
Setelah Alex dan Zen sampai di depan kamar Ratu Kerajaan An, mereka langsung masuk ke dalam kamar setelah para pengawal yang menjaga membukakan pintu.
Mereka berdua langsung mendekati Ratu yang terbaring di atas kasur.
Saat Alex dan Zen mendekat, tiba-tiba seorang pria berpakaian hitam muncul dihadapan mereka berdua.
Orang itu menghunuskan pedangnya ke arah Alex.
Alex langsung membuka topeng yang menutupi setengah wajahnya.
"Pa-Pangeran kedua, maaf hamba tidak mengenali anda sebelumnya" ucap orang itu.
Alex tidak mengatakan apapun, dan langsung mendekati Ratu.
'Apa yang terjadi padanya?' pikir Alex.
'Alex, dia seperti itu karena ada racun di dalam tubuhnya, racun itu efeknya sangat lambat dan melemahkan tubuhnya, jika racun itu dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama' ucap Gazardiel.
"Racun…" gumam Alex.
"Racun? Apa maksudmu Ratu terkena racun?" tanya Zen.
"Ya, aku merasakan racun di dalam tubuhnya walau samar" ucap Alex, kebenarannya adalah Gazardiel yang memberitahunya.
"Apa kau akan melakukan cara yang sama seperti sebelumnya?" tanya Zen.
"Aku tidak mempunyai cara lain" ucap Alex.
"Hah? Aku tahu kau memiliki nyawa yang banyak, tapi kau juga tidak boleh menyia-nyiakan nyawamu sendiri" ucap Zen.
"Aku tidak menyia-nyiakan nyawaku, aku melakukannya karena aku kebal terhadap racun" ucap Alex.
"Kebal terhadap racun!" teriak Zen dan orang berpakaian hitam.
"Bisakah kalian tidak berteriak seperti itu?" tanya Alex.
"Mm… Alex, apa kau benar-benar kebal terhadap racun?" tanya Zen kepada Alex.
"Ya, jika kau tidak percaya, kau bisa meracuniku…" ucap Alex.
'Zen, aku kebal terhadap racun karena aku memiliki teknik pengendalian darah' Alex bertelepati dengan Zen.
"Oh!" Zen hanya ber-oh-ria.
Alex mengabaikan mereka berdua, dan fokus terhadap Ratu.
Saat akan menyembuhkan Ratu Kerajaan An, Alex dan Zen tiba-tiba kembali ke dunia nyata.
"Ah! Apa yang terjadi!" teriak Zen.
"Lihatlah ke arah komputer" ucap Alex sambil menunjuk komputer yang ada dihadapannya.
Di sana terlihat seekor Serigala, dan kaki Serigala itu menekan tombol keyboard.
"Ah! Dia menginjak tombol keluar!" ucap Zen kesal.
Zen langsung mendekati Serigala kecil itu.
Saat Mofsi melihat Zen mendekat ke arahnya, Mofsi langsung mengecilkan tubuhnya, dan berlari ke arah Alex, dan masuk ke dalam baju Alex.
"Ah! Serigala kecil, kemari lah" ucap Zen kesal, kemudian mendekati Alex.
"Auuuuu…" Mofsi melolong kecil.
"Mofsi, keluarlah… tidak akan ada yang terjadi" ucap Alex.
Mofsi kemudian memunculkan kepalanya dari baju Alex.
"Wooo…" Mofsi memiringkan kepalanya.
Tanpa pikir panjang lagi, Alex langsung menarik Mofsi keluar, dan mendudukkannya tepat di depan Alex.
"Duduk diam di sini" ucap Alex kepada Mofsi.
Mofsi hanya bisa diam menuruti perkataan Alex.
"Wah~, Serigala kecil ini sangat menurut padamu" ucap Zen sambil mengetuk-ngetuk kepala Mofsi, dan diakhiri dengan Mofsi menggigit tangan Zen.
"Alex, bisa kau menyuruhnya untuk melepaskan gigitannya di tanganku?" tanya Zen, memperlihatkan tangannya yang digigit oleh Mofsi mengeluarkan darah.
"Hm… Mofsi jangan gigit dia lagi" ucap Alex.
Mofsi tidak mendengarkan Alex, dan terus menggigit tangan Zen.
"Dia masih belum melepaskan gigitannya!" teriak Zen.
"Mofsi, jika kau tidak melepaskan gigitanmu, aku tidak akan mengelusmu lagi" ucap Alex.
Mofsi yang mendengar itu langsung melepaskan gigitannya, dan langsung melompat kepangkuan Alex.
Alex kemudian mengeluus bulu Mofsi yang lembut.
