I'M Lord Vampire

I'M Lord Vampire
56



Alex tidak bisa melakukan apapun saat ini.


Dia sedang berada di kamar milik Renz ketika dia masih menjadi Raja Neraka.


Lorn benar-benar melarangnya untuk pergi, bahkan sedetik pun.


Alex sudah mengatakan, jika dia bukanlah Renz, tapi Alex juga tidak bisa menyangkal jika Jiwa Renz menyatu dengan Jiwa miliknya.


"Kak Renz!" teriak Lorn, sambil mendobrak pintu kamar Renz.


'Renz, aku tidak ingin meladeninya lagi… dia berubah 180°' Alex bertelepati dengan Renz.


[Baiklah, aku akan mengambil alih tubuhmu, kau beristirahatlah di alam bawah sadarmu] ucap Renz, kemudian mengambil alih tubuh Alex, dan Alex juga berada di alam bawah sadar miliknya.


"Lorn, kau adalah Raja Neraka, jaga sikapmu" ucap Renz.


"sekarang di sini hanya ada aku dan Kakak, kenapa aku harus menjaga sikapku?" tanya Lorn.


"Tetap saja, kau harus menjaga sikapmu, jika tidak… aku akan pergi dari sini dan tidak akan nenemuimu lagi!" ucap Renz tegas.


"Baiklah… tapi, ikut aku ke suatu tempat" ucap Lorn kemudian menarik tangan Renz.


Renz hanya bisa pasrah dengan kelakuan adiknya itu, usia Lorn sudah ratusan tahun, tapi sikapnya masih kekanakan.


Tapi, sikap kekanakannya muncul hanya ketika dihadapan Renz saja.


Lorn terkenal sangat sadis. Ketika ada yang mengkhianatinya, Lorn akan langsung melenyapkannya.


Lorn tidak akan memberi mereka kesempatan sedetikpun untuk menjelaskan yang sebenarnya.


"Lorn, berhenti menarik tanganku!" ucap Renz.


Lorn kemudian berhenti melepaskan tangan Renz.


"Lorn, aku tidak bisa terlalu lama di sini, tubuh ini bahkan bukanlah tubuhku" ucap Renz.


"Aku tidak peduli jika itu bukan tubuhmu, yang aku inginkan adalah Kakak tetap bersamaku" ucap Lorn.


"Lorn, di sini bukan tempatku lagi… dan tubuh ini bukanlah milikku, cepat atau lambat aku harus pergi dari dunia bawah" ucap Renz.


"Kata siapa ini bukan tempatmu lagi? Ini masih rumahmu, tempat tinggal mu" ucap Lorn.


"Lorn, aku harus tetap pergi… tapi, kau bisa menemuiku atau memanggilku kapan saja saat kau butuh bantuan dariku, aku akan selalu bersamamu" ucap Renz.


"Kau berjanji kan, Kak?" tanya Lorn.


"Ya, aku berjanji" ucap Renz sambil tersenyum.


Lorn sangat senang melihat senyuman Kakaknya lagi.


"Lalu, tadi kau mau menarikku kemana?" tanya Renz.


"Eh, apa Kakak lupa jika hari ini adalah hari ulang tahunmu?" tanya Lorn.


Renz terdiam, dia benar-benar melupakan ulang tahunnya sendiri.


"Kak Renz, kau benar-benar melupakan tanggal ulang tahunmu sendiri, kau sudah tu…"


Belum sempat Lorn menyelesaikan ucapannya, Renz langsung menendang Lorn.


Lorn terlempar sampai 2 km jauhnya.


'Kenapa Kakakku menjadi menyeramkan seperti ini' pikir Lorn sedih.


Lorn kemudian berdiri dan membersihkan pakaiannya yang kotor.


"Siapa yang kau panggil tua…" ucap Renz sambil mengeluarkan aura miliknya.


"I-itu, aku… aku ada urusan, ja-jadi aku pergi dulu…" Lorn benar-benar ketakutan ketika merasakan aura milik Renz yang sangat pekat.


Renz hanya menghela napasnya, ketika melihat Lorn sudah lari menjauh.


Renz kemudian pergi dari dunia bawah menggunakan teleportasi, dan muncul di Kastil para Penjaga Dimensi.


"Alex, kenapa kau sudah kembali? Bukankah Raja Neraka tidak membiarkanmu pergi dari dunia bawah?" tanya Jein.


"Aku Renz" ucap Renz.


"Eh?" Jein benar-benar tidak bisa membedakan mana Alex dan mana Renz.


"Ah, maaf aku tidak tahu" ucap Jein.


"Renz, bisakah kau kembali dulu, ada yang ingin aku bicarakan dengan Alex" ucap Caine yang tiba-tiba muncul di belakang Jein.


Setelah itu Alex kembali mengendalikan tubuhnya sendiri.


"Alex, aku melihat beberapa Hunter sudah mulai bergerak untuk menembus paksa dimensi" ucap Caine.


"Bukankah dimensi sudah diperkuat?" tanya Alex.


"Itu memang benar, tapi kita tetap harus bersiap" ucap Caine.


"Kalau begitu, biarkan aku yang menemui mereka, aku bisa mencegah mereka untuk menghancurkan dimensi ini" ucap Alex.


