
"Atap sekolah memang tempat strategis untuk tidur"
Alex bergumam lalu duduk dan menyandarkan tubuhnya pada tembok, dia mulai menutup matanya…
Setelah 45 menit berlalu. . .
Trrtttt… Trrtttt… Trttt
Bel masuk berbunyi.
Alex membuka matanya, kemudian berdiri dan meregangkan tubuhnya.
"Masuk lewat jendala kah?"
Alex lalu melompat dari atap, dan memperlambat kecepatan meluncurnya dengan menggesekkan sepatunya ke arah tembok.
Untung saja kelasnya tepat di sebelah kanan Alex turun.
Dengan cekatan, Alex melompat ke sisi kanan lalu membuka jendela dan melompat ke dalam.
Semua yang ada di kelas itu langsung terdiam dengan mulut terbuka termasuk seorang guru yang sudah berada di dalam kelas, karena melihat Alex yang masuk dari arah jendela.
Semua orang tahu jika kelas mereka berada di lantai 3.
Dan Alex dengan mudahnya masuk lewat jendela, dia bahkan tidak terlihat kelelahan.
Di sekolah yang Alex tempati, di lantai pertama adalah tempat untuk nongkrong. Di lantai 2 adalah kelas X untuk jurusan IPS.
Lantai 3 adalah kelas X jurusan IPA. Lantai 4 kelas XI jurusan IPS. Dan terakhir lantai 5 kelas XI jurusan IPA.
Untuk kelas XII mereka berada di gedung yang terpisah.
Alex terdiam karena semua arah mata tertuju padanya kecuali Nithael, Gazardiel, dan Rein.
Rein bersikap acuh, karena saat ini dia sedang mengelus bulu seekor anak anjing berjenis alaskan malamute berbulu abu ada di pangkuannya.
Anak anjing itu hanya terdiam di pangkuan Rein, dan mendengkur pelan.
Alex yang mendengar suara dengkuran halus langsung melihat ke arah sumber suara.
Alex melihat Rein sedang mengelus seekor anak anjing.
Alex hanya menghela napasnya.
'Apakah pengikutku akan bertambah banyak?' Alex hanya berdiri diam, lalu dia melangkah ke arah bangkunya.
"Alex, pulang sekolah nanti, temui saya di kantor guru. Rein juga" setelah mengatakan itu guru itupun langsung memulai pelajaran.
…
…
…
Bel pulang sudah berbunyi sedari tadi, Alex dan Rein sudah selesai dengan urusan mereka di kantor guru.
Rein masih membawa anak anjing di pelukannya.
"Rein, di mana kau menemukan anak anjing itu?"
Alex penasaran dengan datangnya anak anjing itu.
"Aku menemukannya di gerbang sekolah, saat itu dia sangat kotor karena lumpur. Setelah kumandikan di kamar mandi, tubuhnya kembali bersih dan terlihat warna bulunya yang indah"
Rein berbicara sambil mengelus bulu anak anjing itu.
"Melf Xerzan, karena dia jantan kita namai itu, dan aku menambahkan nama belakangmu di namanya"
"Oh"
Rein hanya ber-oh ria. Saat ini Alex dan Rein sedang menuju ke rumah Alex, karena Nithael dan Gazardiel sudah pulang terlebih dahulu, jadi mereka hanya pulang berdua.
~•~
Tak terasa sudah sebulan Alex, Rein, Gazardiel dan Nithael sekolah.
Dan saat ini mereka berempat menjadi idola di sekolahnya.
Alex dan Gazardiel di kenal dengan sebutan Pangeran es, karena wajah mereka yang tampan dan sikap mereka yang dingin dan acuh kepada siapapun.
Walaupun begitu, Alex dikenal dengan kepintarannya dalam bidang Olahraga, Kimia dan Fisika.
Sedangkan Gazardiel dikenal dengan kepintarannya dalam pelajaran hitung-menghitung, apalagi Matematika.
Nithael dikenal dengan kecantikannya dan kepintarannya dalam pelajaran sejarah dan Geografi.
Dan yang terakhir, Rein dikenal dengan ketampanan yang dia miliki, bahkan memiliki fans clubnya sendiri, Rein juga disebut ahlinya dalam bidang Biologi.
Bahkan Nithael lebih parah, dia pernah menempelkan lem di bangku guru semenit sebelum guru masuk.
Dan guru itu tidak menyadarinya, dan saat akan bangun (kalian pasti tahu kan?), celana guru itu sobek dan karena itu guru itupun marah dan bertanya siapa yang menempelkan lem di kursi guru.
