
Saat ini Alex sedang dalam perjalanan ke rumah Rean, walaupun Rean tidak menghubungi Alex, Alex tetap akan pergi karena ada suatu hal yang harus Alex lakukan.
Alex memutuskan untuk pergi ke tempat pelelangan waktu itu dengan menggunakan jubah hitam. Setelah sampai, Alex langsung pergi ke ruangan Ayah Viona. Saat membuka pintu, Alex melihat beberapa orang di ruangan itu.
Ayah Viona yang melihat Alex datang langsung berdiri dan mendekati Alex.
"Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Ayah Viona kepada Alex.
[note : di sini saya akan mengganti dari Ayah Viona ke namanya (Arlen)]
Orang-orang yang ada di ruangan itu bingung karena Arlen sangat sopan kepada orang berjubah hitam yang masih berdiri di pintu masuk.
"Carikan aku sebuah rumah yang besar, dan juga tanah kosong" ucap Alex.
"Tanah kosong?" tanya Arlen.
"Ya, Carikan aku tanah kosong saja, cukup besar untuk membuat sebuah Mansion atau Villa" ucap Alex.
"Baiklah, nanti saya akan carikan" ucap Arlen.
Alex hanya mengangguk.
"Apa ada lagi?" tanya Arlen.
Alex menggelengkan kepalanya, kemudian membuat sebuah bros berbentuk Phoenix, dan memberikannya kepada Arlen.
"Apa ini?" tanya Arlen.
"Pelindung, pakailah, itu akan langsung menempel di pakaian mu" ucap Alex.
Arlen kemudian memakai bros itu, dan bros itu benar-benar menempel di pakaiannya. Setelah itu Alex menyerang Arlen, dan sebuah rantai langsung mengelilingi Arlen dan menghalau serangan Alex.
Semua orang di ruangan itu terkejut dengan rantai yang tiba-tiba muncul dan menghalau serangan Alex. Setelah beberapa saat, rantai itu menghilang dan masuk kembali ke dalam bros Phoenix.
"Ini terlalu berharga" ucap Arlen.
"Tidak apa-apa, aku juga ingin kau membantuku jadi itu hanya tanda terimakasih ku" ucap Alex.
Alex kemudian menghilang dan muncul di tempat Rean berada. Alex hanya memperhatikan Rean yang sedang menyiapkan makanan untuk adik-adiknya.
"Rean" ucap Alex, dan membuat Rean terkejut.
"I-iya?"
"Kemasi barang-barang mu" ucap Alex.
"Eh, apa kita akan pergi sekarang?" tanya Rean.
"Setelah kalian selesai makan" ucap Alex.
Rean memiliki 3 orang adik dan mereka sekarang sedang menatap Alex penasaran, karena Alex tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
Rean memiliki 2 orang adik laki-laki, dan seorang adik perempuan. Adik laki-laki pertama berusia 12 tahun, dan 2 orang lainnya kembar berusia 8 tahun.
"Kau pandai memasak" ucap Alex.
"Aku harus memberi makan adik-adikku, tentu saja aku harus bisa memasak, tapi kadang makanannya terlalu keasinan atau hambar" ucap Rean.
Alex melihat Rean yang sedang memasak sayur dan telur. Kemudian Alex mendekati Rean.
Alex membuat daging ayam dan sapi menggunakan energinya.
"Apa kau bisa memasak daging?" tanya Alex.
"Aku hanya bisa menggorengnya atau membuat sayur" ucap Rean, dan Alex hanya menatapnya datar.
Alex kemudian mengambil pisau kesayangannya, karena selama Alex memasak selalu menggunakan pisau itu.
Saat Alex akan memotong daging, seseorang menarik baju Alex.
"Kakak, darimana daging itu muncul? Apa kamu bisa sulap?" tanya Adik perempuan Rean, namanya Kiana Rena Heranata.
"Siapa namamu?" tanya Alex.
"Nana!" ucap Kiana.
"Nana?"
"Yang lainnya?" tanya Alex.
"Adik pertama ku namanya Rehan Heranata, dan kembaran Nana namanya Caine Rafa Heranata, kami memiliki nama belakang Heranata" ucap Rean.
Alex kemudian hanya menganggukkan kepalanya, dan kembali ke kegiatan memasaknya yang tertunda.