"Dia sangat manja padamu…" ucap Zen kepada Alex.
"Tentu saja, karena dia adalah Serigala Bulan, mungkin satu-satunya Serigala Bulan di dunia ini" ucap Alex.
"Se-Serigala Bulan!" teriak Zen, terkejut.
"Ya, aku tidak sengaja menemukannya, dan langsung membuat kontrak dengannya" ucap Alex.
Alex kemudian berdiri dan meletakkan Mofsi di lantai.
"Aku harus segera pergi…" ucap Alex, dia merasakan firasat buruk.
"Beritahu Zeana dan Adelia untuk segera kembali" lanjut Alex.
"Apakah benar-benar terjadi masalah?" tanya Zen.
"Lakukan saja apa yang aku katakan…" ucap Alex.
'Kenapa aku terus merasa jika akan ada pertumpahan darah?' pikir Alex.
'Alex, berhati-hatilah, semua yang kau rasakan itu bisa menjadi kenyataan' ucap Xeran bertelepati dengan Alex.
'Menjadi kenyataan?' tanya Alex bingung.
'Ya, apalagi kau adalah pemilik Jiwa Phoenix' ucap Xeran.
'Apa aku beritahu para Penjaga Dimensi saja?' tanya Alex.
'Lakukanlah, diantara mereka ada yang bisa melihat masa depan' ucap Gazardiel.
Alex terkejut mendengar ucapan Gazardiel.
"Aku tidak ada pilihan lain, aku harus memberitahu mereka" gumam Alex.
Alex kemudian melakukan telepati dengan para Penjaga Dimensi.
'Apa kalian mendengarku?' tanya Alex.
'Alex, ada apa?' tanya Vivi.
'Apa salah satu diantara kalian ada yang bisa melihat masa depan? Aku memiliki firasat yang buruk' ucap Alex.
'Itu hanya firasat mu saja' ucap Rui.
'Rui, dia adalah pemilik Jiwa Phoenix, bisa saja firasat yang dia rasakan itu akan terjadi' ucap Zill.
'Apa yang kau rasakan?' tanya Jein.
'Akan terjadi pertumpahan darah dalam waktu dekat, tapi aku tidak tahu kapan itu terjadi' ucap Alex.
'Tunggu sebentar' ucap Asra.
'Eh?' Alex bingung dengan apa yang dikatakan Asra.
'Asra adalah Putra dari Dewa Kematian, dan salah satu kemampuannya adalah melihat masa depan' ucap Jein.
'Alex, memang akan terjadi peperangan' ucap Asra.
'Kapan?' tanya Alex.
'Besok, diperbatasan dan yang memulainya adalah para Hunter' ucap Asra.
'Bukankah kalian sudah memperkuat dimensi?' tanya Alex.
'Itu benar, tapi kekuatan kami saat ini tidak bisa memperkuatnya ke tingkatan yang lebih tinggi, kami membutuhkan energi lebih banyak lagi untuk mencegah mereka menerobos dimensi dengan paksa' ucap Caine.
'Apa bisa menggunakan energi milikku?' tanya Alex.
'Bisa saja, sebelumnya juga kami menerima energi darimu, jadi kami bisa menggunakan energimu walau kau tidak ada di sini' ucap Vivi.
'Kalau begitu, kalian gunakan saja energi milikku untuk memperkuat dimensi' ucap Alex.
'Apa kau yakin? Akan banyak sekali energi yang digunakan' ucap Jein.
'Aku memiliki energi tak terbatas, jadi tidak akan terjadi apa-apa padamu' ucap Alex.
'Baiklah jika kau mengatakan itu, kami tidak akan ragu lagi untuk menggunakan energi milikmu' ucap Jein.
Alex kemudian memutus telepatinya dengan mereka.
"Zen, bangun pertahanan yang kuat di wilayah mu" ucap Zen.
"Alex, ada apa sebenarnya?" tanya Zen.
"Tadi aku berbicara dengan para Penjaga Dimensi, mereka bilang besok para Hunter akan menerobos dimensi dengan paksa"ucap Alex.
"Bukankah para Penjaga Dimensi sudah memperkuat dimensi ini?" tanya Zen.
"Mereka memang sudah memperkuat dimensinya, tapi energi mereka belum cukup untuk memperkuat dimensi ini lebih kuat lagi, jadi aku takut jika para Hunter bisa menerobos masuk. Dan umumkan ini kepada semua Ras yang ada, beritahu jika itu dari para Penjaga Dimensi, jika mereka tidak percaya, suruh mereka datang menemuiku, di Kastil Lord Regmus" ucap Alex.
Zen kemudian menganggukkan kepalanya, dan langsung pergi keluar