I'M Lord Vampire

I'M Lord Vampire
66



Rehan mencoba melepaskan cengkraman tangan Nithael, tapi itu percuma karena perbedaan kekuatan mereka berdua sangat jauh.


"Nithael, lepaskan!" ucap Alex.


"Jangan mengganggu kesenanganku!" teriak Nithael.


"Kau menyakitinya" ucap Alex.


Nithael kemudian melepaskan cengkraman tangannya, dan muncul di samping Alex.


"Alex, aku akan melatihnya, untuk teknik penyembuhan, kau bisa mengandalkan Gazardiel" ucap Nithael.


"Nithael kembalilah, kau bisa melatihnya sesuai yang kau inginkan setelah kita kembali" ucap Alex.


"Rean, setelah ini kita temui yang lain" lanjut Alex.


Rean hanya mengangguk menanggapi ucapan Alex.


Alex kemudian terdiam karena merasakan sesuatu, itu ada di balik jendela, ada seseorang yang sedang mengawasi mereka.


"Ada seseorang di jendela, mungkin itu partner dari assassin yang kita tangkap" ucap Alex.


Alex kemudian berdiri, dan berjalan ke arah jendela.


Alex membuka jendela itu, tapi Alex tidak menemukan apapun. Alex hanya merasakan hawa kehadiran seseorang.


'Apa ini kemampuan kamuflase?' pikir Alex.


Saat Alex ingin menyentuh tembok, ada suatu benda yang Alex pegang.


"Aku menyentuh kaki, kan?" gumam Alex.


Alex kemudian menggenggam kaki itu, dan menariknya, kemudian melemparnya ke dalam rumah.


Manusia yang kakinya ditarik oleh Alex langsung menampakkan dirinya, dan akan menyerang salah seorang yang ada di dekatnya, dan mengincar Caine dan Rehan, tapi sebuah rantai langsung mengelilingi mereka berdua, menangkis belati yang assassin itu arahkan kepada mereka.


"Kau tidak akan bisa melukai kami, kau hanya mengantarkan nyawamu sendiri kedalam kematian" ucap Alex.


Saat Alex melihat lebih teliti ke arah assassin itu, Alex mengetahui jika assassin itu adalah seorang wanita.


"Jika aku tidak salah tebak… kau seorang wanita kan? Tapi dadamu rata" ucap Alex yang membuat assassin wanita itu kesal dan marah.


"Alex, kata-katamu itu akan membuatmu dijauhi oleh wanita" ucap Nithael.


"Apa yang salah dengan kata-kataku? Aku hanya mengungkapkan kebenaran" ucap Alex.


Assassin wanita itu semakin marah dan langsung melesat ke arah Alex, tapi sebuah rantai langsung mengikat assassin wanita itu.


"Lebih baik kau diam jika tidak ingin mati" ucap Alex.


"Kami adalah seorang pembunuh, kenapa harus takut mati?" tanya assassin wanita dengan sombongnya.


"Kalau begitu aku akan langsung mengirim mu ke neraka, dan kau akan langsung dihadapkan kepada Raja Neraka" ucap Alex sambil menyeringai, dan itu membuat assassin wanita sedikit ketakutan dengan seringaian Alex, bukan kata-kata Alex.


Alex tidak segan-segan langsung mengeluarkan aura miliknya yang sangat mendominasi.


Assassin wanita itu sedikit kehilangan kesadarannya, tapi dia masih bisa bertahan.


'Tekanan yang sangat mengerikan' pikir assassin wanita.


Alex langsung memasukkan assassin wanita dan juga assassin yang sebelumnya ingin membunuh mereka ke dalam dimensi miliknya.


"Rean, sepertinya kita harus pergi sekarang" ucap Alex.


"Kemana kita akan pergi?" tanya Rean.


"Tentu saja menemui Giana dan Cecyl" ucap Alex.


"Siapa yang pertama?" tanya Rean.


"Giana, karena dia hanya tinggal dengan Ibunya, jadi kita bisa membawa mereka dulu" ucap Alex.


Dan Rean hanya mengangguk. Nithael yang merasa bosan langsung kembali ke dalam dimensi milik Alex.


Alex kemudian menyuruh Mofsi untuk keluar, dan seeko serigala besar muncul.


"Woah, ini serigala kan?" tanya Caine.


"Caine apa kau…" sebelum Alex menyelesaikan kata-katanya, seseorang langsung berbicara dipikiran Alex.


'Alex, apa kau menyebut namaku?' tanya Caine (Penjaga Dimensi).


"Ah, aku melupakannya, akan sulit memanggil mereka berdua jika nama mereka sama" gumam Alex.


'Ah, maafkan aku, ada seseorang yang ku kenal yang bernama Caine juga' ucap Alex kepada Caine (Penjaga Dimensi).


(Author : Hayo, pada bingung (. ❛ ᴗ ❛.))


"Caine, apa aku bisa memanggilmu Rafa?" tanya Alex.