"Tidak bisa, sebaiknya kau pergi ke dunia manusia, aku mendengar jika para Hunter sedang memburu para ras yang berada di dunia manusia" ucap Jein.


"Hah? Aku harus segera pergi" ucap Alex


"Mom!… Dad!… Kak Riel!" teriak Alex.


"Alex, kenapa kau di sini, dan juga kenapa kau berteriak!" ucap Gabriel.


Alex mendengar suara dari arah ruang makan.


Di ruang makan terlihat Roland, Lexa, dan Gabriel sedang makan.


"Ha~, ku pikir kalian kenapa-napa" ucap Alex sambil menghela napasnya.


"Memangnya ada apa?" tanya Lexa.


"Aku mendengar jika para Hunter sedang memburu kita dan para ras lain, kalian harus ikut denganku" ucap Alex.


"Alex, walaupun kami ikut denganmu, kami tidak mempunyai tempat tinggal lagi" ucap Roland.


"Tenang saja, aku memiliki tempat rahasia, kalian bisa tinggal di sana" ucap Alex.


"Tetap saja… bukankah dimensi sudah diperkuat? Kami tidak bisa leluasa untuk masuk dan keluar dari dimensi" ucap Roland.


"Itu mudah saja, aku mengenal para Penjaga Dimensi, jadi kita bisa keluar-masuk dengan bebas" ucap Alex sambil tersenyum.


Sedangkan Roland, Lexa, dan Gabriel hanya bisa terdiam karena terkejut mendengar Alex mengenal para Penjaga Dimensi.


"Alex, jangan berbohong" ucap Lexa.


"Mana mungkin aku berbohong, Mom" ucap Alex.


"Kalau begitu, dimana tempat rahasia yang tadi kau bilang?" tanya Gabriel, sambil meminum air putih.


"Wilayah Black Moon Pack" ucap Alex.


"Pffft!… uhuk, uhuk…" Gabriel tersedak minumannya.


"Kau tadi bilang, wilayah Black Moon Pack!" teriak Gabriel.


"Iya, memangnya kenapa?" tanya Alex.


"Black Moon Pack terkenal dengan kekejamannya, dan juga mereka tidak pandang bulu. Aku juga mendengar jika Black Moon Pack memiliki hubungan dengan dunia bawah" ucap Roland.


"Itu tidak masalah, aku memiliki hubungan dengan Raja Neraka" ucap Alex.


mereka bertiga lagi-lagi hanya bisa terdiam mendengar ucapan Alex.


"Alex, apa yang sebenarnya kau lakukan selama ini?" tanya Roland.


"Mm… sebelumnya aku sudah menghancurkan wilayah Black Moon Pack, mencuri Pedang Neraka dan Pedang Elements yang ada pada mereka, membantu wilayah Red Moon Pack dari serangan para Hunter, aku pergi ke wilayah Elf untuk membangunkan para Penjaga Dimensi untuk memperkuat dimensi, aku juga sekarang adalah seorang Penjaga Dimensi, dan aku berhasil membangkitkan Jiwaku yang lain, pergi ke dunia bawah dan tidak sengaja bertemu dengan Raja Neraka, aku bahkan berteman baik dengan Raja Neraka, kami sudah seperti saudara… mungkin hanya itu" ucap Alex.


"Apa? Kau sekarang adalah salah satu dari para Penjaga Dimensi?!" tanya Lexa.


Alex hanya mengangguk.


"Kau berhasil membangkitkan Jiwamu yang lain?" tanya Roland.


Alex mengangguk lagi.


"Kau bahkan memiliki hubungan seperti saudara dengan Raja Neraka?" tanya Gabriel.


Lagi-lagi, Alex menganggukkan kepalanya.


"Apa kau tahu, jika semua itu membahayakan nyawamu!" teriak Lexa.


"Mom, aku tidak punya pilihan lain" ucap Alex.


"Bagaimana jika kau terluka?! Bagaimana jika kau kehilangan salah satu anggota tubuhmu?! Bagaimana jika kau kehilangan nyawamu sendiri?!" teriak Lexa, aura pekat keluar dari tubuhnya.


Roland dan Gabriel yang melihat Lexa mulai hilang kendali, langsung menjauh, dan memberikan isyarat mata seperti 'Alex, semoga kau baik-baik saja', setelah itu Roland dan Gabriel pergi meninggalkan Alex dan Lexa berdua saja.


'Apa kalian benar-benar Ayah dan Kakakku… Mom benar-benar menyeramkan ketika sedang marah dan khawatir' pikir Alex.


Alex hanya bisa meratapi nasibnya saat ini.


'Renz…' Alex mencoba bertelepati dengan Renz.


[Maaf, ini adalah masalah mu, aku tidak bisa membantu] ucap Renz, langsung memutuskan telepatinya dengan Alex.


"Siapapun, tolong aku…" gumam Alex.


.


.


.


.


.


*____________________________________________*


*Untuk selanjutnya, aku tidak akan memberi judul di setiap episodenya.


Karena aku bingung untuk memberi judul apa, kadang judulnya tidak nyambung dengan isi ceritanya.*