Alex memotong daging ayam menjadi potongan kecil agar mudah untuk dimakan. kemudian memotong daging sapi menjadi beberapa bagian dengan ukuran yang sama.
untuk daging ayam, Alex akan membuat ayam asam manis, dan untuk daging sapi, Alex membuatnya menjadi steak.
(note : author gak tau kenapa, ini cerita malah jadi cerita masak-masak, cuma itu yang ada dipikiran saya😂, maafkeun karena author lagi pusing sama tugas sekolah…)
Alex memasak dengan resep buatannya sendiri, setelah beberapa saat, masakan Alex sudah tercium harum.
Alex kemudian membuat sebuah pemanggangan berukuran kecil, dan langsung menyalakan pemanggang itu, Alex kemudian memanggil daging sapi dan melumuri dengan saus buatannya yang sudah pasti dibuat dari energinya.
(Author : jadi mau kekuatan kayak Alex, kalau lapar makanannya langsung muncul, cuma butuh imajinasi aja dan energi 🤤)
"Rean, siapkan nasi dan mejanya" ucap Alex, Rean langsung mengangguk.
'Sudah lama aku tidak makan, dan hanya menggunakan energi ku sebagai makananku ' pikir Alex.
Setelah semuanya siap, Alex membawa makanan itu ke atas meja yang ada di ruangan itu. Itu hanya sebuah meja sederhana yang tidak ada kursinya, jadi harus duduk di lantai. Dan karena Alex sering tiduran atau cuma duduk-duduk di dalam hutan, jadi Alex tidak mempermasalahkannya.
Saat Alex sedang makan, Alex tiba-tiba merasakan hawa pembunuh yang membuat Alex berhenti makan.
Dan benar saja, tiba-tiba seseorang muncul dan akan memotong leher Rean, tapi terhalangi oleh rantai yang tiba-tiba muncul melindungi Rean. Alex juga langsung membuat gelang untuk adik-adik Rean.
Saat assassin itu berpindah target dari Rean ke adik-adik Rean, rantai langsung muncul mengelilingi adik-adik Rean.
Saat assassin itu akan melarikan diri, Alex langsung menggunakan rantai untuk mengikat assassin itu, dan kembali melanjutkan makannya yang tertunda.
Rean dan adik-adiknya hanya menatap Alex, karena mereka hampir terbunuh, tapi Alex memasang ekspresi biasa-biasa saja.
"Berhenti menatapku seperti itu" ucap Alex.
"Kakak, apa kamu tidak takut?" tanya Kiana.
"Tidak, aku sudah terbiasa berurusan dengan kematian" ucap Alex, yang membuat mereka berempat hanya melongo.
"Kau benar-benar tidak takut mati?" tanya Rehan.
"Tidak, karena aku abadi" ucap Alex.
"Apa Kakak seorang immortal?" tanya Kiana.
"Entahlah" ucap Alex.
Kiana kemudian terus menatap Alex, dan tiba-tiba Kiana berteriak ketakutan.
"Apa yang terjadi?" tanya Alex.
"Dari umur 3 tahun, Nana bisa melihat hal yang tidak bisa dilihat oleh manusia biasa" ucap Caine.
"Apa kau juga memiliki kekuatan seperti itu?" tanya Alex kepada Caine.
"Kami semua memiliki kekuatan" ucap Caine.
"Itu benar, hanya aku saja yang belum terbangkitkan" ucap Rean.
"Apa kekuatan yang kalian miliki, mungkin saja aku bisa mengajari kalian mengendalikan kekuatan itu" ucap Alex.
"Kekuatan Kiana terletak di matanya, dia bisa melihat jiwa seseorang dan dapat mengetahui apa dia manusia atau bukan, dan juga melihat seperti Dewa, Malaikat, ataupun Demigod yang menghilangkan keberadaan mereka. Caine memiliki kekuatan penyembuhan, dan Rehan memiliki tangan penghancur, ketika menyentuh apapun, pasti benda yang disentuhnya akan hancur menjadi debu" ucap Rean.
'Wah, tangan penghancur!' teriak Nithael tiba-tiba, yang membuat Alex terkejut.
'Kau tau tentang ini?' tanya Alex.
'Tentu saja, aku juga punya kekuatan penghancur' ucap Nithael.
'Apa kau bisa mengajarinya?' tanya Alex.
'Itu hal yang mudah untuk ku" ucap Nithael, kemudian muncul di samping Rehan, dan langsung memegang tangan Rehan, membuat Rehan terkejut.