"Iya, tidak apa-apa" ucap Caine yang mulai sekarang akan dipanggil Rafa.


(Author : Saya ganti aja nama adiknya Rean menjadi Rafa, karena saya juga bingung wkwkwk, lagian namanya Caine Rafa Heranata, jadi gak papa)


"Rehan, Rafa, kalian akan naik di atas serigala ini, jadi kalian tidak akan kelelahan" ucap Alex.


Mofsi langsung menurunkan badannya agar Rehan dan Rafa bisa naik ke atas punggungnya.


Setelah mereka berdua naik, Mofsi kembali bangun.


"Rean, kemasi barang-barang mu" ucap Alex, dan Rean menganggukkan kepalanya.


Rean membaringkan Kiana di lantai, dan langsung membereskan barang-barang yang akan dia bawa.


"Jika sudah selesai, berikan barang-barang mu padaku, aku akan menyimpannya ke dalam dimensi milik ku" ucap Alex.


Setelah Rean mengemas semua barang-barangnya, Rean memberikannya kepada Alex, dan semuanya dimasukkan ke dalam dimensi milik Alex.


"Naikkan tubuh Nana ke punggung Mofsi, Rehan bisa memegang Nana dan tidak akan terjatuh" ucap Alex.


Posisi mereka bertiga di atas punggung Mofsi yaitu Caine… eh, maksudnya Rafa ada di depan, lalu Nana ditengah, kemudian Rehan paling belakang.


"Alex, apa kita akan berjalan kaki ke rumah Giana?" tanya Rean.


"Memangnya kenapa?" tanya Alex.


"Bukankah kau bisa menggunakan teleportasi?" tanya Rean.


"Aku sedang malas untuk menggunakannya" ucap Alex yang membuat Rean menghela napasnya.


Diperjalanan menuju rumah Giana, mereka menjadi tontonan orang-orang karena ukuran Mofsi yang terlalu besar dan tinggi untuk seekor anjing.


"Ukh, terlalu memalukan jika dilihat banyak orang" keluh Rean.


"Kalau begitu kita cari tempat sepi dulu, lalu berteleport ke rumah Giana" ucap Alex, dan Rean terlihat senang.


Saat Alex dan yang lainnya mencari tempat yang sepi, seorang anak kecil menabrak Alex, dan Alex langsung menarik pakaian anak kecil itu.


'Dia memiliki bau Vampire' pikir Alex.


Saat anak kecil itu menoleh ke arah Alex, anak itu langsung ketakutan. Anak itu ketakutan bukan karena wajah Alex, tapi aura Alex yang menekan dan sangat mendominasi membuat anak itu ketakutan.


"Raja… Vampire…" gumam anak itu sambil gemetar ketakutan.


"M… My Lord, sa-saya salah, maafkan saya…" suara anak itu bergetar di setiap katanya, dan kata-katanya juga membuat Alex bingung.


'Menjahilinya sedikit gak papa kali ya' pikir Alex.


"Kau tau apa salahmu?" tanya Alex dingin, dan dengan wajah datarnya.


Anak itu semakin ketakutan dan langsung bersujud, menghiraukan pasang mata yang melihat ke arah mereka.


"Alex, lakukan sesuatu, orang-orang akan berpikir jika kita menganiaya seorang anak kecil" bisik Rean.


"Bangunlah dan ikuti aku" ucap Alex dingin.


Alex kemudian berjalan ke sebuah gang yang sepi.


"Apa yang terjadi?" tanya Alex kepada anak kecil itu.


"Eh?" anak kecil itu terlihat kebingungan.


"Cara bicaramu dan tatapanmu itu, ada masalah besar kan?" tanya Alex, dan anak kecil itu mengangguk.


"I-ini ulah para Hunter, me-mereka menangkap Vampire untuk dijadikan pelayan dan budak" ucap anak kecil itu, dan anak kecil itu langsung menangis.


Alex yang mendengar itu langsung marah, dan terlihat awan dilangit menggelap.


"Alex, sepertinya emosimu bisa merubah cuaca di sekitar" ucap Rean sambil melihat ke langit.


Alex yang mendengar itu langsung tersadar dan melihat langit yang sudah di kelilingi awan berwarna abu gelap.


"Sepertinya akan ada badai besar…" ucap Rean sedikit gemetar karena tiba-tiba angin menjadi kencang yang membuatnya kedinginan, sedangkan adik-adik Rean hanya memeluk bulu Mofsi yang tebal membuat mereka bertiga merasa hangat.


"Kakak, apa yang terjadi?" tanya Kiana.


"Kapan kamu sadar?" tanya Rean.


"Saat langit tiba-tiba mendung" ucap Kiana.


"Alex, sepertinya mulai sekarang kau harus mengontrol emosi mu" ucap Rean, dan Alex hanya menghela napasnya. Setelah Alex tenang, awan itu langsung menghilang dan cuaca kembali cerah.