
Saat tak sadarkan diri, Renz mengambil alih tubuh Alex.
"Renz, apa Alex baik-baik saja?" tanya Jein.
"Dia baik-baik saja, Jiwanya masih lemah, apalagi untuk bisa mengendalikan kekuatan yang sangat besar" ucap Renz.
"Kau benar, walaupun tubuhnya bisa menahan kekuatan ini, tapi tidak dengan Jiwa miliknya, aku takut jika Jiwanya terluka" ucap Caine.
Renz terdiam, membuat Para Penjaga Dimensi kebingungan.
"Ada apa?" tanya Vivi.
"Aku tidak menemukan Jiwa Alex di alam bawah sadarnya. Tapi, dia ada di dunia bawah" ucap Renz.
""Hah?!"" para Penjaga Dimensi berteriak terkejut.
"kita harus segera menyelamatkan Alex" ucap Zill.
"Kau benar, Renz kau juga ikut" ucap Caine.
Kemudian mereka pergi menuju dunia bawah menggunakan teleportasi, tapi mereka hanya bisa sampai di pintu masuknya saja, karena Neraka memiliki pertahanan yang kuat.
Dan mereka mencoba membuka pintu Neraka itu dengan berbagai cara, dan akhirnya mereka bisa melemahkan pertahanan Neraka, dan mereka langsung masuk.
~•~
Di sisi lain…
Alex membuka matanya, dan saat melihat sekeliling, Alex tidak mengetahui dimana dia sekarang.
Alex kemudian berdiri, dan merapikan pakaiannya.
"Eh? kenapa tubuhku transparan?" Alex bingung ketika melihat tangan dan pakaiannya menjadi transparan.
Alex melihat kembali sekelilingnya, dan tidak ada siapapun di sana.
Alex kemudian berjalan pergi dari tempat itu, tapi tempat itu sangat luas, dan suhu sangat panas.
Alex tidak merasakan apa-apa karena dia memiliki Jiwa Phoenix, tapi dia bisa melihat jika api keluar dari tanah, bahkan tanahnya berwarna kemerahan.
Alex kemudian berhenti, di depannya terlihat sebuah batu besar yang menghalangi jalannya.
Dari kejauhan juga, Alex melihat jika ada seseorang yang sedang mendekatinya.
"Aku tidak menyangka kau masih hidup… kakak" ucap orang itu.
'Kakak? Apa maksudnya?' pikir Alex.
Orang itu kemudian menghilang dan langsung muncul dihadapan Alex, kemudian menendang Alex sampai batu besar yang ada didekat mereka hancur.
Duum!
Tendangan yang dilakukan oleh orang itu sangat kuat, membuat suara ledakan yang keras.
Tidak terjadi apa-apa dengan Alex, hanya saja dia sangat terkejut dan membuat Alex terdiam.
"Apa sudah mati?"
Orang itu kemudian mendekati Alex yang masih terbaring di tanah.
"Kak Renz, ternyata memang benar jika Jiwamu masih utuh, tapi kau saat ini sangat lemah, kau tidak akan bisa mengalahkan ku!" teriak orang itu, yang ternyata adalah Lorn, adik dari Renz.
'Ternyata begitu, dia adalah Lorn Kin Houran, adik dari Renz, dan juga apa karena aku mirip dengan Renz makanya dia menganggap ku sebagai Renz?' pikir Alex.
"Memangnya kenapa jika kau Raja Neraka? Apa ada masalah jika aku lemah? Lagipula kau tidak pantas menjadi Raja Neraka" ucap Alex dingin dan aura milik Alex membuat tanah disekitar bergetar.
Alex kemudian berdiri, matanya perlahan berubah menjadi hitam keseluruhan, dan rambutnya menjadi berwarna putih dan panjang, seperti Renz, sepasang sayap berbeda warna muncul dipunggung Alex, dan Pedang Neraka langsung muncul ditangan Alex.
"Pedang Neraka! Kenapa Pedang Neraka masih ada padamu, dan masih menganggapmu sebagai Tuannya!!!" teriak Lorn.
Alex tidak menjawab, dan kemudian menghilang dari pandangan Lorn.
Lorn menjadi waspada karena Alex tiba-tiba menghilang, bahkan mata dan kekuatan miliknya pun tidak bisa mendeteksi keberadaan Alex.
Srash!
Bam!
Alex menggores tangan Lorn, kemudian menendang Lorn sekuat tenaga.
"Aku tidak terbiasa menggunakan Pedang" gumam Alex, dan langsung menghilangkan Pedang Neraka.
Alex kemudian menggunakan rantai dari api silveri miliknya, dan langsung mengikat Lorn.
Tanpa Alex sadari, Renz dan para Penjaga Dimensi sudah berada dibelakang Alex.
"Oh, kalian di sini!" ucap Alex.
"Ya, Renz mengatakan jika kau tidak berada di alam bawah sadarmu" ucap Caine.
"Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa tiba-tiba berada di sini" ucap Alex.
"Lorn, kau tidak berubah. Kau sudah memiliki semuanya, kenapa kau masih mengincarku?" tanya Renz kepada Lorn.
