapa kau tidak meminjam uang padanya?" tanya Alex.
"Aku tidak ingin memiliki hutang, apalagi kepada temanku sendiri" ucap Anellia.
"Hah, sudahlah… Anellia, tunjukan jalan ke tempat pelelangan itu" ucap Alex.
Anellia kemudian mengangguk, dan menunjukkan jalannya.
"Tempatnya jauh, butuh 2 jam jika kita berjalan kaki dari sini" ucap Anellia yang tiba-tiba berhenti.
"Itu tidak masalah untukku, bagaimana dengan kalian?" tanya Alex.
"Tidak masalah" ucap Rean.
"Aku tidak bisa berjalan lama, staminaku lemah" ucap Giana.
Alex mengubah penampilannya, dan memakai jubah, kemudian sebuah portal muncul dihadapan mereka berlima.
"Anellia, pikirkan tempat pelelangan itu, kau juga yang pertama masuk, portal ini akan otomatis mengirim kita ke sana" ucap Alex.
Anellia mengangguk, setelah memikirkan tempat itu, dia langsung masuk ke dalam portal, diikuti yang lain dengan Alex masuk paling terakhir.
Sebelum masuk ke dalam portal, Alex menutupi kepalanya dengan tudung jubah, dan memakai sebuah topeng setengah wajah.
Setelah Alex melewati portal itu, portal itu langsung menghilang.
Semua orang yang lewat di tempat itu menengok ke arah mereka berlima karena tiba-tiba muncul di sana.
Yang paling menjadi pusat perhatian adalah Alex, karena dia memakai jubah berwarna hitam di siang hari yang panas.
"Kita langsung masuk saja, jangan pedulikan mereka" ucap Alex.
Mereka berempat kemudian mengganggu, dan masuk.
"Anellia, hubungi temanmu itu" ucap Alex.
Anellia kemudian menghubungi temannya.
"Viona"
"Lia, ada apa?" tanya seseorang dari seberang telepon.
"Aku ada di depan tempat lelang mu"
"Ah, tunggu sebentar, aku akan turun"
Telepon itu kemudian langsung dimatikan oleh Viona.
"Lia, kenapa tidak menghubungi ku dulu jika ingin datang kemari?" tanya Viona.
"Apa dia?" tanya Viona sambil menunjuk Alex.
"Iya"
'Pria ini sangat tinggi' pikir Viona ketika melihat Alex.
"Kenapa terus menatapku?" tanya Alex dingin kepada Viona.
"Tidak ada apa-apa, kalian ikut aku untuk menemui ayahku di atas" ucap Viona.
Mereka kemudian mengikuti Viona ke lantai atas.
"Ayah, ada yang ingin melelang barang di sini!" teriak Viona.
"Masuklah, dan jangan teriak-teriak"
Viona kemudian membuka pintu.
"Siapa yang ingin melelang barang?" tanya Ayah Viona.
"Dia" tunjuk Viona ke arah Alex.
"Maaf, apa kau bisa membuka tudungmu?" tanya Ayah Viona kepada Alex.
Alex kemudian membuka tudungnya.
"Tanda itu…" Ayah Viona kemudian mencari sebuah buku di rak buku yang ada di ruangan itu, dan mengambil buku dengan sampul berwarna hitam.
"Kau seorang Demigod?" tanya Ayah Viona.
"Ayah, itu tidak mungkin, mungkin saja itu tato" ucap Viona.
"Itu tidak mungkin, Viona"
"Kenapa tidak mungkin?" tanya Viona kepada Ayahnya.
"Setiap Demigod memiliki lambang mereka sendiri, lambang itu menunjukkan dia kerurunan Dewa mana" ucap Ayah Viona.
"Lalu lambang yang dia miliki itu lambang Dewa mana?" tanya Viona.
"Dewa Semesta" ucap Ayah Viona.
"Ayah, kau bercanda kan?"
"Jika kau tidak percaya, sentuh saja lambang di dahinya itu" ucap Ayah Viona.
Viona kemudian mendekati Alex dan menyentuh lambang yang ada di dahi Alex.
Seketika sebuah cahaya keluar dari lambang itu, dan penampilan Alex langsung berubah.
Alex hanya menatap datar ke arah Viona, karena dia kembali memakai pakaian yang kuno itu lagi.
"I-ini" Viona terkejut melihat perubahan Alex.
Alex langsung mengubah penampilannya kembali, dan menghilangkan lambang di dahinya.
"Apa kalian sudah puas?" tanya Alex.
"Huft, barang apa yang ingin Anda lelang?" tanya Ayah Viona.
Alex kemudian menyerahkan beberapa koin emas kuno.
"koin ini ingin aku lelang, dan uangnya berikan kepada mereka" ucap Alex sambil menunjuk Rean, Giana, Cecyl, dan Anellia.
"Apa saya juga bisa membelinya untuk dikoleksi?" tanya Ayah Viona.
"Terserah"
Alex kemudian menyerahkan 10 koin emas, 10 koin perak, dan 10 koin tembaga.
Semua yang ada di ruangan itu hanya bisa melihat Alex mengeluarkan koin itu.
"Ini, apa masih ada?" tanya Ayah Viona.
"Masih banyak, ada ribuan di penyimpanan ku" ucap Alex.
Mereka hanya bisa terdiam ketika mengetahui jika Alex memiliki ribuan koin.
"Satu koin akan saya jual dengan harga minimal 10 juta, apa Anda keberatan?" tanya Ayah Viona.
"Terserah saja, aku serahkan semuanya padamu, dan uangnya bagi rata untuk mereka berempat" ucap Alex.
Ayah Viona kemudian mengangguk, dan menyimpan semua koin itu di sebuah kotak.
"Pelelangan akan dilakukan malam ini, Anda bisa datang ke acara lelang itu jika Anda ingin melihatnya" ucap Ayah Viona, dan memberikan sebuah kartu berwarna hitam dengan garis emas di tengah kartu itu.
"Apa ini?" tanya Alex.
"Ini adalah kartu VVIP di tempat ini, Anda akan langsung ditempatkan di sebuah ruangan khusus" ucap Ayah Viona.
"Baiklah"
Alex kemudian menyimpan kartu itu di ruang dimensi miliknya.
"Apa kalian juga akan ikut di pelelangan itu?" tanya Alex.
Rean, Giana, Cecyl, dan Anellia mengangguk bersamaan.