I'M Lord Vampire

I'M Lord Vampire
57.



Bang!


Alex terkejut ketika melihat Ibunya memukul meja, sampai meja itu hancur.


"M-mom…" gumam Alex.


"Alex, jika kau membahayakan nyawamu lagi, Mom akan menghukum mu" ucap Lexa.


"Tapi, bagaimana jika aku memang harus melakukan itu?" tanya Alex.


"Tetap saja kau jangan membahayakan dirimu sendiri" ucap Lexa.


"Mom, bagaimana jika dengan mengorbankan diriku, dunia ini bisa berdamai seperti sebelumnya" ucap Alex.


Lexa yang mendengar itu langsung terdiam.


"Aku tidak bisa membiarkan apapun terjadi padamu, walupun itu harus mengorbankan diriku sendiri" ucap Lexa.


Tentu saja Lexa tidak akan membiarkan apapun terjadi kepada Alex.


Orangtua mana yang akan membiarkan anaknya terluka apalagi sampai kehilangan nyawanya?


"Dan juga… Alex, kau sudah lama membolos sekolah, kau harus sekolah kembali" ucap Lexa.


"I-itu, bisakah aku hanya mengikuti ujian sekolah saja?" tanya Alex.


"Kalau masalah itu, kau tanyakan pada Dad" ucap Lexa.


"Ba-baiklah, aku akan menanyakannya kepada Dad nanti" ucap Alex sambil mengangguk.


"Oh ya Alex, kau bilang jika kau berhasil membangkitkan Jiwamu yang lain, apa itu benar?" tanya Lexa.


"Ya, itu benar"


"Apa identitas dari Jiwa lain yang ada dalam tubuhmu?" tanya Lexa.


"Mm… dia adalah Raja Neraka sebelumnya, Renz Kin Houran" ucap Alex.


"Renz!" teriak Lexa terkejut.


"Eh, Mom tahu tentangnya?" tanya Alex.


"Itu tidak mungkin, Posisi Raja Neraka diganti saat Mom baru saja dilahirkan" ucap Lexa.


"Oh" ucap Alex menatap datar ke arah Lexa.


Dak!


"Apa-apaan dengan ekspresi mu itu!" ucap Lexa kesal sambil memukul kepala Alex.


"Memangnya kenapa dengan ekspresi ku!" ucap Alex sambil mengelus kepalanya yang tadi dipukul oleh Lexa.


"Kenapa kau memiliki ekspresi datar seperti itu? Apa itu diturunkan dari gen milik keluarga Laksan dari ayahmu?" tanya Lexa.


"Eh?" Alex tidak mengerti apa yang Lexa katakan.


"Alex, tolong bereskan meja ini ya… Mom ingin ke kamar dulu, dan ketika Mom kembali ke sini, Mom ingin semuanya seperti semula" ucap Lexa, kemudian pergi meninggalkan Alex.


"Kenapa aku malah disuruh" ucap Alex kesal.


Alex kemudian membakar meja yang hancur, dan juga alat makan yang sudah pecah menggunakan api Jiwa Phoenix silver miliknya.


Setelah itu Alex menggunakan api silver untuk membuat meja seperti semula.


"Mom! Dad! Kak Riel!… aku harus membawa kalian kembali!" teriak Alex.


Lexa, Roland dan Gabriel, langsung muncul dihadapan Alex.


"Alex, kami masih di rumah ini, kenapa kau harus berteriak" ucap Gabriel, menatap datar ke arah Alex.


"Karena kita tidak punya waktu lagi… para Hunter sudah bergerak, aku akan membawa kalian kembali" ucap Alex, kemudian membuat sebuah portal penghubung dimensi.


"Portal ini langsung terhubung dengan Mansion milik Sean, Alpha dari wilayah Silver Moon Pack" ucap Alex.


"Apa kau ingin kami mati?" tanya Roland kepada Alex.


"Sean itu temanku, jadi tenang saja" ucap Alex.


"tetap saja, itu adalah wilayah Werewolf" ucap Lexa.


"Kalau begitu, aku akan masuk terlebih dahulu, jika kalian tidak menyusul, aku terpaksa menarik kalian" ucap Alex, kemudian masuk ke dalam portal itu.


Lexa, Roland, dan Gabriel kemudian menyusul Alex.


Mereka berempat muncul di Mansion milik Sean, tapi Sean tidak ada di Mansionnya.


'Sean, kau dimana?' tanya Alex sambil bertelepati dengan Sean.


'Eh, Alex?'


'Kau dimana? aku ada di Mansion mu'


'Aku di rumah Fero, kau ke sini saja'


Sean langsung memutuskan telepatinya dengan Alex.


"Oh…"


"Alex, ada apa?" tanya Lexa.


"Tidak apa-apa, tapi Sean ada di rumah Fero" ucap Alex.