Dengan santainya Nithael mengacungkan tangannya, dia mengacungkan tangannya bukan untuk mengakui jika dia yang melakukannya. Tapi, dia mengacungkan tangannya ingin izin untuk ke toilet dengan alasan dia sakit perut.
Nithael dengan wajah tanpa dosanya berjalan keluar kelas, dan saat sampai di toilet dia tertawa lepas.
Dan untuk Alex, saat itu waktu istirahat makan siang, dia memasuki kelas setelah selesai dari toilet.
Saat mengedarkan pandangannya, dia menemukan tasnya kotor dan basah oleh lumpur, dan sudah dipastikan jika buku pelajarannya juga basah.
Alex menghela napasnya dan membawa tasnya dan berjalan keluar, saat akan melangkahkan kakinya keluar kelas dia mendengar gelak tawa di dalam kelas, Alex hanya menanggapinya dengan seringaian.
Dan saat bel masuk berbunyi, dan saat itu juga pelajaran guru killer di mulai, Alex melancarkan aksinya dan membuat guru itu marah dan membuat seluruh murid di kelas, itu juga termasuk Alex, Gazardiel, Rein dan Nithael, harus menghormat bendera sampai bel pelajaran berikutnya berbunyi.
Mereka berempat tidak merasakan efek panasnya matahari saat tengah hari karena fisik mereka di atas rata-rata, tapi hukuman itu membuat beberapa siswi jatuh pingsan dan mengeluh.
Jadi, mereka berjanji pada diri mereka untuk tidak membuat Alex marah ataupun kesal, bahkan saat mereka melihat Alex, itu seperti melihat Iblis, karena Alex saat ini hanya menyeringai dan menampakkan taringnya yang sedikit lebih panjang dari manusia normal.
~•~
"Alex, apa kita akan terus bersekolah di sini?" tanya Nithael sambil menghela napas, karena dia mulai bosan di sekolah.
Saat ini Alex, Rein, Nithael dan Gazardiel sedang berada di atap sekolah.
"Aku tidak tahu… mungkin kita akan tetap sekolah sampai 2 tahun ke depan" jawab Alex.
"Itu sama saja sampai kita lulus, bodoh!" Nithael kemudian memukul kepala Alex karena kesal dengan jawaban yang diberikan oleh Alex.
"Bersabar saja, lagipula di sini tidak terlalu membosankan, dan banyak buku di perpustakaan" ucap Gazardiel sambil membaca buku yang ada di tangannya.
"Dasar kutu buku!" Nithael berteriak ke arah Gazardiel.
"Kenapa tidak boleh membawa Melf ke sekolah?" kini giliran Rein yang mengeluh karena dia ingin bermain dengan anak anjingnya.
"Sekolah itu tempat untuk belajar, bukan tempat bermain. Kau juga masih bisa bermain dengan Melf jika sudah pulang sekolah" ucap Gazardiel yang masih sibuk membaca buku.
"Hoamm… aku ingin tidur" ucal Nithael, lalu bersandar di tembok yang ada di belakangnya.
'Mm, aku mulai lapar. Tapi, di mana aku bisa mendapatkan darah? Tidak mungkin kan, jika aku tiba-tiba menculik salah satu murid di sekolah, dan meminum darahnya' batin Alex.
"Master, kenapa kau melamun?" tanya Rein.
"Eh, tidak ada apa-apa, Aku hanya lapar saja, dan juga. Jangan panggil aku master!" ucap Alex kepada Rein.
"Oh" Rein hanya ber-oh-ria.
"Ha~, aku ingin minum darah" ucap Alex.
"Eh, darah?" tanya Rein.
"Ya, memangnya kenapa?" Alex kembali bertanya kepada Rein.
"Eh, tidak ada apa-apa, A-Alex" Rein kemudian memalingkan wajahnya.
"Dasar serigala kecil!" ucap Alex kesal.
Alex kemudian menarik kerah baju bagian belakang Rein, dan membawa Rein turun dari atap sekolah.
"Uwah! Master ini sakit!" teriak Rein.
"Sudah kubilang! Jangan panggil aku master!" ucap Alex tegas.
"Maafkan aku mas… eh, Alex maaf" Rein kemudian terlihat akan menangis.
'Kenapa dia malah terlihat seperti seekor anak anjing?' batin Alex.
Alex kemudian melepaskan Rein.
"Ikut aku" ucap Alex kepada Rein.
Rein hanya pasrah dan mengekor di belakang Alex.
~•~•~•~•~•~
~~Selamat Hari Raya Idul Fitri.
Mohon Maaf Lahir dan Bathin****…
Jangan lupa like, comment, and share.~~