"Hahahaha… sepertinya Jiwamu terpecah! Hahahaha…"
"Tidak, Jiwaku tidak terpecah, dia adalah dia, aku adalah aku… walaupun kami serupa tapi kami berbeda" ucap Renz dingin.
"Apa?!" teriak Lorn terkejut.
"Itu tidak mungkin, bahkan tubuhmu sudah menjadi debu, bagaimana mungkin Jiwamu masih utuh!" teriak Lorn kepada Renz.
"Kau benar-benar tidak mengerti, ya… Jiwaku masih utuh karena para Dewa menolong ku, mereka mengambil Jiwaku, bahkan aku sekarang memiliki kekuatan es abadi" ucap Renz.
"Es… abadi… itu tidak mungkin, dan juga jika dia bukan Jiwamu, kenapa dia memiliki Pedang Neraka?!" tanya Lorn sambil berteriak.
"Alex, tunjukan kekuatan mu yang sesungguhnya" ucap Renz kepada Alex.
Alex hanya mengangguk, kemudian Alex mengeluarkan api Jiwa Phoenix miliknya.
enam buah api berwarna-warni muncul mengelilingi Alex.
"Tidak mungkin! Itu tidak mungkin! Tidak mungkin kau memiliki semua api Jiwa Phoenix!" teriak Lorn, tapi dia tidak bisa bergerak karena tubuhnya terikat oleh rantai.
Alex kemudian memperbesar api silver miliknya.
"Api… ketiadaan…" Lorn benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Sudah lama tidak ada yang memiliki api ketiadaan.
"Dia memiliki apa yang tidak aku miliki, bahkan Pedang Neraka langsung menganggapnya sebagai Tuannya sendiri" ucap Renz.
Suasana tiba-tiba menjadi hening setelah Renz berbicara.
Tidak ada yang memulai pembicaraan, mereka semua hanya terdiam.
"Di saat kau berada dihadapan kekuatan absolute, kau tidak bisa berbuat apa-apa…" ucap Renz.
"Di saat kematian menjemput mu, kau hanya akan terdiam, dan tidak bisa bisa melakukan apapun" lanjut Renz.
"Di balik keabadian, kau hanya akan merasakan kesepian… setiap yang hidup akan mati… mau itu manusia atau Dewa sekalipun" ucap Caine.
"Lorn, aku akan mengambil kembali apa yang seharusnya aku miliki. Tapi, jika kau ingin tetap menjadi Raja Neraka, kau harus memenuhi semua syarat dariku ka…" ucap Renz.
"Tsk!… aku tidak akan pernah memberikan Neraka kepadamu! aku adalah Raja Neraka sekarang, kau sudah dilupakan!" ucap Lorn memotong ucapan Renz.
"Diam… siapa kau berani memotong ucapan ku?" tanya Renz.
Renz mengeluarkan hawa dingin, hawa dinginnya bahkan bisa menekan panas dari Api Neraka.
Lorn bisa merasakan jika hawa dingin yang dikeluarkan oleh Renz masuk sampai ke tulang-tulangnya.
"Kau tidak mengerti ya… sekarang kau sedang menghadapi kekuatan absolute, walaupun kau melawan, kau hanya akan menghadapi kematian mu sendiri" ucap Renz.
Renz kemudian mendekati Lorn.
"Alex, lepaskan rantainya" ucap Renz.
Alex melepaskan rantai yang mengikat Lorn, dan seketika rantai itu menghilang.
"Lorn, kau masih naif. Kau selalu terpengaruh dengan kata-kata orang lain, bahkan kau berani membunuh Kakakmu sendiri" ucap Renz.
"Itu salahmu sendiri! Kau adalah Raja Neraka! Kau seharusnya memiliki sikap kejam, tapi kau malah memiliki sikap sebaliknya! kau terlalu baik kepada semua orang, kau benar-benar tidak mirip seperti Raja Neraka sebelumnya… kau sangat berbeda… Kak Renz…" ucap Lorn.
Renz terkejut mendengar suara Lorn yang semakin melemah di setiap kata-katanya.
"Maaf jika aku tidak sesuai dengan apa yang kau harapkan, tapi aku hanya ingin membuat kedamaian di seluruh dimensi… Aku sangat membenci pertumpahan darah, aku membenci peperangan, aku membenci semua yang berkaitan dengan kekerasan… Aku melakukan semua itu hanya untukmu, aku ingin kau baik-baik saja, aku tidak ingin melihatmu terluka… Tapi, ternyata semua yang aku lakukan hanya membuat mu membenciku…" ucap Renz, matanya menatap Lorn dengan lembut.
Lorn hanya bisa meneteskan air matanya, dia memang terlalu naif untuk bisa mengerti apa yang dipikirkan oleh Kakaknya.
Dia selalu terhasut oleh perkataan orang lain, sampai dia membunuh Kakaknya sendiri.
Renz yang melihat Lorn menangis hanya bisa memeluknya.
"Kak, ayo kita buat dunia ini menjadi damai, tidak ada perselisihan, tidak ada peperangan… kita akan membuat seluruh dunia, tidak, seluruh dimensi ini menjadi damai" ucap Lorn.
Renz hanya mengangguk menanggapi ucapan Lorn.