"Fero?" tanya Lexa bingung.


""Valcon!"" teriak Lexa, Roland dan Gabriel bersamaan.


"Kenapa berteriak?" tanya Alex.


"Marga Valcon, itu milik Beta di wilayah ini kan?" tanya Lexa.


"Iya, Sent Valcon adalah Beta saat ini, dan Fero Valcon adalah Beta selanjutnya" ucap Alex.


"Kenapa kau bisa berhubungan dengan mereka?" tanya Lexa.


"Itu karena Dad" ucap Alex.


"Dad?" Lexa kemudian melihat ke arah Roland.


"Apa hubungannya denganku?" tanya Roland.


"Dad, apa kau melupakan apa yang terjadi waktu itu di sekolah? Tepatnya di halaman belakang sekolah" tanya Alex kepada Roland.


Roland kemudian mengingat apa yang terjadi waktu itu.


"Maaf" ucap Roland.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Lexa bingung.


"Tidak ada apa-apa" ucap Roland.


"Gabriel, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Lexa kepada Gabriel.


"Dad waktu itu kehilangan kendali, dan Alex menjadi korbannya" ucap Gabriel.


"Apa maksudnya korban?!" teriak Alex.


"Itu benar, kan? Kau korban kekuatan tidak terkendali milik Jiwa lain dari ayahmu sendiri" ucap Gabriel.


"Kenapa malah terdengar seperti aku adalah korban pelecehan" gumam Alex kesal.


"Apa itu benar?" tanya Lexa kepada Roland.


"Mm, ya… waktu itu aku dikendalikan oleh Jiwa lain ku, dan tidak sengaja menyerang Alex" ucap Roland.


"Kenapa tidak memberitahu ku?" tanya Lexa.


"Aku melupakan itu" ucap Roland, kemudian memalingkan wajahnya.


"Alex apa waktu itu kau terluka parah?" tanya Lexa sambil menyentuh pipi Alex lembut.


"Aku tidak apa-apa, hanya beberapa tulangku patah" ucap Alex.


"Apa? Tulangmu sampai patah!" teriak Lexa.


"Iya" ucap Alex.


"Roland, kau harus merasakan apa yang dirasakan oleh Alex!" ucap Lexa sambil mengeluarkan aura miliknya.


"Hah?"


Lexa kemudian menyerang Roland.


Alex yang melihat itu itu langsung menghentikan Lexa.


"Mom, hentikan… Mansion ini baru saja di perbaiki, bagaimana jika hancur lagi" ucap Alex.


"Jika hancur, tinggal diperbaiki lagi" ucap Lexa.


Alex hanya menatap datar ke arah Lexa.


'Kenapa aku harus memiliki Ibu seperti ini… kadang sikapnya penyayang, kadang mengerikan dan sadis, kadang pemarah… aku tidak bisa berkata-kata lagi' pikir Alex.


"Baik, Mom bisa menghancurkan Mansion ini, tapi Mom juga harus memperbaikinya sendiri" ucap Alex, kemudian berjalan keluar Mansion.


"Kenapa Alex memiliki sifat sepertimu?" tanya Lexa kepada Roland.


"Bukannya lebih mirip sepertimu ya, sikapnya selalu berubah" ucap Roland.


"Benarkah? Itu karena Alex adalah putraku" ucap Lexa sambil tersenyum.


'Wanita memang sulit ditebak… kadang marah-marah tidak jelas, kadang malah manja, mengerikan… kenapa aku bisa jatuh cinta padanya?' pikir Roland.


Gabriel yang melihat kelakuan kedua orangtuanya memilih untuk mengejar Alex.


"Hei, Gabriel, kenapa kau meninggalkan kami disini?" tanya Roland.


"Kalian bermesraan saja disini, aku akan pergi menyusul Alex saja" ucap Gabriel.


""Hah? Apa?"" ucap Roland dan Lexa bersamaan.


Roland kemudian menarik baju Gabriel.


"Kau benar-benar akan meninggalkan orangtuamu disini?" tanya Lexa.


"Memangnya kenapa? kalian bisa memiliki waktu berduaan kan?" tanya Gabriel.


"Tetap saja, kau seperti menelantarkan orangtuamu ditempat yang tidak mereka ketahui" ucap Roland.


"Kalian Vampire, tidak akan terjadi apa-apa" ucap Gabriel.


"Tidak, jika kau ingin pergi, maka kita semua akan pergi. Kita menyusul Alex sekarang, ayo" ucap Roland, kemudian menyeret Gabriel dan langsung menyusul Alex ke tempat Keluarga Valcon.


'Kenapa aku seperti kantong sampah yang diseret dan akan di masukkan ke tempat sampah' pikir Gabriel, dan hanya bisa menghela napasnya ketika terus diseret oleh ayahnya sendiri.